RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Akibat Penasaran


Saat didalam apartemen, Maura merasa dirinya sedang disidang. Semua orang menatapnya tajam, seolah-olah dia melakukan kesalahan fatal.


"A-apa-apa? Ke-kenapa menatapku seperti itu?!" tanya Maura sedikit terbata.


"Jujur saja, ada hubungan apa kau dengan pria tadi? Bisa dijelaskan, kenapa kau pulang dengan banyak luka seperti ini?" tanya Angga penuh selidik.


"Aku sudah jelaskan tadi, saat aku sedang mengantri di klinik depan. Itu klinik didepan apartemen kita... aku tak sengaja menyenggol orang, dia sangat kasar sekali.


Dia yang membuatku terluka begini, kalau kalian tidak percaya silakan hubungi klinik itu langsung.


Ahh, aku baru ingat dokter itu tadi memberiku kartu namanya, dia juga sahabat orang kasar itu makanya dia merasa tak enak hati.


O ya, aku berobat gratis di sana, lihat ini juga obatnya gratis" ujar Maura nyengir.


Saat ini Maura lagi disidang oleh Angga dan Dhania diruang keluarga.


"Gratis-gratis... aku bisa anterin kamu berobat kemana saja, gratis! gak usah bayar," ucap Angga seraya memukul kepala adiknya pakai buku digenggamnya.


Dhania hanya tersenyum geli melihat tingkah kakak Adik ini, ini mengingatkannya dengannya dan Kevin.


"Sudah-sudah, ayo makan dulu. Angga... kasihan adiknya, kepalanya udah diperban begitu jangan sampai bocor lagi" kata bi Marni sambil menahan tawanya.


"Bibi..." ujar Maura sambil merajuk.


Semua orang tertawa melihat tingkah Maura itu, untungnya anak itu sehat dan lukanya tidak parah.


Hanya beberapa lecet saja, yang mereka tak tahu bahwa Maura tadi sempat pingsan. Kira-kira apakah mereka masih berpikir Maura baik-baik saja?


Kekuatan Melanie sungguh luar biasa, Maura tak sempat menghindar atau mengelak dia sudah dihujani pukulan dan tendangan darinya.


Maura pikir itu hanya serangan orang biasa yang tak bisa mengontrol emosinya saja, tetapi dia bisa merasakan kekuatan magis didalamnya.


Wajar saja dia sampai pingsan, sedangkan Dewi Srikandi yang didalamnya tak siap dengan serangan itu.


Dia sempat melawan dan menangkis serangan itu sebelum Maura kena pukulan beruntun, sehingga anak itu masih bisa diselamatkan.


Jika tidak, dia bisa sekarat atau mungkin koma tak bisa bangun lagi. Pukulan keras dicampur dengan kekuatan magis, betapa berbahayanya itu.


Saat di meja makan pun Maura masih memikirkan kejadian itu, sebenarnya siapa wanita itu tadi?


Dia juga teringat dengan Ardian, pria misterius itu. Kenapa dia bisa ada di klinik itu, apa hubungannya dengan wanita dan dokter itu tadi?


Mereka nampak begitu akrab, ada begitu banyak pertanyaan di otaknya? semuanya belum bisa terjawab oleh Maura.


*


Ditempat lain, Ardian nampak masih mengikuti arah laju mobilnya, mobilnya mengikuti mobil didepannya.


Mobil pria bule saat ditemuinya di lift tadi. Dia mencoba menerawang kedalam mobil pria itu, tak ada sosok yang mengikutinya.


Sepertinya makhluk tadi hanya menempel padanya saat didalam apartemen saja. Berarti, apartemen itu yang bermasalah.


Sepertinya itu ulah penyihir itu, saat dia tak bisa mendekati Maura, maka dia akan menggunakan orang-orang yang ada didalam apartemen itu sebagai gantinya.


Jika Maura tahu soal ini, dia yakin Maura tidak akan diam saja. Tadi saja saat dia melihat wanita didalam lift tadi dalam bahaya, dia begitu ingin menolongnya.


Apalagi jika tahu soal itu semua adalah berkaitan dengannya, bisa jadi akan terjadi perang dunia ghaib lagi antara Maura dan para jin laknat itu.


"Sekarang mau kemana dia? Dia nampak gelisah sekali, apa aku harus berusaha menyetop mobilnya yah?!" Gumam Ardian tanpa henti.


Tiba-tiba saja mobil itu putar arah lajunya, dia hampir saja menyenggol mobilnya Ardian. Mobil itu melaju kencang, mengarah ke apartemen Maura.


"Ada apa ini? mencurigakan," gumam lagi Ardian.


Dia meraih telpon genggamnya, dia mencoba menghubungi Julian. Tetapi telpon itu tak tersambungnya,


"Ah, kemana ini anak?! Giliran dibutuhkan dia tak ada, jika tidak dia nongol terus" gerutu Ardian.


Dia masih mengikuti arah laju mobil itu, mobil itu semakin kencang lajunya dan sedikit lagi menabrak mobil truk di depannya.


"Aaakhh!"


Teriak histeris pemuda itu didalam mobilnya, sedangkan Ardian nampak syok melihat pemandangan didepannya.


......................


Bersambung