RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Season 2 : (PNS) Penampakan jin penunggu rumah


"Apa yang terjadi? Saat pingsan tadi aku gak tau apa-apa lagi" ujar gadis itu.


"Tidak ada apa-apa, makhluk tadi hanya ngagetin aja" balas Maura.


"Btw, namamu siapa? Dan rumahmu dimana?" tanya Maura mengalihkan topik pembicaraan.


"O ya, namaku Kiara. Kakak siapa namanya?" tanya balik Kiara.


"Namaku Maura, aku penduduk baru di desa ini. Aku tinggal diatas bukit sana" ujar Maura.


"Di atas bukit? Oh, rumahnya nek Dawiyah... Tau kok, keluarganya sangat terpandang sekali di desa kami. Bahkan orang-orang dari desa lain juga tahu dengan keluarga nenek Dawiyah.


Jadi, Kakak ini cucunya nek Dawiyah juga yah? Memang betul-betul keluarga besar" ujar Kiara tersenyum kagum melihat Maura.


"Iya, terima kasih. Sebetulnya aku masih baru disini, dan belum punya banyak teman. Dan aku juga masih belum tau apa-apa tentang desa ini" ujar Maura lagi.


"Emm, kalau Kakak mau aku bisa kok nemenin Kakak selama disini" ujar Kiara menawarkan diri untuk membantunya beradaptasi di desa tersebut.


"Haha! Kamu baik sekali, Kiara. Aku sebenarnya tidak selalu ada disini, karena dari pagi hingga siang, aku kuliah di kota, kadang sampai sore juga kayak sekarang" ujar Maura menolak secara halus.


"Tapi jika libur, aku mungkin akan berada di rumah saja, yah... Tidak mudah minta keluar dari rumah jika tak ada keperluan penting" ucap Maura juga.


"Iya, Kak. Tidak apa... Kami semua juga tahu, begitu tertutupnya keluarga nek Dawiyah, hingga jarang berkumpul atau saling berkunjung dengan tetangga ataupun warga desa lainnya, eh!" Kiara keceplosan saat berbicara.


"Maksud kamu apa? Tertutup bagaimana?" tanya Maura penasaran.


"Ehm, tidak ada Kak. O ya, jika Kakak punya waktu dan ingin berkeliling desa, temui saja saya di rumah didekat jalan setapak menuju sungai.


Saya pamit pulang duluan ya Kak, itu rumah nek Dawiyah sudah dekat. Saya pamit dulu yah, permisi" ujar Kiara buru-buru meninggalkannya sendirian.


"Aneh, ada apa dengannya? Dan apa maksudnya tadi?" gumamnya penasaran.


Dia berjalan menyusuri jalan setapak menuju rumah neneknya, jalan itu sedikit menanjak sampai ke atas bukit dekat perkebunan teh itu.


Diujung jalan Maura melihat sosok kunti duduk diatas pohon deket jalan setapak itu, kunti itu sedang mengawasi Maura, sepertinya Maura sudah mulai terkenal dikalangan para makhluk tak kasat mata.


"Anak aneh, darah campuran!" ujar Kunti itu meledek Maura ketika melewatinya.


Maura diam tak meladeninya, karena percuma saja, semakin dia merespon mereka semakin juga mereka semuanya senang mendapatkan perhatian dari Maura.


"Huuuu, gak asik!" teriak si Kunti.


Maura sudah didepan rumah itu, dia mengendap-endap masuk kedalam rumah itu sudah seperti maling saja.


Lampu ruang tamu begitu gelap, biasanya jam segitu masih nyala dan orang-orang masih berkumpul di sana.


Klik!


Suara saklar lampu dinaikan, ruang tamu itu menjadi terang benderang oleh lampu-lampu yang ada di dalam ruang tamu itu.


"Ah, se-selamat sore eh malam Om, Tante, Nek.." ujar Maura gugup menghadapi mereka semuanya.


Di ruang tamu itu hanya ada beberapa tetua adat dari keluarga nenek Maura itu, dan yang lainnya tidak ada.


"Apa kau tidak mengerti atau memang berusaha mengabaikan aturan rumah ini?! Sudah kebilang sebelumnya, tidak boleh pulang terlalu sore!" bentak neneknya.


"Maaf, Nek. Tadi angkotnya mogok, dan angkot selanjutnya belum juga datang. Jadi saya ikut dengan beberapa penduduk desa ini dan ikut melewati jalan pintas menuju desa ini" ujar Maura menjelaskan semuanya.


"Yang melewati tengah hutan itu?" tanya bu Sinta penasaran.


"Iya, Bi" ujar Maura sopan.


"Oh, oke.." jawab bibinya, dia terlihat gusar.


"Anak ini belum apa-apa sudah menarik perhatian para jin yang ada di sana, gawat! Bisa ramai ini rumah nantinya" gumam bu Sinta.


"Kalau begitu, saya permisi dulu Nek, dan juga lainnya" ujar Maura seraya berlalu pergi menuju kamarnya.


"Dasar tak sopan, orang tua belum selesai bicara dia sudah main kabur saja" ujar bu Sinta.


Sebenarnya Maura pergi bukan karena tak sopan, tapi dia sudah tak tahan lagi setelah melihat sesuatu dibalik pojokan lemari kayu besar dibelakang sofa neneknya itu.


"Apa itu tadi, mengerikan!" ucapnya bergidik ngeri.


Maura kembali teringat dengan sosok mengerikan itu, sosok itu berwujud lelaki tua bertubuh ringkih seperti tulang berbalut kulit saja, belum lagi wajahnya tadi penuh dengan bolong-bolong dian mengeluarkan banyak belatung-belatung bercampur darah dan nanah.


Membuatnya mual dan jijik sekali, hingga terburu-buru mengeluarkan isi perutnya tadi.


"Belum juga diisi, udah muntah duluan" gumam Maura kesal.


Setelah mandi dan menunaikan ibadah sholat magrib di jama' sama isya, akhirnya Maura kembali turun ke lantai satu. Dia menuju ruang makan.


"Lebih baik aku cepat makan saja, setelah itu kembali ke kamarku" gumamnya sambil mengambil dua sendok nasi.


Dia benar-benar merasa sangat lapar, apalagi dia juga sudah memuntahkan makanan yang dia makan tadi siang.


"Nyam, nyam... Nyam!" terdengar suara orang yang ikut makan bersamanya.


Maura memperhatikan disetiap sudut untuk mencari arah suara itu, tapi tak menemukan siapa pun di sana. Dan Maura pun mengabaikannya.


"Nyam, nyam...nyam!" kembali terdengar suara itu lagi.


Kali ini Maura menghentikan acara makannya, dia benar-benar bangun dari duduknya dan mulai mencari arah suara itu.


"Nyam, nyam!" suara itu semakin kencang di telinganya.


Dia memperhatikan dibawah kolong meja makan besar itu, dia terkejut melihat makhluk yang dia lihat disaat ruang tamu.


Makhluk itu sedang menikmati acara makannya, dia memakan belatung bercampur nanah dan darah diwajahnya. Benar-benar menjijikan.


"Dasar, makhluk sialan. Keluar sana!" teriak Maura sambil melempar sendok kearahnya.


"Kau anak Irwan Hartawijaya dan Laura Magdalena, jangan bersikap kurang ajar padaku" kata makhluk itu tadi seraya berjalan keluar dari bawah kolong meja makan itu.


"Aku tak bersikap lunak dihadapan para jin menjijikan sepertimu" ucap Maura memandang sinis makhluk mengerikan itu.


"Haha! Tapi semua manusia di rumah ini begitu menyambutku dengan baik, kau pun harus begitu. Aku tadi tak bermaksud untuk menakutimu, hanya sekedar ingin berkenalan" ujar makhluk itu seraya berjalan tertatih-tatih mendekati Maura.


"Ngajak kenalan kok kayak gitu?! Dan berhenti di sana, jangan dekat-dekat jijik aku melihat wujudmu itu" ujar Maura sambil menutup mulut dan hidungnya.


"Dasar manusia kurang ajar!" bentak makhluk itu.


"Aku tak berteman ataupun bersekutu dengan jin sepertimu!" tolak Maura.


"Haha! Darah saja sama merah tapi watak sangat berbeda dengan keluarganya! Hei, aku akan mengajarimu banyak hal, kau akan memiliki kekuatan besar dan panjang umur, dan hidupmu akan dipenuhi harta tak habis tujuh turunan!" ujar jin itu mulai mengiming-imingi Maura.


"Maaf saja, aku tak butuh itu. Orang tuaku sudah cukup memberikan kebutuhan diriku, aku juga tak ingin hidup sampai beratus-ratus tahun. Buat apa? Kekuatan? Hem, dengan kekuatanku ini, sudah cukup bagiku mengirimkanmu ke penjara sebelum masuk neraka!" ujar Maura sinis.


"Apa? Penjara? Haha! Penjara mana yang akan memenjarakan aku!" teriaknya sombong.


"Teruslah bersikap seperti itu, maka akan ada alasan bagiku untuk menangkapmu" gumam Maura dalam hati.


Tidak butuh lama, Maura langsung menyerang makhluk itu. Dia merapalkan beberapa mantra sambil melayangkan serangan kepada jin iprit itu.


Tapi tak mudah mengalahkan jin itu, beberapa kali pukulannya meleset bahkan dia kena pukul beberapa kali sampai memuntahkan sedikit darah dari mulutnya.


"Haha! Dasar manusia sombong, aku bukanlah tandinganmu. Aku sudah kenyang oleh tuanku, tiap bulan dia mempersembahkan darah segar untukku, jadi tak ada alasan bagiku untuk kalah ataupun hancur ditangan anak kecil sepertimu!" ujar jin itu sombong.


"Baiklah kalai begitu, aku tak punya pilihan lain selain menggunakannya" gumam Maura.


Dia seperti menarik sesuatu dari arah belakangnya, tiba-tiba saja selendang kuning keemasan ada ditangan Maura. Melihat itu wajah jin itu berubah seketika.


"Ka-kau rupanya!" teriaknya tak percaya.


Dia sepertinya sudah tahu akan kekuatan dari selendang itu, makanya dia hendak kabur tapi tertahan oleh selendang itu oleh kibasan dari tangan Maura.


"Kini kau tahu, kenapa aku tak takut ataupun berani melawanmu?! Itu karena ada seseorang yang senantiasa melindungiku" ujar Maura berbisik ditelinga makhluk itu.


Lalu sekali hentak, dia langsung berpindah alam menuju istana bayangan Maharaja Balaputradewa. Dia menggeret paksa makhluk itu, lalu langsung dibawa oleh prajurit bayangan.


"Maura, apa kabar? Sudah lama tak jumpa" sapa sang Raja.


"Baik, Yang Mulia. Semenjak Dewi berlibur, aku merasa kesepian" ujar Maura sedikit mengeluh.


Dewi Srikandi saat ini memang meminta waktu kepada Maura untuk dirinya bertemu dengan kekasihnya itu.


"Bukankah tanpa aku, kau sudah bisa mengatasi mereka?" tanya sang Dewi.


"Bukan begitu, Dewi. Hanya saja hamba butuh teman saja, apalagi di rumah itu. Begitu sepi" ujar Maura lagi.


"Bersabarlah, sebentar lagi waktu liburku selesai. Setelah itu kita berkumpul kembali" ujar Dewi Srikandi.


"Baiklah, yang penting tidak lupa untuk pulang aja, dan akupun harus pulang sekarang sebelum mereka semua curiga" ujar Maura.


Diiringi anggukan oleh Raja dan Dewi, Maura pun akhirnya pergi meninggalkan dunia gaib itu kembali ke dunia manusia.


Dia kembali menikmati makan malamnya, seolah-olah tak terjadi apapun.


......................


Bersambung