
Maura menatap sedih kepada dua sahabatnya itu, dia tak menyangka mereka akan seperti ini, apa yang akan dipikirkan kedua orang tua Kevin nantinya, apa kak Dhania tidak akan kecewa didahului oleh Kevin tentang pernikahannya?
Yang dia kasihani itu adalah Maurice, gadis yatim-piatu itu harus hidup sendirian ditengah sibuknya dunia, dia tak tahu harus bagaimana, dia tak bisa mengurus bisnis orang tuanya, bahkan dia lebih memilih tinggal bersama Maura dan keluarganya.
Begitu panjang perjalanan hidupnya, hingga menghantarkannya ke dunia gaib, dan melakukan perjalanan panjang ke negara lain, negara yang sangat asing baginya.
Perjalanan spiritual yang mengagumkan, dan kini menikah karena fitnah, tentu saja dia senang akhirnya jodohnya memang ditetapkan bersama Kevin, tapi tidak seperti itu caranya.
Dia malu dengan semua orang, dengan Maura dan Ardian, dia malu tak bisa menjaga nama baik mereka, Maurice merasa dirinya adalah penghalang perjalanan mereka.
"Jangan kamu sekali-kali berpikir seperti itu, Maurice. Tenanglah, semua ini adalah ujian. Allah tahu mana yang benar dan mana yang salah, kamu jangan takut yah.
Kami percaya kepadamu, kami tau apa yang menimpa kalian itu tidak benar, anggap saja inilah takdir yang harus kamu jalani bersama Kevin, karena keimanan kalian sedang dipertaruhkan, dan disinilah letak kesabaran kalian diuji," ucap Maura lagi menenangkan Maurice.
"Setelah ini kalian akan mendaftarkan pernikahan kalian di pengadilan agama, meskipun kalian warga asing akan tetap diberikan sertifikatnya kok.
Untuk sementara waktu, kalian tinggal di rumahku saja, tinggallah di sana dengan tenang dan nyaman, kita bisa melaksanakan resepsi kecil-kecilan untuk tasyakuran atas pernikahan kalian, agar tak ada fitnah lagi.
Dan Kevin, kau tau kalau aku memiliki beberapa usaha disini, kerjalah di sana untuk sementara waktu.
Soal belajar ilmu agama, itu bisa dimana saja, karena guru yang tepat itu adalah pengalaman, kalian bisa langsung membaur kepada masyarakat. Nanti aku kenalkan kalian dengan beberapa tokoh masyarakat di daerah tempat tinggalku.
Aku yakin mereka akan senang membimbing kalian, apalagi tau kalian mualaf dan pasangan muda baru menikah, aku yakin kalian akan diperlakukan seperti keluarga sendiri bagi mereka di sana," ucap Ardian juga memberikan solusi dan pendapat lainnya.
"Terima kasih, aku gak tau harus bagaimana jika tak ada kalian. Kalau tak ada kalian, mungkin setelah ini aku memilih pulang ke New York bersama Maurice, tapi aku pikir itu tidak benar juga.
Jika kami tak salah, kenapa kami harus pergi dan menjauh. Apalagi jika ini adalah sebab fitnah yang sengaja dilakukan untuk menjatuhkan nama baik kami, demi Allah aku tak rela.
Aku akan tetap disini, sampai nama baik kami benar-benar bersih dan dipulihkan. Aku takkan lari dari tanggung jawab, aku juga akan sepenuhnya menjadi suami yang baik untuknya, itu saja yang bisa aku lakukan saat ini," ujar Kevin lagi sambil berkaca-kaca menatap Maurice.
"Iya, kami percaya kepada kalian" sahut Maura lagi sambil tersenyum, dia menahan haru menatap kedua sahabatnya yang begitu tegar menjalani hidup setelah fitnah itu.
Sekarang keadaan Maurice sudah lebih baik dibandingkan tadi, dia sekarang sudah bisa mengontrol emosinya, sudah tak menangis lagi, apalagi setelah mendengar ucapan Kevin dengan segala pendapatnya tentang pernikahan mereka nanti.
Jadi, dia tak perlu takut lagi kehilangan, dia tak sendirian lagi, sekarang Maurice dan Kevin memutuskan untuk fokus kuliah yang sudah lama mereka tinggalkan.
"Sembari kuliah aku bisa bekerja, kamu kalau kuliah juga tak apa, untuk bekerja biar aku saja, ini tanggung jawabku. Kita juga harus fokus belajar tentang agama juga.." ujar Kevin mengajak berdiskusi dengan Maurice.
"Iya, aku ikut apa yang terbaik menurutmu saja.." sahut Maurice sambil tersenyum.
"Alhamdulillah, senang rasanya melihat keikhlasan dihati kalian menjalani ini semua. Kalian berdua juga tak perlu takut ataupun sungkan untuk berkunjung ke pondok lagi.
Kami juga takkan lepas tangan begitu saja, kami akan bantu kalian sebisa mungkin, dan pintu pesantren ini akan selalu terbuka untuk kalian berdua" ucap pak Kyai.
"Baik, Kyai. Terima kasih.." sahut Kevin dan , Maurice bersamaan.
"Jika kalian tidak betah ataupun tak tahan tinggal disini, kalian boleh pulang ke New York. Kami tak apa.." ucap Maura lagi iba melihat keduanya.
"Tidak, Maura. Seperti aku katakan tadi, kami tidak akan pergi seperti orang pengecut, kami ingin menyelesaikan kesalahpahaman ini sebaik mungkin.
Setidaknya kami bisa belajar hidup lebih mandiri lagi, meskipun pulang ke New York kami juga takkan bisa apa-apa, dan tetap akan merepotkan orang tua nantinya" sahut Kevin diiringi anggukan Maurice.
"Baiklah, kalau begitu keputusan yang kalian ambil, tapi ingat.. Jangan lupa kabarin keluarga yang ada di sana, jangan sampai mereka tidak tahu lama ataupun mendengar kabar ini dari orang lain, takutnya terjadi kesalahpahaman lagi.." ucap Maura.
"Apa harus aku yang mengabari mereka?" tanya Maura lagi.
"Tidak usah, biarkan kami saja. Setidaknya aku harus gentleman dalam urusan ini, tapi beri kami waktu untuk ini semua.." jawab Kevin.
"Iya, aku serahkan semuanya kepada kalian soal urusan ini, aku yakin kalian cukup bijak dalam hal ini.." sahut Maura.
"Baiklah, Bapak akan menyiapkan beberapa dokumen untuk kalian agar besok atau nantinya kalian bisa mengajukan sertifikat pernikahan.
Sekarang kalian boleh bersiap membereskan beberapa barang milik kalian, bukannya mengusir tapi kalian telah memiliki rumah sendiri, yaitu rumah tangga yang sakinah, mawadah dan warahmah" ucap pak Kyai lagi.
"Amiin.." jawab semuanya dengan kompak.
"Aku juga mau pamit yah, mau mempersiapkan semuanya. Kan akan ada penghuni baru di rumah, jadi setidaknya kamar buat pengantin baru harus siap, hehe..
Sekalian mau lapor ke Rt sama Rw juga, biar pada gak kaget jika tiba-tiba kalian ada di rumahku. sekalian tasyakuran buat nanti malam sama kenalan sama warga di sana yah" sahut Ardian juga.
"Kamu disini aja dulu, temani Maurice, aku takut dia akan diganggu lagi sama santriwati yang ada disini, jika Kevin aku yakin dia akan kuat menjalani ini semua.
"Iya, Pak. Maaf merepotkan.." jawab Maura sambil terkekeh.
Dia merasa lucu, mereka berdua bagaikan orang tuanya Kevin dan Maurice yang mengurus pernikahan mereka, dan jadi seksi repotnya. Tapi mereka senang melakukannya.
Ardian pulang ke rumah beberesan, sekalian laporan kepada Rt dan Rw, dia juga mau menyiapkan kamar mereka dan persiapan tasyakurannya juga.
Untung saja ibu kostnya Maura mau membantu dan direpotkan, ada juga beberapa ibu-ibu dengan suka rela membantu Ardian, malah mereka berharap jika salah satu anak gadis mereka ada yang berjodoh dengannya.
"Kamu ini masih muda tapi sangat luar biasa, sangat perhatian dan peduli dengan teman sendiri, masih muda tapi sudah sukses dan mandiri.
Kenapa belum menikah? Banyak loh yang sudah menikah padahal masih sangat muda, contohnya temannya nak Ardian itu, kalau belum punya calon, sama anak saya aja, hihi!" ujar beberapa ibu-ibu ikutan berkomentar tentang hidupnya.
Ardian sengaja merahasiakan semua masalah Kevin dan Maurice, itu adalah aib mereka meskipun mereka tak melakukannya.
"Haha! Ibu-ibu bisa saja, saya masih terlalu muda untuk menikah sekarang, belum kepikiran, Bu.. Calon sih ada, tapi masih kuliah sama seperti saya" jawab Ardian sambil tersenyum malu.
"Udah, udah! Gak usah gangguin Ardian lagi, ibu-ibu.. Calon istrinya anak kost saya, jangan ngarep punya mantu kayak dia, karena aku akan jadi ibu sekaligus mertuanya nanti, haha!" sahut ibu kost ikut nimbrung.
Wajah Ardian memerah saat digoda oleh beberapa ibu-ibu yang ada di rumahnya ikut membantu mempersiapkan kedatangan Kevin dan Maurice.
Dia terpaksa menahan diri, mau gimana lagi hanya dia satu-satunya anak muda yang di sana, laki-laki pula, mau gak mau jadi sasaran empuk para ibu-ibu di sana.
.
.
Tidak lama kemudian, sore pun telah tiba. Sudah saatnya Kevin dan Maurice pulang ke rumah mereka yang baru, meskipun masih menumpang juga. Setidaknya mereka belajar mandiri juga.
Mereka berdua ditemani oleh Maura, ustadzah Mariam, pak Kyai, Nur, Rizal dan beberapa ustadz dan ustadzah yang ikutan juga mengantar mereka pulang ke rumah sekalian ikut menghadiri tasyakuran itu.
Setelah sholat magrib berjamaah di salah satu masjid yang ada di sekitaran rumah itu, mereka mulai melaksanakan acara tasyakurannya.
Maura pun sudah siap, dia sudah beberes kamarnya, mandi, dan sholat Maghrib, dan tibalah saatnya dia harus menghadiri acara tasyakuran pernikahan Kevin dan Maurice.
Sebelum pergi, dia sempat ditelpon kakaknya Angga dan Dhania untuk menanyakan kabar mereka di sana.
"Semenjak berangkat, kalian jarang sekali mengabari kami. Serasa kehilangan sekali kami, meskipun ngeselin kalian juga adik-adik kami.
Btw, Maura.. Ardian gak macem-macem kan sama kamu, kalian berdua gak kawin lari kan?!" tanya Angga tiba-tiba.
Membuat Maura gelagapan, kenapa kakaknya tiba-tiba bertanya seperti itu, tidak biasanya, dia jadi bingung sendiri, sepertinya mereka memiliki firasat yang sangat kuat di sana.
"Kakak ngomong apaan sih?! Kita disini kuliah, dan kenapa aku sampai pindah kesini, aku rasa kalian juga sudah tahu kan, jadi gak udah berpikir yang bukan-bukan tentang kami di sini" jawab Maura dengan gugup.
"Tapi kalian pasti melakukannya, ya kan?! Ayo, ngaku?!" tanya sang kakak galak.
"Apanya?! Ngaku apanya?!" jawab Maura panik.
"Hahaha! Mau saja kamu dikerjain, Maura! Kakak cuma bercanda.." ujar Angga tergelak.
"Tapi kalian pasti masih sibuk dengan dunia gaib itu lagi kan?" tanya Angga lagi.
"Yaaahh, mau gak mau, Kak. Itu juga salah satu misi kami berada disini, jadi kami jalani saja dua-duanya.." ucap Maura tak bisa berbohong jika soal itu.
"Ya sudah, yang penting kalian tidak meninggalkan kuliah, karena pendidikan itu penting. Dan jangan membahayakan diri kalian juga, tetap hati-hati dan jangan gegabah, ingat?!" ujar Angga mengingatkan.
"Iya, Kak. Siap!" jawabnya tegas.
Setelah menerima panggilan itu, Muara bergegas berangkat ke rumah Ardian yang letaknya tak terlalu jauh dari konstannya. Tiba-tiba..
"Cu, nenek mau ikutt.." terdengar suara khas nenek-nenek yang serak dibalik kegelapan malam itu.
......................
Bersambung
Mohon dukungannya 🙏🙏