
Dhania dan Angga berusaha sekuat mungkin untuk menahan pintu agar tak bisa dimasuki oleh para makhluk itu, mereka menahan pintu itu dengan segala cara termasuk menaruh meja, bangku yang ada di sana.
"Tunggu dulu, mereka kan makhluk halus tidak mungkin mereka tak bisa melewati ini. Mereka kan bisa menebus dinding" gumam Dhania.
"Apa maksudmu? Mereka itu zombie, mayat hidup!" ujar Angga kesal.
"Bukan, tidak ada mayat disini. Mereka semuanya telah menghilang, aku lihat sendiri!" Dhania mempertegas jawabannya.
"Tapi apa penyebab mereka tak bisa masuk ke sini?" ujar Angga heran.
Dia dan Dhania memperhatikan isi ruangan itu, ada banyak benda-benda klenik dan keramat di sana.
"Jangan-jangan benda-benda ini yang membuat mereka tak bisa masuk kesini" ujar Angga.
"Sepertinya begitu" jawab Dhania.
"Dhania, tolong kamu jelaskan apa yang terjadi sebenarnya? Dari siang tadi kami tak mendengar kabar apapun darimu ataupun anak-anak yang lain, ada apa sebenarnya?" tanya Angga.
Dhania menjelaskan semuanya tanpa terkecuali, dari dia melihat semua perbuatan Marino dan melihat banyak korban berhamburan termasuk hal-hal gaib lainnya.
"Baru pertama kali aku melihat itu semuanya, hal-hal gaib ini bagiku adalah mustahil tapi setelah melihat ini semuanya, membuatku tak bisa berpikir apapun.
Aku berharap ini mimpi, sampai tiba saat itu... Lubang hitam dari langit itu muncul dan menyerap semuanya yang ada disini, termasuk mayat-mayat itu dan adik-adik" ucap Dhania menjelaskan semuanya.
"Lubang hitam?" tanya Angga bingung.
"Iya, lubang hitam. Lubang itu menghisap semuanya, aku selamat karena bersembunyi disini jadi tak ikut terhisap olehnya.
Meskipun begitu, anginnya begitu kencang dan hampir menerbangkan pintu ini. Kalau tidak aku juga bisa ikut terbang bersama yang lain" jawab Dhania.
"Pantesan kalian tak ada kabar apapun dari tadi, tapi kenapa kamu tak menelpon? Setidaknya kabari kami" kata Angga kesal.
"Bagaimana aku mau menghubungi kalian jika aku di sekap disini?! Hpku ada didalam tak dan terjatuh entah kemana" jawabnya sewot.
"Lagian, di sana kan ada kak Tari dan bi Marni. Apa mereka tak bisa mendeteksi keberadaan mereka?" tanya Dhania lagi.
"Tak bisa, jika benar perkataanmu tadi mereka pasti dibawa ke alam lain. Mungkin kak Tari dan bi Marni tak bisa mendeteksi sejauh itu, bagaimana ini?
Kita harus menyelamatkan mereka, aku tak ingin mereka kenapa-kenapa" ujar Angga terlihat khawatir.
"Sebelum itu selamatkan diri sendiri dulu, ayo cari cara agar kita bisa keluar dari sini hidup-hidup" ucap Dhania sambil mengintip keluar.
Dia melihat para makhluk dengan berbagai bentuk itu berjalan tak tentu arah, mereka sepertinya sedang mencari sesuatu.
"Dhania, para makhluk itu tak bisa masuk ke ruangan pasti karena benda-benda ini. Ayo kita bawa salah satunya untuk melindungi diri kita dari serangan mereka" ucap Angga sambil memilih benda yang mana akan dia bawa.
Dhania mengambil sebuah keris dan Angga mengambil tonggak trisula, mereka bersiap-siap membuka pintu itu lebar-lebar agar mempermudah mereka keluar dan berlari.
Graaarr!!
Mereka semua melihat keduanya keluar dari ruangan itu, tapi sesuatu yang terjadi diluar dugaan mereka. Ruangan itu seperti mengeluarkan cahaya terang menyinari seluruh ruang auditorium itu.
Waahhhrr!
Mereka seperti ketakutan melihat cahaya itu, lalu terlihat menghindari cahaya itu. Dhania dan Angga mengambil kesempatan itu untuk pergi dari sana, mereka berlari sekuat mungkin sambil menghindari mereka semuanya.
Saat menuju pintu keluar, Dhania sempat melihat tas tangannya tergeletak dibawah kursi di sana, dia langsung memungutnya. Tangannya digenggam erat oleh Angga menuju pintu keluar.
"Akhirnya keluar juga" gumam Angga lega.
"Apa ini? Ih, geli banget! Bau!" ujar Dhania melihat cairan hitam pekat dilantai koridor itu.
Mereka berjalan keluar dengan hati-hati sambil berpegangan tangan agar tak tergelincir.
"Maaass, kakiku manaaaa?"
Terdengar suara serak dari arah belakang mereka, Angga melupakan bahwa masih ada makhluk lain yang menunggunya diluar sana.
Pelan tapi pasti Dhania dan Angga menoleh kearah belakang, alangkah terkejutnya mereka melihat sosok itu berdiri tepat dibelakang mereka, menyeringai menjulurkan lidahnya.
"Hwaaa!!" teriak keduanya.
Mereka berlari menghindari makhluk itu, tapi sayangnya jatuh tergelincir oleh cairan lengket itu, mereka bersusah payah menghindari tarikan tangan makhluk itu dan mereka terus merangkak dari sana.
Mereka sudah tak kuat berlari karena lemas syok dengan melihat makhluk itu, mereka tarik-tarikan dengan sosok itu.
"Aah! Kakiku, kakiku!!" teriak Dhania histeris.
Angga sekuat tenaga menaik Dhania dari jangkauan makhluk itu meskipun kaki Dhania sudah tertangkap.
Karena panik, Dhania memukuli makhluk itu menggunakan keris ditangannya. Dia tak peduli lagi dengan apapun yang penting dia harus selamat dari sana.
"Aakkhh!"
Makhluk itu berteriak mengerikan, dia terluka akibat sayatan dari keris itu. lama-lama sosok itu menghilang seiring hilangnya cairan lendir busuk di koridor itu.
......................
Bersambung