RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Season 2 : (PNS) Misi Berhasil


Maura diantar naik kuda bersama panglima Adyadharma, panglima itu kembali dengan wujud dan penampilan yang pertama saat mereka bertemu tadi, sedikit membuat Maura merinding tapi dia tahu siapa makhluk ini sekarang, dan membuatnya kembali tenang lagi.


"Apa tidak mengapa seperti ini? Kelihatannya dia sangat merindukan panglima Arialoka dan Dewi Srikandi, lagian dia juga tak bersalah dengan kejadian di masa lalu.


Apa segitu bersalahnya dia sampai tak bisa menunjukkan wajahnya, kepada panglima Arialoka dan Dewi Srikandi?" gumam Maura merasa iba kepadanya.


"Kau tak perlu memikirkan diriku, aku tak apa. Semuanya baik-baik saja.." ucap panglima Adyadharma.


"Loh, bisa denger juga?!" tanya Maura keceplosan, dan heran sendiri.


"Tentu saja dengan suaramu yang cukup nyaring itu, hehe!" ucap panglima Adyadharma sambil terkekeh.


"Nyaring gimana, orang aku cuma ngomong pelan aja" ucap Maura.


"Makhluk seperti kami ini memiliki indra yang sangat kuat dan peka, jangankan bicara seperti itu, bergumam dalam hatipun kami tau. Bahkan ada beberapa yang lainnya bisa membaca isi hati dan pikiranmu itu.." sahut panglima Adyadharma sambil tersenyum.


"Ooh... Jadi aku harus lebih hati-hati lagi jika bertemu dengan makhluk seperti kalian yah.." ucap Maura.


Panglima Adyadharma hanya mengangguk saja, dan tidak lama kemudian perjalanan mereka sedikit lagi sampai, kuda itu sudah memasuki gua batu diawal mereka masuk ke dunia itu.


Dan ketika mereka keluar, sudah ada yang menunggu didepan tugu prasasti didepan gua itu, mereka adalah Ardian dan Meera, juga panglima Arialoka dan Dewi Srikandi.


"Sesuai janjiku pada kalian semua, gadis ini akan kembali dengan utuh setelah kalian pulang dan menjemputnya, dan sekarang pergilah dan jangan kembali lagi!" ucap panglima Adyadharma dengan wujud dan suara mengerikan lagi.


Setelah dia menurunkan Maura, panglima itu membalikkan kudanya untuk masuk kedalam gua batu itu, tapi dicegah oleh panglima Arialoka, dia menghalangi laju kuda itu.


"Apa yang kau lakukan, pergilah! Jangan halangi aku jika tak ingin terluka!" ucap panglima Adyadharma dengan wujud mengerikan.


"Mau sampai kapan kau akan seperti ini, Adyadharma. Apa kau tak lelah bersembunyi selalu? Semua tentang masa lalu tak ada hubungannya denganmu, teman.." ucap panglima Arialoka sambil tersenyum kepadanya.


Panglima Adyadharma nampak kebingungan melihat sikap panglima Arialoka dengan Dewi Srikandi, dia melihat Maura dan gadis itu juga sama bingungnya dengan dirinya.


"Aku tak tahu apa-apa.." ucap Maura sambil geleng-geleng kepala.


"Hem, lihat tatapan kalian berdua.. Sepertinya kalian sudah dekat semenjak ditinggal pergi, yah Maura?" goda panglima Arialoka.


Maura hanya nyengir saja, tak ada gunanya berbohong toh mereka juga tahu semuanya. Begitu pula dengan panglima Adyadharma, dia merubah wujudnya menjadi wujud saat dia masih menjadi manusia.


Lelaki tampan itu balik lagi di wujudnya sekarang, Meera melihatnya makin terpesona dengan daya tarik yang dimiliki panglima Adyadharma, jangankan Meera, Maura pun hampir tergoda dengan paras tampannya.


Dan untungnya keteguhan hatinya untuk Ardian tak goyah, ucapan Ardian yang penuh komitmen itu, selalu terngiang di telinganya setiap kali godaan datang menghampirinya.


"Yah, saat dia membawaku ke istananya. Aku mengetahui semuanya, dan dia juga menceritakan kepadaku tentang semua kisah kalian di masa lalu," ucap Maura sambil tersenyum.


"Ehem!" Ardian berdehem kearahnya.


Melihat itu Maura jadi terdiam, dia tak sadar ada seseorang yang berdiri dibelakangnya Sedari tadi, Ardian menarik tangan Maura menjaga jarak dengan panglima Adyadharma.


Semua yang melihat tingkahnya yang seperti itu, hanya tersenyum saja. Tak terkecuali dengan Meera, gadis itu begitu cemburu melihat sikap Ardian ke Maura, ternyata lelaki itu begitu mencintai kekasihnya.


"Meera, bagaimana keadaanmu? Baik-baik sajakah?" tanya Maura dengan tulus.


"A-aku baik-baik saja, dan terima kasih sudah menjemputku.." ucap Meera dengan canggungnya.


"Baiklah, sebaiknya kalian cepat pulang jika semuanya sudah terkumpul kembali!" sahut panglima Adyadharma.


"Tunggu dulu, Dharma! Aku ingin berbicara denganmu.." ucap Dewi Srikandi menahan langkahnya.


"Apa yang ingin kau katakan, Dewi? Aku sekarang sedang menjalani hukumanku, dan aku tak bisa pergi dari rumah dan hutan ini, karena ini wilayah dan tanggung jawabku" ucap panglima Adyadharma sambil memalingkan wajahnya.


Dia terlalu malu menatap sang Dewi, wanita dihadapannya saat ini dulu adalah pimpinan mereka, ada beberapa panglima dan adipati termasuk Arialoka yang ikut dengan mereka, bersama ratusan prajurit lainnya.


Semuanya gugur oleh serangan mendadak dari para penyihir, dan tentu saja dibantu oleh Kamaru yang terpengaruh oleh sihir juga, sama halnya dengan Kamaru dia merasa menyesal tak bisa melindungi kawanannya.


Dia selalu menyalahkan dirinya sendiri atas semua kematian teman-temannya, termasuk kematian Dewi Srikandi, hanya beberapa panglima dan prajurit saja yang kembali waktu itu, termasuk panglima Arialoka dan dirinya.


Jika dulu panglima Arialoka mendendam ingin membunuh setiap penyihir dibumi Sriwijaya, tidak dengan dirinya dan kakaknya panglima Adyaseka, mereka pergi mengembara dan berharap bisa menebus dosa mereka.


Dan berakhir menyedihkan, kedua meninggal karena keracunan makanan, dan tentu saja itu ulah salah satu penyihir, dan kakaknya bereinkarnasi kembali sedangkan dirinya tidak.


"Aku tau, Dewi. Dan biarkan aku melakukan ini semua, karena dengan ini aku merasa lebih baik. Titip salamku kepada kakakku, Adyaseka..." ucapnya.


Kemudian dia mengisyaratkan kudanya untuk kembali berpacu menuju gua batu itu, dan menghilang dikegelapan, Dewi Srikandi, panglima Arialoka, dan lainnya hanya diam saja melihat itu semua.


"Biarkan saja dia, itu jalan yang dia pilh. Sampai hari akhir nanti, dia akan terus berada disini. Menjaga hutan dan dimensi ini, dan itu tak buruk, setidaknya dengan ini bisa mengurangi perasaan bersalahnya itu" ucap panglima Arialoka.


"Aku tau, dan aku bisa mengerti maksud darinya, hanya saja. Aku kasihan dia menderita sendirian, tak ada teman yang bersamanya.." gumam Dewi Srikandi merasa prihatin melihat temannya itu.


"Kata siapa, di dunianya itu begitu banyak makhluk di sana. Mau lelaki, perempuan, orang tua, anak-anak dan orang dewasa lainnya juga ada.


Banyak lagi, dan mereka beraktivitas seperti biasa. Dan hidup mereka begitu damai dan terlihat begitu senang" ucap Maura.


Dan dia mulai membicarakan keadaan dan suasana didalam gua batu yang terlihat menyeramkan tapi isinya begitu indah dan mewah.


"Haha! Lucu sekali dirimu itu, Maura! Itu adalah dunia ilusi ciptaannya, dia membuat itu ada dua kemungkinan, untuk menghibur diri sendiri atau.. Untuk membuatmu nyaman, dan tidak takut selama berada didekatnya," sahut panglima sambil tersenyum dan tertawa geli melihatnya.


"Oooh.. begitu!" ucap Maura tertunduk malu.


"Ya sudah, setidaknya kepergian kita disini ada hikmahnya. Selain bisa menyelamatkan anak ini, kita juga banyak mengetahui berbagai fakta yang tak kita ketahui sebelumnya.


"Kau benar, dan sekarang kita juga akan melakukan semuanya dengan baik dan lebih ikhlas lagi, setelah misi penumpasan penyihir dan para makhluk jahat lainnya selesai, kita baru bisa hidup dengan tenang dan kembali ke akhirat.


Dan jangan khawatir, aku akan terus mendampingimu sampai selesai. Kau tak perlu bingung lagi.." ucap panglima Arialoka menatap Dewi dengan tatapan sendu.


Sesaat keduanya terdiam, dan Dewi memalingkan wajahnya. Dan panglima Arialoka langsung tersadar, dia tahu Dewi Srikandi takkan pernah menjadi miliknya, meskipun mereka kembali berjuang bersama, tetapi sang Dewi bukanlah miliknya.


Dia menatap Maura dan Ardian, dia berharap kisah cinta mereka tidak tragis seperti kisah cintanya. Kemudian dia memberi aba-aba kepada semuanya untuk bersiap kembali ke dunia manusia, dunia mereka semuanya.


.


.


"Maura, Ardian, Meera! Bangunlah, jangan seperti ini terus. Aku mohon bangunlah!" sayup-sayup mereka mendengar ada yang memanggil nama mereka.


Pelan-pelan Maura membuka matanya, dia melihat Ardian terbaring didekatnya, dan Meera ada disebelahnya juga. Dia bangun diikuti juga oleh Ardian, tapi Meera belum bangun juga.


"Alhamdulillah ya Allah, syukurlah kalian sudah kembali!" ucap syukur pak Kyai dan lainnya.


Mereka bisa tersenyum lega dan kembali ceria saat melihat mereka sudah bangun, mereka memberikan air minum dicampur madu untuk mengembalikan stamina mereka saat ini.


"Akh! Badanku pegal-pegal dan sakit semuanya, seperti habis digebukin!" ucap Ardian meringis kesakitan.


"Iya aku juga, badanku sakit dan lemes.." sahut Maura.


"Tentu saja begitu, kan kalian tidur sudah satu minggu lebih! Gimana gak sakit-sakitan badannya, orang tiduran bae kerjanya. Hehe!" sahut pak Kyai sambil terkekeh.


"Apa?!!" teriak Maura dan Ardian tak percaya.


"Astaghfirullah! Kalian bikin Bapak kaget saja, kalau Bapak jantungan gimana, hayoo?!" ucap pak Kyai kaget.


"Haha! Maaf, Pak.. Kami hanya terkejut saja, kaget kok bisa selama itu yah? Padahal kita pergi paling lama satu atau dua jam saja.." ucap Ardian.


"Satu jam, dua jam gundulmu! Udah seminggu lebih loh, bikin khawatir saja!" teriak Kevin gemas.


Mereka berdua baru menyadari keberadaan mereka sekarang ini ada dimana, mereka dibawa ke pesantren oleh pak Kyai dan Rizal juga Nur.


//


Satu minggu sebelumnya..


Pak Kyai masih bertarung melawan Meera yang kerasukan itu, dia hampir kewalahan. Untuk meminta bantuan Rizal dan Nur juga tak mungkin, karena kedua anak itu juga sibuk menjaga tubuh Maura dan Ardian.


Karena begitu banyak jin-jin yang berada disekitaran situ ingin masuk kedalam tubuh dua anak istimewa itu. Mereka tak bisa menyia-nyiakan kesempatan ini untuk bisa memiliki kekuatan agar bisa kembali hidup sesuai keinginan mereka.


"Pergilah, sebelum kalian mendapatkan ganjarannya! Kami tak berbelas kasih dengan kalian, kami memperingati kalian untuk segera pergi!" bentak Rizal kepada seluruh jin yang mengepung mereka.


Sedangkan mereka tak bisa pergi meninggalkan dua tubuh manusia yang kosong ditinggalkan oleh pemiliknya, mereka bisa saja melawan para jin itu, tapi mereka tak bisa bergerak bebas karena dua tubuh itu harus dilindungi dari setiap jin yang mencari kesempatan itu.


Disaat mereka kewalahan, mereka sudah lelah dan hampir menyerah, tiba-tiba datang ratusan bahkan ribuan peri kecil mengerumuni para jin itu, para makhluk itu berteriak keras mendengar suara cicitan para peri.


Telinga mereka berdarah, dan mereka berteriak kesakitan seolah habis mendengarkan suara memekakkan telinga hingga berdarah begitu.


Setelah itu para jin kabur meninggalkan mereka, awalnya Rizal dan Nur mengira ratus ribuan peri kecil itu bagian dari para jin jahat ingin merebut tubuh Ardian dan Maura.


Tapi sikap dan perbuatan peri kecil itu mengejutkan mereka.


Begitu juga ratu jin Sikumbang, saat melihat peri kecil yang berjumlah ribuan itu datang dia terlihat begitu ketakutan, tapi tertahan oleh pak Kyai.


"Eh, mau kemana?! Jangan berpikir untuk kabur dengan membawa tubuh anak ini!" teriak pak Kyai.


"Lepaskan aku, kakek tua!" teriak ratu jin Sikumbang.


"Hei, kau membicarakan siapa? Dirimukah?!" ucap pak Kyai kesal dibilang kakek tua.


'Lepaskan!" teriak ratu jin Sikumbang.


Saat pegangan tangan pak Kyai terlepas, sang ratu jin ingin segera kabur, dan alangkah kagetnya dia melihat ada ratusan peri menghadangnya.


"Ayunda*?!" ucapnya sambil gemetaran.


"Ayo ikut aku pulang.." terdengar suara lembut dari ratusan peri itu.


Tanpa perlawanan ratu jin Sikumbang ikut dengannya, dia melesat pergi dan meninggalkan tubuh Meera tergeletak pingsan begitu saja.


"Dasar makhluk tak tahu diri, pergi begitu saja tanpa harus balikin tubuh yang sudah dia pinjam, hufft! Bagaimana bisa aku membawanya kalau begini?!" ucap pak Kyai bingung.


Dia meminta bantuan Nur dan beberapa mahasiswi lainnya membawa Meera dan Maura ke pesantren, dan Ardian di gotong olehnya bersama Rizal.


......................


Bersambung.


keterangan:


Ayunda* adalah panggilan untuk kakak perempuan tertua, di jaman dulu. Kata Ayunda untuk seseorang yang sangat dihormati, di jaman sekarang sudah tak ada lagi panggilan seperti itu.