RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Season 2 : (PNS) Perpisahan Vera


"Ibu, Bapak?!" Bagas terkejut dengan kedatangan kedua orang tuanya.


Keluarga itu saling melepas rindu, Bagas terus menangis di pelukkan orang tuanya, setelah sekian lama dia ditahan didalam penjara tak sekalipun orang tuanya datang berkunjung, jangankan berkunjung sekedar menitip salam saja tidak.


"Bukannya ayah dan ibu tak peduli denganmu, tapi kami tidak diberikan akses untuk bertemu denganmu, nak... Ibu dan ayah sudah berusaha sebaik mungkin, tapi kamu pasti mengerti keadaan keluarga kita seperti apa.." ucap sang ibu sambil memeluk dan membelai lembut kepala anaknya.


Pak Sanusi menatap haru istrinya, selama ini istrinya sakit-sakitan selalu memikirkan anaknya, dan selalu bermimpi buruk dan berteriak tidak jelas, dan sekarang dia nampak baik-baik saja.


"Maafkan Bagas, Pak.. Bu, tapi Bagas benar-benar tidak melakukan perbuatan keji itu.." ujar Bagas menahan sesak di dadanya.


"Iya, Bapak sama ibu percaya denganmu. Ini semuanya karena bantuan teman-temanmu juga kok" jawab pak Sanusi.


"Teman?" tanya Bagas bingung.


"Iya, temanmu. Namanya Maura, dan satu lagi yang didepan namanya Ardian, dia juga yang mengungkap kebenaran jika Gilang temanmu itu pelaku sebenarnya.


Termasuk keluarga dan beberapa oknum pejabat yang berusaha menutupi kasus ini, dan melimpahkan semua kesalahan itu kepadamu" ujar pak Sanusi menjelaskan.


"Maura, Ardian.." gumam Bagas, dia merasa tak memiliki teman yang bernama seperti mereka.


Yang ada dia merasa aneh saja, ketika semua orang membencinya dan kedua orang tuanya, dan mengira akan mati didalam penjara, ternyata masih ada orang baik dan peduli dengan mereka.


"O ya, nak.. Ini ibu Warsih, beliau ingin bertemu denganmu.." ucap pak Sanusi.


Bagas nampak gugup sekali bertemu dengan ibu Warsih, meskipun dia tak membunuh Vera dan adiknya, tapi tetap dia merasa bersalah karena tak bisa menjaga dan menolong mereka.


"Bagas..." sapa bu Warsih sambil berkaca-kaca menatapnya haru.


"Maafkan ibu telah salah menilaimu, ibu sampai gelap mata dan terhasut ucapan orang-orang mengenai dirimu. Padahal mendiang Vera dan adiknya, selalu bersemangat kalau bercerita tentangmu..


Mereka bilang kamu itu orang baik, selalu ada buatnya, dan sangat mengerti dirinya. Sejenak ibu berpikir kalian ada suatu hubungan spesial, tapi ternyata hanya teman saja.


Tapi ketika kejadian ini, dunia ibu hancur. Kedua anak ibu pergi secara mengejutkan, hati ibu mana yang tak sakit melihat kedua anaknya pulang dalam keadaan tak bernyawa!


Ibu marah besar, menyalahkan semua orang atas kematian mereka, termasuk kamu, tapi setelah semuanya terbukti bahwa kamu tak bersalah, hati ibu semakin sedih dan sakit, karena ibu pasti telah menyakiti hati Vera dan adiknya.


Karena sahabatnya yang paling dia sayang harus menderita karena sikap egois ibunya, nak.. Bagas, maafkan ibu yah" pinta bu Warsih sambil menangis pilu menatap Bagas.


"Bagas yang minta maaf, Bu! Karena gak bisa jaga dan menolong mereka, seharusnya Bagas ada di sana waktu kejadian, tapi malah mereka yang mengalami semuanya.


Maafin Bagas, Bu.. Bagas tak pantas menerima permintaan maaf dari Ibu, karena seharusnya aku yang harus meminta maaf kepada Ibu! Hiks.." keduanya menangis haru menyesali semua yang terjadi.


Setelah itu Maura masuk kedalam menemui mereka, bu Warsih pamit meninggalkan mereka berdua. Bagas menatapnya heran karena tidak pernah bertemu dengannya.


"Hai, kenalin aku Maura!" sapa Maura ramah.


"Maura? Ah, kau ini anak yang dibicarakan oleh ayahku! Tapi kenapa kau berbohong kepada mereka jika kau itu temanku, maksudku teman sekolah aku dan Vera?!" tanya Bagas masih bingung.


"Maaf jika aku harus berbohong, tapi itu semua demi kebaikan kalian semua. Tenang saja, aku tak berniat buruk kok, aku melakukan semua ini demi seseorang yang sangat mengkhawatirkan keadaanmu.." ucap Maura.


"Siapa? Tak ada orang yang bersikap seperti itu kepadaku, yang ada mereka membenciku dan menjauhiku, karena kata mereka aku ini pembunuh. Tapi aku tak menyalahkan mereka, karena mereka tidak salah.


Jika saat itu aku ada di sana, mungkin mereka tidak akan bernasib seperti itu. Setidaknya nyawaku bisa menyelamatkan dua nyawa.


Tapi ini terbalik, demi nyawa seseorang Bagas, Vera dan Vicky adiknya harus melayang ditangan Gilang dan teman-temannya." Ucap Bagas penuh penyesalan, air matanya tak henti-hentinya menetes diwajah sendu itu.


"Tidak, Ada atau tidak adanya kamu di sana, tetap saja mereka akan dibunuh oleh Gilang dan orang-orangnya, karena mereka menganggap kalian adalah penghalang.


Bagas, aku menemukan sesuatu didalam foto di rumahmu tadi, aku yakin didalam ini ada sesuatu yang sangat berharga kamu simpan. Apa didalam ini yang jadi incaran Gilang?" tanya Maura sambil menunjukkan memori card ditangannya.


"Ka-kau, bagaimana bisa kau tau tentang itu? Bahkan kau tau dimana tempatnya!" ujar Bagas terkejut melihat memori card itu ada bersama Maura.


"Iya, hanya kau dan Vera saja yang tau.." jawab Maura.


"Iya, benar! Tapi kenapa, hah?? Apa jangan-jangan.." Bagas enggan meneruskan ucapannya, takutnya dia salah berasumsi.


"Vera memberitahukan aku semuanya, bahkan dia juga memberitahu kepadaku letak memori card ini berada.." sahut Maura.


"Tapi bagaimana bisa.." sahut Bagas sambil menatapnya nanar.


"Bagas, kamu percaya jika dunia lain itu ada? Jiwa, roh ataupun jin?" tanya Maura.


"Tentu saja aku percaya, sebagai makhluk ciptaan Tuhan, kita wajib mengimani semua keyakinannya dan semua itu adalah ciptaannya" jawab Bagas.


"A-apa? Vera.." gumamnya bingung sambil celingukan.


"Hem, dia tepat berada disebelah kananmu. Dan dia.. Ehem, sedang memelukmu" ucap Maura menjelaskan semua posisi Vera saat ini.


Sangat canggung sekali dia harus menjelaskan semua tentang Vera kepada Bagas, entah anak itu percaya atau tidak, setidaknya dia telah menyampaikan apa yang hendak anak itu katakan kepada Bagas.


"Dia bilang, dia tau jika selama ini kamu diam-diam menyukainya. Karena dia juga menyukaimu, Bagas. Mungkin di dunia ini kalian tidak berjodoh, tapi tidak tau di kehidupan selanjutnya," ujar Maura menjelaskan kembali maksud dari hantu gadis itu.


"Ugh, capek juga jadi perantara dan penerjemah hantu," gumamnya dalam hati.


Sampai tiba saatnya keduanya berpamitan, karena Vera dan adiknya harus pergi meninggalkan dunia ini menuju akhirat, karena dendam mereka telah usai.


Wajah Maura memerah saat melihat adegan Vera mengecup bibir Bagas, tentu saja hanya dia yang bisa melihat, kalau Bagas jangankan melihatnya, merasakannya juga tidak.


"Kenapa wajahmu?" tanya Bagas heran.


"Ti-tidak ada apa-apa, hehe! Hanya saja disini panas, o ya! Aku pamit yah, sampai ketemu lagi. Semoga kamu segera pulang, karena kamu sudah terbukti tidak bersalah.." ucap Maura menyemangatinya.


"Terima kasih yah, sudah banyak membantu. Kalau bukan karena kamu dan temanmu, mungkin sampai sekarang ini aku dan Vera akan terus tersiksa terus di dunia ini.." ucap Bagas masih sedih.


"Sudah, mungkin Tuhan telah menentukan semua ini. Semangatlah!" ucapnya lagi dan langsung pergi dari sana.


Dia sangat terkejut saat membalikkan badannya, dia melihat Ardian menatapnya tajam dibalik pintu keluar ruangan itu. Dia sangat kikuk dan canggung dibuatnya.


"Apa yang kau lakukan di sana?" tanya Ardian dingin.


"Aku hanya menyampaikan pesan dari Vera untuk Bagas, itu saja kok!" jawab Maura pura-pura cuek.


"Kenapa harus kamu? Bukannya dia juga ikut, suruh dia saja yang berbicara sendiri!" ucap Ardian ketus.


"Mana bisa, ih! Kayak gak tau aja, emang dia bisa lihat dan dengar Vera, gak kan?" sahut Maura lagi.


"Kalau tau hal itu, ngapain coba pakai ngomong-ngomong segala, urusannya di dunia ini sudah selesai! Dan Bagas juga harus move on darinya!" ucap Ardian.


"Iya, kan mau pamitan aja sekalian buat kasih semangat buat Bagas agar dia tidak menyalahkan dirinya sendiri, karena memang bukan salahnya juga.." Maura mejelaskan lagi maksud kedatangan Vera tadi.


"Tapi aku liat tadi tuh hantu pake cium segala.." sungut Ardian.


"Biar saja! Toh bukan aku juga yang dia kasih cium!" ujar Maura bete melihat kecemburuan Ardian tak beralasan.


"Aku hanya tak suka kau berduaan dengan lelaki lain.." sahut Ardian pelan.


"Kan gak berdua, ada Vera juga.. Sudah ah, gak usah dibahas terus, capek! Udah sore juga. Pulang yuk.." ujar Maura mengakhiri perdebatan itu.


Dia menarik tangan Ardian meninggalkan tempat itu, sekilas keduanya melihat ada bayangan hitam melintas didepan ruangan itu. Keduanya saling pandang, dan menoleh kebelakang.


Betapa terkejutnya mereka melihat Bagas sudah tergantung di langit-langit ruangan itu, bagi mata awam, Bagas bagaikan melayang, tapi dimata mereka, anak itu sedang diangkat tinggi-tinggi oleh makhluk tinggi besar hitam berbulu lebat dengan mata merah menyala.


Syeeett!!


Secepat kilat Ardian melompat tinggi menyabetkan sesuatu kearah makhluk itu, dan seketika cengkeramnya kepada Bagas langsung lepas.


Bruk!


Bagas terjatuh kelantai dengan keras, hingga anak itu tidak sadarkan diri. Saat melihat kejadian itu tadi kebetulan ada petugas yang lewat, mereka juga sangat kaget melihat fenomena itu, aneh tapi benar terjadi.


"Pak, sebaiknya dia dipindahkan dari tempat ini! Disini bahaya.." pinta Maura khawatir.


"Iya, dik! Kita bawa dulu dia ke rumah sakit, temanmu juga tuh!" ujar petugas itu sambil menunjuk Ardian.


Maura hampir saja melupakan Ardian yang sedang terduduk di lantai, dia nyengir saja saat membantu Ardian bangun.


"Bukannya pacarnya dulu yang dibantu bangun!" sungut Ardian.


"Kamu kan masih bisa bangun sendiri, sayang! Tapi tuh bocah pingsan, kasihan. Udah ah, gak usah lebay. Kamu sebenarnya juga gak apa-apa kan?" tanya Maura menggoda Ardian.


Ardian diam saja saat digoda Maura, fokusnya saat ini kesalah satu pojok ruangan, ada bayangan yang sedang mengawasi mereka.


......................


Bersambung