
Maurice sudah kembali tenang, dia minum air putih yang disediakan oleh Bik Marni.
"Kamu sudah baikan sekarang? Sudah bisa ceritakan, mimpi apa yang kamu alami sampai nangis kejer gitu ?" Tanya Pak Irwan.
"Saya sendiri ga tau itu mimpi atau nyata, tapi dibilang mimpi terasa seperti nyata sekali." Maurice menerawang mengingat kejadian yang dia alami tadi.
"Coba kamu ceritakan, Maura bilang kamu tidur seperti orang pingsan. Dibangunkan tidak bisa. Makanya dia takut kalau kamu kenapa-kenapa, jadi nangis kayak gitu." Kata Angga penasaran.
"Aku ga tau kak, aku bingung mau jelasinnya kayak gimana. Itu aneh sekali, aku rasa kalian juga tak percaya." Kata Maurice.
"Tentu saja, tidak percaya." Kata Angga santai.
Yang lain terlihat marah dengan jawaban Angga, Maura dan Bik Marni matanya tajam ke arah Angga. Yang dipelototi merasa canggung.
"Maksudnya tidak percaya itu karena itu ada didalam mimpi, bukan nyata. Hehe.." Angga tertawa sedikit dipaksakan biar tidak canggung.
"Iya, cerita sajalah. Kami akan mendengarkanmu, karena menurutku itu juga aneh. Karena kamu sempat mengigau tadi." Kata Maura.
"Awalnya aku tiba di padang pasir, lalu aku dikejar badai pasir. Dan.." Lidahnya keluh harus menceritakan semua apa yang dia alami di mimpinya tadi, menurutnya.
Setelah menceritakan semuanya, dia pamit tidur lagi. Dia masih merasa lelah sekali, baginya itu nyata sekali.
Maura heran, bukannya dia semalam tidurnya pulas sekali. Sampai dibangunkan susah sekali.
"Biarkan dia tidur sebentar, nanti kita bangunkan lagi." Kata Bik Marni.
"Tapi Bik, nanti susah lagi bangunnya." Kata Maura sedikit khawatir melihat sahabatnya itu.
"Tidak apa, dia sudah aman. Untuk sementara mereka tidak mengganggu lagi." Kata Bik Marni menjelaskan.
"Maksud Bibik apa ?" Tanya Maura heran.
"Maura, Bibik rasa sudah saatnya kamu belajar memahami semuanya. Jangan takut bibi akan membantumu, ada Gerald juga di sampingmu." Kata Bik Marni.
"Kamu harus menerima takdirmu. Bisa melihat, mendengar, bahkan berkomunikasi dengan 'mereka' itu. Pertama mungkin sulit bagimu, tapi Bibik yakin kamu bisa." Bik Marni berusaha menjelaskannya.
"Untuk awalan, coba kamu berlatih dengan Gerald." Kata Bik Marni lagi.
Meeeoong...
Gerald menghampiri Maura, sekilas kucing ini biasa saja. Malah lucu dan menggemaskan, tapi siapa sangka dibalik wujud imutnya itu ada kekuatan besar yang mengerikan.
"Puss..pusss.. Sini, sini." Maura tanpa sadar memanggil Gerald seperti kucing lainnya.
"Jangan perlakukan aku seperti itu, aku kucing terhormat. Semua arwah disini takut padaku, aku kucing bangsawan." kata Gerald dengan suara baritonnya, sambil berlenggak angkuh.
"Ups, maaf. Aku lupa, btw kamu kucing jantan, maaf aku kira si betina. Hampir saja aku mau belikan kamu baju lucu-lucu dan cantik." Kata Maura.
"Aku tidak lucu, apalagi cantik. Aku pejantan tangguh! Hormati aku!" Gerald terlihat kesal.
Maura senang menggodanya, dia sengaja melempar bola karet kearah Gerald.
Naluri kucingnya tanpa sadar keluar, dia mengejar bola itu dan menggigitnya dengan berguling-guling.
Sadar dia dipermainkan, dia nampak marah sekali. Dia menggeram memperlihatkan giginya.
Maura dan Bik Marni tersenyum geli melihatnya. Angga dan Pak Irwan bersiap pergi ke kantor.
" Maura, Papa sama kakak berangkat dulu yah. Nanti Maurice diantar aja pulangnya, kasian kalau dibiarkan pulang sendiri. Dan, itu kucing masih disini?" Tanya Pak Irwan heran.
"Lah Papa ini masa' ga sadar sih, kan kucingnya udah lama tinggal disini. Kata kak Angga boleh tuh." Kata Maura.
"Iya Pa, maaf aku lupa ngasih tau soal kucing itu. Tapi aku sudah bilang kan tentang masalah pemiliknya ?" Kata Angga ke Papanya.
" Iya kamu sudah kasih tau soal itu, tapi benar mereka membiarkan kucingnya Maura yang pelihara? " Tanya lagi Pak Irwan kurang yakin, soalnya kucing itu terlihat berkelas sekali.
" Iya Pa, dan kamu Maura. Kalau kamu mau pelihara dia, dijaga dengan baik. Perhatikan semuanya, jangan sampai dia kelaparan dan sakit. Mengerti ?" Kata Angga menjelaskan.
"Siap Pak, mengerti sekali." Maura bersikap hormat dengan kakaknya.
"Bik, aku penasaran. Apa benar semua yang diceritakan oleh Maurice tadi, Kalau itu benar mengerikan sekali. Seandainya aku mengalaminya, aku ga tau harus bagaimana. Bisa mati berdiri aku." Maura bergidik ngeri.
"Huss, jaga kata-katamu.! Lagian kamu juga pernah mengalaminya kok." Kata Bik Marni santai.
"Maksudnya pernah mengalami itu apa yah?" Maura bingung tak mengerti.
"Apa kamu pernah mimpi berada di kebun bunga, atau didalam hutan Pinus ?" Tanya Bik Marni.
"Mm, iya pernah Bik. Kok Bibik tau sih ?" Tatapan selidik Maura ke Bik Marni.
" Dia itu dukun, dia tau semua apa yang pernah dialami orang-orang terdekatnya." Sahut Gerald sambil duduk rebahan di atas sofa sambil mengibaskan ekornya.
" Sembarang aja kalau ngomong! Dasar kucing angkuh, aku bukan dukun. Allah menitipkan kelebihanku ini untuk menolong orang-orang yang membutuhkan." Jelas sekali kata-katanya.
"Menolong orang-orang membutuhkan? Haha, menolong Mamanya saja kau tak mampu. Sekarang sok bijak mau..." Omongan Gerald dibalas dengan lebaran bantal di sofa itu oleh Bik Marni.
Dia tidak ingin Maura tau semuanya, kejadian tragis masa lalu Mamanya. Sebelum dia siap menghadapi rintangan didepan kelak.
Dia harus dilatih dulu, kemampuan indra keenamnya harus diasah dengan baik.
"Mama .? Ada apa dengan Mama Bik ?" Tanya Maura penasaran. Maklum, ingatan tentang Mamanya belum sepenuhnya pulih.
"Dasar kucing ini, mulutnya tak bisa dijaga. Aku harus bilang apa ke Maura." Kata Bik Marni kesal pada Gerald.
Sementara itu.
Di dimensi lain, Makhluk berjubah hitam sedang memandangi danau didepannya. Diseberang danau itu hutan Pinus, pada seseorang juga di sana menatap kakek tua berjubah hitam itu.
"Kenapa kau lakukan itu, kau tau kan apa akibatnya jika aku marah." Kata kakek jubah hitam itu pada seseorang diseberang danau itu.
"Aku tau, tapi aku tau juga kau tak bisa lakukan itu padaku.l." kata seseorang itu.
Rambut panjang warna kuning keemasan,dikepang dua. Mata biru kehijauan, kulit putih pucat dengan memakai gaun bercorak bunga-bunga. Gadis kecil bersama Maurice tadi.
......................
bersambung