RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Season 2 : (PNS) Titipan Sarapan


Ardian terus memperhatikan makhluk itu, makhluk itu berbentuk setengah hewan dan setengah manusia, dari perut kebawah berbentuk manusia, hanya saja dia memiliki ekor kecil kakinya berbentuk kaki babi.


Untuk sebagian perut sampai keatas berbentuk hewan, sudah jelas dengan penjelasan diatas jika makhluk itu berbentuk babi. Air liurnya terus menetes sambil mengintip kedalam kamar lewat jendela itu.


"Apa yang kau lakukan di sana, makhluk rendahan?!" gertak Ardian yang mengagetkan si makhluk itu.


Yang tadinya posisi dia sedang memegangi daun jendela dan berusaha melongokan kepalanya, sekarang posisinya langsung berubah terjatuh tertelungkup dibawah karena dikagetkan oleh Ardian.


"Tuh, kaaann... Kualat kan, lagian hobinya ngintipin manusia!" umpat Ardian geram.


"Siapa kau?! Bagaimana bisa kau bisa melihatku?!" tanya makhluk itu lagi.


"Sebelum itu, kau betulkan dulu celanamu itu! Melorot dari tadi!" ucap Ardian sambil melengos.


Saat makhluk itu menundukkan kepalanya melihat kebawah seusai intruksi Ardian, disaat itu juga Ardian menggunakan kesempatan untuk menendang makhluk itu hingga terpental sangat jauh.


"Uggh! Sial, kau menipuku!" ujar makhluk itu geram.


"Kau saja yang bodoh, bukankah dari tadi kau tak memakai celana, baju juga gak! Dasar otak mes.um! lap saja mulut baumu itu!" ucap Ardian kasar kepadanya.


"Dasar manusia sombong! Awas kau!" teriak makhluk itu tak terima direndahkan.


Dia mulai menyerang Ardian lagi, tapi dibalas oleh Ardian langsung. Makhluk itu sangat lemah, karena dia bukan makhluk penyerang, lebih ke jin yang ahli mempengaruhi manusia.


Jika pertarungan mereka melakukan tenaga fisik, maka tentu saja dia akan kalah dengan mutlak.


Maka dia menggunakan keahliannya untuk mempengaruhi isi otak Ardian, tapi dia lupa siapa Ardian sebenarnya, karena hasutan ataupun pengaruh yang dia berikan takkan berpengaruh untuk Ardian.


"Kau sedang apa, hah?! Komat-kamit gak jelas, apa kau sedang menyantetku? Mau memberikan ilmu peletmu? Ke siapa? Gak mempan untukku!" tanya Ardian geram.


Dia tidak mau berlama-lama meladeni makhluk me.sum itu, setelah makhluk itu dibuat kewalahan dan babak belur olehnya, Ardian langsung membawa makhluk ke kerajaan bayangan untuk dipenjara sebelum dibawa ke neraka.


"Hei, kau pikir aku ini makhluk rendahan biasa, aku bukan makhluk me.sum seperti itu. Aku bisa berbuat apa saja untuk menaklukkan targetku!" ucap makhluk itu masih berusaha mempengaruhi Ardian, disaat perjalanan menuju ke kerajaan bayangan.


"Apa, pelet dan santet?! Hah! Itu sudah ditebak, recehan!" sahut Ardian.


"Bukan itu, aku bisa merubah isi hati manusia dengan sekali jentik jariku, bahkan aku bisa merubah jodoh manusia, katakan padaku, kau mau aku lakukan apa?


Apa kau menginginkan sesuatu? Apa ada gadis lain yang kau suka? Katakan padaku, aku bisa melakukannya untukmu!" ucap makhluk itu masih berusaha membujuknya.


"Aku tak perlu hal begituan, aku ini tampan dan memiliki karisma tersendiri, semua gadis datang sendiri tanpa aku melakukan sesuatu!" ucap Ardian sarkas.


Membuat makhluk jengah mendengarnya, dia pikir anak ini sombong juga ternyata. Meskipun dia juga menyadari ketampanan Ardian itu memiliki karisma tersendiri, mungkin karena dia berwujudan reinkarnasi dari panglima Arialoka yang tampan dan berkarisma.


"Aku juga sudah memiliki calon istri, jodoh yang sudah ditakdirkan untukku sejak lama, jodoh dari Tuhan langsung!" jawab Ardian lagi.


"Betulkah? Tapi menurut ramalanku, kalian takkan berjodoh! Salah satu dari kalian akan mati duluan, sebelum hari itu tiba!" ucap makhluk itu masih berusaha mempengaruhi Ardian.


Ardian hanya tertawa saja mendengar ucapan makhluk itu, dia tidak meladeninya lagi karena percuma saja dia tidak akan pernah berhenti, Ardian diam saja makhluk itu masih menbual soal kekuatannya yang lain.


Sampai saatnya mereka tiba, akhirnya makhluk itu menangis meraung meminta ampun padanya, dan tidak akan lagi mengerjain manusia lagi.


Tapi Ardian tidak memperdulikannya, dia memilih untuk langsung pulang saja ke dunianya tanpa mampir dulu menemui baginda raja Balaputradewa.


"Ada apa dengannya, Kakang?" tanya Putri Dadar Bulan mempertanyakan sikap Ardian.


"Tidak udah dipikirkan, mungkin dia lelah.." jawab sang raja.


Walau sebenarnya hatinya juga ragu dengan jawabannya, karena raja takut Ardian terpengaruhi oleh ucapan makhluk rendahan itu tadi.


.


.


Keesokan harinya, mereka bangun pagi seperti biasanya, saat Ardian bangun dia kaget melihat di meja makan sudah ada sarapan lengkap, dan melihat Kevin dan Maurice duduk didepan sambil menunggunya bangun.


"Kalian sudah bangun? Ini sarapan darimana? Aku yakin gak semuanya kamu yang bikin kan, Maurice?" tanya Ardian.


"Kita sudah terbiasa bangun pagi semenjak di pesantren, jadi pagi-pagi rumah sudah bersih dan rapi, pakaian juga sudah dicuci, ada mesin cucinya, jadi lebih mudah mengerjakannya.


Kalau sarapan ini kebanyakan dari para ibu-ibu tetangga, katanya buat kamu. Mungkin buat ngambil hatimu buat dijadiin anak mantunya.." ucap Maurice terkekeh diiringi gelak tawa Kevin.


"Huff, padahal sudah aku katakan kalau aku sudah memiliki kekasih. Ya udah, makan dulu gih, dan kenapa gak sarapan aja tadi duluan.." ucap Ardian sambil duduk diatas kursi makannya.


"Sengaja nungguin kamu, kan gak enak saja makan duluan sedangkan yang punya masih ada didalam.." sahut Kevin.


"Oke! Btw, ngomong-ngomong soal Maura.


Bagaimana dengannya, sudah ketemu dengannya? Apa yang terjadi dengannya?" tanya Maurice penasaran.


Ardian menceritakan apa yang Maura ceritakan kepadanya, tidak kurang dan tidak juga lebih, paling dia mempersingkat saja ceritanya yang penting saja.


"Oh, begitu. Berat juga yah jadinya, apalagi sekarang dia sudah resmi diangkat jadi Dewi Srikandi.." sahut Maurice lagi.


"Kita harus memperhatikan dirinya lebih lagi, jangan membuatnya merasa sendirian, apalagi lelah sendiri.


O ya, Ardian. Kami memutuskan hari ini mendaftar kuliah ditempat kalian. Setelah dari sana aku akan langsung pergi ke kantormu.." ucap Kevin juga.


"Bagus itu, jadi kita bisa saling jaga dan kembali dekat lagi. Jadi kita tak perlu saling mengkhawatirkan lagi, dan aku rasa Maura pasti senang sekali karena kalian bersama lagi.


Dan soal kantor, kamu langsung datang dan temui kepala manajernya langsung yah. Kemarin aku sudah menghubungi langsung, dan sudah menyerahkan berkasmu juga, paling yang kurangnya kamu siapkan dulu jika dibutuhkan jika kamu mau.." sahut Ardian lagi.


"Baik, terima kasih bro! Aku benar-benar hutang banyak kepadamu!" ucap Kevin terharu.


"Aku gak suka ada hutang-hutangan diantara kita, anggap saja kita ini bersaudara, oke?!" ucap Ardian lagi.


"Iyaaaa..." sahut Kevin dan Maurice kompak.


"Btw, semalam kalian langsung tidur kan? Maaf, ini bukan urusanku tapi.. Apa kalian sebelum melakukan 'itu' membersihkan diri dulu sebelum melakukannya? Soalnya--" dia berniat menjelaskan itu semua.


"Bruuuhh! Uhuk, uhuk!!" Kevin sampai terbatuk muncrat mendengar ucapan Ardian itu.


Tapi sudah mendapatkan reaksi berlebihan dari keduanya, bagaimana tidak masih pagi tapi sudah membahas soal 'itu' karena mereka sendiri belum melakukannya.


"Kamu ngomong apa sih, Ardian?!" ucap Maurice sedikit kesal, wajahnya memerah sambil melirik kearah Kevin.


Sedangkan Kevin sedang membersihkan meja dan bajunya karena kena semburan mulutnya sendiri, karena tersedak oleh ucapan Ardian tadi.


"Soalnya aku memergoki ada setan mesum lagi ngintipin kalian dari luar jendela kamar rumah ini" ujar Ardian juga kesal, karena dirinya juga terkena semburan Kevin.


"Mana mungkin, aku kan lagi haids. Baru saja tadi malam aku kena, pas mau tidur baru keluar!" ucap Maurice.


"Tapi kalian belum sempat melakukannya kan? Soalnya setan paling suka dengan hal yang kotor dan najis!" sahut Ardian lagi.


"Kamu udah kayak bapak mertua yang posesif tau gak sih?! Belum, walau lagi pengen banget ditahan aja dulu!" sahut Kevin masih kesal, langsung disambut geplakan Maurice lagi.


"Auh! Sakit sayang.." ucapnya meringis.


"Lagian kalian berdua ngebahas hal begituan lagi, udah! Sarapan aja dulu!" ucap Maurice masih menahan malunya.


Kevin dan Ardian hanya senyum-senyum saja melirik Maurice, mereka menatap lucu Maurice karena jika dia malu atau sedang marah, maka wajahnya akan memerah, karena kulitnya yang putih yang kemerah-merahan itu.


.


.


Sementara itu, di kost-an Maura, gadis itu duduk jongkok bengong didepan pintu kamarnya, dia sepertinya sangat lelah sekali. Mau melangkah keluar saja kakinya rasanya berat banget.


"Mau nitip gak, kita mau beli sarapan diluar?" tanya salah satu teman kostnya saat lewat didepan Maura.


Gadis itu masih lemas dan lelah sekali, mau nengok saja rasanya leher sakit banget, dia hanya menyahutinya pelan.


"Nitip bubur ayam aja, pake duit kamu dulu. Lagi malas masuk kedalam.." jawabnya malas-malasan.


Tiba-tiba suasana itu berubah, dia tak melihat kaki temannya lagi, malah dia melihat ada beberapa anak kost lagi memperhatikannya aneh.


"Kenapa lagi dia? Kebanyakan bengong, kesurupan lagi kali!" ujar salah satu anak kost itu.


"Semalam katanya dia pulang malam, padahal kondangannya deket banget, kemane aja dia?!"


"Gak tau, tanya aja sendiri!" sahut yang lainnya.


Begitulah bisik-bisikan teman kostnya itu yang didengar Maura, gadis itu tak menggubrisnya, karena gak akan ada habisnya.


Tapi yang dia bingungkan, siapa yang menegurnya tadi? Masa iya demit lagi, baru aja selesai habis-habisan semalam, udah disuruh lembur lagi lawan setan.


......................


Bersambung