
Daniel ketakutan dalam gudang itu, dia tak bisa melarikan diri karena ikatan itu terlalu kuat. Yang dia takutkan lagi adalah pisau belati itu tidak bersamanya.
Sesuai perjanjiannya dengan dukun yang dia temui waktu itu, jika dia tak berhasil menggunakan kekuatan itu. Maka pisau itu akan mengambil alih kekuatan itu.
Jika dibiarkan terlalu lama kekuatan itu terpendam didalam dan tidak dikeluarkan, maka pisau belati itu akan bergerak sendiri karena pengaruh dari kekuatan itu dan bisa menyerang siapa saja.
Dia tak berniat menyerang atau membunuh Tari, istrinya itu. Dia hanya menginginkan kekuatan itu saja, jika Tari sampai membuat nya sekarat atau terbunuh, maka itu akan menyakiti hatinya karena dia berbuat serakah dan akhirnya menyakiti istrinya sendiri.
"Bagaimana caranya agar aku terlepas dari ikatan ini, aku harus mengingatkan Tari" ujarnya ketakutan.
Tiba-tiba saja pintu gudang terbuka dan Angga masuk kedalam menemuinya, dengan wajah penuh amarah dia menatap Daniel penuh kebencian.
"Sudah sadar rupanya kau! Bagaimana, masih ingin berbuat nekat lagi?! Dasar tak tahu diri!" ujar Angga mencoba menahan emosinya.
"Angga, dimana pisau itu? Cepat berikan kepadaku" kata Daniel, dia tak menanggapi perkataan Angga.
Mendengar hal itu membuat Angga tak bisa menahan emosinya lagi, dia menghajar Daniel beberapa kali. Tentu saja itu itu tak seimbang, mengingat Daniel terikat kuat diatas kursi itu.
"Dasar tidak tahu malu! Setelah melukai kakakku, kau masih menanyakan perihal senjata itu! Apa kau tidak tahu malu, setidaknya pada dirimu sendiri!" bentak Angga.
"Justru aku mengkhawatirkan Tari, jika pisau itu tidak ditangani dengan baik. Maka dia bisa melukai orang lain, bahkan pemilik kekuatan itupun bisa terluka.
Karena pisau itu tidak melihat siapa dan apa yang akan dia serang" ujar Daniel menjelaskan tentang pisau itu.
"Dengan kau melukainya tadi itu saja sudah membuatnya terluka, bukan hanya fisiknya sakit tapi hatinya juga sakit!
Jika tidak memikirkan kakakku, sudah kubunuh kau dasar manusia serakah! Takkan kubiarkan kau mendekatinya lagi.
Setelah ini pergilah menjauh dan jangan pernah kembali, apalagi mencoba menghubungi kakakku lagi" ujar Angga geram.
"Maafkan aku, Angga. Aku tahu sifatku terlalu egois dan tak pernah mengerti keinginan Tari. Tapi aku terlalu dikendalikan oleh nafsu tanpa menyadari akibatnya nanti.
Aku akan pergi, tapi izinkan sekali saja aku bertemu dengannya" ucap Daniel memohon.
"Tergantung niatmu apa, dan semuanya keputusan ada ditangan kakakku. Jika jadi dia, aku takkan mau bertemu apalagi berbicara denganmu lagi" sahut Angga sinis sambil berlalu pergi meninggalkan Daniel dalam penyesalan.
//
Sementara di gedung itu, semua kawanan masih sibuk melawan para pasukan jin dan penyihir. Mereka tak pernah habis-habisnya, jika satu mati maka akan muncul lagi yang lainnya dengan jumlah yang lebih banyak lagi.
"Sia*l! Kenapa mereka tak habis-habis, aku sudah kelelahan!" ujar Julian nampak kesal.
"Bertahanlah, sebentar lagi ini akan selesai!" teriak Joanna berada cukup jauh darinya.
"Tuan, Nona... Serahkan saja kepadaku, biar aku yang menangani mereka" ujar Rosario yang sudah berubah kebentuk aslinya.
Wujudnya seperti genderuwo itu menghajar para pasukan jin itu membabi buta, tanpa ampun para pasukan itu hancur luluh lantak.
Rosario itu sepatutnya dijadikan prajurit jin terkuat, tapi oleh dukun itu yang juga ayah manusianya itu malah dijadikan jin pemikat, jin penglaris. Kasihan, kekuatannya tak berguna dan tak terasah.
Ketika bertemu dengan Ardian, ilmunya terasah dan bisa digunakan dengan baik dan benar. Makanya dia bisa mengendalikan kekuatan dengan benar dengan menghajar para makhluk jahat itu.
//
//
Sedangkan didalam gedung itu, tepatnya didalam ruang auditorium.
Maura dan Ardian masih berusaha melawan Camelia yang sudah terpengaruh dan dibawah kendali Zhurak.
"Camelia, kendalikan dirimu! Ingat siapa aku?!" teriak Maura kewalahan.
"Aku ingat semuanya, siapa aku dan siapa kalian. Hanya saja selama ini hidupku sudah diatur hingga aku melupakan jati diriku.
Aku adalah Ratu Pramudya Sita, istri dari maharaja Balaputradewa sang penguasa Kerajaan Sriwijaya, haha!" ujar Camelia.
Semua orang terkejut mendengar pernyataannya itu termasuk Zhurak, siapa sangka gadis idamannya yang sudah lama dia incar ternyata ratunya terdahulu. Yaitu leluhurnya Arion Gaharu dari istri termuda dari pendahulunya dulu.
"A-ampun Ratuku" ujarnya menyembah kepada Camelia.
Sedangkan Maura dan Ardian semakin syok mendengar hal itu, siapa tahu bahwa teman hantunya adalah reinkarnasi dari ratu jahat zaman Arialoka masih hidup.
Dengan kekuatan terakhir mereka mencoba melawan Camelia alias ratu Pramudya Sita, sedangkan Gerald mendengar hal itu semakin ganas saja.
Dengan sekali gigit leher Marino putus seketika, dan tidak ada lagi reinkarnasi atau kelahiran kembali untuknya. Gerald langsung berlari menuju kearah Maura dan Ardian untuk melindungi mereka.
"Gerald, apa yang kau lakukan?" ujar Maura, dia kaget tiba-tiba kucing besar itu berdiri didepan mereka.
Tapi Gerald tak menjawabnya, dia malah merubah wujudnya kembali menjadi kucing lucu lagi. Pelan-pelan dia mendekati Camelia yang sudah berubah menjadi sangar dan kejam itu.
"Apa yang kau inginkan kucing kecil?" tanyanya.
"Aku sedang menemui tuanku yang baik, Camelia" jawab Gerald pelan.
"Haha! Kemarilah kucing manis, temuin tuanmu ini!" ujar ratu jahat itu berwujud Camelia.
"Tidak, bukan kau! Tapi Camelia tuanku" ujar Gerald menatap tajam sambil menggeram.
"Camelia atau bukan, aku tetap tuanmu! Karena dia adalah aku, dan aku adalah dia!" ujar ratu jahat itu.
Dia lalu menarik tubuh Ardian yang jaraknya tidak terlalu jauh darinya, dengan kekuatannya dia menarik tubuh Ardian dengan menyedot tubuh itu bagaikan magnet saja.
"Ardian!" teriak Maura.
Tentu saja itu secara tiba-tiba, mereka tidak terlalu fokus hingga melupakan serangan mendadak itu.
......................
Bersambung