RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Identitas Yang Dirahasiakan


Dewi Srikandi kembali menemui Maura yang masih di atap apartemennya menunggu dia kembali.


"Apa yang kau temukan Dewi? Berasal darimana suara itu?" Tanya Maura penasaran.


"Suara itu berasal dari gedung sebelah apartemen ini, jaraknya tidak terlalu jauh dari gedung ini.


Sepertinya terjadi pertarungan gaib tadi, aku melihat seorang pemuda sedang terduduk lemas muntah darah.


Tapi...." Dia tidak meneruskan perkataannya.


"Tapi kenapa, Dewi?!" Tanya Maura lagi.


"Sudahlah tidak usah dipikirkan, mari kita kembali. Maurice pasti sudah lama menunggu kita," ujarnya kembali melesat ke tubuh Maura.


Meskipun sudah lama, Maura masih kurang terbiasa dengan cara Dewi keluar masuk tubuhnya. Saat dia masuk, dia seperti terhantam beban besar.


Dan jika dia keluar, rasanya mual sekali. Tapi dia harus membiasakan diri, dia tidak ingin Dewi terus-menerus berada disisinya.


Dia tidak ingin tubuhnya ditumpanginya terus, bagaimanapun juga dia tetap makhluk gaib. Dan semestinya tidak berada ditubuhnya, karena satu tubuh hanya butuh satu jiwa bukan dua jiwa.


Dewi Srikandi bereinkarnasi menjadi Maura, tapi mereka bukan orang yang sama, jiwa mereka berbeda hanya saja ada ikatan masa lalu yang tak bisa putus dari kehidupan mereka.


Sehingga Maura bisa merasakan, melihat kehidupannya dimasa lalu. Seharusnya dia tidak melanjutkan kehidupan lamanya, dia harus melanjutkan kehidupannya yang sekarang.


Tetapi dendam, rasa putus asa dan tidak adanya keadilan dimasa lalu membangkitkan amarah dan emosi itu.


Mau tidak mau, Maura terjebak kehidupan dimasa lalu dan harus menyelesaikan misi Dewi Srikandi yang belum tuntas.


Dia harus melakukan itu setelah misinya selesai dan dan dunia kembali damai, maka dia bisa kembali hidup normal.


"Apa kau belum terbiasa dengan tubuhmu? Aku tahu ini berat, tubuhmu ditumpangi dua jiwa. Belum lagi kekuatan batu itu, pasti sangat menyiksamu" ujar Dewi Srikandi.


"Jujur saja, aku belum bisa mengendalikan tubuhku sepenuhnya, tapi aku yakin aku kuat dan aku bisa.


Jadi, kamu tidak perlu merasa terbebani atau merasa bersalah. Aku ingin belajar banyak darimu Dewi, dan tolong jangan rahasiakan apapun dariku.


Jika ada sesuatu menyangkut kejadian dimasa lalu, ceritakan saja padaku. Bisa jadi itu bisa menjadi jalan untukku menemukan Arion Gaharu dan para pengikutnya.


Bukankah kamu sendiri yang bilang, tak ada rahasia apapun pada kita" ujarnya, Maura memang belum bisa membaca pikiran Dewi tapi dia bisa merasakan kegelisahan hatinya.


"Aku tahu, kamu merasakan apa yang aku rasakan. Maura... tapi percayalah, ini bukan apa-apa." Katanya lagi.


"Baiklah kalau begitu, semuanya itu ada dirimu. Dewi... Bagaimanapun juga, aku adalah dirimu dan dirimu adalah aku" kata Maura.


Dewi Srikandi mengerti maksud dari perkataan Maura, tapi dia belum siap sebelum dia bisa memastikan kecurigaannya itu.


*


Sementara itu, Julian dan Joanna masih menunggu Ardian didalam mobil di area parkir apartemen Maura.


"Kenapa kita ada disini? kamu tahu sendiri kalau Ardian tidak ada di gedung ini," ucap Joanna.


"Iya, tapi mobilnya ada disini. Dia juga pasti kemari lagi" jawab Julian santai.


Drrrt...drrrt!


Suara HP-nya berbunyi, dia mengangkat telpon tersebut dan itu berasal dari Ardian. Dia heran, kenapa anak ini menelponnya? Biasanya dia tak pernah menelpon jika itu bukan suatu yang genting.


"Halo bos, ada apa?!" Katanya buru-buru mengangkat telponnya, karena dia tahu itu pasti penting.


"Uhuk, uhukk! Julian, tolong bawa mobilku kesini. Jemput aku di gedung Imperial palace, jaraknya tidak terlalu jauh dari apartemen Maura ..." jawabnya lirih.


"Ardi, Ardian... Hei, kau harus tetap sadar. Oke?! Tunggu aku, tidak akan lama!" Ujar Julian terlihat panik.


"Ada apa? Apa terjadi sesuatu dengan Ardian?!" Tanya Joanna penasaran sekaligus khawatir.


Dia bisa mendengar percakapan mereka ditelpon tadi, dia juga bisa merasakan energi Ardian sedikit melemah dan itu juga yang dirasakan oleh Julian. Dia tahu sahabatnya itu dalam keadaan bahaya.


Mobil Ardian memiliki teknologi canggih, meskipun tak menggunakan kunci tapi bisa digunakan melalui sandi kunci mobil itu. Dan itu memudahkan bagi para pengemudi jika ketinggalan kunci mobilnya.


Mobil mewah dan berkelas ini hanya orang-orang tertentu saja dapat memilikinya.


Ardian terduduk lemas di area parkir basemen bawah dilantai gedung Imperial palace, gedung ini merupakan gedung komersil juga, tempat perbelanjaan cukup besar diwilayahnya, juga ada beberapa perkantoran di gedung itu dan tentu saja cafe dan restoran.


Semuanya lengkap di gedung itu, dan siapa sangka kalau pemiliknya juga Ardian. Tapi saat ini dia seperti orang lain, tak ada yang mengenalinya di gedung itu.


Karena dia memakai jaket kulit berwarna hitam dengan topi dan masker yang menutupi wajahnya. Penampilan andalannya jika keluar bebas, berbeda jika dia pergi saat ke kantor.


Penampilannya terlihat berkelas, dengan setelan tuksedo dan sepatu kulitnya. Jam tangan bermerek mahal ditambah kaca mata hitam yang melengkapi penampilannya.


Tidak heran jika Maura dan yang lainnya memanggil dia pria misterius, karena dia memiliki dua penampilan berbeda diwaktu yang berbeda.


Dia juga tipikal pria penyendiri, tidak suka berpesta atau berpetualang dengan para gadis.


Hidupnya sudah terlalu banyak beban, tidak ada waktu untuk bersantai. Dia ingin cepat-cepat menyelesaikan tugasnya itu, agar bisa menikmati hidup lebih layak lagi.


Saat ini, Julian dan Joanna sudah sampai di gedung Imperial palace. Mereka memarkirkan mobilnya didalam gedung itu, tepat berada diposisi Ardian terduduk lemas sambil menyandarkan tubuhnya disalah satu tiang penyangga basemen tersebut.


"Ardian, hei! Sadarlah, jangan sampai kau tertidur, ayo berdiri. Aku akan antarkan kau ke klinik dokter Jeffrey, ayo!" Ujar Julian panik.


Dia segera membopong tubuh Ardian masuk kedalam mobilnya itu, dia langsung melesat pergi menuju klinik dokter Jeffrey. Joanna masih mengikuti mereka dengan perasaan khawatir.


Untuknya jarak klinik itu tidak jauh, seperti berputar-putar saja mereka. Dari klinik ke apartemen Maura paling sekitar 5km dan dari kantornya Ardian 3km, dan sekarang dari gedung Imperial palace sekitar 7km karena sedikit lebih jauh jaraknya.


Ketika sampai mereka langsung meminta perawat yang ada di sana membawa Ardian memakai bangsal roda.


Mereka nampak panik dengan keadaannya, dia sudah lemas sekali hampir hilang kesadarannya, bekas darah keluar dari mulutnya itu mengering hanya menyisakan bekas pukulan di dadanya.


Dokter Jeffrey langsung menanganinya, dia heran kenapa Ardian selalu terluka. Dan anehnya tidak ada luka yang membekas ditubuhnya.


Jikapun itu ada, pasti tidak akan lama akan menghilang dan dia sembuh total. Seakan-akan dia bisa menyembuhkan dirinya sendiri.


"Kenapa aku ada disini? Siapa yang membawaku kesini?" Tiba-tiba saja dia bangun dari bangsal, seperti orang bangun tidur dan tidak terjadi apa-apa.


Dan sekali lagi dokter Jeffrey dibuat kaget dengannya, padahal kondisinya tadi hampir kritis. Dan sekarang tiba-tiba bangun, tidak terjadi apapun padanya.


"Apa tidak bisa kamu datang dalam keadaan sehat? Selalu datang dalam keadaan terluka, terakhir bertemu kamu baik-baik saja dan sekarang malah babak belur." Kata dokter Jeffrey.


"Tapi nyatanya aku sehat dan tidak kenapa-kenapa kan," ujar Ardian santai sambil memakai bajunya kembali.


Terlambat sedikit dia bangun, mungkin dia sudah dibedah oleh dokter itu saking penasaran dengan penyakit yang aneh itu.


"Lain kali jika kau terluka, tidak usah dibawa kesini. Pulang saja nanti juga sembuh sendiri," ujar dokter Jeffrey menggelengkan kepalanya, heran dia dengan temannya satu ini.


"Biasanya juga begitu, tapi kalau Julian tahu dia langsung panik dan membawaku kesini. Untungnya ini klinikmu, coba kalau tempat lain mungkin aku sudah jadi percobaan buat mereka." Sahut Ardian sambil mencuci wajahnya di ruangan itu.


Ruangan itu, semacam ruangan UGD untuk korban atau pasien luka berat, jadi jika dokter atau perawat ingin mencuci tangan atau sterilisasi alat bisa juga di sana.


Saat itu diruangan hanya ada mereka berdua, dokter Jeffrey menghela napas dengan kelakuan temannya itu.


"Kata siapa, aku hampir saja membedah mu tadi. Kau lihat alat-alat di samping bangsal itu, aku bersiap membela dadamu itu!" ujar dokter Jeffrey kesal.


"Ish, mengerikan! Ternyata kau berbahaya juga, dok!" goda Ardian sambil berpura-pura takut.


Lalu mereka tertawa berlanjut keluar dari ruangan itu bersama, orang-orang yang ada diluar sangat terkejut dengan kedatangan mereka.


Kenapa dokter dan pasien sekarat tadi malah keluar santai, apa mereka saling mengenal dan bercanda saja? Atau dokter itu sangat hebat bisa menyembuhkannya secara total?


Ardian maupun dokter Jeffrey hanya tersenyum kaku tak bisa menjelaskan apa-apa.


......................


Bersambung