
Belum lama kemudian Meera pun kembali tersadar, berbeda dengan Maura dan Ardian dia sama sekali tak ingat apapun yang menimpa dirinya, baik sebelum pingsan ataupun setelahnya.
Dia pun juga tak ingat kejadian saat masih berada di dimensi lain, yang dia ingat hanya satu, dia pergi ke toilet dan mendengar berbagai bisikan di telinganya, setelah itu tak ingat apa-apa lagi.
Karena pada saat itu emosi dan jiwanya sudah dikendalikan penuh oleh ratu jin Sikumbang, dan satu lagi yang dia ingat yaitu pernyataan Ardian sebelumnya.
"Aku sudah memiliki kekasih, aku sudah lama dengannya jauh sebelum pindah kesini dan mengenalmu ataupun yang lainnya. Jadi, berhentilah mengikutiku ataupun bersikap diluar batas!"
Kata-katanya terus terngiang ditelinganya, dia malu dan tak berani bertemu dengan Ardian maupun Maura, setelah kondisinya lebih baik, dia kembali ke kostannya.
"Kamu yakin ingin pulang? Kondisimu belum stabil betul.." ucap bu Mariam.
Beliau ikut merawat Meera dan Maura selama di pesantren, Meera menggeleng. Katanya masih ada yang harus dikerjakan, dan dia juga takut teman-temannya yang lain mencarinya.
"Aku pamit dulu, assalamualaikum.." ujarnya pamit.
"Wa'alaikumsallam.." jawab yang lainnya.
"Kasihan dengannya, sebenarnya dia anak yang baik,, tapi dia gak bisa mengontrol emosinya, hingga dia terperangkap oleh godaan setan itu.
Nah, ini peringatan buat kalian semuanya juga! Mencintai itu boleh tapi dalam batas yang wajar saja, jangan berlebih begitu juga sebaliknya. Karena jika kita terlalu berlebihan, berkawannya nanti dengan setan.
Mau kalian dikendalikan oleh jin, setan?! Gak kan? Ya sudah, kalian kembali kegiatan kalian semula yah," ujar bu Mariam memperingati.
"Iya, Ustadzah.." ucap para santriwati itu.
Mereka membubarkan diri setelah mengantar Meera pulang, kini tinggal Maura saja yang belum pulang karena belum diizinkan oleh pak Kyai.
"Ini sudah tiga hari, Pak Kyai.. Dan aku juga sudah enakkan, gak apa-apa kok" ucap Maura menyakinkan pak Kyai dan lainnya.
"Tunggu sehari lagi, baru bisa pulang. Paling lama besok sore deh kamu bisa pulang.." ujar pak Kyai.
"Emang ada apa sebenarnya, Pak Kyai? Jujur saja, aku merasa ada yang aneh, apa yang kalian rahasiakan dariku?!" tanya Maura curiga.
"Berburuk sangka itu tak bagus, anak muda!" ucap pak Kyai sambil menggetok kepala Maura pakai lidi enau.
Yang biasa orang sebut lidi dari daun aren. Dan itu biasa digunakan oleh beberapa santri dan santriwati sebagai alat bantu untuk membaca ayat suci di Al Qur'an.
"Kan nanya.." sungut Maura sambil mengelus kepala.
"Nanya atau nuduh? Ekspresimu tak bisa kau bohongi, Nona.." ledek Kevin juga.
"Huss! Diam.." ucap Maura dengan Kevin kesal.
Setelah menjalani pengobatan dari ustadzah Mariam atau biasa anak-anak panggil bu Mariam, Maura pun akhirnya berpamitan untuk pulang juga keesokan harinya.
Beberapa hari tinggal di pesantren membuatnya lebih tenang dan nyaman, dan sekarang siap kembali ke rutinitas lagi, ngampus dan ngurusin dunia perhantuan kembali.
"Ini kalau kak Tari tau, bisa habis aku olehnya. Bukannya kuliah malah sibuk ngurusin yang beginian, nasib anak punya penglihatan ganda sama kekuatan seperti ini, harus menjalankan takdirnya yang berbeda dengan anak lain.
Hufft, apa yang aku pikirkan?! Setidaknya aku masih bersyukur masih ada orang-orang yang masih peduli dan sayang sama aku, dan dari setiap kejadian yang menimpaku aku bisa mengambil hikmahnya, dan banyak orang yang bisa aku tolong dengan kekuatan ini" gumamnya sambil melamun.
Plak!
Dia terkejut ada yang menepuk bahunya sangat keras sekali, dan ternyata ada Maurice dibelakangnya, gadis itu menunjukkan ekspresi wajah yang ditekuk.
"Kenapa manyun begitu? Ntar bibirnya gak seksi lagi loh, hehe!" goda Maura.
"Kamu tuh, dipanggil bukannya nyahut malah bengong lagi, ntar kesambet setan loh!" ujar Maurice masih kesal.
"Yang ada setan ogah dekat-dekat aku!" jawab Maura sambil tersenyum ngeledek Maurice.
"Iya deh, iya... Btw, itu cewek kemarin siapa namanya? Meera yah?! itu selingkuhannya Ardian? Betul itu?! Kok bisa? Kamu gak cemburu?!" cecar Maurice penasaran.
"Aduh, pertanyaannya banyak banget, yang mana dulu nih yang mau dijawab duluan?!" tanya Maura heran sama sahabatnya yang satu ini.
"Semuanya, hehe!" jawab Maurice sambil terkekeh.
"Aku akan jawab dengan jelas, singkat dan padat. Karena sebentar lagi mobil akan datang menjemputku, oke?! Baiklah, pertama dia bukan pacar ataupun selingkuhan Ardian, dan namanya iya betul Meera.
Dan aku gak cemburu sama sekali, karena buat apa cemburu jika orangnya aja gak ada hubungan apa-apa, oke?!" jawab Maura cepat.
Padahal sebelumnya dia hampiri bertengkar hebat dengan Ardian gara-gara gadis itu, untung kesalahpahaman nya sudah selesai.
"Oh, begitu.. Tapi aku dengar katanya kamu cemburu berat dengan kedekatan mereka, apalagi tuh cewek punya nama panggilan khusus buat Ardian.
Apa sih nama panggilannya, Ardi apa Dian yah?! Lupa aku, apanya panggilannya?" tanya Maurice sengaja memancing Maura.
Tiinn!
Mobil yang akan mengantarkan Maura sudah datang, gadis setelah berpamitan dengan sahabatnya diapun akhirnya pulang juga, dia pikir dia sama si supir aja berdua didalam mobil ternyata ada yang lain juga.
"Jangan diperhatikan, Nak. Anggap saja gak pernah liat, biar mereka gak merhatiin kamu dan tertarik pengen ikut kamu juga.." ucap supir itu.
"Loh, emang Bapak bisa lihat juga,?!" tanya Maura kaget.
"Hehe! Sudah dari kecil, Nak.. Tapi gak pernah Bapak hiraukan, karena dulu waktu kecil Bapak pernah dibikin nyasar sama mereka" ucap pak Madjid.
"Oh, begitu. Tapi kok Bapak tau saya juga bisa lihat?" tanya Maura lagi.
"Bisalah, dilihat dari keningnya juga udah tau, haha!" ucap bapak itu santai.
"Ah, bisa aja Bapak jawabnya. Hehe! Btw, Bapak jadi supir angkot udah berapa lama? Udah sering juga mobilnya disewa, kayak sekarang ini?" tanya Maura basa-basi agar tidak canggung didalam mobil itu.
"Pertama, Bapak mau jawab pertanyaan pertama tadi dulu, tentu saja bisa dilihat dengan jelas terutama bagi orang-orang yang memiliki kemampuan melihat seperti kita ini.
Aura mu itu sangat kuat sekali, Nak. Hati-hati begitu banyak orang-orang diluar sana berilmu hitam dan menginginkan kekuatan seperti dirimu" jawab pak Madjid.
"Baik, Pak. Terima kasih nasehatnya, aku akan berhati-hati lagi.." ucap Maura tulus.
"Dan kedua, bapak udah jadi sopir angkot cukup lama setelah pensiun dari pekerjaan Bapak yang dulu, dan sesekali menyewakan mobil angkot butut ini buat bantu santri dan santriwati jika ingin berbelanja barang banyak.
Atau sekedar mau antar jemput mereka habis darimana gitu, yahh lumayanlah buat tambahan kan, hehe! Eh udah sampai nih," ucap pak Madjid.
Mereka mengobrol cukup lama tadi, tidak kerasa sudah sampai saja tanpa Maura sadari, dan sebenarnya jarak antara rumah kostnya dan pesantren juga tak terlalu jauh, paling sekitar lima belas atau dua puluh menitan naik angkot.
"Eh, iya! Cepet juga ya Pak, hehe!" ujar Maura.
"Kan tadi sambil ngobrol ngalur ngidul, gak kerasa udah nyampe aja, haha!" gurau pak Madjid ramah.
"Haha! Benar juga makasih pak.." ucap Maura sambil mengulurkan beberapa lembar uang kepadanya.
"Eh, gak usah! Tadi udah dibayar sama pak Kyai.." tolak pak Madjid.
"Gak apa, ini tips buat Bapak, saya ikhlas kok.." ucap Maura sambil tersenyum.
"Wah, kamu baik sekali. Terima kasih, saya pamit dulu, assalamualaikum.." ujar pak Madjid.
"Iya, pak Wa'alaikumsallam.." sahut Maura sambil melambaikan tangannya kearah angkot itu.
Setelah naik keatas tempat kamarnya berada, dia baru sadar kalau keadaan kostnya saat ini terasa sunyi sekali, biasanya rame dengan suara-suara teman yang lain pada ngobrol didalam kamar.
Kalau gak, suara nyanyian mang Supri yang cempreng akan terdengar, tapi kali ini sangat berbeda. Maura sudah berpikir kalau dia akan mengalami kejadian yang sama lagi di kostan ini.
"Huftt, baru saja selesai istirahat udah di gempur lagi nih tenaga, bisa gak sih sehari saja hidupku tenang tanpa kalian?!" teriaknya kesal didalam kamar.
Swiiingg!
Terlihat dengan jelas oleh matanya ada bayangan hitam melesat cepat lewat depan kamarnya.
"Baru aja dibilangin, panjang umur tuh setan!" gumamnya kesal sambil menutup pintu kamarnya.
"Tunggu dulu, bayangan tadi sekilas mirip dengan makhluk yang aku lihat didalam angkot tadi, apa aku salah duga yah? Soalnya tadi lewat cepat banget.." gumamnya dalam hati.
Braak!!
"Aaakh!"
Suara hentakan keras dari arah anak tangga disusul oleh suara teriakan anak perempuan, Maura sangat terkejut dibuatnya, dia langsung keluar kamar dan ingin melihat apa yang terjadi.
Dan hening, sepi.. Tak ada benda jatuh ataupun orang yang ada diluar, terus.. Tadi itu apa?
"Hihihi!"
Terdengar suara tawa cekikikan khas Kunti diatas genteng rumah tetangga, Maura yang berdiri di atas balkon tentu saja bisa melihatnya dengan jelas.
"Dasar, jadi itu ulahmu!" bentak Maura.
Kunti itu menggeleng, dia menunjuk kearah belakang Maura, seketika gadis itu merinding karena dia tau ada sesuatu dibelakangnya, dan ini bukan makhluk biasa.
......................
Bersambung