
Maura dan Maurice menatap lurus kedepan dan mencoba memperhatikan arah suara didepan mereka itu, suara geraman itu semakin mendekat dengan beberapa tanaman yang bergoyang-goyang seperti disentuh oleh sesuatu.
"Hei, apa yang kalian lakukan di sana? Cepatlah, pak Kyai akan memulai latihannya!" tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara dari belakang mereka.
Ternyata Nur dan gengnya, dengan muka juteknya dia menatap kedua orang ini sambil memperhatikan Gerry tak suka.
"Jika ingin merawat kucing di pesantren ini, rawat dengan baik gak boleh kotor, ingat pesantren ini harus bersih dan suci dari segala najis!" sambung Nur lagi.
Dia pergi meninggalkan Maura dan Maurice setelah berkata seperti itu, diiringi oleh ketiga temannya. Gerry terlihat tak suka dengan ucapan Nur tadi, tiba-tiba mereka kembali teringat lagi dengan suara geraman dari balik pepohonan di samping mereka.
"Tidak ada apa-apa.." ucap Maurice heran.
"Mungkin sudah pergi" sahut Maura.
"Tentu saja dia pergi, karena dia beraninya sama orang yang terlihat lemah dimatanya, jika rame seperti tadi dia takkan berani!" ujar Gerry menimbali mereka.
"Memang kau tahu siapa atau apa itu?" tanya Maurice penasaran.
"Aku tau, karena sudah beberapa kali aku melihatnya mencoba mengganggu anak-anak pesantren yang keluar jika malam hari, dia beraninya jika orang itu sendiri atau dua orang, jika lebih dari itu dia tak berani" sambung Gerry lagi.
"Kenapa?" tanya Maurice lagi.
"Aku tak tahu, mungkin karena dia pengecut saja!" jawab Gerry sambil menjilati bulu-bulu halusnya.
Karena tak ingin jadi penghambat latihan itu, keduanya berjalan cepat menuju padepokan yang letaknya disamping persis pondok pesantren itu. Dari pesantren mereka perlu berjalan sekitar dua atau tiga kilometer menuju padepokan itu.
Pesantren dan padepokan itu hanya dibatasi kebun sayuran yang ditanam oleh para santri, sedangkan di seberangnya hutan lindung, dibawah hutan merupakan jalan raya, satu-satunya akses mau keluar dari pesantren atau padepokan itu.
Maklum, pesantren dan padepokan itu dibangun diatas tanah berbukit, jika ingin keluar mereka harus berjalan menuruni tanjakan atau anak tangga yang ada di sana.
Benar-benar dibangun untuk privasi dan jauh dari jangkauan dunia modern dan teknologi. Maura melihat ada beberapa santri lelaki mulai latihan pencak silat, ada juga yang murotal qur'an, atau sekedar mengamati.
Hal serupa juga dilakukan oleh beberapa santriwati lainnya.
Maura dan Maurice berjalan menepi takut mengganggu latihan mereka, sekali lagi Maura bertemu dan bertatapan dengan kakak pembina santri lelaki itu. Wajahnya bersemu merah melihat senyuman ramah pemuda itu, tampan dan senyumannya manis.
"Kenapa kamu, kok wajahmu memerah seperti itu?" tanya Maurice heran.
"Gak, gak ada apa-apa kok!" jawab Maura sambil tersipu, membuat Maurice semakin heran saja.
Saat Maura ingin sekali lagi menatap pemuda itu, dan.. Matanya tak sengaja beradu pandang dengan seseorang sedari tadi memperhatikannya dengan tatapan tajam.
Orang itu menunjukkan dua jarinya ke matanya dan kemata Maura, dengan kata lain.
"Aku selalu mengawasimu, jaga pandanganmu!" kira-kira begitulah maksudnya.
Maura hanya menelan salivanya kasar, dia tak menyangka pertemuan mereka diawali seperti itu, Maura merutuki kebodohannya itu.
"Sialan!" umpatnya.
"Apa?!" tanya Maurice.
"Gak, ayo kita kesana! Lihat si Nur mukanya udah masam begitu" ujar Maura mengalihkan perhatian Maurice.
"Kau benar, buruan sebelum kita kena semprot lagi" ucap Maurice.
Mereka mendengarkan kata sambutan pak Kyai kepada mereka semua dan mengenalkan beberapa murid baru di padepokan itu, terutama murid diluar pondok.
Pak Kyai juga mengenalkan beberapa pengurus padepokan itu, salah satunya pemuda tadi dan namanya adalah Rizal, dan Nur juga pengurus padepokan itu juga ternyata.
"Wajar saja jika dia terlihat protektif begitu tadi yah.." gumam Maura.
Saat mereka melakukan beberapa latihan, pandangan Ardian tak pernah lepas dari Maura, dia sepertinya mengawasinya gadis itu. Sedangkan Maura yang sadar sedang diawasi terlihat risih sekali.
Maura terlihat kikuk diawasi beberapa orang, Ardian dalam sikap protektifnya, Nur yang begitu galak mengajarinya, belum lagi kak Rizal yang diam-diam juga curi-curi pandang kearah Maura.
Dan Maurice dan Kevin diam-diam cekikikan mentertawakan dirinya, membuatnya sungguh tertekan. Setelah dua jam berlalu, akhirnya sesi latihan pertama itu selesai juga.
Maura sangat lega sekali, akhirnya dia bisa beristirahat juga setelah lelah diajari oleh Nur tadi. Entah ada masalah apa si Nur dengan Maura, sepertinya gadis itu hanya galak kepadanya saja.
"Ah, lelahnya!" ucap Maurice.
Setelah membersihkan diri, dia langsung merebahkan diri ke kasurnya, dan tidak lama kemudian terdengar dengkuran halus darinya, sepertinya dia sangat lelah sekali.
Nur sangat disiplin sekali, setelah kembali ke kamar mereka dia meminta teman-temannya untuk segera membersihkan diri, dan langsung tidur saja. Semua mematuhi perintahnya mengingat dia juga merupakan salah satu ketua kelompok santriwati di pondok itu.
Maurice dan Lita sudah tertidur pulas, Nur sepertinya tak bisa tidur sama dengan Maura, jika Maura pikirannya kemana saat tak bisa tidur, berbeda dengan Nur, terdengar lantunan merdu suara Nur mengaji di kamar itu.
Nur dan Lita tidur di ranjang bawah, sedangkan Maura dan Maurice tidur di ranjang atas, Maura melihat Gerry masuk kamar dan naik ke ranjang sisi Maura.
"Kenapa kau belum tidur? Tidurlah, disini semua orang bangunnya pagi-pagi, bahkan ada yang bangun tengah malam untuk menunaikan ibadah sholat tahajud" ucap Gerry memperingatinya.
"Aku tau, bahkan aku ingin sekali bisa tidur lebih awal. Tapi aku tak bisa" ucap Maura sambil memejamkan matanya berusaha untuk tidur.
"Kalau begitu, aku temani kau disini sampai kau tertidur pulas saja. Mm, bagaimana kalau kau dengarkan aku bercerita tentang sekilas tentangku.
Anggap saja ini cerita dongeng pengantar tidur, Maura.. Apa kau tak penasaran bagaimana caranya aku bereinkarnasi? Aku mau memberitahukanmu soal itu.
Maura, setelah aku mati dalam pertarungan itu. Jiwaku terkurung didalam sebuah kubah besar berwarna emas, aku tak tahu tempat apa itu. Tiba-tiba aku didatangi sekelompok makhluk, setengah manusia dan setengahnya hewan.
Mereka bermacam-macam bentuknya perpaduan antara kuda-manusia, burung elang-manusia, naga-manusia, singa-manusia dan banyak lagi.
Hanya satu persamaan mereka, seluruh tubuh mereka berwarna putih bersih dengan bulu-bulu lembut mengalahkan lembutnya buluku. Sampai pakaian, senjata dan apapun yang melekat ditubuh mereka berwarna putih bersih, selembut awan.
Mereka memancarkan aura yang sangat kuat, penuh wibawa dan karismatik, mereka gambaran dari sosok para pemimpin jaman dulu, terakhir yang aku dengar mereka adalah para khodam mereka, khodam para raja-raja jaman dulu.
Mereka mendekatiku dan berkata, aku akan dilahirkan kembali dan dijadikan ksatria penjaga, pelindung bagi seorang anak manusia yang tengah berjuang melawan para jin dan penyihir jahat yang masih menguasai dunia ini.
Aku tahu maksud mereka, aku yakin mereka sedang membicarakan dirimu, Maura.. Tentu saja aku senang, tapi aku terlahir kembali setelah beberapa bulan kemudian setelah kejadian itu berlalu.
Dan itu termasuk cepat kata mereka dibandingkan para pendahuluku terdahulu yang terlahir beberapa tahun kemudian untuk membantu dan melayani para pemimpin mereka.
Jujur aku senang sekali bisa bertemu dengan kalian lagi terutama denganmu, tapi sayangnya aku terlahir sebagai kucing miskin, bukan kucing bangsawan lagi, huh!
Aku sebelum bertemu dengan Ardian dan lainnya, aku hidup menggelandang di kota itu. Makan dari belas kasihan manusia yang lewat.
Kadang jadi bulan-bulanan kucing lain berebut makanan, atau dijahilin manusia tak beradab, disiram air panas dan diikat begitu saja.
Aku menderita Maura, begitu sulit bagiku untuk menemukan dirimu, sampai tiba hari itu Ardian tak sengaja menemukan aku yang sekarat, hampir mati kelaparan dengan beberapa luka ditubuhku.
Setelah dirawat dengan baik, akhirnya aku kembali sehat, badanku tumbuh dengan baik dan bulu-buluku juga tumbuh lebih panjang, tebal putih bersih dan halus.
Seketika hargaku menjadi mahal dimata manusia-manusia itu, mereka ingin memilikiku, untung Ardian mau menjagaku dan mengenali siapa diriku ini.
Dan aku dijaga Maurice dengan baik, dan pergi dan tinggal ke pesantren ini, sampai kita bertemu tadi, Maura.. Aku harap kau--" dia menoleh kearah orang yang dia ajak bicara.
Maura mendengkur halus tertidur pulas, meninggalkan dirinya bercerita sendiri. Gerry benar-benar kesal dengan Maura membiarkan dirinya berbicara sendiri itu.
Dibawah juga tak terdengar lagi suara Nur yang lagi mengaji, sepertinya dia juga sudah tidur. Waktu sudah mendekati tengah malam, Gerry pun memilih tidur di samping Maura.
......................
Bersambung