RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Season 2 : (PNS) Tiba-tiba Belajar Bersama


Keesokan harinya.


Kini kehidupan pagi mereka sedikit berbeda semenjak kedatangan Angga dan Dhania, Angga kini memegang kendali motor sport kesayangan Ardian padahal Ardian dengan senang hati membiarkan Angga membawa mobil di showroom nya, tapi calon kakak iparnya itu tidak mau.


"Aku ini lelaki, tau betul isi kepala lelaki itu seperti apa. Kau ingin membonceng adikku setiap hari dengan motor nungging ini, kan? Gak, gak akan aku izinin!" ucap Angga jelas.


"Terus aku naik apa dong?!" gerutu Ardian kesal.


"Kau punya banyak mobil, ambil saja salah satunya. Kalau gak kau bisa bareng Kevin dan Maurice sekalian jemput Maura, Dhania biar sama aku aja!" jawab Angga.


"Lah, ngatain orang situ sendiri kayak gitu, boncengan pake motor nungging!" sindir Ardian.


"Biarin, kami ini orang dewasa yang sudah bertunangan," ucap Angga cuek.


Lalu dia berjalan keluar dengan kunci motor ditangannya, Ardian mengikutinya dengan perasaan kesal, gondok dan benar-benar menyesal udah ngasihin motornya.


"Udah, gak usah cemberut kayak gitu. Buruan naik, nanti terlambat!" ujar Angga kepada Ardian yang terlihat ogah-ogahan sambil berjalan kearahnya.


Beberapa menit kemudian, mereka sudah sampai di rumah dimana Dhania sekarang menggantikan posisi Ardian di rumah itu, Angga dan Dhania sudah berangkat dengan motor sport milik Ardian. Sedangkan Ardian menjemput Maura dengan memilih berjalan pagi.


"Pagi ini cerah sekali, semoga seterusnya kayak gini.." gumam Ardian sambil tersenyum manis.


"Ih, manis banget senyumnya.." tiba-tiba ada seseorang yang menyapanya.


Ardian menoleh kearah sampingnya ternyata ada seorang gadis yang sedari tadi memperlihatkannya dibalik pagar besi rumahnya, rumah yang bersebelahan dengan konstannya Maura.


"Halo.." sapa Ardian ramah, tidak bermaksud apapun hanya bersikap ramah saja.


"Ardian, ngapain disitu?! Aku disini," Maura berteriak kesal kearahnya.


"Iya, aku kesana!" sahut Ardian meninggalkan gadis itu, terlihat raut wajah gadis itu tak senang.


"Hayo abis ngapain tadi, pagi-pagi udah godain cewek aja!" sungut Maura.


"Bukan begitu, dia tadi menyapaku.. Ya udah aku sapa balik, gak ada maksud lainnya cuma mau ramah aja, suer!" ucap Ardian sambil mengacungkan dua jarinya.


"Iya, percaya! Aku tadi cuma bercanda aja, hehe.. Btw, mana motormu?" tanya Maura sambil celingukan mencari motor sport itu.


"Dipakai kak Angga, dan kayaknya bakalan seterusnya.. Dan kita mulai pagi ini nebeng mobilnya Kevin," jawab Ardian sambil menggandeng Maura berjalan menuju rumahnya.


Mereka berbalik badan untuk berjalan menuju rumah itu, mau gak mau harus melewati rumah gadis itu lagi, saat mereka lewat gadis itu sudah tak ada lagi.


"Mbah, aku gak suka dengan gadis itu! Aku menginginkan lelaki itu, bagaimanapun juga dia harus menjadi milikku!" ucap gadis itu tadi kepada neneknya yang sedang duduk tenang di taman belakang rumah mereka yang menghadap langsung kearah balkon lantai dua kosannya Maura.


"Diamlah, aku sedang fokus bagaimana caranya agar aku bisa mengusir mereka dari rumah itu. Begitu banyak cara aku lakukan tapi tidak pernah berhasil, apalagi semenjak kedatangan anak itu.


Semua makhluk yang aku kirimkan tak ada yang berhasil menakuti mereka, aku ingin secepatnya menguasai rumah itu. Di sana ada energi besar yang bagus untukku.." ucap nenek itu sambil menatap tajam kearah kost-an nya Maura.


"Repot amat sih harus pakai santet segala, beli aja rumah itu dengan uang banyak! Nenek kan banyak uangnya, biar lebih cepat!" ucap gadis itu angkuh.


"Tidak semuanya bisa diselesaikan dengan uang, anak bodoh! Kau tau apa, bisanya merengek saja, sana kau belajar saja tidak perlu ikutan menjadi dukun sepertiku!" bentak sang nenek dengan tatapan tajam.


"Ya-ya sudah kalau tak mau, aku akan cari cara sendiri!" ucap gadis itu sambil berlalu pergi.


"Dasar anak itu, selalu semua keinginannya harus dipenuhi. Mending ada manfaat dan kegunaannya, dia selalu melakukan hal-hal yang tak berguna! Semoga dia tak melakukan kesalahan apapun," ucap si nenek.


Setelah itu dia kembali fokus dengan tujuan utamanya, mereka baru saja pindah dari rumah itu. Pemilik asli rumah itu menjual rumah mereka dengan harga yang sangat mahal melebihi harga asli rumah itu sendiri.


Mereka tak curiga apapun saat nenek itu bersama keluarganya yang terlihat kaya mau membeli dan tinggal di rumah sederhana milik mereka, padahal niat si nenek membeli rumah untuk mendekati rumah kost disamping rumahnya.


Dengan niat terselubung tak diketahui, hanya mereka saja yang tau. Tapi sepertinya ibu kost dan si mbah Sutinah tau ada seseorang yang berniat jahat kepada keluarganya. Tak heran jika bu kost dan si mbah tau dengan segala keanehan kost di rumah mereka.


Kembali ke Maura dan teman-temannya..


Kini mereka sudah masuk kedalam kelas masing-masing kecuali Kevin yang jadwal kuliahnya malam, dia kini berada di Showroom bekerja seperti biasanya.


Tiba-tiba saja ada angin berhembus lembut datang seiring dengan sosok yang baru saja datang, seorang lelaki tampan berwajah dingin dengan berpenampilan menarik ala idol yang sedang digandrungi masa sekarang.


Dia masuk kedalam ruangan staf dan dosen membuat semua orang yang berada di sana terpukau dan takjub dengan wajah juga penampilannya.


"Mulai hari ini aku adalah mahasiswa di kampus ini, masukkan aku ke kelasnya Maura!" ucapnya dengan nada penuh penekanan dengan daya magis yang tinggi.


"Baik, mari ikut saya.." seketika semuanya terhipnotis oleh dirinya dan langsung mengikuti kemauannya.


Sedangkan diatas atap bangunan itu, Phoem hanya menggelengkan kepalanya saja melihat tingkah laku si Garaga, dia hanya duduk diam mengawasi saja.


"Apa anak itu tahu akibatnya jika terlalu dalam ikut campur urusan manusia itu hukumnya seperti apa?! Dasar, biarlah! Bukan urusanku," gumamnya sendiri sambil memainkan rambutnya sendiri.



Phoem (burung Phoenix)


Di kelasnya Maura seperti biasa saat dosen belum datang mereka nampak sibuk dengan urusannya masing-masing, ada yang sibuk mengobrol, ada yang asik sendiri dengan bukunya dan malah ada yang nyanyi-nyanyi.


Tiba-tiba suasana hening seketika karena kedatangan seseorang yang masuk kedalam kelas mereka, seorang lelaki berwajah tampan dan menarik hati kaum hawa, dan nampak tak asing dimata Maura.


"Garaga, mau apa dia disini?" gumam Maura nampak khawatir dengan kehadirannya.


Garaga tersenyum sinis sambil menatap Maura, dia tak peduli dengan semua mata yang tertuju kearahnya, fokusnya sekarang ini adalah Maura. Bahkan para mahasiswa itu termasuk Ichan tidak memikirkan pandangan Garaga saat ini kearah mana.


"Anak-anak, perkenalkan ini ada mahasiswa baru yang mulai sekarang akan belajar bersama kalian, perkenalkan namamu, nak.." ucap dosen yang datang bersamanya tadi.


"Namaku Arga.." ucapnya begitu saja, perkenalan yang sangat singkat tapi tak ada yang bertanya macam-macam kepadanya, bahkan para mahasiswi tambah berdebar saat mendengar suaranya.


"Apa dia sadar telah mempengaruhi mereka semua, seharusnya dia tak perlu melakukan itu semua terhadap mereka.." gumam Maura lagi sambil menatap tajam kearahnya.


"Silakan duduk dimana kau suka.." ucap dosen itu.


Garaga berjalan melewati semua orang dan berdiri didepan Maura, Ichan seolah mengerti dia langsung berdiri dan membiarkan Garaga duduk ditempatnya. Kemudian dia duduk dibelakang bersama dengan yang lain.


"Apa yang kau lakukan?!" bisik Maura dengan nada geram.


"Aku? Aku belajar, sama seperti yang lain," jawab Garaga dengan santainya sambil menatap Maura dengan senyuman itu.


"Jangan menatapku seperti itu, kau tau tingkahmu ini sangat aneh! Tidak semua orang bisa kau hipnotis seperti mereka semua," ucap Maura dengan meliriknya sinis.


"O ya? Aku gak perduli, aku datang hanya untuk belajar.." ucap Garaga dengan alasannya yang tak masuk akal itu.


"Belajar? Puluh ribuan bahkan ratusan tahun yang lalu kau tak berpikir sedikitpun untuk belajar, kenapa tiba-tiba ingin belajar?! Aneh," ucap Maura.


"Entahlah, mungkin aku bosan. Tapi mungkin juga ada seseorang yang menggerakkan aku agar mau belajar lagi, siapa tau bukan.." ucap Garaga, yang kini mengubah namanya menjadi Arga di dunia manusia sambil tersenyum menggoda Maura.


Tapi gadis itu nampak dingin dan acuh dengannya, dia tak perduli dengan segala usaha Arga alias Garaga untuk mendekatinya. Yang dia tahu makhluk disampingnya merupakan siluman terkuat sepanjang dia temui dibandingkan makhluk lainnya.


"Aku harus hati-hati, jangan terpancing dengan segala tingkahnya itu. Mungkin saja ini adalah jebakan," ucapnya dalam hati dengan pandangan fokus kedepannya memperhatikan dosen yang sedang menjelaskan pelajarannya itu.


Sedangkan Phoem hanya terkekeh sendirian diatas atap gedung sambil memperhatikan tingkah konyol Garaga.


"Arga? Nama yang aneh dan sama sekali tak cocok dengannya.." ucapnya.


Sedangkan Garaga mendengar dengan jelas ucapan Phoem hanya duduk diam sambil memejamkan matanya menahan emosi dengan segala ejekannya itu, tentu saja Phoem tau Garaga bisa mendengarnya maka makin kencang saja dia tertawa, tentu saja hanya dia saja yang bisa mendengarnya.



Garaga (siluman ular)


......................


Bersambung