
"Bangunlah, Cu... Buka mata kalian" terdengar suara lembut menegur mereka.
Keduanya membuka mata secara pelan-pelan, mereka masih mawas diri takut didepan mereka ini bagian dari makhluk itu tadi.
Keduanya terpaku melihat dua sosok siluet berbentuk sepasang manusia dengan penampilan kerajaan kuno, yang jelas itu bukan pakaian khas Eropa ataupun negara Asia lainnya.
"Si-siapa kalian?" tanya Angga memberanikan diri menghadapi dua sosok itu.
"Kami bukan siapa-siapa, yang jelas kami ingin berterima kasih kepada kalian yang sudah membebaskan kami.
Semoga bantuan kami tadi cukup membalas kebaikan kalian tadi, jika tidak... Izinkan kami tetap bersama kalian" jawab bayangan berbentuk lelaki dengan pakaian adat lengkap dengan mahkotanya.
Angga dan Dhania bingung dengan perkataannya, apa maksudnya tadi? Berterima kasih? Bantuan?
"Jangan khawatir, mereka telah lenyap untuk selamanya. Semoga..." sahut siluet berbentuk seorang wanita kerajaan.
Dua bayangan itu bersinar, sinarnya kuning keemasan cahayanya berpendar menerangi seisi taman itu. Menimbulkan efek kunang-kunang, begitu indah dipandang.
"Bisa jelaskan? jujur saja kami tidak mengerti" tanya Angga lagi.
"Kami ini adalah jiwa yang terkurung didalam benda pusaka yang kalian bawa itu, kami terkurung di sana sudah beribu-ribu tahun yang lalu, entah sudah berapa abad kami didalam sana.
Kami dipaksa masuk didalam sana, jaman dulu tepatnya di jaman kami masih hidup dan berjaya, ada seorang dukun sakti bersekutu dengan iblis dan jin jahat lainnya.
Kami sangat menentang ilmu hitam, apalagi suka memakai tumbal manusia ataupun makhluk hidup lainnya. Karena tidak ada sedikitpun kebaikan dari perbuatan itu.
Kami adalah raja dan ratu era itu, memerintahkan untuk menyisiri setiap daerah pelosok negeri untuk memberantas sihir ilmu hitam. Saat itu kami tidak tahu telah terjadi kesalahpahaman antara prajurit kami dengan seorang dukun sakti yang mengira dirinya adalah dukun ilmu hitam.
Sehingga anak dan istrinya dipaksa ikut mereka dan dikurung juga disiksa, disuruh mengakui kalau suami dan ayah anak itu adalah dukun ilmu hitam.
Merasa mereka tidak bersalah, tentunya mereka tidak mengakui hingga membuat prajurit-prajurit yang di sana menyiksa mereka hingga mati.
Suami dan ayah wanita bersama anaknya itu murka dan berencana membalas kematian keluarganya, dengan bersekutu dengan iblis dan jin.
Mereka menyebarkan penyakit menular dan mematikan, banyak warga desa dan penduduk negeri ini yang tertular dan mati sia-sia. Hingga menyerang istana juga.
Satu persatu para prajurit dan keluarganya mendadak mati mengenaskan.
Hingga kami pun dijadikan tumbal mereka untuk persembahan para iblis dan jin itu, tapi kalian harus tahu... Tidak ada kejahatan yang sempurna, tidak ada iblis yang menaiki tahta kekuasaan begitu saja.
Berkat perlindungan dewa-dewi kami, kamipun terlindungi meskipun sudah mati ditangan iblis jahanam itu. Setidaknya jiwa kami tak terkurung oleh para iblis jahanam itu!
Tapi sebagai gantinya, jiwa kami terombang-ambing di dunia fana ini. Kematian yang tak wajar tidak diterima surga, dan juga ini karma bagi kami karena membiarkan prajurit kami berbuat lalai" ujar sang ratu itu menjelaskan.
Angga dan Dhania melongo takjub mendengar cerita mereka, tidak disangka mereka bisa mendengarkan cerita dongeng versi nyata dari sumbernya langsung. Meskipun ceritanya tragis..
"Kalau begitu semua benda pusaka di ruangan itu tadi juga ada isinya?" tanya Dhania.
"Iya, tapi kami tak sama dengan mereka. Para penghuni benda keramat yang lain itu adalah makhluk-makhluk jahat, mereka siap melahap apapun yang mereka temui.
Soal mereka tidak usah khawatir, kami sudah mengurung mereka di dalam benda-benda keramat milik mereka dan mengurungnya didalam peti.
Saat ini benda-benda itu terkurung didalam lautan paling dalam dan paling berbahaya di dunia ini, jadi takkan ada manusia manapun yang akan menemukan mereka, begitu juga sebaliknya.
Karena kami sudah memantrai peti mereka, tidak akan ada makhluk apapun yang akan menemukan mereka" timbal sang raja.
Angga dan Dhania manggut-manggut mendengarkan kisah mereka yang lumayan seru itu.
"Kalau begitu, tunggu apalagi. Kalian sudah bebas silakan nikmati kebebasan kalian" ujar Dhania.
"Tidak semudah itu, anak muda. Kami yang terkurung didalam benda keramat itu berabad-abad lamanya jadi sudah terbiasa didalam sana.
Mau gak mau, benda itu sudah jadi rumah kami. Tapi kami tak ingin sembarang orang yang memilikinya, jika disalahgunakan maka akan sangat berbahaya bagi kelangsungan hidup umat manusia" jawab sang ratu.
"Karena kalian yang pertama menemukan dan membebaskan kami, dan kalian juga orang baik maka kami ingin bersama kalian" kata sang raja.
"Kami tak sebaik yang kau kira, bisa aja nanti kami jual benda ini. Karena benda ini sangat mahal terbuat dari emas" ucap Angga memancing mereka.
"Aku tahu siapa yang kami hadapi saat ini, meskipun kami bukan Tuhan ataupun Dewa-Dewi, tapi kami tahu isi hati kalian. Tolong bawa kami, suatu saat nanti kami akan berguna bagi kalian, terutama disaat-saat seperti tadi" ucap sang ratu menyakinkan mereka.
Terlihat Angga dan Dhania sedang memikirkan sesuatu, mereka juga mendiskusikan hal itu karena bukan hal yang mudah menjaga benda keramat seperti itu, apalagi mereka hanya manusia biasa.
"Baiklah, tapi bantu kami juga mengatasi hal-hal gaib lainnya. Karena kami masih sangat baru mengenal dunia ini" ucap Angga mengetes pengetahuan mereka.
"Kami tahu ini bukan hal baru bagi kalian, terutama buatmu wahai pemuda. Keluargamu itu penuh misteri dan sarat kutukan!
Hanya ada satu cara jalan satu-satunya yang bisa mengatasi hal itu yaitu berada di tangan adik perempuanmu, dia juga tak sendiri ada teman-temannya yang akan selalu membantunya.
Dan kau gadis manis, kalian akan berjodoh seperti kami. Tetaplah bersamanya, kalian akan menghadapi setiap masalah bersama-sama nantinya" ujar sang raja.
"Wah kau hebat, semu tebakanmu benar. Kalau soal yang terakhir tidak usah dijelaskan kami sudah tahu, karena selama ini kami selalu bersama-sama dalam hal apapun" jawab Angga sumringah.
"Bagaimana, apakah kami akan diterima?" tanya sang raja tak sabaran.
"Tunggu dulu, ada pertanyaan yang dari tadi mengusikku. Bagaimana cara kalian mengatasi para makhluk jahat yang keluar dari benda-benda keramat itu? Secara benda-benda itu banyak sekali.
Dan cara kalian memindahkan mereka kelaut yang sangat jauh itu? Sama satu lagi... Kami tak mendengar apapun saat kalian mengalahkan para makhluk tadi" tanya Dhania penasaran.
"Soal itu nanti kalian akan tahu, saat ini kami tak bisa menjelaskan apapun soal kekuatan kami. Yang jelas kami akan menggunakan kekuatan ini untuk kebaikan saja, tidak ada tumbal ataupun sesajen" ucap sang ratu.
mendengar hal itu, hati mereka jadi lega. Setidaknya kedua makhluk ini tidak akan menyusahkan mereka suatu saat nanti, pikirnya.
......................
Bersambung