RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Season 2 : (PNS) Tipu Muslihat Jin Peniru


Sebelum Maura pergi kuliah, dia sempat meminta Dewi Srikandi untuk tetap berjaga di rumah kostnya itu. Entah mengapa dia memiliki firasat buruk akan terjadi nantinya.


"Ketika jin menyerupai Maria itu datang, jangan langsung usir dia. Lihat dulu pergerakannya, jika dia mulai menyakiti manusia,, maka kau harus segera bertindak.." pinta Maura.


"Baik, aku akan tetap berjaga disini!" sahut Dewi Srikandi.


Maura cukup pagi perginya tadi, jadi dia tidak tahu bahwa sebagian teman kostnya pergi mendadak pindah kost-an, mereka takut dan trauma dengan gangguan-gangguan yang terjadi di rumah itu.


Hanya tinggal Maura, Rizka, Shelly dan pasangan suami istri bi Surti dan mang Ujang. Hingga bu Nela datang pagi itu ke rumah kostnya, ketika semua anak kost sudah pergi, dia naik ke lantai atas dan terkecoh oleh Kuntilanak menyamar sebagai bi Surti.


"Jangan ganggu mereka, kau takkan bisa menyakiti siapapun di rumah ini selama aku ada disini!" ucap Dewi Srikandi menemui jin itu ketika bu Nela tadi pergi.


"Benarkah? Mungkin kau lupa,, bahwa aku tak sendirian!" jawab si Kuntilanak.


Tiba-tiba terdengar suara mang Ujang menjerit histeris, setelah itu terdengar barang-barang berjatuhan di lantai bawah. Mendengar hal itu Dewi Srikandi langsung turun kebawah dan melihat mang Ujang sudah kerasukan jin pemakan bangkai.


Tiba-tiba Kuntilanak tadi datang membawa bangkai ayam dan melemparnya kearah mang Ujang, dan secepat kilat lelaki tua paruh baya itu menyambar dan melahap bangkai itu.


Dewi Srikandi mencoba mengusir jin didalam tubuh mang Ujang, tapi susah sekali. Jin itu ngotot tetap didalam tubuh tua itu.


Sampai tibanya bu Nela dan yang lainnya tiba masuk ke rumah, Dewi melihat Kuntilanak itu memulai memancing bu Nela datang ke lantai atas. Pancingannya berhasil, bu Nela masuk perangkap sang Jin penipu.


Hingga Dewi Srikandi kembali datang ke hadapan Kuntilanak itu, kali ini jin itu menampakkan wujud aslinya, bukan berupa kuntilanak ataupun wujud cantik Maria, melainkan sosok bersisik hijau, bau amis menyeruak di seluruh kamar itu.


Dengan hati-hati Dewi Srikandi menidurkan bu Nela diatas kasurnya Shelly, terlihat jin itu marah karena urusannya dicampuri oleh Dewi Srikandi.


"Bukankah sudah aku katakan, jika kau mulai menyakiti manusia maka kau akan berhadapan denganku!" ucap sang Dewi.


"Hahaha! Sss... Aku tak takut, kau hanya kacung manusia biasa, sss.." ujar makhluk bersisik hijau itu mendesis.


Didepan Dewi saat ini merupakan wujud perpaduan antara ular dan manusia, konon katanya ada manusia yang bersekutu dengan ratu jin berwujud ular, dan menikahi ratu jin itu sampai keinginannya terwujud.


Maka makhluk itu terlahir dari rahim ratu jin yang benihnya dari manusia, tidak heran wujudnya setengah manusia, dan dia hampir memiliki fisik jin, kekuatan, energi dan dia lebih memilih menjadi jin ketimbang manusia.


"Aku tau semuanya tentang manusia, dengan makan ingatan roh yang kuhisap, jadi aku memiliki memorinya semasa dia hidup, maka aku gunakan itu untuk mengecoh manusia, haha!" ujarnya tertawa mengerikan.


"Tapi sayangnya, ingatan itu tidak berguna lagi dan kau takkan punya kesempatan untuk menyesatkan anak manusia lagi!" ucap Dewi telah bersiap dengan selendangnya.


Maka pertarungan tidak bisa dihindari, keduanya telah beralih alam goib dan bertarung sengit di sana meninggalkan bu Nela sendirian.


.


.


.


Sementara dibawah sana, mang Ujang sudah mulai sadar dan jin yang merasuki telah pergi. Mereka semuanya masih belum sadar kehilangan bu Nela, malah mereka pikir bu Nela sudah pulang ke rumahnya.


"Bangsat! Ilmu kyai itu boleh juga, jika aku paksakan tetap didalam tubuh manusia rentah itu maka aku akan terbakar dibuatnya!" ucap jin yang merasuki mang Ujang tadi.


"Aku harus meminta ganti rugi kepadanya, dia yang memintaku untuk melakukan semua ini! Sialan, jika kutau akan sesulit ini maka aku takkan mau merasuki manusia itu!" ucap jin tadi.


Dia kabur menembus atap bangunan itu dan meninggalkan keributan yang dibuatnya, sedangkan bi Surti dibantu yang lainnya langsung membawa mang Ujang ke rumah sakit, mengingat apa yang dimakannya tadi.


Tidak berasa waktu begitu cepat berlalu, sekarang siang menjelang sore hari sekitar jam setengah tiga, Shelly pulang dari kerjanya. Dia tidak tahu apa yang terjadi sebelumnya di rumah itu, masuk kedalam untuk beristirahat sekalian mau berksemas untuk segera pindah dari sana.


Pertama dia datang dan masuk kedalam rumah dia sudah menciup aroma busuk yang menyeruak di seluruh ruangan itu, dia juga terkejut melihat lantai bawah sudah berantakan itu.


"Apa yang terjadi? Apa bi Surti tidak membereskan rumah ini? Apa ini bekas kekacauan semalam atau apa? Ah, sudahlah mending aku segera masuk ke kamarku dan berkemas saja, aku sudah tak tahan tinggal disini" gumamnya bergidik ngeri.


Dia segera naik ke lantai atas dan menuju kamarnya, saat membuka pintu kamarnya dia sangat terkejut melihat bu Nela terbaring diatas kasurnya.


"Bu, Bu Nela?! Bangun Bu! Ya Allah apa yang terjadi sebenarnya?! Bagaimana bisa beliau sudah ada disini?!" ucapnya heran.


Dia langsung turun meminta bantuan, tapi saat dia turun ke lantai bawah dia melihat sosok menyerupai mang Ujang dari anak tangga bawah menghadangnya.


"Mau pergi kemana?!" tanya sosok itu sambil menyeringai menatap Shelly.


"Aaahh! Tolong!" teriaknya ketakutan.


Dia berlari masuk ke dalam kamarnya dan menguncinya, terdengar suara langkah kaki berjalan menuju kamarnya. Shelly mencoba menahan diri untuk tidak berteriak ataupun menangis, karena ia tak ingin sosok itu menemukannya.


Tutt.. Tutt..Tuuutt.


"Halo, Shell.. Ada apa?" tanya Rizka diseberang telpon.


"Hallooo... Hei, kok nelpon tapi gak ada suaranya? Mbak Shelly udah di kostan? Sebentar lagi aku nyampe mbak,, tunggu yahh.. O iya, itu ada Maura kebetulan banget bisa bareng pulangnya. Mauraaa! Haii!" sapa Rizka kepada Maura yang terlihat berjalan kearahnya sambil melambaikan tangannya.


"Lagi telponan sama bisa?" tanya Maura.


"Mbak Shelly, tapi suaranya gak ada. Diam aja.." ujar Rizka bingung.


"Masa sih?!" sahut Maura.


"Coba aja nih!" kata Rizka sambil menyodorkan ponselnya kearah Maura.


"Halo, mbak Shelly?" sapa Maura.


Hening tak ada suara, tapi dengan sayup-sayup kecil tapi dengan telinganya yang peka dengan hal-hal gaib dia bisa mendengar suara orang seperti tercekik oleh sesuatu.


"Tooloong... Akuuuu.." sangat kecil nyaris tak terdengar oleh siapapun, tapi Maura dapat mendengarnya dengan jelas.


"Astagfirullah! Ayo Riz, kita harus cepat sampai di rumah!" ajak Maura sambil menarik tangan Rizka.


"Kenapa buru-buru banget sih?! Ada apa, Maura? Apa terjadi sesuatu kepada mbak Shelly?!" tanyanya khawatir.


Maura tak menjawabnya, dengan wajah yang nampak begitu khawatir dia berjalan cepat sambil menarik Rizka. Perjalanan mereka sudah dekat, tapi dari jauh Maura bisa merasakan aura jahat mengelilingi rumah kost itu.


"Maura, cepat kembali! Bu Nela dan temanmu dalam bahaya. Aku tak bisa membantu mereka, aku sedang melawan jin laknat ini!" terdengar suara Dewi Srikandi di kepalanya.


"Astaghfirullah, pantes saja dari tadi aku merasa tak tenang. Ternyata begitu ceritanya" gumam Maura dalam hati.


Saat didepan rumah itu, dia meminta Rizka pergi meminta pertolongan warga sekitarnya. Tadinya Rizka sempat ragu karena dia bingung apa yang ditakutkan oleh Maura, tapi karena raut wajah seriusnya membuat Rizka mau gak mau menurutinya.


"Dia harus dijauhkan dari tempat ini, bahaya! Bisa-bisa Rizka kena dampaknya dari energi gelap ini" gumamnya sambil berjalan masuk kedalam rumah itu.


"Assalamualaikum.." ucapnya beri salam.


Mendadak rumah itu bergetar hebat seperti mau gempa, tapi Maura yakin ini pasti ulah jin yang tak ingin dia datang kesana. Sama halnya dengan Shelly tadi, dia juga mencium bau busuk didalam rumah itu, barang-barang yang mereka rapikan semalam berantakan lagi.


Berlahan dia naik kelantai atas sambil mengamati semuanya, dia menangkap sosok bayangan anak kecil berlarian dilantai atas itu. Dan dia tahu itu sosok arwah bayi jin itu.


Tok!


Tok!


Tok!


Maura mengetuk kamar Shelly, pintu kamar itu terbuka pelan dan Maura masuk dan melihat ada apa didalamnya, betapa terkejutnya dia melihat bu Nela sedang mencekik Shelly.


"Shelly!" teriaknya.


Dengan sigap dia mencoba melepaskan cekikan itu dan sedikit menggunakan kekuatannya untuk mendorong bu Nela, agar menjauh dari Shelly.


"Aarrgh!" Bu Nela yang kerasukan itu ingin menyerang Maura.


Maura langsung menghentakkan kakinya sambil melafalkan doa-doa dan ayat untuk mengusir jin itu, tiba-tiba angin kencang menghembus kearah bu Nela hingga terhempas mengenai dinding kamar itu.


Tidak lama kemudian, datang beberapa warga masuk kedalam kamar Shelly. Mereka membantu Maura untuk mengangkat Shelly keluar dari kamar itu.


Sedangkan Maura tak ingin mengekspos jati dirinya, dia membiarkan para warga lainnya menenangkan bu Nela dan mengikatnya agar tak memberontak.


"Kirain bu Nela udah pulang, ternyata masih nyangkut dimari!" ujar Ujang, si hansip.


"Huss, diem!" si Udin temannya menyahuti.


Mereka semuanya membawa bu Nela kelantai bawah, dan mengungsikan Shelly ke rumah warga sekitar.


......................


Bersambung