
Vera, seorang dosen muda yang cantik, seksi tapi judes alias galak. Sebenarnya dia orangnya ramah dan baik, tapi kadang dia tak bisa mengontrol emosinya dan bahasanya, makanya terkesan judes dan galak.
"Selamat pagi, Bu.."
"Selamat pagi.."
"Pagi, Bu.."
"Pagi.."
Seperti biasa dia selalu mengambil kelas pagi setiap mengajar, dia tak pernah mengambil kelas siang ataupun malam. Bukan tanpa alasan dia melakukan, karena ada sebuah accident yang tak di sengaja, membuatnya trauma.
Beberapa bulan yang lalu..
Vera mengambil kelas mengajarnya siang, dia punya beberapa kelas untuk para mahasiswanya sampai malam harinya, sekitar jam delapan malam kelas sudah lama selesai, tapi dia masih ada dikelas karena harus mengerjakan beberapa tugas muridnya yang belum selesai.
"Belum pulang, Bu?" sapa seseorang.
"Iya, masih ada tugas lagi yang belum selesai.." jawab Vera, dosen itu tak menoleh kearah lawan bicaranya karena dia masih fokus dengan laptopnya.
"Mau saya temani?" tanya orang itu, terdengar sangat ramah sekali.
Vera menoleh kearah suara itu, dia melihat ada seorang pemuda duduk diatas kursi belajar muridnya, pas didepannya. wajahnya tampan dan terkesan slengean like bad boys.
"Siapa dia? Aku baru melihatnya, apa dia dari kejuruan lain? Apa yang dia lakukan disini, apa sedang menunggu temannya? Tapi siapa, semua muridku sudah pulang?" gumamnya dalam hati.
"Kamu siapa? Kenapa ada disini?" tanyanya memberanikan diri bertanya.
"Aku penghuni kampus ini.." jawab pemuda itu sambil menatapnya menggoda.
"Tentu saja, karena aku juga penghuni kampus ini. Kita kuliah disini dan aku juga mengajar disini, tentu saja bisa dikatakan penghuni kampus ini.." jawab Vera mengambil sikap objektif, dia kembali fokus ke laptopnya.
"Namamu siapa? Cantik.." tanya pemuda itu tiba-tiba sudah ada didepan menatapnya intens.
"Jangan terlalu berani denganku, aku ini dosen disini meskipun terlihat masih muda, hormati aku!" ketus Vera menjawabnya.
"Hahaha! Kamu galak sekali, maaf yah.. Aku gak tau kalau kamu itu dosen, tapi jujur saja.. Kamu tuh cantik, aku suka.." ucap pemuda itu terlalu jujur.
Vera sedikit malu di puji oleh pemuda itu, meskipun hatinya juga dongkol karena anak itu tak menghormatinya sekalipun, malah terkesan kurang ajar.
"Aku panggil Kakak aja, boleh?" tanya pemuda itu.
"Terserah, jangan terlalu dekat denganku!" jawab Vera risih karena anak itu sudah berdiri disampingnya.
"Namaku Danu, nama kakak siapa?" tanyanya sambil tersenyum menatapnya seperti orang kagum.
"Namaku Vera, sudah pulang sana! Aku sudah selesai.." jawab Vera seraya membereskan barang-barangnya.
"Mau aku bantuin, kakak pulangnya kemana? Aku antar mau yah?" lagi-lagi anak itu menawarkan jasanya.
"Kalau mau bantu, tolong angkat itu kardus berisi beberapa berkas hasil pekerjaan mahasiswaku, lumayan berat untuk aku angkat sendiri, sementara aku juga harus membawa yang lainnya juga.." sahut Vera tanpa curiga.
Anak itu tanpa senang sekali bisa membantunya, dia mengangkat benda itu sangat ringan sekali, padahal menurut Vera isinya lumayan banyak dan berat.
"Gak berat?" tanya Vera.
"Gak, biasa aja.." jawab Danu, pemuda itu sumringah.
Setelah sampai di parkir kampus khusus dosen dan staff, Vera meletakkan beberapa barangnya ke bagasi mobil, dan bersiap untuk pulang.
"Kak, aku boleh ikut pulang gak?" tanya pemuda itu.
"Rumahmu dimana? Ayo aku antar, sekalian aku juga mau pulang.." jawab Vera lagi.
"Tidak, aku mau pulang bareng kakak, ke rumahnya.." sahut pemuda itu sambil tersenyum penuh arti.
"Apa-apaan kamu?! Jangan ngaco, dan bersikaplah yang sopan denganku! Ya udah, habis ini kamu langsung pulang saja. Btw, terima kasih udah bantuin angkat barangnya!" kata Vera lagi seraya melajukan mobilnya.
Pemuda itu hanya tersenyum sambil melambaikan tangannya, dan itu terus berlangsung selama tiga hari berturut-turut. Vera merasa dia mengulangi hari-harinya sama terus seperti deja vu.
Pada saatnya malam itu, kali ini Vera tak sendirian mengerjakan pekerjaan ada beberapa dosen lainnya juga belum pulang, dia tak melakukan di kelas lagi tapi memilih ruang staf saja.
Dia tak ingin bertemu dengan pemuda itu, meskipun dia tampan dan baik, tapi anak itu penuh misterius, dia hanya tau namanya Danu setelah itu dia tak tahu apa-apa tentangnya. Dan anehnya anak itu selalu memakai baju yang sama setiap harinya.
"Kakak, aku tungguin di kelas ternyata ada disini!" ucap pemuda itu mengagetkan Vera saat keluar dari toilet perempuan.
"Danu, apa yang kamu lakukan disini? Ini toilet anak perempuan tau!" ucap Vera kesal.
"Maaf, habisnya aku kangen sama kakak.. Kakak mau ke kelas lagi yah? Aku tungguin yah.." ucapnya sumringah.
Tapi pemuda itu menatapnya tak suka, tiba-tiba saja ekspresi wajahnya dibuat sesedih mungkin, tapi Vera tak memperdulikannya.
Setelah tugasnya selesai, Vera pun pulang pada jam yang sama, sekitar jam 21. 25 setiap malamnya, hampir setiap hari. Karena menurutnya mengajar pada malam hari bisa meningkatkan fokus dan konsentrasi para muridnya lebih tinggi dibandingkan siang harinya.
"Kak..!" sapa Danu, pemuda itu.
Tapi Vera tak mendengarnya, dia malah lagi asik mengobrol dengan pak Damar rekan sejawatnya, sebenernya obrolan biasa saja hanya saling bertegur sapa saja, tapi Danu terlihat sangat marah dan cemburu.
Vera melajukan mobilnya dan melewati pemuda itu, tapi saat dia menatap anak itu dan ingin berhenti, dia urungkan karena ekspresi anak itu sangat dingin dan tidak bersahabat.
"Kenapa dia? Apa aku melakukan kesalahan?" gumamnya.
Saat dia hendak keluar dari pintu gerbang kampusnya itu, dia tak sengaja melirik kaca spion depannya dan tiba-tiba terkejut dan mengerem mendadak.
Ckiiitt!!
"Astaghfirullah, Bu! Ibu tidak apa?!" tanya salah satu satpam yang berjaga didepan gerbang kampus.
"Ti-tidak, Pak! Maaf bikin kaget, tadi ada anak kucing lewat.." ujar Vera beralasan.
Satpam itu terlihat celingukan mencari anak kucing yang di maksud oleh Vera, saat dirinya hendak melongo kebawah kolong mobil, dia dikejutkan oleh sosok makhluk mengerikan menempel dibawah body mobil.
"Astaghfirullah al'azimm!" ucapnya sambil mengelus dada.
"Ada apa dibawah, Pak?!" tanya Vera terlihat khawatir.
"Ti-tidak ada, Bu! Silakan pulang saja.." ucap satpam itu langsung pergi dari sana.
"Aku pikir dia juga melihat apa yang aku lihat.." ucapnya gugup.
Dengan hati-hati dia turun dari mobilnya dan memberanikan diri melihat kebawah kolong mobil, kosong. Tidak ada apapun, dia terlihat lega, tapi saat dia berdiri kembali dia dikagetkan oleh seseorang yang sudah duduk dibelakang jok mobilnya.
"Siapa kamu?! Turun! Turun sekarang juga di mobil saya!" teriak Vera murka.
Dia melihat pemuda yang biasanya mengikutinya ada didalam mobil, tapi bagaimana bisa dia sudah ada didalam mobil itu sedangkan dirinya tak melihat ataupun mendengar suara langkah kaki mengikuti ataupun naik kedalam mobilnya.
"Apa kakak tak suka padaku?" tanya pemuda itu sambil menunduk lesu.
"Kamu siapa berani-beraninya mengatur hidupku, dan kamu tak bisa memaksakan kehendak jika orang lain tidak suka apa yang kamu inginkan!" ucap Vera ketus sambil menatap tajam kearah pemuda itu.
"Kakak tak boleh bersikap seperti itu kepadaku, aku tak suka. Dan mau gak mau kakak harus mengikuti apa mauku, karena kakak sudah menerima aku!" ucap pemuda itu meninggikan suaranya.
Vera terkejut, pemuda yang selalu terlihat ramah, baik dan selalu tersenyum itu tiba-tiba berubah dalam sekejap. Wajah dan tubuhnya menjadi sangat putih pucat, dan memiliki ekspresi wajah yang sangat datar, tapi setiap berbicara penuh penekanan.
"Aku hanya bersikap ramah padamu, Danu. Meskipun aku sedikit lebih galak denganmu tapi aku menghargaimu karena kamu salah satu bagian dari kampus ini, mahasiswaku!" ucap Vera menjelaskan kesalahpahaman ini.
"Jadi maksud kakak, aku hanya mengharapkan sesuatu yang tak pasti. Jadi kebersamaan kita selama ini kakak anggap biasa saja!" ucap Danu dengan mata yang melotot.
"Ka-kamu jangan salah sangka, Danu. Ki-kita hanya bertemu empat kali, dan itu juga hanya sebentar dan mengobrol biasa.." ucap Vera semakin takut menatap pemuda itu.
"Kakak tega padaku, padahal aku sudah menunggu ini sudah lama. Mungkin kita baru bertemu empat hari ini, tapi aku sudah lama melihatmu, aku menyukaimu, Kak.
Jangan sakiti perasaanku, cintai aku seperti aku mencintaimu, miliki aku seperti aku yang ingin memilikimu. Kau sudah terikat denganku, karena kau sudah menerima keberadaanku disini.." ucap pemuda itu menatapnya tajam dengan seringai mengerikan.
Dia berlahan berjalan maju ingin menggapai Vera, tapi gadis itu mengikuti nalurinya jika dia dalam bahaya, diapun mundur kebelakang menjauhinya.
"Jangan mendekat, Danu! Apa yang ingin kau lakukan!" bentak Vera, dia mengeluarkan sedikit keberaniannya.
"Hehehe! Ikut denganku sayang, aku sudah lama sekali menunggu waktu ini, aku tak sabar ingin menikah denganmu.." ucap Danu sambil menjulurkan tangannya untuk menggapai Vera.
"Hentikan, Danu! Sadarlah, aku ini dosenmu! Tak mungkin kita bersatu, kau jauh lebih muda dariku, aku tak suka!" ucap Vera kalut.
"Aku bukan mahasiswa disini, cantik. Dan aku juga jauh lebih tua darimu, bagaimana? Apa kau suka, sayang?" ucap anak itu sambil menatap lancang ke tubuh seksi Vera.
Langkah Vera terhenti, karena dibelakangnya adalah pohon besar dan dia tak bisa bergerak ataupun bergeser menghindar, karena pemuda misterius itu sudah mencengkeramnya dengan kuat.
"Hentikan!" tiba-tiba terdengar suara dari arah belakang pemuda itu.
"Apa yang kau lakukan disini, Nyai?! Jangan ganggu urusanku!" ucap pemuda itu dengan suara berat dan serak, kemudian dia menatap kearah Vera dengan nyalangnya.
Vera terkejut tiba-tiba saja pemuda itu ditumbuhi oleh beberapa bulu diwajahnya dengan mata yang semakin memerah menatapnya penuh naf.su dan sampai meneteskan air liurnya yang berbau busuk, seketika Vera pingsan dibuatnya.
......................
Bersambung