
Panglima Adipati Arialoka merupakan salah satu punggawa, yang ditugaskan menjaga dan melindungi Kerajaan dan Kesultanan Sriwijaya.
Arialoka adalah nama kecilnya, sedari kecil dia sudah ada di istana. Kedua orang tuanya merupakan pelayan di istana itu. Saat itu, Balaputradewa masih bergelar Putra Mahkota.
Kedua orang tua Arialoka merupakan penjaga dan dayang istana yang melayani langsung keluarga kerajaan. Ayah Arialoka merupakan salah satu prajurit terbaik di masanya.
Beliau juga yang mengajari Balaputradewa ilmu bela diri, saat dia sedang melatihnya Arialoka selalu bersamanya. Tak jarang mereka berlatih bersama.
Balaputradewa meminta kepada Raja dan Ratu pada masa itu, untuk menjadikan Arialoka sebagai pengawal dan sekaligus sahabatnya. Mereka selalu bersama, kedua sahabat yang rela melakukan apapun demi sahabat yang lainnya.
Pada saat hari itu, ketika usia mereka menginjak remaja. Mereka kedatangan tamu dari jauh, seorang Brahmana membawa seorang gadis ke istana. Seorang gadis yang cantik parasnya, memiliki senyum manis menggoda.
Kecantikan gadis itu mampu membuat dua sahabat tadi menjadi musuh dan bersaing mendapatkan cinta gadis itu.
"Kau datang darimana, apa hubunganmu dengan Brahmana putih itu?" Kata Balaputradewa yang memberanikan diri mendekati gadis itu.
Dia menyebut nama Brahmana putih itu karena Brahmana tadi memakai pakaian serba putih ditambah lagi rambut, alis dan jenggot beserta kumisnya pun sudah memutih semua.
" Aku Putri Dadar Bulan, aku putri dari kerajaan kecil yang merupakan bagian dari kerajaan besarmu ini." Sahut sang putri sambil menunduk hormat.
" Aku Balaputradewa, aku adalah Putra Mahkota di kerajaan ini." Katanya sambil membalas hormat sang putri.
" Dan disebelah sana adalah pengawal sekaligus sahabatku, Arialoka." Katanya mengenalkan Arialoka dari jauh.
Arialoka sengaja berdiri agak jauh dari mereka, dia memposisikan dirinya hanya sebagai pengawal. Tidak lebih dari apapun.
Semenjak hari itu, mereka bertiga menjadi sahabat. Kemanapun pergi selalu bersama.
Hingga suatu hari, di balai pertemuan.
Mereka semua dikumpulkan, tidak hanya mereka tapi semua pejabat dan para pemimpin semua ada disana. Semua hidangan lezat tersedia atas meja mereka masing-masing.
Ketiga sahabat itu heran dan belum mengerti, ada perayaan apa di istana. Kenapa banyak sekali tamu dan hidangan disini?
" Dengarkan semuanya, Aku, Raja besar di Kerajaan besar Sriwijaya ini akan memberi berita besar kepada kalian.
Aku harap kalian semua menyetujuinya tanpa ada alasan apapun. Karena ini demi Kerajaan kita dan kemakmuran rakyat kita." Kata Raja, beliau sesekali melirik Ratu disampingnya. Seolah mengerti maksud Raja, Ratu hanya mengangguk dan tersenyum.
" Pengumuman ini aku tunjukkan kepada semua anggota keluarga dan seluruh rakyat Sriwijaya. Bahwa kami Raja dan Ratu mengikrarkan sebuah ikatan suci kepada Ananda kami Pangeran Balaputradewa dengan Putri Mahkota Putri Dadar Bulan akan ditunangkan." Mendengar hal itu semua orang terkejut
Bagaimana tidak, Putri Dadar bulan berasal dari kerajaan kecil yang sudah hancur. Pada masa itu terjadi perang kecil perebutan kekuasaan di tanah kerajaan milik Putri Dadar Bulan dengan Kerajaan Sriwijaya. Dan kerajaannya kalah, dan sekarang Kerajaannya dibawah naungan Kerajaan besar Sriwijaya.
Putri sengaja dibawa ke Kerajaan ini untuk ditunangkan dengan Pangeran Balaputradewa. Karena itu merupakan salah satu perjanjian di masa lalu, jika Kerajaannya kalah berperang nanti, sang putri akan diberikan kepada Kerajaan Sriwijaya.
Dan Sekarang mereka menepati janjinya, Brahmana utusan Kerajaan Sriwijaya sengaja mengutusnya untuk membawa Putri Dadar Bulan.
Dan sang Putri pun terkejut, dia pikir kedatangannya ke istana akan dijadikan pelayan. Tak disangka, dia malah akan dinikahkan dengan Pangeran.
Ketiga sahabat itu terkejut, tapi juga membuat Pangeran Balaputradewa senang. Tak disangka wanita pujaan hatinya akan segera menjadi miliknya. Tapi tidak dengan Arialoka, dia merasa sedih dan sakit hati, wanita impiannya takkan pernah akan dia miliki.
" Arialoka, kau sudah lama mengabdi di Kerajaan. Rasa setia dan loyalitasmu kepada Pangeran benar-benar luar biasa, kami takjub padamu.
Sebagai hadiahnya, kami akan memberikan gelar kepadamu yaitu Adipati. Adipati Arialoka. Bagaimana menurutmu, apakah kau suka ?" Tanya Maharaja kepada Arialoka.
"Kebaikan Maharaja dan Maharani tak bisa hamba balas, apapun pemberianmu kepadaku akan terima dengan senang hati dan ikhlas wahai Raja dan Ratuku." Ucap Arialoka.
Sikap hormat setia Arialoka ini mampu menyihir semua yang ada di ruangan itu takjub dan kagum. Karena hal itulah Raja dan Ratu mempercayakan Pangeran kepadanya.
" Hari ini penuh dengan berita bahagia, mari kita rayakan dengan hidangan lezat ini dan berbagai hiburan nanti. Silakan dinikmati semuanya." Kata Raja memberi titahnya.
Semua terlihat bahagia, penuh senyum dan canda tawa. Tapi tidak dengan Arialoka, dia masih sedih dengan kabar pertunangan Balaputradewa dengan Putri Dadar Bulan.
Tapi dia tahu diri, dia tidak akan pernah bisa menandingi sang Pangeran. Dia hanya seorang pengawal saja, dan berusaha menjadi sahabat baiknya.
Yah, paling tidak dengan gelar barunya sebagai Adipati sedikit mengobati rasa sedihnya
Disalah satu pojok ditempat itu, terlihat seorang wanita tua sedang menangis haru dengan gelar baru putranya itu. Ya, itu Ibunya Arialoka.
Beliau senang anaknya bisa mengikuti jejak mendiang suaminya. Ayah Arialoka meninggal saat perang besar, Kerajaan Sriwijaya melawan Kerajaan Majapahit.
Peperangan itu tidak ada kalah maupun menang, yang hanya meninggalkan kesedihan semata. Banyak para prajurit dan panglima yang gugur saat perang itu terjadi.
Perang berakhir saat Kerajaan Majapahit memberikan sedikit sedikit daerah kekuasaannya, dengan syarat salah satu Putri kerajaan harus menikahi Pangeran Majapahit.
Dan saat itulah pertukaran terjadi, Putri Kenanga harus menikah dengan Pangeran Majapahit dan menetap di sana. Putri Kenanga Ayu adalah gelar yang diberikan untuknya oleh suaminya itu.
"Ibu, aku baru saja mendapatkan gelar baru dari Maharaja. Bagaimana aku bisa dan harus menanggung beban lebih besar lagi." Kata Arialoka terlihat sedih.
" Nak, sesuatu pekerjaan tidak akan menjadi beban jika kau melakukannya dengan ikhlas dan cinta. Seperti itulah mendiang Ayahmu melakukan pekerjaannya." Sahut sang Ibu.
" Ah Ibu, aku merindukan ayah." Katanya mulai terisak dipelukkan Ibunya.
" Doakan Ayahmu bahagia di surga bersama Hyang Widhi, dan ikhlaskan dia pergi nak." Kata Ibunya lagi.
" Aku sudah lama mengikhlaskan Ayah bu." Ucapnya.
" Bukan Ayahmu yang Ibu maksud, tapi dia." Kata sang Ibu sambil menunjuk sang Putri.
"Aku hanya seorang prajurit Ibu, aku tak berhak atasnya. Dia sekarang adalah tunangan Pangeran juga sahabatku." Katanya menunduk sedih.
" Baguslah nak, kau berjiwa besar Ibu bangga padamu." Katanya sambil mengusap punggung putranya memberi semangat.
Dari kejauhan nampak Pangeran sedang bercengkrama dengan Putri Dadar Bulan sambil melirik Arialoka, dengan tatapan sedikit tajam.
......................
Bersambung