RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Season 2 : (PNS) Kekhawatiran Ardian


Diluar kamar, Ardian berusaha sekuat mungkin untuk bisa mendobrak pintu kamar istrinya itu, tangan dan kakinya sudah terasa sakit, lecet tapi dia tak perduli. Rupanya Maura juga memagari kamarnya dengan pagar gaib agar tak bisa didobrak dari luar, benar-benar suatu langkah yang salah.


Braaak!


Braaak!


Ardian masih terus berusaha, angin malam mendadak bertiup kencang, malam begitu sunyi dan dingin gerimis mulai datang, membuat malam itu semakin mencengkam.


"Maura, kumohon.. Pulanglah, buka pintunya!" ujar Ardian hampir putus asa.


Dan tiba-tiba pintu kamar seperti ada yang membukanya dari dalam, terdengar suara kunci pintu dibuka.


Klik!


Ardian terdiam, dia membuka pintu itu pelan-pelan dan saat pintu terbuka lebar, dia melihat Maura berdiri sambil memegangi kondenya yang tertancap dalam kearah dadanya, nyaris mengenai jantungnya sendiri.


"Maura!" teriak Ardian panik.


Dia langsung berlari menuju sang istri, ketika mendengar suara Ardian Maura langsung menatap suaminya itu, dan langsung tersenyum. Setelah itu tubuhnya ambruk pingsan banyak mengeluarkan darah.


"Maura! May!" teriak Ardian panik, khawatir dan takut.


"Tenangkan dirimu, Ardian.. Bawa dia segera berobat ke rumah sakit, tetap tenang" terdengar suara panglima Arialoka menenangkannya.


Ardian langsung membawa tubuh Maura kedalam mobilnya, untung saja dalam situasi panik itu panglima Arialoka bisa mengarahkannya, dan Ardian bisa mengikuti arahannya dengan benar.


Setelah mengambil tas berisi dompet, ponsel dan beberapa dokumen jika diperlukan nanti, dia langsung keluar dan mengunci rumah. Panglima Arialoka sudah memastikan rumah dalam keadaan aman, ada beberapa prajurit Dewi Srikandi yang menjaga rumah itu dari makhluk usil dan jahat, juga manusia-manusia yang berniat buruk lainnya.


Sementara yang lain ikut bersama panglima Arialoka, mengawal Ardian membawa Maura ke rumah sakit. Tengah malam hujan deras, diiringi dentuman suara guntur dan kilatan petir, membuat suasana semakin genting saja.


Menatap langit malam itu, begitu gelap dengan guyuran hutan, sesekali dia melihat kilatan petir di langit, membentuk seperti siluet dua makhluk yang sedang berperang. Entah apa yang terjadi saat ini di dunia dimensi tempat pohon keramat dan nenek Dawiyah.


Yang jelas ribuan prajurit Dewi Srikandi bersama ratusan ribu prajurit dari Kerajaan Bayangan, menyerang dimensi itu. Menghancurkan apa saja yang ada didalam sana, karena dunia itu telah menyakiti sang Dewi perang.


Semua iblis dan jin jahat kalah dan hancur saat melawan mereka semua, menyisakan sedikit saja dari mereka, dan itupun mereka berhasil kabur dari tempat itu, berlari ke dimensi lain.


Tinggallah pohon Gaharu itu saja, mereka tak bisa menghancurkannya. Bukannya tak mau, tapi mereka memang tak bisa, hanya Maura lah yang satu-satunya yang bisa menghancurkannya.


Sedangkan nenek Dawiyah kabur ke dunia manusia, dia terluka parah. Bahkan terkapar tak sadarkan diri dalam keadaan badan penuh luka.


Di rumah sakit, Maura langsung ditangani oleh beberapa perawat dan dokter yang jaga malam itu, dengan arahan panglima Arialoka, Ardian menghubungi pak Kyai, hanya dia satu-satunya yang bisa dia hubungi dan mintai pertolongan dalam keadaan seperti ini.


"Astaghfirullah al'azimm.. Anak itu benar-benar nekat, apa yang ada didalam pikirannya sehingga bisa berbuat seperti itu?! Apa dia tak memikirkan segala resikonya?!" tanya pak Kyai khawatir, takut dan kesal juga.


"Sudah, tak usah panik kamu, Ardian! Aku dan beberapa orang akan datang, kamu tetap tenang dan bersabar saja. Dampingi istrimu itu, beri dia kekuatan.." ujar pak Kyai lagi.


Setelah beberapa saat kemudian, pak Kyai didampingi oleh beberapa orang termasuk ustadzah Mariam, dia diperlukan jika Maura membutuhkan pertolongan seorang wanita dalam hal lainnya.


Saat pak Kyai datang bersama dengan yang lainnya, dia sangat terkejut saat berada didepan pintu gerbang rumah sakit itu, jika dimata orang awam kita melihat rumah sakit itu terlihat sepi, dan sunyi ditambah lagi suasana tengah malam yang diguyur hujan lebat.


"Mereka? Siapa yang bapak maksud?" tanya ustadzah Mariam, hanya dia yang tak bisa melihat makhluk-makhluk itu.


"Para prajurit gaib, ustadzah.." jawab Rizal, yang ikut juga menemani pak Kyai.


"Ooh, yang menjaga nak Maura yah.." ujar ustadzah Mariam, dia sedikit banyaknya tau permasalahan mereka semua, mendengar dari cerita pak Kyai, bahkan dia menyaksikannya sendiri kehebatannya itu waktu di pesantren.


Mereka tiba di ruangan UGD tempat Maura dirawat sebelum dipindahkan ditempat rawat inap, di sana hanya ada Ardian saja jika dilihat mata telan.jang, tapi jika diterawang begitu banyak penjagaan di sana.


"Pak, maaf.. Kami ingin menginformasikan jika kasus istri anda ini bukan kasus biasa, melihat dari lukanya ini, kami tak bisa menjelaskan apa yang terjadi kepadanya. Maka kami terpaksa menghubungi pihak kepolisian.


Kemungkinan mereka akan datang besok pagi, kami hanya ingin memberitahukan hal itu saja. Untuk perkembangan istri anda kita lihat setelah dia sudah sadar dari pingsannya.." ujar dokter itu menjelaskan.


Setelah itu dia pergi, sebelumnya dia menyempatkan diri untuk mengecek keadaan Maura dan setelah itu pamit untuk keluar.


"Kamu gak usah khawatir, aku memiliki beberapa kenalan dari pihak kepolisian yang biasa menangani beberapa kasus bersamaku, kamu tau kan kasus yang 'tak biasa' mereka tangani.." ucap pak Kyai menenangkan Ardian.


Ardian bisa sedikit bernafas lega, dia takut jika berhubungan dengan kepolisian. Dia takut gak bisa menjelaskan semuanya, dan dianggap percobaan pembunuhan atau sebagainya, dan akhirnya kasus ini membuat semuanya semakin ribet.


Sementara itu, ustadzah Mariam membantu perawat wanita menggantikan Maura baju pasien rumah sakit, Ardian lupa membawa baju ganti untuk Maura saking paniknya, meskipun sudah diingatkan oleh panglima Arialoka, tetap saja lupa.


"Tak apa, kami akan membantumu disini.. Tenanglah," ujar pak Kyai lagi.


Malam itu begitu berat sekali bagi Ardian, dia tak menyangka sama sekali kenapa Maura begitu nekat melakukan hal itu. Semalaman dia terus berpikir apa ada sesuatu yang salah? Apa dia melewati sesuatu yang luput dari perhatiannya?


~Allahu akbar... Allahu akbar~


Terdengar suara kumandang adzan subuh, semua orang pergi menuju musholla rumah sakit untuk menunaikan ibadah sholat subuh berjamaah, kecuali Ardian. Dia memilih untuk sholat didekat bangsal Maura, dia tak ingin jauh-jauh dari sang istri.


Setelah sholat subuh, beberapa perawat datang untuk memindahkan Maura ke ruang inap yang sudah mereka siapkan, tapi sebelum itu Ardian harus mengurus berbagai admistrasi nya dulu.


Ardian tak bisa tidur maupun makan, dia terus memikirkan keadaan Maura, dia begitu mengkhawatirkan dirinya. Baru beberapa hari yang lalu, Angga menitipkan pesan untuknya agar menjaga dan melindungi adiknya, tapi dia sudah melanggarnya duluan.


"Jika kamu ingin selalu ada untuknya, sebaiknya kamu menjaga dirimu sendiri juga.. Pulanglah dulu, mandi dan makan.. Setelah itu kau bisa kemari lagi, kamu bisa tidur dulu.. Semalaman kamu gak tidur menemaninya," ujar pak Kyai khawatir juga melihat keadaannya.


"Baik, Kyai.." ucap Ardian menurut dengannya.


Dia pulang hanya untuk mandi dan mengambil beberapa pakaian untuk Maura, setelah itu langsung kembali lagi ke rumah sakit. Tapi sebelum itu dia membersihkan rumahnya dulu, mematikan lampu-lampu yang belum dimatikan, tapi dia membiarkan lampu emergency terpasang, jika hari sudah gelap atau malam, dia bisa menyala sendiri, terutama bagian teras, dapur. Lampu toilet dia biarkan nyala 24jam.


Ardian memasuki kamar Maura, masih ada sisa-sisa ritual yang Maura lakukan, dia begitu geram dan marah sekali, bagaimana bisa Maura tersesat begitu jauh? Dia membuang semua sisa-sisa bunga dan juga lilin-lilin bekas ritual itu.


Dia menitikkan air matanya saat melihat sisa-sisa darah yang menetes dari tubuh Maura, menyakitkan sekali rasanya. Dia tak tahu apa yang terjadi dengan Maura pada saat itu, mungkin dia sangat ketakutan dan putus asa hingga ingin mengakhiri hidupnya.


Setelah membersihkan semuanya, Ardian terus merenung didalam kamar itu, sambil memikirkan apa saja yang dilalui oleh Maura selama berada di dunia itu.


......................


Bersambung