RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Camelia Dan Iblis pemikat


"Maura! Maura, bangun! Hei..." Ardian mencoba menyadarkan Maura dari pingsannya.


Pelan-pelan Maura membuka matanya, dia menatap wajah Ardian yang begitu dekat dengannya. Dia mencoba bangkit dari posisinya semula, Maura meringis lehernya masih terasa sakit saat di cengkeram oleh Marino.


Dia melihat dari kejauhan Gerald bertarung melawan Marino, pertarungan itu nampak sengit sekali. Gerald menyerangnya tanpa henti sedangkan Marino sudah nampak kelelahan.


Saat Marino mundur dari posisinya karena ingin mengatur sedikit nafasnya, Gerald melakukan gerakan yang begitu cepat tanpa dia sadari gigi taring Gerald sudah menancap lehernya.


"Aarrghh!" teriak Marino kesakitan.


Melihat tuannya diserang membabi-buta oleh Gerald apalagi Marino dalam bahaya, sisa anak buah Marino langsung menyerbu menyerang Gerald.


Dalam jarak satu meter mereka semua terpental jatuh, tak ada satupun dari mereka berhasil menyentuh Gerald. Mereka menyadari ada dua anak manusia berada tidak terlalu jauh dari mereka, dan mereka juga tahu Gerald datang untuk membantu dua anak manusia itu.


Mereka berniat ingin menyerang Maura dan Ardian, karena mereka adalah kelemahan Gerald. Mungkin dengan cara ini Gerald bisa melepaskan tuan mereka.


Apalagi saat ini keduanya sedang lemah, tenaga mereka terkuras habis saat melawan semua anak buah Marino tadi dan juga saat melawan Marino. Lelaki itu juga menghisap habis energi mereka, sehingga keduanya nampak begitu lemah.


Semua anak buah Marino yang tersisa tanpa terkecuali menyerang mereka, Maura dan Ardian tahu mungkin ini akhir dari keduanya. Ardian memeluk Maura dalam posisi melindunginya. Keduanya memejamkan matanya, dan tiba-tiba ada angin kencang menerpa keduanya dan semua jin anak buah Marino terjatuh lagi.


"Sekarang apa lagi? Siapa yang melindungi mereka?!" ujar mereka keheranan.


Pada saat itu Camelia datang dia terbang menuju kearah mereka dan berdiri tepat didepan Maura dan Ardian, dia berdiri dalam posisi melindungi keduanya.


"Camelia..." Maura menatap tidak percaya apa yang dia lihat.


"Maafkan aku datang terlambat, Nona" ujar Camelia sambil tersenyum manis.


Setelah itu dia terbang menuju para prajurit jin jahat itu menyerang mereka tanpa ampun, dan saat itu Ardian nampak terpesona melihat hantu cantik karena baru pertama ini dia melihat hantu atau jin Wanita yang tidak mengerikan.


"Kenapa? Kau terpesona oleh kecantikannya?" tanya Maura, dari nadanya ada sedikit kecemburuan di sana.


"Bukan hanya cantik, tapi seksi. Hehe!" ujar Ardian menggoda Maura, dia tahu wanita disampingnya ini sedang cemburu.


Maura langsung mendengus kesal, meskipun Camelia hantu dia memang sangat cantik sekali, bagaimana jika dia masih hidup pasti sudah seperti miss internasional.


"Meskipun begitu dia itu hantu, gak asik. Mending manusia di sampingku ini meskipun galak tapi dia sangat manis apalagi kalau lagi marah sangat menggemaskan" ujar Ardian mencoba menenangkan hati Maura.


Wajah Maura bersemu merah, dia malu digoda oleh Ardian. Disaat seperti ini sempat-sempatnya dia menggodanya.


Saat ini Gerald dan Camelia berjibaku melawan Marino juga para prajuritnya, tiba-tiba saja pintu auditorium itu terbuka lebar dengan kencang suaranya mengagetkan Maura dan Ardian yang begitu serius memperhatikan Gerald dan Camelia bertarung melawan mahkluk jahat yang ada di sana.


Angin kencang p#ting beliung yang begitu besar masuk dari arah pintu itu, lama-kelamaan angin itu berubah menjadi sekumpulan asap putih hampir menutupi seluruh pintu didepannya.


Dan muncul sosok mahkluk mengerikan bersayap lebar dibahunya, kepalanya seperti kambing dan berkaki kuda ekor panjangnya menjuntai meliuk-liuk menghancurkan segalanya yang tersentuh olehnya.


Dan menggeram mengerikan mendekati Maura dan Ardian, keduanya nampak pucat dan gemetaran didekati makhluk itu. Makhluk itu memancarkan energi yang begitu gelap dan pekat, siapapun yang dia dekati merasa kesakitan dan sesak nafasnya.


"Berhenti dari sana! Jangan mendekat!!" teriak Ardian.


"Haha! Dasar manusia lemah, sudah tahu bakalan mati ditanganku tapi sok kuat di depanku!" ujarnya dengan suara berat mengerikan.


Maura dan Ardian merasakan mual yang hebat hingga memuntahkan darah, kedua begitu lemas tak berenergi.


Iblis itu menyeringai ketika membalikkan badannya, dia begitu senang ketika tahu siapa yang berbicara.


"Gadis kecilku sudah tumbuh besar, haha!" ujarnya.


"Apa maksudmu?! Aku bukan gadis kecil!" teriak Camelia sambil menyerangnya.


Semua serangan meleset, ibarat anak kecil memukuli orang dewasa tidak ada gunanya. Dia seperti mainan bagi Iblis itu, tubuhnya diayunkannya setelah itu dihempaskan ke lantai marmer di ruangan itu.


Camelia terhenyak dari posisinya, dia juga memuntahkan darah hitam dari mulutnya. Sisa darahnya mengalir dari mulutnya, dia begitu murka dan menyeringai memperlihatkan gigi-gigi taringnya. Dia menggeram bersiap melawan kembali tetapi tubuh tak kasat matanya menjadi kaku tak bergerak.


"Dasar makhluk naif, kau terlahir bukan untuk melawanku tetapi melayaniku" ujar iblis itu.


"Kau tahu bukan, nenek moyangmu itu pengikutku sampai ke nenekmu yang mati mengenaskan itu juga pengikutku. Dan kau pun ditakdirkan untuk melayaniku juga, haha!


Camelia, kau tahu kenapa kau masih ada di dunia ini bukannya kembali ke Tuhanmu?! Itu karena kau sudah ditakdirkan bersama kami, bersamaku untuk melayani yang mulia Arion Gaharu!


Camelia, gadisku! Kau pengantinku, jadilah permaisuri di singgasanaku!" kata iblis itu sambil mendekati Camelia.


Wajahnya begitu dekat, wajah begitu mengerikan dengan aroma bau busuk yang menyengat dan menghembuskan hawa panas dari hidungnya.


"Menjauhlah dariku, makhluk busuk! Wajah dan tubuhmu itu buruk rupa seperti otakmu! Tak sudi aku menjadi permaisurimu!" teriak Camelia berusaha sambil berusaha menggerakkan tubuhnya yang terkunci itu.


"Gadis licik, hihi! Aku suka denganmu, ambisi dan nafsumu yang membara ingin balas dendam atas kematianmu itu aku suka!


Sahabatku sangat menyukai pertarungan kalian dulu, meskipun dia sempat kalah dengan kucing besar itu" ujar iblis itu sambil menatap tajam kearah Gerald yang masih menghajar Marino habis-habisan, Gerald merasa aneh juga dengan manusia busuk itu meskipun dihajar habis tetap bertahan juga sampai sekarang.


"Kau siapa?!" tanya Camelia dengan tatapan tajam kearah iblis itu.


Si iblis menyeringai, dia senang akhirnya Camelia memberikan pertanyaan seperti itu. Karena baginya itu sebuah undangan untuknya, pertanyaan ke ingin tahuannya sebagai perkenalan bagi mereka.


"Aku Zhurak, sahabat zharak yang membuatmu celaka. Maka dengan ini kau sudah menjadi milikku" bagaikan hipnotis, Camelia tertegun terdiam melihat lurus kearahnya.


"Kau pengantinku, gadisku! Jadilah budakku!" teriak si iblis.


Camelia sekarang tak sama lagi dengan yang dulu, dia berubah menjadi iblis wanita yang begitu kuat. Tubuh rohnya itu berubah mengerikan, rambut indah itu menjadi kusut berantakan wajah cantiknya menjadi menakutkan dan tubuh indahnya menjadi ringkih dengan kuku-kuku panjang menghitam di jari-jari tangannya itu.


"Camelia!" teriak Maura, dia tahu teman rohnya itu sekarang sudah berubah jadi jahat akibat pengaruh si iblis pemikat.


Camelia menatap Maura dan Ardian, dia terbang melayang kearah mereka dan bersiap ingin menyerang keduanya.


"Bunuh mereka, tunjukan kesetiaan mu kepadaku!" teriak Zhurak si iblis memprovokasi Camelia.


"Baik, Tuanku" ujar Camelia, si iblis tertawa senang mendengar jawaban Camelia.


Camellia menatap Maura dan Ardian dengan nafsu membunuh membara, kini kekuatan semakin meningkat akibat sihir yang diberikan oleh si iblis.


......................


Bersambung