RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Awal Kedekatan Mereka


Keadaan Maura sudah membaik, dia sudah dibolehkan pulang dengan catatan harus sesering mungkin memeriksa luka-lukanya.


"Terima kasih dok, saya pamit dulu. O ya, terima kasih juga obat gratisnya," ucap Maura tersenyum ceria.


"Huh, dikasih obat gratisan aja udah seneng banget," Ardian mencibir Maura dengan tingkahnya yang norak, menurutnya itu.


"Heh, bukannya norak tapi seneng. Jangan bilang kamu gak suka barang gratisan yah?!" Ucap Maura.


"Ngapain aku berharap barang gratisan jika semua barang apapun bisa ku beli," kata Ardian sedikit angkuh.


"Sombong!" Maura nampak kesal dengan jawaban Ardian.


Ardian nampak menyunggingkan bibirnya, dia melihat tingkah gadis kecil didepannya ini sungguh aneh.


Padahal kehidupan Maura cukup mampu untuk beli segalanya, tapi dia sama saja dengan yang lain hidup sederhana. Malah seneng banget dapat gratisan.


"Lain kali kamu jangan kayak gitu lagi, tidak baik. Masih banyak orang yang tak mampu berharap bisa mendapat bantuan" kata Ardian.


"Tidak apa, saya memberikan obat dan perawatan secara cuma-cuma ini sebagai permohonan maaf buat Nona Maura apa yang terjadi tadi.


Maafkan teman saya itu, sifatnya memang begitu tidak bisa mengontrol emosinya" ucap dr. Jeffrey.


"Saya bisa mengerti dok, tetapi menurut saya tingkahnya tidak wajar. Jika tak dihalangi dokter tadi, mungkin saya sudah mati ditangannya" ujar Maura.


"Iya saya mengerti, makanya dia sering kesini buat konsultasi ke saya soal masalah gangguan emosinya itu," ucap dr. Jeffrey beralasan.


"Seharusnya dia ke dokter jiwa, kalau gak ke dokter syaraf aja. Hadeuh, untung lukanya gak terlalu parah." Maura bersungut-sungut.


"Sekali lagi saya mohon maaf Nona," kata dr. Jeffrey.


"Ya sudah dok, gak apa-apa. Seharusnya dia yang minta maaf." Kata Maura kesal.


Maura dan Ardian keluar dari klinik tersebut, Maura memesan taksi untuk pulang ke apartemennya, dia berharap keluarganya tak terlalu cemas karena dia pulangnya terlambat.


"Jika dengan alasan ngantri lama mungkin mereka percaya, tapi kalau sudah liat perban sama luka-luka ini apa mereka masih percaya?" Maura bergumam sendiri.


"Tenang saja, biar aku bantu menjelaskan semuanya" kata Ardian.


Maura kaget pria ini masih bersamanya, dia kira dia sudah pulang.


"Ngapain kamu masih disini? Sana pulang." Kata Maura merasa risih dengannya.


"Aku anterin kamu pulang yah?" pinta Ardian.


"Gak usah, terima kasih. Aku pulang sendiri, lebih nyaman dan tenang. Jika ada kamu, akan banyak pertanyaan-pertanyaan dari keluargaku nantinya" ujar Maura.


Saat dia menoleh kesamping, Ardian sudah tak ada disampingnya. Sial, ngomong sendiri dari tadi. Pikir Maura nampak kesal.


Tiin.. tiin.. tiin!


Sebuah mobil mewah berhenti disampingnya, bunyi klaksonnya mengagetkan Maura.


Kaca jendela mobil itu terbuka, ternyata Ardian yang mengemudikannya.


"Kan sudah kubilang tidak usah!" teriak Maura kesal.


"Ayo cepetan, aku gak bisa lama berhenti disini. Lihat di sana ada tanda dilarang parkir, belum lagi ada Cctv-nya, ayo cepat sebelum aku ditilang ini!" Ardian sudah gak sabar.


Mau gak mau Maura terpaksa naik kedalam mobilnya itu, mobil itu dari dalam kesannya nampak elegan.


Kalau mobil mewah dan mahal, vibes nya beda yah. Begitulah yang Maura rasakan, matanya berkeliling memperhatikan setiap sudut mobil itu.


Mobil milik Ardian ini termasuk mobil impian Maura, klasik dan elegan. Saat ini, dia masih belajar mengemudi setelah itu dia sudah memikirkan mobil apa yang akan dia kemudikan nanti.


Melihat itu, Ardian tersenyum. Dia faham Maura pasti menginginkan mobil yang seperti itu juga.


"Kenapa kau suka juga interior mobilnya?" tanya Ardian.


"Aku suka jenis mobil ini, mewah dan elegan. Kamu pandai memodifikasi nya. Interiornya klasik dan modern, jadi nampak elegan sekali" kata Maura nampak begitu mengagumimu.


"Kau sudah mengemudi sendiri?" tanya Ardian lagi.


"Belum, aku sebentar lagi mau kelulusan sekolah sekitar dua mingguan lagi.


Setelah itu, aku akan memilih sendiri mobilku" katanya sudah membayangkan mobil impiannya.


"Oh, pantesan masih bocah ternyata," kata Ardian bergumam.


"Siapa yang bocah?" Tanya Maura mendelik.


"Kamu lah" jawab Ardian terkekeh.


Maura kesal lalu mulai mencubiti Ardian yang masih mengemudi itu.


"Hei, hati-hati boy! Kau bisa mencelakai orang?!" Teriak seorang pria didalam mobilnya itu.


Mobil Ardian tadi sempat oleng jalannya, karena Ardian tidak fokus, Untunglah pria tadi mau mengingatkannya.


"Thanks bro," ucapnya. Pria bule berkepala plontos memakai kacamata hitam tadi hanya melambaikan tangan lalu berlalu pergi dengan mobilnya.


"Kau dengar, jangan main-main saat mengemudi. Biarkan aku fokus menyetirnya," ujar Ardian serius.


"Iya,maaf ..." ujar Maura lirih.


Dia merasa bersalah atas kejadian tadi, tiba-tiba perutnya berbunyi.


Kriiukk!


Ardian pun bisa mendengarnya suara perut kosong itu, dia tersenyum geli. Wajah Maura merah padam, dia malu sekali.


Dia ingat, pagi tadi dia sarapan hanya sedikit. Dan belum makan siang.


......................


Bersambung