RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Season 2 : (PNS) Cemburu Buta


Sebelumnya..


Salah satu staf perempuan yang dilemparkan keluar oleh Yudha alias Danu tadi berjalan menuju kelas tempat bu Vera mengajar.


Dia mencari perempuan cantik dan seksi itu, dia menemukan bu vera sedang fokus mengajar di kelas tempat Maura belajar, dia mengetuk pintu itu lalu masuk kedalam, dia sempat memperhatikan para mahasiswa yang ada di sana khawatir, kemudian berbisik ke telinga bu Vera.


"Bu, sebaiknya Ibu ikut saya, pak Yudha kesurupan dan terus meminta memanggil bu Vera, jika tak dituruti teman-teman dalam bahaya.." ucapnya sambil berbisik.


"Saya tak ada hubungannya dengan semua ini, saya juga tak tahu apa-apa tentang Yudha! Soal dia kesurupan, aku gak bisa nyembuhinnya.." jawab Vera sambil berbisik juga.


"Dia bilang, namanya Danu..," ucap staf itu tadi.


Degh!


Jantung bu Vera berdetak lebih cepat saat mendengar nama itu lagi, dia sudah lama tak berhubungan dengan makhluk yang bernama Danu itu, tiba-tiba dia kembali lagi.


"Bukankah, dia sudah dikurung oleh Kyai itu?" tanya Vera lagi.


"Itu, saya tak tahu.." jawab staf itu bingung.


"Baiklah, saya akan kesana sekarang juga!" ucap Vera lagi.


"Kelas saya akhiri sekarang juga, tugas kalian bisa dikerjakan di rumah saja!" ucapnya kepada para mahasiswanya.


"Yaaa.." jawab para mahasiswa itu pelan, seperti lesu karena kelas tertunda lagi.


Ditempat duduknya, Maura melihat ada kabut hitam sedang mengikuti staf wanita itu, seolah sedang mengawasinya.


"Sepertinya ada yang terjadi, entah mengapa hatiku ingin sekali mengikutinya.." gumamnya dalam hati.


Maura bergegas merapikan tasnya dan mengikuti mereka, Ichan menatapnya heran, tapi dia kembali sibuk dengan barang-barangnya lagi.


Maura mengikuti mereka berdua dari belakang tanpa Vera dan staf wanita itu sadari, tapi tidak dengan kabut hitam, dia menyadari ada seseorang berada dibelakangnya, saat tangan Maura ingin menggapai kabut itu, kabut itu langsung menghilang menguap begitu saja.


"Sial!" umpatnya dalam hati kesal.


Saat dia dan kedua wanita itu berbelok menuju ruang staf dan para dosen itu, mereka berpapasan dengan Ardian, Maura tak sadar jika ada dia di sana, Ardian menatapnya heran.


"Pasti ada sesuatu sampai dia sangat fokus begitu mengikuti mereka, sampai-sampai tak sadar ada aku disini!" gumamnya sedikit kesal.


Ardian pun ikut membututi mereka, dia juga merasakan ada aura yang sangat kuat diantara dua wanita didepannya, tentu saja kecuali Maura. Dia yakin pasti ada sesuatu.


"Bu Vera.." sapa satpam itu menatapnya khawatir.


"Bagaimana bisa ini terjadi lagi, Pak?" tanya Vera khawatir.


"Saya juga gak tau, tapi ada anak-anak yang sedang menuju pesantren menjemput pak Kyai lagi.." ucap pak Kardi, satpam itu.


Tok!


Tok!


Tok!


"Yudha, buka! Saya sudah memanggil bu Vera, tolong lepaskan teman-teman!" teriak staf perempuan itu.


Braaakk!!


"Aaakhhh!!"


Mereka kaget kedatangan mereka justru disambut dengan suara hantaman keras dari dalam dan suara teriakan juga, sehingga membuat yang lain menjadi takut dan khawatir juga.


"Minggir, saya coba mendobraknya!" ucap salah satu mahasiswa berbadan besar yang baru datang itu.


Bugh!


Bugh!


Nihil, berapa kali dia coba tapi tak ada yang berhasil juga. Bahkan dia sudah dibantu oleh beberapa mahasiswa lainnya, termasuk temannya yang lain berbadan besar juga pak Kardi, tapi pintu maupun jendela ruangan itu tak bisa didobrak juga.


"Coba saya dobrak sendiri.." ucap Ardian meminta yang lain mundur sebentar.


"Yakin kau bisa sendiri? Sedangkan aku berbadan besar seperti ini saja tak bisa, bahkan kami ramai-ramai juga belum bisa juga.." ucap mahasiswa berbadan besar itu mencemooh.


"Insyaallah, bisa..." jawab Ardian sambil tersenyum.


Dia melangkah maju tapi ditahan oleh mereka, tapi segera dihalangi oleh pak Kardi, si satpam.


"Biarkan dulu dia mencoba, jangan menghina orang! Apa salahnya mencoba, berikan dia kesempatan!" ucap pak Kardi mengingatkan mereka semua.


Ardian maju, dengan sikap tenang dia mencoba memfokuskan diri dan mulai berdoa, setelah itu dia mulai melakukan gerakan untuk mendorong pintu itu.


"Bismillah, Allahu Akbar!" ucapnya sambil mendorong pintu itu dengan kedua telapak tangannya.


Membuat orang lain yang ada di sana terkejut, terpana tak percaya dengan apa yang mereka lihat, mereka mulai segan dan takut dengannya, kecuali Maura tentunya. Sedangkan Vera dan pak Kardi menatapnya haru dan kagum.


Belum juga rasa kagum itu selesai tiba-tiba saja Vera dan Ardian terhisap masuk kedalam ruangan itu, mereka semuanya kaget apa yang mereka lihat.


Blam!


Tiba-tiba pintu ruangan itu langsung tertutup rapat dan terkunci lagi, mereka semua jadi panik lagi, dan berusaha membuka pintu lagi, ada yang mencoba cara Ardian tadi, membaca doa dan mendobrak pintu itu, tapi tak ada yang berhasil.


"Pak, Pak Kardi!" tiba-tiba mahasiswa yang tadi didepan pintu gerbang tadi datang menghampiri mereka.


"Maaf, kita sedikit terlambat. Beliau baru saja pergi ke desa sebelah pesantren itu, ada acara di sana, dan kita gak bisa juga pergi maksain dia untuk ikut dengan kita.." ucap salah satu dari mereka.


"Apa sudah dijelaskan apa yang terjadi disini?" tanya pak Kardi lagi.


"Sudah, tapi orang-orang yang di pesantren juga gak bisa ngapa-ngapain juga!" jawab mereka.


"Kan ada juga santri yang bisa bantu kayak pak Kyai!" ucap pak Kardi sedikit kesal dan kecewa.


"Kami tidak tahu.." ujar mereka sambil mengangkat bahunya.


Mereka terlihat sangat putus asa, kecewa. Tidak tahu harus bagaimana untuk menyelamatkan orang-orang yang ada didalam, Maura yang di sana hanya menghela nafas saja, kesal.


Dengan santainya dia berjalan menuju pintu tadi, membuat semua orang menatapnya heran, dia risih dengan tatapan mereka itu.


Krieekk!


Dengan santainya dia membuka pintu itu dengan memutar kenop pintu, dan sedikit mendorongnya maju sehingga pintu itu terbuka, dia masuk dengan santainya dan menutupnya kembali.


"Apa-apaan ini! Mereka mengejekku, mengejek kita! Kok bisa dia dan anak laki-laki itu masuk dengan santainya tanpa mengeluarkan tenaga dan keringat sedikit pun!" ucap mahasiswa bertubuh besar tadi tak terima.


"Udah, gak usah dipikirin. Mereka itu adalah orang-orang terpilih, jangan berpikir yang tidak-tidak.." ucap pak Kardi mengingatkannya.


"Bapak kenal mereka?" tanya salah satu mereka.


"Tentu saja mereka kan juga mahasiswa dan mahasiswi di kampus ini.." ucap pak Kardi sambil tersenyum simpul.


"Bukan itu maksud kami, Pak.." protes mereka.


"Iya, saya tahu.." jawab satpam itu tidak menghiraukan mereka.


Mereka semua menunggu dengan harap-harap cemas diluar ruangan itu, sedangkan kekacauan sedang terjadi didalam sana.


Para dosen dan staf terkurung tadi semua pingsan, sedangkan pak Damar entah bagaimana caranya terlilit gorden jendela, dia kesulitan saat ingin melepaskan diri.


"Danu, lepaskan Damar! Dan keluar dari tubuh anak itu!" teriak Vera marah.


Dia sudah kelelahan ketakutan sepanjang waktu dengan dirinya, dia mencoba memberanikan diri untuk melawannya.


"Aku memintamu datang untuk meminta maaf padaku, sayang. Tapi malah sikapmu seperti itu kepadaku!" teriak juga Yudha alias Danu.


"Untuk apa aku meminta maaf kepadamu, bangs*t! Aku tak salah apapun, kau harusnya meminta maaf padaku, karena telah mengganggu ketenangan hidupku!" bentak Vera tak tahan.


"Aku kecewa denganmu, Vera.." terdengar suara Yudha pelan, bertanda Danu sangat kecewa dengannya.


"Euughh!" pak Damar melenguh kesakitan karena jeratan gorden itu semakin kencang.


"Danu!" teriak Vera lagi, dia khawatir dengan pak Damar.


"Kau mau melihat saja?" tanya Maura tiba-tiba mengagetkan Ardian.


"Ini bukan urusanku, aku tak mau menjadi pihak lain yang ikut campur!" jawab Ardian cuek, sebenarnya dia ingin membantu tapi sedang mencari selah kelemahan makhluk itu saja.


"Dan tolong turunkan sedikit auramu itu, Maura, energimu sangat besar sehingga makhluk itu bisa merasakan kedatangan kita.." ucap Ardian lagi.


"Aku tau, sedari tadi aku sudah menutupinya.." jawab Maura sewot.


"Oh, begitu yah. Aku tak memperhatikannya.." jawab Ardian pura-pura tak peduli, sebenarnya dia juga malu tak terlalu memperhatikan Maura juga.


"Tentu saja, kau sama tak pekanya dengan makhluk itu, dia tak berpikir atau menyadari bagaimana bisa manusia biasa bisa membuka pintu yang sudah terselimuti pagar gaib buatannya itu!" ucap Maura kesal.


Ardian memilih diam dan tak ingin melanjutkan perdebatan diantara mereka, dia berjalan maju menemui makhluk itu sambil berkacak pinggang dan menatap tajam kearahnya.


"Mau apa anak bod*h ini, hei! Menjauhlah, kau bisa memprovokasinya, kasihan dengan pak Damar dia yang kena dampaknya!" ucap Vera khawatir dengan kedatangan Ardian.


"Ibu gak usah khawatir, sebaiknya Ibu bantu pak Damar lepas dari lilitan gorden itu!" jawab Ardian cuek.


"Dasar anak ini, kalau terjadi denganmu itu bukan salahku yah, aku tak memintamu datang dan ikut masuk kesini, apalagi sampai terlibat jauh kesini!" ucap Vera lagi.


Dia langsung berlari menuju pak Damar yang mulai kehilangan tenaganya dari cengkraman Yudha alias Danu.


"Mau apa kau anak kecil?! Jangan ikut campur, belajar saja sana! Hahaha!" ucap Yudha juga sambil tertawa terbahak-bahak.


"Bagaimana bisa aku belajar, jika para dosenku tertahan disini! Aku justru datang kesini untuk menjemput mereka, teman-temanku sudah lama menunggu!" jawab Ardian sewot, Maura yang memperhatikannya tersenyum geli melihat tingkahnya itu.


"Hari ini kalian harus libur dulu, pulang sana!" teriak Yudha sambil melempar Ardian dengan mengibaskan tangannya yang jaraknya lumayan jauh dari Ardian.


Wuuuzzhh!


Angin kencang menerpa Ardian terlempar jatuh dari tempat itu, sama halnya dengan kejadian staf perempuan tadi dia pun terlempar jauh keluar luar ruangan, dan pintu tertutup dan terkunci kembali.


"Sial, seharusnya aku tak terlalu menekankan kekuatanku agar aku tak terlempar jauh dari tempat itu!" gumamnya kesal.


Sedangkan Maura masih ada berada didalam ruangan itu, dia bersembunyi dibalik meja staf yang ada di sana, dia sedari tadi memperhatikan makhluk itu.


"Sebenarnya dia baik, dan tak ingin menyakiti manusia, tapi karena perasaannya itu membuatnya berubah drastis. Haduh, gak manusia, gak demit kalau jatuh cinta dan cemburuan, nyusahin orang aja!" gumamnya kesal.


Sedangkan Yudha alias Danu menatap cemburu Vera yang berusaha membuka ikatan yang ada ditubuh pak Damar.


......................


Bersambung