RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Muslihat Marino


Hari itu telah tiba, semua kawanan sudah berkumpul di apartemen Maura. Mereka mendengarkan arahan dari bi Marni dengan seksama.


"Dengarkan semuanya, kalian bukan lagi bermain ataupun latihan biasa tapi kalian benar-benar berada dimedan perang. Bukan manusia biasa lawan kalian melainkan para makhluk tak kasat mata dan manusia-manusia serakah lainnya" kata bi Marni dengan serius.


Semuanya mendengarkannya, tetapi pandangan Ardian malah fokus ke Daniel suaminya Tari. Entahlah, dia merasa orang ini aneh sekali. Dari cara dia melihat dan mendengarkan arahan bi Marni seolah meremehkannya.


Dan Anehnya hanya dia yang sadar akan hal itu, yang lain pada fokus ke bi Marni saja. Daniel sadar dia sedang diperhatikan Ardian, bukannya dia sadar akan sikapnya tapi malah melambaikan tangannya.


"Ada yang tak beres dengan orang ini, aku harus mencari tahu siapa dia sebenarnya. Tapi aneh rasanya jika Tari tak tahu siapa suaminya, mungkin memang begitulah sikapnya.


Mungkin saja" gumam Ardian sambil menatap Daniel dengan tatapan tajamnya.


"Fokus saja dengan penyerangan ini, soal dia nanti kita cari tahu lagi" ujar pamglima Arialoka yang tiba-tiba keluar dari tubuhnya.


"Panglima, apa kau tidak apa-apa nanti? Aku dengar maharaja Balaputradewa akan datang membantu bersama para prajuritnya," ucap Ardian sambil menatap dirinya.


"Tidak apa-apa, malah aku rindu dengan sahabatku itu. Aku ingin sekali bertemu dengannya kembali" ujar panglima Arialoka santai.


Semua telah bersiap berangkat ketempat tujuan masing-masing, bi Marni dan Tari duduk bersemedi di kamar masing-masing. Sedangkan Daniel dan Angga berada di ruang tengah lengkap dengan peralatan teknologi canggihnya.


Dengan alat itu juga mereka bisa memantau setiap pergerakan dan lokasi semua kawanan, Kevin dan Maurice sudah di gedung itu dan bersembunyi disalah satu ruangan kosong tempat mereka menyiapkan segal sesuatu yang akan diperlukan nantinya.


Maura bersama Dewi Srikandi sedang diatap gedung sedang bersiaga memberi perlindungan bagi kawannya, sedangkan Ardian bersama panglima Arialoka berada disalah satu taman gedung itu berdiri disalah satu pohon besar dan tertinggi di sana untuk memantau keadaan sekitarnya.


Sementara Julian, Joanna dan Rosario mereka sudah siap bertempur melawan para prajurit iblis itu. Terus dimana Dhania?


Disinilah dia sekarang menjadi tamu kehormatan Marino de Paquillo, dia diundang secara khusus oleh Marino untuk menjadi salah satu tamu kehormatannya dan mendampinginya untuk menyambut para tamunya.


"Dhania, kamu cantik sekali dan sangat cocok dengan gaun hitam itu. Hehe! Bagaimana, kamu suka dengan hadiahnya?" tanya Marino dengan tatapan hangat.


"Tentu saja aku suka, terima kasih yah" jawab Dhania seramah mungkin.


Sebelum itu dia sudah menceritakan semuanya tentang undangan dan hadiah gaun itu, semuanya sudah memeriksa undangan ataupun gaun itu. Tidak ada tanda-tanda yang mencurigakan, ataupun sihir didalamnya, tidak ada.


Meskipun itu hanya akting dan misi Dhania dalam membantu mereka mengalihkan perhatian Marino, tetap saja rasa cemburu itu masih ada.


Mereka semua sudah dibekali kamera dan earphone untuk saling berkomunikasi, Angga terlihat cemburu melihat kekasihnya itu dan dia semakin gusar saja ketika diledekin Daniel, kakak iparnya itu.


"Mereka ternyata sebegitunya ingin menghancurkan dan merusak gedung dan pestaku ini. Takkan ku biarkan itu terjadi, maka nikmatilah peran kalian masing-masing setelah itu nikmati juga pertunjukan yang kubuat nanti" gumamnya sambil menatap Dhania dengan dingin.


Dhania masih belum sadar jika dari tadi Marino menatapnya dengan tatapan penuh curiga dan selidiki penuh arti.


Waktunya sudah tiba, Marino pun sudah memberikan pidato sambutannya. Dia juga tak henti-hentinya berbicara soal visi dan misinya dalam membangun gedung itu.


"Gedung ini aku bangun untuk membantu sesama kita, orang-orang yang perlu dibantu maka akan kita bantu.


Ini akan aku bangun dan jadikan rumah sakit lagi, sesuai dengan visi dan misinya membantu rakyat miskin. Dan sebagiannya akan dijadikan kawasan komersial dan Area perkantoran lainnya" ujar Marino disambut dengan tepuk tangan meriah oleh para tamu dan undangan lainnya.


Disaat mereka menikmati pesta itu, tiba-tiba terdengar suara bergemuruh dibawah lantainya. Marino mengira itu adalah tanda terbukanya pintu ajaibnya, dan Arion datang karena pesta sudah dimulai.


Blarr, braakk!


Tapi anehnya para undangan tidak menyadari dengan adanya suara tersebut, mereka bersikap biasa saja dan seolah semuanya baik-baik saja.


Dari arah kejauhan, nampak Arion gaharu dari kejauhan datangnya bersama para prajuritnya yang serba hitam dan tombaknya.


"Selamat datang kembali, penyihir idolaku. Aku sudah menunggumu sejak dari tadi. Hehe!" ujarnya sambil tersenyum sinis.


Semua kawanan tidak menyadari bahaya sedang mengancam nyawa mereka, mereka masih fokus dengan pekerjaan masing-masing.


......................


Bersambung