RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Ingatan Tentang Mama


Bik Marni melihat ekspresi Maura seperti itu,dia menyadari mata batinnya telah terbuka. Entah itu efek dari batu giok tersebut atau memang sudah waktunya.


Gerald mengetahui Maura dalam bahaya, dia langsung menggeram ke arah mahkluk itu. Seketika semua arwah di sana melihat kearah Gerald karena suaranya, mereka seperti tersihir lalu menyingkir dari tempat itu.


Karena ga kuat dengan rasa takutnya, Maura akhirnya jatuh pingsan.


Jauh dalam ingatan Maura.


Maura kecil sedang bermain di kebun bunga milik Mamanya, dia nampak senang sekali. Berlari ke sana kemari sambil mengejar kupu-kupu beterbangan menghisap madu sari yang ada di bunga.


"Maura, hati-hati nak nanti kamu jatuh" kata Mama Maura, beliau sedang sibuk mengurus tanaman bunganya.


"Iya Ma" kata Maura kecil.


Di sana ada pak Irwan dan Bik Marni juga. Pak Irwan sedang membersihkan rumput di sana, sedangkan Bik Marni membantu Mama Maura menanam benih bunga.


"Mama, aku ingin tahu... Ini semua bunga apa? Kenapa bentuknya sama semua?" tanya Maura kecil yang sangat polos.


"Ini namanya bunga Mawar sayang, lihat bermacam-macam warnanya. Cantik kan?" tanya Mamanya sambil tersenyum indah.


"Lihat kebunku... Penuh dengan bunga, ada yang putih dan ada yang merah..." Maura bersenandung menyanyikan lagu kesukaannya.


Laura Magdalena, gadis polos dan lugu. Begitu baik dan penyayang. Salah satu sifat itulah yang membuat Irwan Hartawijaya menyukainya.


Dia begitu suka dengan bunga mawar, dan ingin memiliki kebun mawar sendiri. Pak Irwan memenuhi keinginan istrinya itu untuk membuat kebun bunga khusus miliknya.


Mama Maura begitu menyukai kebunnya, hampir setiap hari dia di sana untuk merawat bunga-bunganya.


Saat itu, di hamparan kebun bunga mawar merah, mama maura di sana mau memetik salah satu tangkai bunga tersebut. Angin kencang meniup tubuhnya dengan lembut aroma parfum dan bunga bercampur, menimbulkan aroma yang wangi yang khas.


Maura melihat mamanya begitu cantik dan anggun, rambut panjang nan bergelombang dengan tubuh langsingnya berkulit putih. Senyum manis di bibirnya bergincu merah, membuatnya penuh pesona. Maura menghampiri Mamanya.


"Mama lagi apa?" tanya Maura lagi.


"Mama lagi memetik bunga buat Maura.." kata mamanya, saat itu Maura melihat mamanya memakai jepit rambut berhiaskan mutiara merah kehitaman.


"Mama, aku tidak ingin bunganya. Aku ingin jepit rambutnya..." kata Maura seraya menunjuk jepit rambut tersebut.


Mamanya terlihat kaget dan gugup, lalu berusaha membujuk Maura untuk tidak ingin meminta jepit rambut itu lagi.


"Tidak mau!" kata Maura kecil merajuk.


"Begini saja, jepitnya kita tanam disalah satu bunga disini... Lalu kita kembali lagi nanti, kalau jepitnya masih ada berarti milik Maura kalau tidak ada berarti tetap punya Mama..." bujuk mama Maura sambil membuat kesepakatan dengannya.


"Baiklah..." kata Maura kecil dengan polosnya.


Mereka menanam jepit rambut itu bersama disalah satu tanaman bunga mawar tersebut.


Mama Maura mengira anaknya akan lupa dengan jepit itu, dan jika dia ingin mencari pasti sangat sulit sekali, karena jepit itu ditanam ditengah hamparan kebun bunga.


Siapa sangka, Maura kecil lucu nan polos tersebut sangatlah pintar. Dia masih mengingat dimana dia menanam jepit rambut tersebut bersama mamanya.


Beberapa jam kemudian, dia mulai mencari dan menggali tanaman tersebut. Mamanya mulai menyadari ketika Maura tak terlihat olehnya.


Dia menemukan Maura ditengah hamparan kebun bunga sendirian. Dia ingin menyusul anaknya, tapi sesuatu terjadi.


Ada gumpalan asap hitam keluar dari tanah tempat Maura menggali, mengetahui putrinya dalam bahaya mamanya berteriak histeris.


Maura kecil yang tidak tau apa-apa hanya terdiam bingung melihat Mamanya.


Mamanya langsung berlari kearah Maura dan memeluknya. Seketika asap hitam tadi menarik mamanya kedalam kabut, terdengar teriakan histeris mamanya.


Tiba-tiba saja mamanya ada dipangkuan Maura, luka tusuk penuh sayatan dan berlumuran darah. Bahkan darahnya memercik ke tubuh Maura.


Pak Irwan dan bi Marni melihat kejadian tersebut syok dengan peristiwa tragis itu.


Maura kaget, syok! Bisa bayangkan keadaan anak seusia itu menyaksikan kematian tragis Mamanya.


Dan dia menjerit histeris...


"MAMAAAA!!"


......................


bersambung