RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Kepergian Gerald


Gerald yang sudah kelelahan itu berusaha sekuat mungkin untuk melindungi teman-teman manusianya, dia tidak ingin bermain-main lagi.


Sementara Camelia menyerang semua prajurit bayangan, Gerald kembali ke Zea dia menyerang ular licik itu. Dengan kuku dan taring tajamnya dia menyabet tubuh ular itu tanpa henti.


Kekuatan Zea mulai menipis, dia berusaha berkomunikasi dengan Arion Gaharu untuk meminta pertolongan. Tapi Arion Gaharu mengabaikannya, karena merasa kekuatan ular itu sudah tak berguna, dia mencampakkan Zea.


Merasa dirinya ditipu oleh Arion Gaharu, Zea menyerang semua prajurit Arion Gaharu tanpa pandang bulu termasuk beberapa panglimanya yang berjaga.


"Rasakan ini! Beraninya kau mengkhianatiku, aku sudah banyak melakukan apa yang kau minta tapi apa balasanmu?! Jangankan untuk membayarku, menolongku pun kau tak mau! Dasar kau iblis jahanam!" teriak Zea, sambil menyerang siapapun didekatnya.


"Kau adalah pengkhianatnya, Zea. Dari awal perjanjian itu dibuat, bahwa kau bersikap netral dan tidak berpihak pada siapapun.


Tapi hanya sedikit imbalan, kau mau mengingkari janjimu sendiri. Karena hawa nafs*umu untuk membunuh dan mengkoleksi tengkorak manusia, kau mau melakukan apa saja yang aku minta.


Ingat, tidak ada satupun janji yang dibuat iblis itu akan terpenuhi kecuali tipu daya saja. Kau dan lainnya sama saja, bangsa jin dengan tingkat kepuasan tersendiri dan takkan pernah puas dengan apa yang kau miliki.


Hidup kalian busuk seperti para manusia itu" ucap Arion Gaharu menimbali Zea.


Setelah itu dia membakar habis tubuh Zea dengan api abadi ciptaannya sendiri, Zea menjerit kesakitan karena tubuhnya terbakar dan dia tak bisa memadamkan api itu, semakin dia berusaha memadamkannya, maka semakin membesar api itu.


Hingga akhirnya makhluk itu harus tewas terbunuh akibat kelicikannya sendiri, pengkhianatan dibalas dengan pengkhianatan juga.


Melihat itu, semua makhluk yang ada di sana menjadi ketakutan dan sadar bahwa Arion Gaharu bukan tandingan mereka. Beberapa prajurit bayangan kembali ke istana dan melaporkan itu semuanya kepada Ratu Kenanga Ungu.


"Aku pikir ini saatnya, tunggu aku sebentar. Aku harus menemui Yang Mulia dan memberitahukan ini semua" ujar sang Ratu sambil beranjak dari singgasana nya.


Sementara itu, setelah diberi sedikit semangat oleh Arion Gaharu semua prajuritnya begitu semangat menyerang sisa prajurit bayangan yang ada di sana.


Sedangkan Camelia mengincar Gerald, sadar dirinya dalam bahaya dan dia tahu bahwa dihadapannya saat ini bukanlah Camelia yang dia kenal sebelumnya.


"Kenapa? Tunggu apalagi serang aku kalau kau bisa! Pasti kau tak bisa kan, karena tubuh ini mengingatkan kau dengan majikanmu itu! Haha, apa bedanya aku dengan dia! Kami ini sama-sama majikanmu, tunduk segera kepadaku!" perintah Camelia.


"Aku takkan pernah mau tunduk pada makhluk rendah seperti kalian! Camelia adalah tuanku, tapi dia tak pernah bersikap kasar atau berprilaku buruk seperti kau! Kalian adalah dua orang yang berbeda!" bentak Gerald.


"Baiklah kalau itu maumu, bersiap-siaplah untuk mati!" teriak Camelia kalap sambil menyerang Gerald.


Gerald yang tahu keadaan dirinya takkan bisa selamat, lalu menatap Maura dan kawanannya. Dibalik seringainya ada senyum tipis dan manis di sana.


"Maafkan aku, Maura. Aku tak bisa menjagamu sampai akhir, izinkan aku untuk terakhir kalinya melakukan tugasku dengan baik. Aku harap kamu bisa melepaskan aku dengan iklhas" ujar Gerald sambil meneteskan air matanya, terlihat buliran air bening menetes dibalik bulu-bulu indah Gerald.


Bak firasat buruk, Maura seakan tahu apa yang akan terjadi dia berlari menuju Gerald. Teman-temannya ingin melarangnya tapi tak bisa, seakan memiliki kekuatan besar Maura berlari secepat kilat.


Tapi sayangnya Gerald juga sudah berada ditengah udara melayang bertarung melawan Camelia, langit bertambah gelap angin kencang dengan petir bergemuruh.


Dalam pandangannya, Gerald seperti melihat Maura dan Camelia sedang bercengkrama. Gerald dalam halusinasinya mengira dirinya sedang berada di rumah bersama tuannya, mendekati mereka dengan suka cita tanpa tahu didepannya Camelia sudah siap dengan racun terakhirnya.


Hhhuuaaakkggh!


Sekali pukulan, langsung membuat Gerald terpental jatuh kebawah. Tubuhnya monsternya seketika berubah menjadi kucing mungil yang lucu dan menggemaskan, tapi kucing itu terluka parah dan tidak berdaya.


"GERALD!" teriak Maura histeris.


Dia berlari kencang ingin menyelamatkan kucingnya yang terjatuh dari ketinggian, Maura melompat tinggi menangkap sosok kecil itu sebelum terhempas ke tanah.


"Gerald, Gerald bangun! Kumohon tolonglah, jangan tinggalkan aku!" teriak Maura histeris melihat kucingnya tidak berdaya.


Meeoong!


Gerald kembali menjadi kucing biasa, dia tak bisa membalas ucapan Maura dan Maura pun tak mengerti yang dia ucapkan.


"Jangan begini, Gerald. Aku mohon kembalilah!" teriaknya lagi.


Lambat laun gerakan Gerald semakin melambat, dia menghembuskan nafas terakhirnya dipelukan Maura.


"Tidak!" teriak Maura histeris.


Semua teman-temannya yang menyaksikan itu tak kuasa menahan emosi mereka, tapi apa daya mereka hanya manusia biasa dan tak memiliki kekuatan lebih apapun untuk menolongnya.


Ardian setengah sadar saat melihat itu, dia memanggil panglima Arialoka untuk membantunya melawan Camelia.


"Apa kau cukup kuat untuk bertahan?" tanya Panglima Arialoka.


"Aku cukup kuat, percayalah kita pasti bisa melawan makhluk itu!" geram Ardian menatap Camelia.


Tiba-tiba sebuah cahaya biru keputihan melesat masuk kedalam tubuh Ardian, semua teman-temannya kaget melihat Ardian tiba-tiba bangkit dan terbang menuju Camelia.


Didalam kesedihannya, Maura tak melihat pertarungan sengit antara Ardian dan Camelia di udara, dia masih setengah sadar menyadari kucingnya salah satu sahabatnya harus mati mengenaskan.


......................


Bersambung


Apakah Ardian aka Panglima Arialoka berhasil memenangkan pertarungan ini? Ditunggu yah bab-bab selanjutnya, beberapa bab lagi RAHASIA MAURA season pertama akan berakhir, dukung terus yah☺️🙏🙏