
Malam itu terasa begitu berat, terasa lebih lama dari biasanya. Rumah sakit dari sore sudah terlihat sepi dan hening, padahal biasanya juga masih terlihat beberapa keluarga pasien ataupun perawat yang berlalu lalang.
Semua orang enggan keluar dari ruangan ataupun kamar pasien, karena merasa ada sesuatu yang aneh diluar sana. Bayangkan, manusia awam saja bisa merasakannya, apalagi manusia-manusia pilihan itu.
Triiinng!!
Wuuzzz!
Ctaaarr!
Langit malam semakin gelap dan suram, sinar bulan tertutup awan hitam, tak ada bintang yang muncul. Adanya suara guntur menggelegar diiringi cahaya kilat yang saling menyambar membelah langit malam itu.
Bagi manusia biasa, mereka akan menganggapnya ini fenomena alam biasa atau mungkin mengira hujan akan turun. Tapi yang terjadi adalah, peperangan antara pasukan iblis dan penyihir melawan kerajaan langit dan kerajaan bayangan.
"Kita harus menyelesaikan ini sebelum malam berakhir, jika tidak para iblis dan jin jahat akan memasuki dunia manusia begitu saja, dan keseimbangan alam akan rusak olehnya!" teriak Aurora disela-sela pertarungannya melawan para pasukan iblis kearah panglima Arialoka, yang keadaannya sama saja dengannya.
"Aku tau, fokus saja! Aku akan melindungi Ardian, jangan sampai ritual zikirnya terganggu oleh para pasukan iblis ini!" sahut juga panglima Arialoka.
Suara ringkikan kuda dan juga suara pedang saling beradu memekakkan telinga, Maura yang sudah dikuasai sepenuhnya oleh Dewi Srikandi tampak marah dan sangat murka sekali, sesekali dia menyabet para makhluk yang mengerumuninya itu dengan selendang kuningnya.
Craaass!
"Aaargghh!"
Tusuk kondenya yang sudah berubah menjadi pedang tajam menebas kepala salah satu makhluk besar berbulu dengan taring besar di mulutnya, yang biasa orang sebut genderuwo.
"Awas!" teriak Arga dari arah belakangnya.
Ekor panjangnya langsung menepis sebuah batu besar mengarah kearah Maura.
"Agh!" teriaknya, pasalnya batu besar itu bukan sembarang batu, ada kekuatan besar didalamnya.
Sorot mata Dewi Srikandi didalam tubuh Maura menatap siluman ular itu dengan tajam, dia masih berpikir setiap siluman itu sama jahatnya dengan para iblis itu.
"Jangan bodoh, batu itu tidak akan melukainya! Yang ada ekormu yang hampir putus!" teriak temannya sesama siluman ular itu tadi.
"Aku tidak tahu itu batu ada isinya!" ujar Arga meringis, ekornya menghitam sebagian yang terkena hantaman batu tadi.
Rasanya seperti terbakar, menghitam seperti terpanggang. Tapi dia tak boleh lengah, dia dan temannya bergabung dengan beberapa pasukan Dewi Srikandi yang lain untuk melawan beberapa pasukan iblis yang tinggal sedikit itu.
Setelah pertarungan panjang, melihat mereka sudah kehilangan banyak prajurit, Panglima Arialoka mau tak mau membangunkan Ardian dengan merasukinya.
"Maafkan aku mengganggu waktu ibadahmu, tapi kita membutuhkan dirimu.." bisik panglima Arialoka kepada Ardian.
Blazzz!
Wujud panglima Arialoka berubah menjadi cahaya putih melesat masuk kedalam tubuh Ardian, lelaki itu tersentak sesaat panglima Arialoka memasuki tubuhnya. Panglima Arialoka bagaikan wujud tanpa tubuh, begitu lemah melawan para pasukan iblis, begitu dia merasuki Ardian, dia memiliki energi berpuluh-puluh kali lebih kuat dan memiliki energi penuh.
Semalam suntuk mereka melakukan peperangan itu, tak ada menang ataupun kalah, pertarungan mereka seimbang. Matahari hampir menampakan sinarnya dari ufuk timur. Panglima Arialoka dan lainnya begitu khawatir, mereka takut para pasukan iblis berhasil memasuki dunia manusia.
"Dunia gelap berada di bawah dasar tanah yang tak mungkin naik kepermukaan, dunia terang berada diatas permukaan tanah biarkan tetap terang. Jangan biarkan para iblis menguasai bumi! Manusia dan iblis tidak akan pernah bersatu, jika manusia hancur, maka iblis juga akan hancur!!"
Kata-kata yang diucapkan oleh sang Dewi memiliki daya magis yang begitu tinggi, semuanya nampak terdiam dan memperhatikan dirinya, sang Dewi mengucapkan beberapa kata dan menancapkan pedangnya ke tanah dengan kencangnya.
Bhuuumm!
Tanah bergetar dengan hebatnya, para pasukan iblis terpental jauh. Angin kencang berhembus kuat menerpa mereka, setelah itu tanah bergetar kembali dengan begitu hebatnya, menimbulkan beban retakan yang begitu panjang seolah akan membelah bumi.
Retakan tanah itu terbelah menjadi dua, membentuk sebuah lubang hitam yang begitu besar, cahaya pijar dari kava api dari dasar tanah terlihat dengan jelas mereka.
Para pasukan iblis begitu ketakutan, mereka berusaha pergi dan menghindar, tapi bagaikan tersedot oleh lubang hitam penuh dengan kava api, mereka semua berteriak ketakutan. Semua sisa makhluk itu tersedot masuk kedalam lubang dan dipastikan semuanya sudah masuk, kemudian pelan-pelan lubang hitam itu menutup dengan sendirinya.
"Tidaaaakk, aku tak ingin kembali lagi ke ke neraakaaa!!" teriakan para pasukan iblis masih terdengar oleh mereka sebelum tanah benar-benar menutup dengan sempurna.
Suasana kembali hening dan sunyi, tidak terdengar lagi suara dentuman peperangan, ataupun dentingan suara pedang saling beradu. Hanya terdengar suara-suara nafas mereka yang ngos-ngosan karena kelelahan, meskipun mereka mahkluk gaib, peperangan ini memakan energi gaib yang cukup menguras tenaga.
"Kita harus tetap berjaga dan bersiaga meskipun para makhluk itu telah pergi, tetap lindungi Dewi, wilayah ini juga dan perbaiki perisai yang rusak. Yang lain, ikut aku ke perbatasan dimensi manusia dan dimensi lain, jangan pasukan lain ataupun makhluk jahat lainnya menggunakan kesempatan ini untuk masuk!" teriak Aurora memberi komando.
"Baik!" jawab serentak para prajurit yang masih tersisa sedikit.
Sebagian masih berjaga di rumah sakit itu, mempertebal kembali perisai yang sudah hancur. Melindungi tubuh Maura tanpa jiwa itu, karena jiwanya telah keluar bergabung dengan Dewi Srikandi untuk berperang.
Sedangkan Aurora, Dewi Srikandi, panglima Arialoka yang juga Ardian itu bersama Arga dan para prajurit yang lainnya terbang melesat tinggi kearah perbatasan dimensi manusia dan dimensi makhluk lain.
Dan benar saja kata Aurora, ada beberapa makhluk lain yang mengambil kesempatan untuk memasuki dunia manusia, tapi dihalangi oleh mereka. Termasuk sisa-sisa prajurit iblis yang ingin menerobos masuk, mereka semua hancur seketika sesaat sang Dewi berteriak kencang.
Sriinngg!
Cahaya pajar matahari yang keluar dari ufuk timur mulai terlihat, mereka terlihat lega karena artinya peperangan untuk sementara waktu berakhir. Tapi mereka belum bisa bergerak sebelum matahari benar-benar muncul dengan sempurna dipermukaan langit.
Selang beberapa waktu, sekitar pukul enam pagi lebih dari lima belas menit. Matahari sudah benar-benar muncul dari atas kepala mereka, ketika Aurora dan Dewi Srikandi sudah mematikan keadaan sudah aman, dan pintu dimensi sudah tertutup dengan sempurna lagi, barulah mereka turun dari atas sana menuju bumi, dunianya para manusia.
"Kembalilah bersama Ardian, katakan kepada Maura untuk percaya kepada suaminya.. Untuk sementara ini, kita aman. Tapi tetap harus berjaga dan berhati-hati, karena dunia manusia belum sepenuhnya aman.." ujar Aurora kepada Dewi Srikandi dan panglima Arialoka.
Ssaaatt!!
Aurora dan sisa prajurit yang lain melesat cepat naik keatas langit meninggalkan mereka, sementara itu Arga dan temannya hanya menatap Maura dan Ardian dari jauh dengan tatapan haru dan juga sedih.
"Kalau sudah begini, sangat sulit digapai dirinya. Jangankan menggapainya, mendekatinya saja aku tak bisa, huufft!" ujar Arga sambil menghela nafas berat.
"Sadarlah, siapa dirimu! Meskipun dia bukan seorang Dewi, kau tetap takkan bisa memilikinya. Dia seorang manusia, dan kau hanya makhluk mengerikan bagi kaumnya! Ya sudah, ayo kita juga harus pergi, kita harus melaporkan juga kejadian ini kepada panglima langit!" sahut temannya sambil melesat terbang tinggi menuju langit.
"Yaah, kau benar.." gumam Arga sambil tersenyum tipis.
Kemudian diapun ikut menyusul temannya pergi dari tempat itu, sedangkan panglima Arialoka menuntun jiwa Maura kembali masuk kedalam tubuhnya.
"Kau juga butuh istirahat, Ardian.." ucap panglima Arialoka sesaat setelah dia keluar dari tubuhnya.
Dia membiarkan tubuh Ardian tertidur memeluk tubuh Maura diatas kasurnya, mereka terlihat tertidur dengan lelapnya dalam posisi saling berpelukan dengan mesranya.
......................
Bersambung