RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Season 2 : (PNS) Sebuah Pengakuan


"Sabar, Pak.. Sebentar lagi lilitannya akan lepas!" ucap bu Vera sedikit tergesa-gesa membuka ikatan itu.


"Vera!" bentak Danu yang masih bersarang ditubuh Yudha.


Dia menatap tajam kearah keduanya, dia sudah dikuasai oleh amarah yang sangat besar, tubuh Yudha yang tambun itu turun dari atas lemari yang tinggi itu dengan meloncat kebawah.


Bham!


Suara loncatannya menggema seluruh ruangan, membuat beberapa meja dan kursi yang ada di sana sedikit bergeser akibat hentakannya itu.


"Teganya kau melakukan hal itu kepadaku,, kenapa kau begitu menjauhiku?! Padahal aku sangat baik kepadamu!" Kata Danu didalam tubuh Yudha, nadanya begitu kecewa.


"Apa maksudmu? Aku tak mengerti! Baiklah Danu, aku akan berbicara denganmu tapi kau lepaskan mereka semua, kita bisa membicarakan ini dengan baik-baik.." ucap bu Vera hati-hati.


Terlihat dari raut wajahnya, Yudha alias Danu terlihat ragu kemudian dia menatap sinis pak Damar dan juga beberapa staf dan dosen yang masih berada di sana.


"Baiklah, tapi kau harus menempatkan dirimu dengan benar, jika kau berbohong dan tidak menepati janjimu, maka kau tau apa yang akan terjadi nanti!" ancam Danu lagi.


Vera tak bergeming dari tempatnya, dia juga menatap sinis kepada makhluk itu, Danu langsung menyeret pak Damar yang masih lemas itu bersama beberapa rekannya tadi, dan mendorong mereka semua keluar dari ruangan itu, tanpa menyadari masih ada Maura di sana.


"Pak, Bu! Apa kalian baik-baik saja?! Bagaimana dengan Yudha dan bu Vera?! Kenapa mereka tidak ikut keluar?" tanya staf perempuan diluar tadi.


"Yudha masih kesurupan sama makhluk itu! Sedangkan bu Vera masih ada didalam ingin menyelesaikan masalah mereka berdua saja, dia tadi sempat bernegosiasi dengan makhluk itu, hasilnya makhluk itu melepaskan kami semua, tapi.. Bu Vera tinggal.." jawab salah satu staff yang tadi sempat tertahan didalam ruangan itu.


Sedangkan pak Damar, dia yang paling merasa terguncang, bukan hanya nyawanya hampir melayang, tapi bu Vera. Dia sempat melihat tatapan mata wanita itu, begitu sendu dan khawatir sekali memperhatikan dirinya.


Entah mengapa dia merasa ada sesuatu dimata gadis itu, sepertinya dia menyimpan begitu banyak luka dan perasaan, tapi berusaha menutupinya dengan sikapnya itu.


"Vera.." gumam pak Damar.


"Semoga semuanya baik-baik saja, Yudha balik lagi dan bu Vera gak apa-apa.." ucap yang lainnya.


Tak ada yang mengingat Maura kecuali Ardian dan pak Kardi, keduanya hanya saling tatap saja, terlihat raut cemas dari keduanya, dibanding pak Kardi, Ardian lebih mengkhawatirkannya.


"Maura, apa rencanamu sekarang?" gumam Ardian dalam hati.


Sedangkan didalam, Yudha menatap Vera dengan seringai menjijikan terlihat beberapa kali dia menjilati bibirnya menatap tubuh seksi bu Vera.


Tiba-tiba dia pingsan begitu saja, makhluk itu keluar dari tubuhnya dan meninggalkannya begitu saja, dia berubah wujud menjadi Danu, pemuda tampan yang pertama kali bu Vera lihat, dia berjalan maju sedangkan bu Vera m


berjalan mundur takut.


"Mau apa kau, Danu?! Bukankah kita harus bicara dulu, jangan bertingkah diluar batasmu, ingat aku ini dosenmu!" ucap bu Vera berusaha mengalihkan perhatiannya.


"Sudah tak ada gunanya berbicara lagi, Vera.. Sekarang gunakan waktu ini sebaik mungkin untuk kita berdua, sayang.." ucap Danu menatapnya liar.


Bu Vera tak bisa bergerak lagi, dia tersudutkan karena dibelakangnya saat ini adalah dinding tembok, sedangkan di sampingnya adalah lemari kayu dan sebelahnya merupakan tumbuhan kursi dan meja akibat ulah Danu tadi.


"Da-Danu, kau mau apa?! Berhenti di sana!" ucap bu Vera ketakutan, wajahnya pucat dengan keringat dingin membasahinya.


"Jangan takut sayang, lihat aku.. Tatap mataku" ucap Danu lagi.


Bu Vera tak sengaja menatap matanya dan tiba-tiba pandangan berubah, dia melihat Danu adalah seseorang yang dia sukai sejak lama, dia membalas tatapannya dengan sendu, dan memeluk erat Danu.


"Hahaha! Bagus, peluk aku, cium aku dan cumbu aku, hahaha!" ujar Danu.


Tapi sayangnya harapannya sia-sia, bu Vera hanya memeluknya sambil menangis dan menyebut sebuah nama yang membuatnya semakin murka.


"Damar.." ucap bu Vera sambil memeluknya.


Telinganya panas saat nama itu disebutkan, dia murka dan wujud aslinya terlihat, sosok makhluk tinggi besar, dengan gigi taring besar mencuat keatas, menatap bu Vera murka dan nafsu.


"Dasar wanita jal*ng! Aku akan membuatmu menyesal!" ucapnya.


Dia mulai membabi buta menciumi bu Vera, sedangkan wanita itu masih dalam pengaruh sihirnya masih menduga itu adalah pak Damar, dia terus mende.sah dan menyebut nama pak Damar.


Makhluk itu semakin murka dan beringas dia ingin mengibaskan tangannya dan ingin mencakar wanita itu, tapi tiba-tiba gerakkannya tertahan, ada sesuatu yang melilit tangannya, menghentikan laju geraknya.


"Siapa yang berani-beraninya menghentikan langkahku?!" ujar makhluk itu geram dengan suara berat dan mengerikan, sangat berbeda dengan sosoknya yang lain.


Dia menoleh kearah belakangnya, begitu terkejutnya dia melihat sosok yang begitu terkenal saat ini, sosok yang selalu dibicarakan akhir-akhir ini didunia pergaiban.


"De-Dewi.." ujarnya bergetar.


Bagaimana tidak, dimatanya saat ini Maura itu merupakan sosok Dewi yang bersinar terang melayang tinggi dengan selendang kuning keemasannya, dan diujung selendang itu tersambung dengan tangannya saat ini.


"Apa yang ingin kau lakukan, apa kau ingin menodai manusia ini?!" bentak Maura alias Dewi Srikandi.


"Ha-hamba mencintainya, Dewi.. Dan hamba tak kuasa menahan amarah ketika dia menyebutkan nama lelaki lain!" ucap makhluk itu sambil menundukkan wajahnya.


Tinggalkan manusia ini, dia juga menolakmu dengan tegas. Apa kau tak malu memaksakan kehendak? Cinta itu tidak salah, tapi yang salah itu penempatannya, kau salah menempatkan rasa cintamu itu, bukan manusia itu, tapi melainkan dia.." ucap Maura.


Dia menunjuk kesebuah arah, di sana muncul ada lubang hitam menganga, ada sosok lain yang keluar dari sana, sosok itu memiliki wujud yang sama dengannya, hanya saja badannya lebih kecil dan memiliki payudara yang sangat besar menjuntai kebawah seperti buah pepaya.


"Rawatuku, kenapa kau berada disini? Ayo pulang bersamaku.." ucap makhluk itu.


"Rawakeni, dinda..." ucap makhluk itu menyebutkan nama makhluk yang baru datang itu.


"Nah, istrimu sudah datang menjemput, pulanglah! Anak-anakmu menunggu.." ucap Maura dengan tegas dan penuh wibawa.


"Baik, Dewi.." ucap Rawatuku sembari mengikuti istrinya Rawakeni kealam mereka.


Meninggalkan semua kekacauan yang ada, sedangkan bu Vera masih terduduk lesu dengan pandangan kosong, ternyata sihir itu belum tercabut seutuhnya orang Rawatuku.


Maura ingin menyadarkannya sebelum semuanya kembali tersadar, apalagi dia juga melihat Yudha sebentar lagi sadar ketika dia ingin menghampiri wanita itu.


Tiba-tiba pintu depan berhasil didobrak oleh Ardian, Maura menatapnya kesal karena dia belum sempat melakukan penetralisir kepada bu Vera akibat sihir tadi, karena dia tak mungkin melakukannya didepan semua orang, dia gak mau nantinya bakalan direpotkan dengan segala hal.


"Kenapa lagi dia, Ya Allah.. Kok rasanya aku salah mulu yah..," gumam Ardian sambil garuk-garuk kepalanya.


"Tunggu dulu, seharusnya aku yang marah akibat ucapannya pagi tadi, kenapa tiba-tiba semuanya kebalik sih?! Memang, wanita tak pernah salah.." ucapnya sarkas.


Pak Damar langsung menghampiri bu Vera yang terduduk lesu dengan tatapan kosong.


"Bu Vera, Bu.." panggilnya pelan sambil menepuk pipinya lembut.


"Damar, sayang.." ucap bu Vera tentu saja itu mengagetkan semua orang termasuk pak Damar.


Dia tak bisa bergerak karena bu Vera memeluknya erat seperti takut kehilangan, semuanya mencoba mengerti, mereka keluar dari ruangan itu sambil membopong tubuh Yudha, tinggallah mereka berdua dan Maura juga Ardian.


"Kalian gak ikut keluar?" tanya staf yang lain.


"Sebentar lagi Bu, Pak.." jawab Ardian sambil tersenyum kaku.


"Vera, kamu kenapa? Tiba-tiba jadi begini, aku gak mengerti sama sekali.." ucap pak Damar masih kaku karena pelukan erat dari bu Vera.


"Bu Vera sedang mengekspresikan perasaannya kepada Bapak, maaf kalau saya lancang, tapi bu Vera memang suka sama Bapak..," ucap Maura tiba-tiba mendekati mereka.


"Bagaimana kamu tau?" tanya pak Damar kepada Maura.


"Karena saya tadi berada disini dan melihat semuanya, saya melihat makhluk tadi keluar dari tubuh pak Yudha, dia menyihir bu Vera agar suka dengannya, tapi bu Vera malah menyebutkan nama Bapak tadi.


Makhluk itu marah, tapi dia tak sempat melukainya karena istri dari makhluk itu keburu datang, hahaha! Dia makhluk yang sudah beristri, dan takut pada istrinya, haha..


Tapi sayangnya, dia pulang tak sempat menghilangkan sihirnya jadi yah beginilah.. Bu Vera masih tak sadar apa yang dia lakukan.." ucap Maura menceritakan semuanya, tentu saja bagiannya dia hilangkan.


"Sebenarnya, aku juga menyukainya. Aku pikir dia tak menyukaiku karena sikapnya yang galak dan judes itu, tau dia menyukaiku lebih baik aku lamar saja dia dari dulu.." ucap pak Damar.


Ctek!


Dengan sekali jentikan jarinya, semua waktu berhenti, dia mengusap kepala bu Vera dengan lembut dengan beberapa doa dia ucapkan.


Ctek!


Waktu kembali lagi, tapi tak ada yang sadar jika beberapa menit yang lalu tidak sampai lima menit, Maura menghentikan waktu untuk menghapus jejak sihir ditubuh bu Vera, tentu saja kecuali Ardian dia tahu semuanya.


"Aku juga mencintaimu, Vera.. Jika kamu kembali lagi, ayo kita menikah.." sambung lagi pak Damar tanpa tahu bu Vera sudah kembali.


"Be-benarkah?! Memangnya Pak Damar mau melamar saya?" tanya bu Vera kaget.


Apalagi saat sadar dia mendapati dirinya sedang memeluk pak Damar dengan eratnya, dia menahan rasa malu dan kagetnya, seketika dia lupa dengan semua kejadian tadi.


"Iya, jika Ibu mau sama saya.." ucap pak Damar menatapnya lembut.


"Saya mau, Ma-Mas.." ucap bu Vera lembut sambil menunduk malu.


Keduanya saling bertatapan lembut dan mesra, hampir saja kedua bibir itu beradu jika tidak Ardian tiba-tiba batuk mengagetkan mereka semua.


"Uhuk, uhuk! Maaf bukan muhrimnya, uhuk!" ucapnya sengaja.


Membuat pak Damar yang usianya sekitar 28 tahun dan bu Vera berusia 27, tahun itu, mereka tersenyum menahan malu. Sedangkan Maura menarik tangan Ardian keluar dari tempat itu, ketika mereka keluar ternyata orang-orang tadi masih berada diluar dan menguping pembicaraan mereka didalam tadi.


"Ya salaaammm..." ucap Maura dan Ardian kompak.


......................


Bersambung