
Maura telah sampai ke dimensi tempat kerajaan bayangan, tempat Maharaja Balaputradewa dan Putri Kenanga Ungu berada. Setelah melapor dia langsung melempar Baba Yaga kedalam penjara khusus untuknya.
Kini dia menghadap ke sang raja, sambil memperlihatkan jantung Baba Yaga ditangannya, dia juga meletakkan kondenya didepan sang raja.
"Apa ini, Maura?" tanya raja Balaputradewa.
"Ini adalah jantung Baba Yaga, salah satu penyihir terkuat di dunia ini. Dan.. O
Konde ini adalah senjata yang aku pakai untuk mencabut jantung ini.." jawab Maura sambil menunduk hormat.
"Wah, ini langkah awal yang bagus, Maura! Kau berhasil menangkapnya sendiri tanpa ditemani oleh Dewi Srikandi, ah! Maksudku Putri Dadar Bulan.." ucap sang raja.
"Tapi, menurutku ini ada yang salah Yang Mulia, hamba merasa menjadi orang lain saat menggunakan konde ini, hamba tak bisa mengontrol emosi hamba.." ucap Maura lagi.
Dia masih teringat saat dia melawan dan mengalahkan Baba Yaga, apalagi saat dia menancapkan benang emas itu tadi dan menebus jantung itu dengan panah dan menarik paksa jantung itu.
Saat melakukannya dia biasa saja, malah sangat bersemangat, tapi setelah selesai dan dia memikirkannya lagi, rasa bersalah itu ada, dia merasa menjadi sangat keji dan kejam sekali.
"Tidak apa, pada awalnya memang seperti itu. Tapi lama-kelamaan juga kau terbiasa, itu mangkanya saya mengatakan untuk menggunakan konde itu dalam keadaan darurat dan genting saja.
Karena konde itu juga bisa menguasai emosimu dalam menghadapi lawanmu nanti, maka dari itu kau tak pernah ragu ataupun memikirkan banyak hal untuk melawan ataupun membunuh mereka.
Kau sudah memiliki kalung giok delima sakti itu sebagai kekuatanmu, gunakan saja itu untuk melawan makhluk dibawahnya, dan aku yakin kau juga sudah belajar banyak saat bersama Dewi Srikandi mu dulu.
Dan sekarang, kau lah Dewi Srikandi nya.. Karena tugas Putri Dadar Bulan sudah selesai, dia sudah tak berkewajiban untuk menemanimu lagi, tapi jika kau ingin bertemu dengannya, bisa saja.
Mungkin kau butuh petunjuk atau wejangan darinya, karena dia adalah Dewi Srikandi yang pertama, dan kau yang kedua, dan aku harap tak ada lagi Dewi Srikandi yang ke tiga ataupun keempat dan selanjutnya.
Jadi, Maura.. Semangat dan berjuanglah, dan aku juga lihat.. Semua anak buahmu sudah berkumpul juga, kau tak sendirian lagi. Ada banyak orang dan pengawal yang membantumu," ucap raja Balaputradewa menjelaskan semuanya.
"Baik, Tuanku Baginda. Hamba mengerti, tapi sebelum hamba pergi... Bolehkah hamba menemui Dewi Srikandi, ah maksudku.. Putri Dadar Bulan.." ucap Maura lagi bingung sendiri.
"Baiklah, kau bersihkan dirimu dulu. Badanmu penuh lumpur dan kotoran!" ucap raja seraya meninggalkannya.
"Pantesan aku merasa ada yang bau, ternyata badanku sendiri, ah! Memalukan!" gumamnya malu sendiri.
Maura mengikuti salah satu dayang ke sebuah ruangan untuk membersihkan diri, dia menemukan pakaian yang sama persis seperti miliknya, kain songket bersama kemben dan kebaya miliknya yang bentuk, ukuran dan detailnya sangat mirip, sama persis sekali.
"Bagaimana ini bisa sama persis, apakah selama ini dia mengawasiku? Apa pertarungan tadi dia juga melihatnya?" tanyanya dalam hati.
Setelah selesai, Maura diajak ketempat yang sangat asri di padepokan tempat Putri Dadar Bulan beristirahat, bukan tempat hukuman seperti yang dia bayangkan.
"Maura.." dia menoleh kearah suara yang memanggilnya.
Dia melihat Putri Dadar Bulan berjalan kearahnya ditemani para dayang, dia begitu cantik dan sangat anggun dengan pakaiannya, memakai pakaian anak agung songket, pakaian khas putri kerajaan Sriwijaya pada masa itu.
"Dewi..." sapa Maura senang sekaligus takjub melihatnya.
"Tidak lagi, aku sekarang adalah seorang tuan putri biasa, Maura. Panggil aku Putri Dadar Bulan, karena Dewi Srikandi itu sekarang adalah kau sendiri.." ucap sang putri.
"Tapi, apa bisa aku melakukannya?" tanya Maura dengan lirih, masih tak percaya dengan kemampuannya.
"Maura, bisa atau tidak itu berasal dari hati dan pemikiranmu sendiri. Jika kamu percaya dan yakin dengan kemampuanmu sendiri, maka percayalah bahwa kau bisa dan mampu segalanya.
Bukankah kau sudah membuktikan kemampuanmu itu? Baba Yaga adalah satu dari ratusan bahkan ribuan dari penyihir lainnya, dia adalah penyihir terkuat yang pernah ada.
Dia hidup dari memakan hati dan jantung anak-anak, bahkan jiwa anak-anak itupun dia hisap untuk mengambil energinya, tak ada yang bisa mengalahkannya karena dia memperoleh kekuatan dari anak-anak yang masih suci dan bersih itu.
Dan kau berhasil mengalahkannya, kau berhasil membawanya kesini dan mempersembahkan jantungnya ke raja Balaputradewa, konde itu berhasil kau gunakan, Maura.." ucap Putri Dadar Bulan menjelaskan semuanya.
"Iya, terima kasih semua penjelasannya. Dan aku harap kau sekali-kali mengunjungiku, dan aku juga masih membutuhkanmu, Putri..
Ngomong-ngomong, apakah selama ini aku diawasi? Apa semua pergerakanku selalu diketahui, jangan-jangan kedatangan Baba Yaga juga..." ucap Maura mulai menduga-duga.
"Hehe.. Kau sangat pintar, Maura. Semua dugaanmu sebagiannya ada benarnya juga, tapi kedatangan Baba Yaga diluar dugaan kita semua. Tapi percayalah, kami takkan membiarkan dirimu sendirian.." ucap Putri Dadar Bulan.
"Mereka memang berada tak jauh darimu, Maura. Makanya dengan insting bertarung mereka menyelamatkanmu, untuk kedatangan pasukan kedua, memang kami yang mengirimnya.
Mengingat Baba Yaga bukan lawan yang sepadan untuk mereka, tapi kami percaya kau pasti bisa melaluinya, karena setiap Dewi yang bereinkarnasi pasti memiliki keistimewaan tersendiri" jawab sang Putri juga.
"Apa kau bekerja sama dengan Maharaja?" tanya Maura penasaran.
Putri hanya tersenyum saja, melihat itu Maura sudah mengerti maksud dari senyuman itu. Setelah itu Putri membawa Maura kesebuah taman yang sangat indah, di sana sudah ada kuda putih Unicorn, kuda kesayangan Dewi Srikandi, termasuk kuda perangnya juga.
"Maura, perkenalkan. Namanya Aurora, dia juga pejuang seperti kita. Dia adalah pengawal terbaik yang pernah aku miliki, dia bisa menembus waktu dan dimensi lainnya, dia bisa diandalkan juga.
Jika kau dalam keadaan terdesak panggil saja dirinya, dia akan datang dengan cepat membantumu. Kau bicara saja santai padanya, dia akan mengerti semua dengan ucapan dan gerakan tubuhmu.
Dan mungkin dia lebih bisa mengerti kita dibandingkan diri kita sendiri, nah.. Aurora, sekarang dia adalah Dewi Srikandi selanjutnya, kau hormati dan hargai dirinya seperti kau lakukan itu kepadaku.
Dia adalah tuanmu, lindungi dan jaga dia, aku mengandalkanmu.." ucap Putri Dewi Srikandi sambil mengusap lembut kuda itu.
Seolah kuda itu memahami semua pembicaraan dan perasaannya, Aurora, kuda itu juga menatapnya sendu dan menundukkan kepalanya dihadapan sang Putri.
"Nah, Maura.. Coba kau perkenalkan dirimu kepadanya, perlakukan dirinya sebaik mungkin, dia sangat sensitif dan posesif juga, hatinya lebih lembut daripada hati anak-anak.." bisik Putri.
Maura menghampiri kuda itu dengan perasaan hati-hati, jantungnya berdegup kencang, dia takut membuat kuda itu menjauh darinya, bahkan lebih buruk lagi kuda itu tak menyukainya.
"Ehem, hem! Ha-hai... Perkenalkan, namaku Maura. Kita pernah ketemu sebelumnya, mari kita berteman. Dan semoga kau menyukaiku, dan maaf jika aku melakukan sebuah kesalahan nantinya.." ucap Maura memperkenalkan dirinya.
Kuda Unicorn itu hanya diam tanpa bereaksi, kemudian dia tertawa lembut seraya memperhatikan Maura, suaranya bukan suara ringkikan kuda, tapi suara perempuan dewasa yang sangat merdu sekali.
"A-apa ini?" tanya Maura bingung.
"Haha, kau habis dikerjain oleh Dewi, ah! Maaf, maksudku Putri Dadar Bulan. Aku tak sensitif atau posesif seperti itu, memangnya siapa aku, bukan tuan putri ataupun ratu disini.." ucap Aurora si kuda Unicorn itu sambil menunduk hormat kepadanya.
"Ah, begitu rupanya. Tidak apa, aku tak biasa melakukan sesuatu seusai kehendakku begitu saja, kau kuanggap teman saja, daripada sekedar tunggangan.
Tak elok rasanya, aku senang akhirnya bisa berteman denganmu, Aurora, aku harap setelah ini kita bisa berteman dengan baik.." ucap Maura juga seraya memberinya hormat.
Aurora maupun Putri Dadar Bulan sangat kagum dengan kerendahan hati Maura, memang titisan Dewi Srikandi tak main-main, mereka telah melalui banyak hal, segala ujian hidup dia lalui.
Tidak heran jika dia tumbuh dewasa dengan baik, sedikit bijak dalam menghadapi hidup, kadang dia melakukan kesalahan, tapi itu hal wajar dan masih bisa dimaklumi karena dia juga manusia biasa, selagi tidak fatal masih bisa dimaafkan.
"Terima kasih, Dewi. Mulai sekarang kau dan aku terikat, apapun yang terjadi kepadamu, aku yang akan lebih dulu tahu sebelum para pengawalmu datang, mungkin aku akan datang duluan.
Jika para pengawal itu datang untuk melindungimu dan melawan musuh dengan senjata mereka, tapi aku datang untuk menyelamatkanmu dengan membawamu pergi.." ucap Aurora menjelaskan tugasnya.
"Baik, akan aku ingat itu.." sahut Maura.
"Baiklah, tugas pertamaku sekarang mengantarkanmu pulang saat ini.." ucap Aurora sambil menundukkan badannya.
"Putri, aku pamit pulang, aku akan menyempatkan menemuimu jika berkunjung kesini lagi, dan kau juga jika tak ada kesibukan, boleh berkunjung ke tempatku.." ucap Maura juga.
Dia naik ke punggung Aurora dengan hati-hati, Aurora pun memperlakukan dirinya dengan lembut, mereka pergi dari taman itu semakin menjauh dari taman padepokan itu.
Maura menoleh kebelakang melihat Putri Dadar Bulan bersama raja Balaputradewa, mereka melampaikan tangan mereka sambil tersenyum sumringah kearahnya.
"Sepertinya mereka sangat lega sekali melepaskanku.." ucap Maura.
"Tentu saja, Dewi.. Ini adalah waktu yang sudah ditunggu-tunggu oleh mereka, karena sebentar lagi tugas mereka di dunia ini selesai, dan akan kembali ke akhirat bersama yang lainnya" sahut Aurora.
Mereka berlahan terbang tinggi menembus langit malam, Maura bagaikan seorang Dewi kayangan terbang bersama kudanya lengkap dengan kebaya dan songketnya dengan rambut terurai mengusap lembut wajahnya yang tertiup angin.
......................
Bersambung