
Karena sudah tak tahu harus berbuat apa, Maurice terpaksa menampar wajah sahabatnya itu.
Plak!
Maura langsung jatuh tertidur, melihat itu Maurice semakin panik dibuatnya, apakah dia terlalu kencang menamparnya?
Tiba-tiba Maura bangun dengan wajah yang tegang, keringat dingin membasahi keningnya. Dia menatap Maurice dengan perasaan khawatir.
"Ada apa, May? Apa yang terjadi?!" tanya Maurice penasaran.
"Maurice, Kevin... Kevin dalam bahaya!" teriaknya.
"Apa maksudmu? Kevin sekarang berada didalam kamar bersama Nala!" ujar Maurice.
Maura tak peduli, dia keluar dari kamarnya dan disusul oleh Maurice. Maurice takut jika mereka ketahuan, dia berusaha berjalan pelan-pelan agar tak diketahui oleh yang lain.
Berbeda dengan Maura, dia berlari kencang kearah luar tanpa peduli akan membangunkan orang-orang. Maurice kira Maura akan menuju kamar Nala, malah kearah sebaliknya.
"May, mau kemana kau?! Ini sudah malam, bahaya!" teriak Maurice panik.
Maura berlari menuju kearah kebun bunga dibelakang rumah, sesampainya di sana dia berdiam diri sambil menatap nanar mengelilingi sekitaran area kebun itu.
Pandangannya terhenti pada sosok tinggi dibalik pohon pisang yang ditanam di samping kebun itu, sosok itu dibungkus kain putih lusuh penuh dengan bekas tanah merah. Yang biasa kita sebut dengan nama, Pocong.
"A-apa itu?!" gumam Maura takut.
Dari tadi Maurice berada dibelakangnya, menempel terus karena ketakutan. Dia tak berani melihat kearah sekitaran belakang rumah itu, apalagi dekat kebun bunga itu. Penuh dengan makhluk aneh dengan sosok-sosok mengerikan.
Mereka sempat mendengar suara tertawa sosok makhluk wanita dengan memakai jubah putih lusuh dengan rambut panjang menjuntai sampai ketanah, ada sosok tinggi besar dengan rambut panjang gimbal dengan gigi-gigi panjang dan mata melotot kearah mereka.
Dan banyak lagi makhluk-makhluk aneh lainnya yang mereka lihat, makhluk yang wujudnya sangat berbeda dengan para jin dan iblis yang mereka lihat waktu di AS.
Hanya saja makhluk-makhluk yang ada disini lebih mengerikan dan menakutkan, meskipun para hantu itu hanya diam dan memperhatikan mereka dari jarak jauh saja. Sepertinya mereka sedang menghindari sesuatu, dan tidak berani mendekati area rumah itu.
"May, lihat itu! Ditengah kebun, apakah itu Kevin dan Nala?! Apa yang mereka lakukan di sana? Dan apa itu, didekat mereka? Banyak sekali, astaga! Zombie!" Maurice dan Maura terkejut melihat ada banyak mayat hidup mengelilingi Kevin dan Nala.
"Maurice, kau tunggu aku disini! Jangan kemana-mana, jika terjadi sesuatu dengan aku dan lainnya keluar dari rumah ini secepatnya, jangan coba-coba menghubungi siapapun yang ada di rumah ini, mengerti?!" ujar Maura memperingatinya.
"Ta-tapi, May ..." ucapnya takut.
Maura meninggalkan Maurice sendirian dibelakang rumah itu dengan perasaan takut, dan khawatir. Setidaknya Maurice aman berada di sana.
Maura berjalan mengendap-endap dibalik rerimbunan tanaman bunga-bunga yang merambat tinggi, dia melihat beberapa Zombie berusaha mendekati Kevin dan Nala.
Keduanya sempat tak sadar jika sedari tadi diikuti oleh para Zombie dan malah sekarang terpojokkan ditengah-tengah kebun bunga, dan disekelilingnya penuh Zombie.
"Aakh!, tolong! Tolong aku!" teriak Kevin histeris.
"Syut, diam! Semakin kau berteriak kencang, semakin mereka beringas! Kecilkan suaramu atau lebih baik diam!" ujar Nala menghardiknya.
"Ta-tapi bagaimana bisa kita keluar dari sini?! Jika tak meminta tolong orang-orang!" ujar Kevin panik.
"Tak ada yang mendengar suara teriakanmu, mau kau berteriak setengah mati, takkan ada yang datang menolongmu" ucap Nala lagi dingin.
Meskipun dia terlihat tenang, tapi dia juga merasakan rasa takut yang amat mendalam. Biasanya dia hanya mendengar saja cerita Zombie dikebun bunga ini, tapi sekarang dia berada di situasi seperti itu.
Sementara itu para Zombie sudah semakin dekat dengan mereka, Nala kembali menarik tangan Kevin menunduk dan bersembunyi dibalik semak-semak rerimbunan bunga-bunga itu.
"Apakah mereka memang berada disini? Apakah mereka juga tersebar disekitar sini, di daerah sini?" tanya Kevin sambil berbisik-bisik.
"Tidak, mereka hanya datang ke rumah ini saja. Dan itu hanya diwaktu-waktu tertentu" bisik Nala.
Tiba-tiba ada dua Zombie datang dari arah berlawanan menuju mereka, para Zombie-Zombie itu hanya menatap lurus ke depan jadi tak memperhatikan dibawahnya, ketika kedua Zombie itu sudah sejengkal lagi menuju mereka, tiba-tiba keduanya ditarik mundur oleh sesuatu.
Kevin dan Nala terkejut dan hampir saja menjerit, tapi mulut keduanya dibekap oleh sebuah tangan kecil dan lembut.
"Syut!" Maura memberikan aba-aba untuk tetap diam, karena melihat beberapa Zombie mulai terlihat beringas karena kehilangan korbannya.
"Ayo, ikuti aku. Pelan-pelan saja bergeraknya" bisik Maura.
Mereka kembali mengendap-endap kearah berlawanan menuju belakang rumah, berjalan sambil jongkok itu melelahkan. Sehingga Kevin sempat terjatuh karena tergelincir oleh sesuatu, dia kaget karena yang dia injak tadi seperti aliran darah yang sudah menghitam, bau busuk yang begitu menyengat hidung membuat mereka buru-buru pergi dari sana.
Setelah dikiranya aman, mereka berdiri dari tempatnya dan menoleh kebelakang, ajaibnya para Zombie itu menghilang.
"Sepertinya ritual itu sudah selesai..." gumam Nala.
"Ritual? Ritual apa?!" tanya Maura, ternyata gumamnya terdengar oleh Maura.
"Siapa yang bilang? Nggak ada!" jawab Nala ketus, pura-pura tak tahu.
Mereka dikejutkan oleh beberapa bayangan dari balik kamar dilantai atas, terlihat dari balik gorden kamar itu karena lampu kamar dibiarkan menyala.
Yang mereka sayangkan, karena mereka tak tahu kamar siapa itu. Bahkan bertanya kepada Nala juga percuma, karena dia juga tahu itu siapa.
"Ah, sial! Jika nanti aku dihukum karena ulah kalian, awas saja nanti!" gerutu Nala kesal.
"Kenapa kau harus dihukum?!" tanya Kevin.
"Karena melanggar pantangan untuk tidak keluar kamar atau rumah malam ini, tapi lihat aku! Malah sibuk ngurusin orang yang tak tahu diri" ketusnya.
"Hei, jaga bicaranya!" ucap Kevin tak terima.
"Apa ada yang salah dalam bicaraku?! Kalian sebagai tamu seharusnya mengikuti aturan dalam rumah ini. Tapi kalian malah berkeliaran, diluar rumah lagi!
Bahkan kalian tidak tahu bahaya apa yang mengintai kalian diluar rumah ini, aku terpaksa mengikuti anak ceroboh ini dan berusaha menyelamatkan, tapi dia berulang kali membuat kami celaka" kata Nala marah.
"Maafkan kami jika ini sampai terjadi, tapi semua ini karena kami tak tahu alasannya. Setidaknya kalian jelaskan agar kami tahu apa alasan semua ini" ucap Maura berusaha menengahi.
"Buat apa? Apa kalian akan percaya, atau malah mengejek adat kami?! Tidak ada gunanya" ucap Nala lagi.
"Itu lebih baik daripada tidak sama sekali! Setidaknya kami tahu apa yang terjadi, dan maaf jika aku menyusahkan kau" sahut Kevin, terlihat menyesali.
"Sudahlah, tak usah dibahas! Sebentar lagi subuh, para pekerja akan bangun. Jangan sampai mereka memergoki kita ada disini, apalagi sama dia..." ucap Nala, dengan segala ucapan penuh tanya tanya dikepala Maura.
"Apa maksudnya tadi, dia selalu mengatakan kata-kata yang aneh. Mulai dari kata Ritual, takut dipergoki oleh seseorang yang lebih menakutkan. Tapi siapa orang yang dia maksudkan itu??" gumam Maura.
Mereka menuju kearah Maurice yang masih terlihat ketakutan, karena semakin banyak makhluk-makhluk aneh berdatangan dari arah luar.
"Tenang saja, mereka takkan berani masuk kedalam area sekitaran rumah ini. Takkan bisa" kata Nala lagi.
Mereka masih melihat beberapa bayangan yang berdiri dibalik kamar lantai atas itu, sepertinya para bayangan itu sedang mengawasi mereka.
Mereka kembali masuk kedalam rumah dan berjalan hati-hati menuju ke kamar mereka lagi, mereka berusaha menebak-nebak dari kamar mana bayangan-bayangan itu tadi berada.
Setelah mereka masuk dan membersihkan diri didalam kamar mereka, mereka masih diselimuti rasa takut. Kevin maupun Maurice sudah berkemas cemas, bersiap-siap akan pergi dari rumah itu.
"Rumah ini berbahaya, May... Apakah kau yakin akan tetap berada disini?" tanya Maurice lagi.
"Mau gak mau, aku harus tetap tinggal sampai perjuanganku selesai" ucap Muara dengan mantapnya.
Sedangkan di balik kamar lain, bayangan-bayangan yang mereka lihat tadi ternyata para tetua rumah itu.
"Ternyata mereka berani juga.." gumam salah satu dari mereka.
......................
Bersambung