
Maura membuka matanya dan melihat ke sekelilingnya, terlihat dari sudut pandangnya hamparan padang rumput nan hijau dan begitu lembut bak permadani. Dia bangun dari duduknya dan merapikan peralatan sholatnya.
Betapa terkejutnya dia saat menyadari apa yang dia pakai saat ini, dia sekarang sudah seperti tuan putri pada zaman kerajaan Cina kuno, dengan rambut panjang hitam dan berkilau, rambutnya sedikit digelung dengan meninggalkan beberapa untaian rambut yang dibiarkan tergerai begitu saja.
Beberapa ornamen riasan rambut yang begitu indah dan cantik menghiasi rambutnya, juga pakaiannya tak kalah cantiknya, baju berwarna lembut dan kalem, perpaduan antara warna biru, hijau dan ungu, Maura terlihat begitu cantik bagaikan dewi kayangan.
"Ini aku lagi mimpi atau apa? Kok terlihat seperti nyata, tunggu dulu! Mungkinkah aku lepas raga dan memasuki dunia gaib? Tapi kenapa aku harus berubah penampilan juga?
Sebaiknya aku memanggil Aurora atau beberapa pengawal gaib saja untuk memastikan ini semua, hem.. Aurora, datanglah.. Aku menunggumu, wahai para pengawalku, datanglah.. Aku membutuhkan kalian!" gumam Maura.
Ditunggu beberapa menit, tak ada satupun yang datang menemuinya termasuk Aurora. Maura merasa dia kurang fokus untuk memanggil mereka, dan mengulangi panggilannya, tapi tetap saja hasilnya sama, tak ada satupun yang datang.
"Sial, ini dimana sih?! Gak mungkin mereka mengabaikanku, apa aku salah masuk dimensi yah? Ah, masa gitu sih! Gak, gak.. Ini sepertinya ada yang salah, sebaiknya aku cari tahu saja deh.." gumamnya lagi.
Maura meninggal tempat itu dan memasuki area hutan yang ada didepannya, saat dia memasuki hutan itu suasananya langsung berubah, gelap dan berkabut. Membuat Maura sedikit berhati-hati dalam melangkahkan kakinya dan sedikit waspada dengan keadaan sekitarnya.
"Sebenarnya ini dimana? Kenapa aku lepas raga bisa berada disini? Tempat apa ini? Mimpi? Tidak mungkin rasanya, ini terlalu nyata untuk dikatakan sebagai mimpi.." gumamnya dalam hati, berperang sendiri dalam pikirannya antara otak dan hatinya berlawanan arah.
Tiba-tiba dia mendengar seperti ada suara hentakan kaki kuda yang semakin mendekat kearahnya, dia juga mendengar dengan jelas suara ringkikan suara kuda tersebut, niat hati dia ingin menjauh dari tempat itu agar terhindar dari tabrakan kuda nantinya, malah dia terperosok masuk kedalam jurang.
"Aakhh!! Tolong, tolong aku!" teriaknya.
Untungnya saat dia terperosok Maura sempat berpegangan kepada agar pohon yang menjuntai sampai ke bibir jurang, dia melihat kearah bawah, hanya kabut tebal yang dia lihat, tak bisa dibayangkan betapa dalamnya tempat itu.
"Hei, kau tak apa-apa?" tiba-tiba terdengar suara tak asing yang dia dengar dari atas jurang tersebut.
"A-Ardian? Itukah kau?" tanya Maura heran bercampur takjub.
Dia melihat sosok lelaki tampan yang dia yakini itu adalah Ardian, hanya saja penampilannya yang berbeda. Lelaki itu memiliki rambut panjang yang disugar kebelakang dengan rapi dan diikat dengan kain tali, pakaian seperti para panglima dari kerajaan Cina kuno, lengkap dengan pedang di tali sebelah kiri pinggangnya.
"Siapa itu Ardian? Ayolah, sambut tanganku! Aku tak bisa berlama-lama disini karena aku dalam misi sebuah penyelamatan juga!" ucap lelaki itu sedikit gusar karena menganggap Maura terlalu lama meresponnya.
"Ah, iya! Maaf.." sahut Maura, dia langsung menyambut tangan lelaki itu dan berhasil selamat dari jurang tersebut.
"Dengar gadis aneh, berhati-hatilah ditempat seperti ini. Disni begitu banyak binatang buas, berbahaya dan juga beracun, bersyukurlah kau tidak jatuh kedalam jurang itu, dan tentunya kau harus berterima kasih kepadaku karena telah menyelamatkan aku!" ucap lelaki itu dengan nada sedikit angkuh.
"Iya, maaf! Tadi aku gak memperhatikan langkahku karena disini sangat berkabut, btw.. Kamu kok kaku banget ngomongnya sama aku, Ardian! Haha, lucu ya kita! Udah kayak pangeran dan putri dari jaman dulu!" sahut Maura sambil tergelak.
"Aku tidak mengerti apa yang kau maksudkan, dan siapa itu Ardian? Namaku adalah Wang Xin nian, aku adalah salah satu panglima terkuat dan kepercayaan raja di negeri ini.
Aku pikir kita tak saling mengenal, Nona! Dan berhentilah mencari perhatianku, aku sedang dalam perjalanan menuju daerah Liu Yang, beberapa prajuritku sedang menunggu kehadiranku.
Kita berpisah disini, Nona. Aku harap kita tak bertemu lagi, dan pulanglah! Sebentar lagi mau gelap, menurut kabar dari warga disini jika malam tiba, hutan ini penuh dengan penyihir dan iblis.
Jangan sampai kau hilang atau mati dimakan oleh mereka, pulanglah! Sangat aneh, kenapa ada gadis cantik dan lembut sepertimu bisa berada di hutan ini.." ujar lelaki itu yang bernama Wang Xin Nian tadi, yang katanya seorang panglima besar di negeri itu.
"Kau yang aneh, bodoh! Kenapa kau bersikap seperti tak mengenalku?! Lagian apa kau lupa, bukankah tugas kita memang untuk memberantas penyihir dan iblis, kenapa harus takut?!
Baiklah, jika kau ingin pergi silakan pulang, pengecut! Aku akan cari sendiri penyihir maupun iblis tersebut, dasar aneh! Apa kau bersikap seperti ini karena kita berdua berada di dimensi yang berbeda dari sebelumnya?
Tenanglah, kita takkan sendirian. Pasti ada juga yang mengawasi dan melindungi kita dari jauh! Percayalah sama aku, ingat! Aku ini Dewi Srikandi!" ucap Maura sewot dan kesal dengan lelaki itu, dan masih mengira itu adalah Ardian.
"Kau ini benar-benar aneh, Nona. Jujur, apakah kau ini sudah gila atau masih waras?! Dimana-mana orang akan takut berada disini, apalagi sampai bertemu dengan penyihir ataupun iblis. Dan kau, malah menantang ingin menangkap mereka!
Siapapun yang kau maksud, aku bukan orang itu! Aku pergi dulu, tak ada waktu untuk melayanimu! Jika lupa jalan pulang, kau tinggal jalan lurus saja kebelakangmu. Dan ingat, kau tak boleh berada disini lagi!" ucap Wang Xin Nian.
Dia langsung naik ke kudanya dan memutar arah lajunya meniggalkan Maura masih berdiri terdiam didepan jurang tersebut. Selang beberapa saat kemudian, Maura kembali tersadar dari diamnya.
"Benarkah apa yang dia katakan tadi? Hem, sepertinya aku sudah salah mengira. Jadi kemana Ardian? Apa aku melalang buana sendirian disini?" gumamnya lagi kebingungan.
Setelah itu, dia mengikuti saran dari panglima dari kerajaan apa itu dia kurang tau, mengikuti jalan setapak yang lurus menuju keluar dari hutan tersebut.
Sementara itu, di dunia nyata dan saat ini. Maurice tidur dengan lelapnya malam ini, dia tak menyadari apa yang terjadi dengan Maura saat ini, sedangkan Kevin dan Ardian masih terjaga dan bergantian untuk beristirahat.
"Aku pikir makhluk itu tadi tidak akan muncul lagi, Ardian. Sebaiknya kita beristirahat juga, tidurlah ke kamar nanti aku menyusul setelah memeriksa keadaan Maurice dan Maura.." ujar Kevin.
"Baiklah, aku tunggu didalam kamar.." sahut Ardian sambil menguap, dia nampak kelelahan sekali.
Tok!
Tok!
Tok!
Kevin mengetuk pintu kamar, tapi tak ada yang menyahutinya. Dia melihat pintu kamar tidak tertutup dengan rapat dan mencoba melihat sebentar keadaan didalamnya.
"Syukurlah, Maurice sudah lebih tenang lagi. Dan Maura, dasar anak ini! Rupanya dia ketiduran dalam sholatnya, bisa begitu yah.." gumam Kevin sambil tersenyum geli.
Dia memutuskan untuk tidak menggangu mereka, dan membiarkan mereka berdua beristirahat seperti itu, dia tak ingin mengganggu Maura, takut ibadah batal.
"Bagaimana?" tanya Ardian, sesaat setelah Kevin datang dari arah kamarnya tadi.
'Mereka sudah tidur.." jawabnya.
Setelah itu, keduanya pun tertidur dengan pulasnya dengan tenang, tanpa tau apa yang akan mereka hadapi keesokan harinya.
.
.
Masih di waktu dan dimensi yang berbeda, Maura masih terjebak didalam hutan tersebut, dia kehilangan arah. Tiba-tiba saja jalan setapak yang berada didepannya menghilang begitu saja.
"Tunggu dulu, sepertinya ada yang salah.. Apakah ini adalah bagian dari permainan penyihir yang mendiami hutan ini?" sambungnya lagi.
Kresek.. Kresek..
Terdengar suara langkah kaki yang diseret dari arah samping Maura, dia menoleh kearahnya. Seorang nenek tua nampak kelelahan membawa ranting kayu dari arah hutan gelap itu.
"Ini aneh, kenapa ada nenek-nenek dalam keadaan sore-sore begini masih mencari kayu dan ranting di hutan ini? Btw, perasaan di rumah malam deh, kok nyampe sini tiba-tiba hari udah siang dan sekarang malah sore?
O iya, lupa! Ini kan dunia demit apapun bisa terjadi.. Tapi tetap saja tak masuk akal, hutan ini sepertinya hutan penuh daya magis yang luar biasa, aku lihat semuanya tumbuh subur nan hijau, tak ada ranting kayu ataupun daun berguguran berwarna kuning kecoklatan yang sudah layu ataupun mati.
Tapi, nenek itu membawa kayu dan ranting yang warnanya sangat berbeda dengan tanaman yang ada di hutan ini, ah! Aku lupa lagi, mungkin dia juga salah satu demit fi hutan ini..," ucap Maura dalam hati.
Pikirannya saat ini tidak fokus, dia tidak bisa mengkondisikan hati dan pikirannya, dia tetap ingin bersikap waras saat berada disini, tapi hatinya menolak, seakan dia merupakan bagian dari tempat itu.
"Baiklah, aku akan menunggu.. Sebaiknya aku akan lihat apa yang akan terjadi nanti," sambungnya lagi.
Maura duduk bersila didepan pohon besar yang menghadap kearahnya, jalan lurus yang tiba-tiba tertutup pohon besar itu mengusik dirinya. Dia memejamkan matanya, tapi tetap dengan tingkat kewaspadaan yang sangat tinggi, dia menajamkan pendengarannya, berusaha mencium aroma apa saja yang lewat di hidungnya, dan merasakan apa saja yang menyentuh kulitnya.
Bagaikan manusia yang sedang bersemedi, siap menghadapi segala ujian mistis yang berada didalam hutan tersebut, Maura merasakan dirinya juga diuji kesabarannya orang para makhluk yang berada di hutan tersebut.
"Aku percaya, tiada kekuatan yang melebihi Yang Maha Kuasa, dan aku yakin kehadiranku disini pasti suatu sebab, dan aku tidak akan mati begitu saja!" gumamnya dalam hati.
Sore sudah berubah menjadi malam, warna langit jingga sudah berubah menjadi gelap, hitam pekat seperti aura didalam hutan tersebut. Hutan itu begitu sepi dan sunyi, suara angin ataupun jangkrik pun tak terdengar.
Dalam diamnya, dengan mata terpejam dan duduk bersila Maura bisa merasakan sesuatu yang dingin menyentuh tubuhnya, melingkar dengan pelan dan mengeluarkan suara mendesis yang begitu panjang, bau amis tercium dari aroma tubuh sosok itu.
Karena tak ada reaksi, sosok itu merubah wujudnya menjadi anak kecil yang lucu, awalnya biasa saja, dia mengajak Maura bermain, tak dihiraukan malah menangis kencang memekakkan telinga.
"Tahan, Maura! Kau tak boleh goyah oleh semua ini!" gumamnya dalam hati menguatkan diri sendiri.
Tiba-tiba saja suara angin kencang menderu, meniup tubuhnya dengan kencangnya, hampir saja tubuh Maura oleng, tapi gadis itu berhasil mempertahankan posisinya.
"Khihihi! Kau manusia pertama yang bertahan dari segala godaan dan ujian yang kuberikan, bangunlah! Katakan, apa maumu! Panjang umur, awet muda, ingin memikat banyak lelaki dan menguras hartanya? Atau,, kau ingin balas dendam?!" tanya makhluk itu.
Maura membuka matanya, dia melihat ke sekelilingnya dan sedikit terkejut apa yang dia lihat. Dia melihat seekor ular berkepala manusia melilit pohon besar didepannya, makhluk itu memiliki mata biru terang menyilaukan, siapapun takkan bisa menatapnya lama.
Jika dia tak mati, maka manusia yang menatap matanya akan menjadi batu ataupun budaknya seumur hidupnya, tapi makhluk itu terkejut dengan sikap dan pertahanan Maura, gadis itu biasa saja menatapnya, tak ada rasa takut ataupun kagum kepadanya, yang ada rasa jijik dimatanya.
"Oh, jadi kau adalah salah satu penunggu hutan ini yang dibicarakan oleh orang itu! Wajar saja hutan ini disebut sangat berbahaya dan menakutkan, ternyata ulahmu dan kawan-kawanmu yah!" bentak Maura geram.
Makhluk itu gelagapan saat dibentak oleh Maura, bagaimana tidak dia yang selama ini begitu ditakuti, disegani oleh para makhluk di hutan ini tiba-tiba saja diremehkan oleh manusia biasa, tentu saja dia tidak terima.
Wussss!
Dia langsung terbang ingin menyerang Maura, tapi gadis itu sudah siap dari tadi dengan segala kemungkinan, tentu saja sudah siap dengan penyerangan ini, dengan sigapnya dia menghindari amukan ular raksasa tersebut.
Dengan sedikit akalnya, dia sengaja membuat ular itu berputar-putar dan tanpa sadar ular itu membuat dirinya kesusahan karena badannya terlilit kebatang pohon.
"Sialan, anak itu sengaja menjebak ku!" ujarnya ular itu kesal.
Bhomm!
Badannya langsung berubah menjadi harimau kumbang, dengan giginya yang begitu besar dan tajam dia mengejar Maura dengan buasnya, dia berusaha mencakar dan mencabik-cabik Maura dengan kuku tajamnya dan gigi taringnya tersebut.
Tapi itu semuanya sia-sia, sekali lagi Maura menggunakan kekuatan otaknya untuk menjebak makhluk tersebut, karena dia tahu dengan kekuatannya saja tak cukup untuk mengalahkan makhluk tersebut.
"Aku harus cepat, aku sudah tak memiliki waktu lagi. Dengan berlari dan terbang ke sana kemari saja sudah menguras tenagaku cukup banyak, ah sialan! Kenapa disini aku tak bisa memanggil Aurora dan lainnya.
Dan ini kenapa lagi, selendangku tak ada. Konde yang aku pakai juga bukan kondenya Dewi Srikandi, bagaimana bisa aku pakai buat dijadiin senjata, argh!" teriaknya kesal.
Untungnya dia memiliki mata yang jeli, dia melihat didepannya ada semak-semak berduri dan patahan pohon bambu, dia langsung berlari kearah sana dan berhasil menjebak si Harimau Kumbang.
"Ggraauuhhggrr!!" Harimau itu mengaum kencang.
Tubuhnya terjepit dan terjebak diantara celah dua bambu yang menghimpitnya dan tentu saja dia terluka karena tubuh itu tergesek oleh patahan bambu dan semak-semak berduri tersebut.
"Maafkan aku, kau seharusnya tak melakukan hal ini semua, sehingga aku terpaksa melakukan semua ini kepadamu!" ucap Maura kepada Harimau Kumbang tersebut.
"Mau apa kau manusia hina?!" ujar Harimau itu dengan suara nenek-nenek mengerikan.
Tanpa banyak bicara lagi, Maura langsung menyentuh kepala Harimau itu dan mencabut sesuatu di kepalanya, sebuah pisau belati bermatakan batu kristal yang berkilauan.
Sebenarnya dari awal dia sudah melihatnya saat makhluk itu masih berwujud ular bertubuh manusia, pisau itu sangat mencolok karena cahayanya yang begitu menyilaukan, dari gagangnya bagaikan mahkota, tapi ketika ditarik mahkota itu berubah menjadi gagang belati yang berkilauan.
"Aakkhh!!" makhluk itu menjerit kesakitan, dia terus menggeliat tak terkendali dan tiba-tiba saja wujudnya dari Harimau kumbang menjadi burung Phoenix begitu cantik.
Dia terbang menuju jurang tempat Maura hampir terjatuh tadi, Maura berlari mengikutinya dan berhenti di tepi jurang, setelah masuk kedalam jurang yang begitu dalam tiba-tiba kabut asap yang menyelimuti jurang tersebut memudar dan menampilkan sebuah danau yang begitu luas dan dalam.
Air danau itu nampak berkilauan diterpa cahaya bulan di langit malam, dan tiba-tiba ada sesuatu yang keluar dari danau tersebut, sebuah ular naga yang begitu besar dan diatasnya seorang wanita cantik duduk bersila sambil tersenyum manis kearah Maura.
"Terima kasih, Nona. Telah membebaskan akuu..." ujar gadis berpakaian bak Dewi.
Maura hanya terdiam berdiri mematung tak tahu harus bereaksi apa, semuanya berjalan begitu cepat, dia tak menyangka makhluk mengerikan yang dia temui tadi adalah seorang Dewi yang begitu cantik.
......................
Bersambung