RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Season 2 : (PNS) Perpisahan Dan Awal Pertemuan


Malam itu, Maura tak bisa tenang. Dia terus membolak-balikkan badannya miring ke kiri atau kekanan, sedangkan Maurice sudah tidur dengan nyenyak.


"Aku kenapa? Perasaan apa ini, rasanya tidak enak sekali? Tiba-tiba gelisah sendiri" gumamnya sendiri.


Maura pun keluar dari kamarnya dan mengambil air minum, hari sudah lewat tengah malam dan suasana nampak begitu sunyi.


Saat dia ingin kembali ke kamarnya, dia lihat pintu kaca balkonnya terbuka dan terlihat gorden putih melambai-lambai tertiup angin dari luar.


"Ini siapa sih gak tutup pintu?!" gerutunya.


Dia ingin menutup pintunya, tapi samar-samar dia melihat ada sosok bayangan hitam diluar balkonnya. Semakin dia mendekat semakin jelas bentuk bayangan itu.


"Seorang wanita? Siapa dia? Yang jelas bukan Dewi?" gumamnya dalam hati.


Ada perasaan was-was dihatinya, tapi dia harus tahu siapa wanita itu dan apa maunya. Jika dia hantu biasa dan ingin menakut-nakutinya dia tak akan merubah wujud seperti manusia biasa, dan dia akan merubah wujud yang menyeramkan biasanya hantu seperti itu.


Tapi yang dia lihat sekarang merupakan sosok wanita cantik, dia memang membelakangi Maura dari bentukkan tubuhnya Maura tau ini hantu pasti cantik.


Dia memakai dress hitam panjang menutup sampai ke mata kakinya, nih hantu kayaknya gak pake sandal ataupun sepatu terlihat sedikit kakinya ketika gaunnya sedikit bergerak tertiup angin.


"Kamu siapa?" tanya Maura mendekati hantu itu tanpa takut.


Pelan tapi pasti sosok itu membalikkan tubuhnya, sedikit terpana Maura menatapnya. Sosok berwujud wanita cantik meskipun wajahnya terlihat polos tanpa make up tapi kelihatan sekali wajah cantiknya itu, dan tak akan ada mengira kalau dia itu sosok yang lain alias hantu.


Karena wajahnya tak ada tuh yang namanya pucat apalagi berdarah-darah macam hantu lainnya, wujudnya benar-benar menjelma seperti sosok manusia biasa.


"Maura..." dia menyebutkan nama Maura begitu lembut.


Matanya begitu sayu dan sendu seperti menyimpan perasaan yang begitu dalam kepada Maura.


"Ka-kau siapa?" tanya Maura lagi dengan gugup.


Perasaannya merasa tidak enak, ketika sosok itu menyebutkan namanya dengan ekspresi seperti itu.


Pelan-pelan sosok itu menghampirinya dengan menjulurkan tangannya, dengan langkah terseok-seok dia mendekati Maura dan ekspresi wajah dan mata seperti terlihat ingin menangis.


Dia menjulurkan tangannya untuk menggapai Maura, tapi gadis itu malah mundur menjauh. Dia tau apa yang dia lihat saat ini pasti akan membahayakannya.


"Siapa kamu?! Mundur!" bentak Maura.


"Maura..." sosok itu semakin dekat dengannya.


"ANAKKU" ucapnya.


Tiba-tiba saja Maura terkejut karena mendengar suara lengkingan khas kakaknya.


"Mauraaaaa! Banguuuun!" teriak Tari sambil mengguncang tubuhnya.


"Hei, bangun udah siang! Mau sampai kapan kamu tidurnya?! Anak gadis kok tidurnya begitu?! Lihat, Maurice aja sudah rapi!


Bangun, bangun gak?! Cepetan!" terdengar suara cempreng kakaknya ketika membangunkannya.


"Heeemmf, iyaaaa... Bawel!" jawabnya sambil mengucek-ucek matanya.


Dia duduk dari tidurnya, pikirannya masih di awang-awang. Dia teringat kembali kejadian tadi, dan ternyata itu adalah mimpinya.


"Siapa sosok itu? Sepertinya aku pernah melihatnya" gumamnya sambil membayangkan wajah sosok didalam mimpinya tadi.


Hari sudah menunjukkan pukul 8 pagi, mereka sudah bersiap-siap menuju bandara. Maura yang bangun kesiangan pun mandi kilat dan sarapan hanya dengan roti selai dan secangkir susu.


"Makanya, udah tahu bakalan berangkat pagi kamu seharusnya bangun cepat! Bukannya molor kayak kebo!" omel Tari.


"Iya, maaf! Semalam aku sudah tidur, gak tahu kenapa. Lagian aku juga mimpi aneh--" dia belum selesai bicara ternyata Kevin sudah sampai di apartemennya.


"Kamu ngapain kesini? Bukannya kita ketemuannya di bandara saja?" tanya Maura.


"Maunya sih begitu, tapi aku telpon kalian pada gak diangkat. Aku gak mau kalau ada apa-apa tapi aku gak diberitahu apapun.


Jangan-jangan kalian udah berangkat duluan, terus aku ditinggal" ujarnya sewot.


"Ish, pikirannya tolong yah positif dikit. Gak mungkinlah kita tinggalin kamu, ini si Maura kesiangan! Sibuk bangunin dia tadi, jadi gak denger kalau kamu telpon" jawab Maurice.


"Maura? Kesiangan? Huft, pantesan!" ujar Kevin sambil menggelengkan kepalanya heran.


"Sudah, sudah! Ayo kita berangkat nanti kesiangan lagi" ujar pak Irwan.


Semua orang ikut mengantarkan mereka ke bandara, baik itu keluarga Muara maupun keluarga Kevin. Termasuk bi Marni, bu Sarah tinggal di rumah beberesan.


//


Mereka semuanya ada di bandara internasional Jhon F. Kennedy, New York.


"Coba telpon dulu, Nak. Jangan-jangan mereka juga bangung kesiangan kayak kamu" kata bi Marni khawatir tentang keponakannya itu, yaitu Ardian.


"Ish, Bibi kalau ngomong suka bener!" ujar Maura manyun.


Tuuut, tuuut!


"Ha-halo? Hh, hh... Apa pesawatnya sudah berangkat?" terdengar suara Ardian dengan nafas yang ngos-ngosan, kayaknya dia menerima telpon sambil berlari.


"Belum, kita udah didepan nih menuju pintu pesawat. Kalian dimana? Jangan bilang kalau masih di rumah, tidur? Kesiangan yah?!" ujar Maura.


Yang lain mendengar dia berbicara seperti itu langsung mencibir, terutama Tari dia menggelengkan kepalanya melihat tingkah Maura itu.


"Itu definisi menyindir diri sendiri!" ujar Tari.


Maura tak menanggapinya, dia hanya memanyunkan bibirnya.


"Kami sedang menuju kesana, tunggu sebentar yah!" ujar Ardian seraya menutup teleponnya.


Belum lama itu terdengar suara langkah kaki mereka menuju kearah rombongan Maura, mereka nampak kelelahan mengatur nafasnya. Dengan mendorong beberapa koper besar dan sudah pasti berat, mereka seperti habis berlari ratusan kilometer.


"Ini nih, minum dulu! Kasihan banget sih" ujar bu Ella kasihan melihat mereka.


"Lah Rosario juga diajak?" bisik Maura ke Ardian.


"Anaknya ngotot minta ikut, kasihan juga kalau ditinggal sendirian. Lagian disini dia gak punya pekerjaan juga" balas Ardian bisik-bisik pula.


"Tapi kenapa dia ikutan lari-larian dan ngos-ngosan kayak gitu? Bukankah dia jin terus bisa berlari dengan cepat tanpa acara ngos-ngosan, udah kayak manusia" ujar Maura lagi.


"Katanya, mau ngerasain kayak manusia" balas Ardian.


"Alahh, keringat juga gak. Aku yakin dia gak ngerasa haus" ujar Maura lagi.


Tapi mereka terlihat terkejut melihat pemandangan aneh Rosario yang ikut-ikutan minum sambil keringatan begitu, dia nyengir saat di liatin Maura dan Ardian.


"Biar menjiwai Tuan, Nona" ujarnya cengengesan, slengean Julian nular ke dia.


Setelah itu ada pengumuman dari operator bandara untuk menyampaikan keberangkatan pesawat menuju Indonesia akan segera berangkat.


"Hati-hati disana kalian berdua, sebisa mungkin Papa akan pulang lebih sering untuk menemui kalian berdua. Kuliah yang benar, nurut kata nenek yah, dan jangan bikin masalah" kata pak Irwan memberikan nasehat kepada kedua putrinya.


Maurice sudah dianggap anaknya sendiri, saat ini dia seusia Maura yaitu 18 tahun dan sudah memiliki tanda pengenal sendiri. Jika dia masih sekolah mungkin sudah diadopsi oleh pak Irwan, saking seriusnya menganggap Maurice sebagai anaknya.


"Denger tuh kata Papa, baik-baik saja kalian di sana. Jangan ngurusin dunia perhantuan terus!" ujar Tari, sambil memeluk satu-satu kedua adik kecilnya.


"Kalian berdua harus saling jaga saling urus dan juga saling mengerti yah?! Jangan sampai berantem besar, apalagi memperebutkan hal-hal yang tak penting.


Di sana hanya ada kalian, tidak ada yang kalian kenal ataupun mengenal kalian, jangan gampang percaya dengan orang lain. Ingat itu?!" Angga pun memberikan arahan kepada keduanya.


"Maura, Maurice... Jaga diri kalian berdua, di sana sangat berbeda dengan disini. Indonesia meskipun sudah menjadi negara modern, tapi mereka masih memegang budaya ketimuran yang erat.


Hati-hati dalam bersikap, jangan sembarangan dalam berbicara. Hormati segala budaya, suku, ras dan agama yang ada di sana.


Ingat, jangan mudah percaya dengan orang yang baru kamu kenal meskipun mereka mengaku keluargamu sendiri" ucap bi Marni juga, perkataan yang penuh arti.


Setelah mereka semua selesai berpamitan dan mulai menuju pintu pesawat untuk penerbangan luar negeri pertama mereka.


Mereka menoleh kearah keluarga mereka dan melambaikan tangan mereka untuk orang-orang yang mereka cintai.


Terlihat bu Ella menangis sambil melambaikan tangan kearah mereka, Angga dan Dhania berpegangan tangan menahan tangis haru mereka, sedangkan bi Marni dan Tari berpelukan sambil menangis menatap kepergian mereka. Hanya pak Irwan dan pak Wisnu yang kelihatan tegar.


"Duh, aku paling benci dengan adegan seperti ini" gumam Kevin sambil ngeloyor masuk pesawat, terlihat dia seperti sedang menghapus sesuatu di pipinya itu.


Mereka masuk kedalam pesawat kelas bisnis ekslusif, kelas yang cukup nyaman untuk mereka selama perjalanan cukup panjang menuju Indonesia.


Semuanya duduk tenang dengan pikiran masing-masing, Maura menatap langit kota New York yang tertutup awan putih.


"Kota penuh kenangan ini, akan menjadi saksi bisu tentang kehidupanku yang cukup rumit ini. Kota yang mempertemukan aku dengan Kevin dan Maurice, kota yang mengenalkanku dengan Ardian.


Dan kota yang menjadi kota pertamaku menjalani kehidupan dunia pergaiban ini, kotaku bersama Dewi Srikandi" gumamnya.


Dalam lamunannya, dia teringat kembali dengan mimpinya semalam. Mimpi tentang sosok wanita cantik misterius.


"Anakku? Dia memanggilku, anakku?!" gumamnya kembali.


Rasa kantuk yang cukup berat menghantarkannya kembali ke dunia mimpi bersama yang lain.


......................


Bersambung