RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Season 2 : ( PNS ) Akhirnya Sah!


Sosok bayangan hitam sedang mengintip dibalik pohon rambutan saat Maurice datang ketempat kostan itu, bisa dibilang ini untuk pertama kalinya dia datang ke sana, meskipun jaraknya sangat dekat dengan rumah dia tempati, tak sekalipun Maura mau mengajaknya nginap ataupun sekedar main dan mampir ke kosannya itu.


Bukan tanpa sebab Maura melakukan hal itu, dia tak bisa membuat temannya sedih melihat lingkungannya itu, selain para penghuni kost yang sangat jutek, ada juga makhluk jahil seperti saat ini.


"Ada manusia lainnya yang berbau wangi, tubuhnya juga memiliki sesuatu yang sangat indah. Aku ingin memilikinya juga, hihi..." ujar si Kunti.


Maurice disambut sama mang Supri, saat ini hanya ada dia sendirian di rumah bu Hayati yang juga merangkap rumah kost itu, para anak kost masih ada yang kuliah ataupun bekerja, bahkan ada beberapa kamar yang sudah kosong akibat insiden waktu itu.


"Silakan, Dik.. Tapi sendirian gak apa? Saya mau jaga didepan, takutnya ada tamu lagi. Di rumah gak ada orang, bu kost masih dirawat di rumah sakit, mbah Sukinah juga udah pulang ke kampungnya.." ucap mang Supri ke Maurice.


"Gak apa, Pak... Saya cuma mau ngambil beberapa barangnya Maura, itu saja. O ya, nanti malam dia mau nikah di pesantren. Kalau ada waktu silakan datang..." ujar Maurice ramah.


"Nikah? Kok tiba-tiba, bukankah non Maura masih kuliah yah?" tanya mang Supri sedikit terkejut mendengar pernikahan Maura.


"Haha, biasa aja itu, Mang... Saya juga sudah menikah, dan lagi hamil muda juga. Hehe.. Jangan berpikir yang aneh-aneh, menikah muda asal sudah siap mental lahir dan batin, dan mau berkomitmen bertanggung jawab, gak masalah, malah bagus. Hehe.." jawab Maurice dengan santai.


"Oh, begitu.. Tapi hati-hati yah," ucap mang Supri lagi.


"Iya, Mang.. Terima kasih," sahut Maurice, sebenarnya dia tak mengerti maksud dari perkataan mang Supri yang terakhir.


Maurice naik ke lantai atas dengan tenang, meskipun dia juga merasakan hawa pengap dan dingin disekitarnya. Dia sudah memahami maksud dari perkataan mang Supri, mungkin ini yang dimaksudkannya tadi.


"Permisi, saya datang bukan untuk mengganggu.." ucap Maurice, berharap makhluk itu menjauhinya.


Tapi Kunti tetap mengikutinya dari belakang, tapi ada sesuatu yang menjadi penghambatnya dalam mendekati Maurice. Tubuh Maurice dalam penglihatan Kunti seperti ada cahaya terang didalamnya, tubuh wanita hamil itu nampak begitu bersinar seperti ada pelindungnya.


"Pantas saja dia susah didekati, dia kerabatnya gadis itu! Ck, sayang sekali!" ujar Kunti nampak kecewa tak bisa mendekati Maurice.


Maurice masuk kedalam kamar Maura setelah sebelumnya mengambil kunci kamarnya didalam tas Maura, dia mengambil koper yang diletakkan diatas lemari baju Maura, dia mengambilnya dengan hati-hati dan untungnya lemari itu tak terlalu tinggi, ditambah tinggi badan Maurice yang juga tinggi itu, membuatnya tak terlalu sulit mengambilnya.


Beberapa pakaian Maura dia masukan kedalam, termasuk tas, sepatu, peralatan skincare, buku-buku kuliah dan lainnya. Niat awalnya hanya ingin mengambil beberapa pakaian saja dengan satu koper, sekarang dia malah mengemasi semua barang-barangnya Maura hingga bersih dan rapi.


"Untunglah anak itu sangat rapi, dia masih menyimpan beberapa kotak kardus buat menaruh barang-barangnya jika suatu saat nanti akan pindah kost lagi, seperti sudah menduga bakalan pindah lagi, dia juga memiliki paper bag, travel bag, selotip dan gunting juga tali.


Riwet sekali hidupmu, Maura. Semoga setelah menikah kau tak perlu hidup nomaden lagi, dan Ardian bisa memberikan perlindungan dan kenyamanan untukmu.." ucap Maurice sambil membereskan beberapa barang Maura yang lainnya.


"Amiin.." tiba-tiba ada yang menyahutinya dari belakang, spontan Maurice menoleh kebelakang.


"Kamu? Kok kesini, emang urusannya sudah selesai?" tanya Maurice kepada Kevin, suaminya yang ternyata menyahutinya itu.


"Iya, 98% insyaallah sudah siap. Tinggal menunggu kedua calon pengantin, aku dengar dari kak Dhania katanya kamu kesini untuk mengambil barang-barangnya Maura, aku menyusulmu karena sudah terlalu lama kamu disini.


Ternyata kamu sekalian membereskan semua barang-barangnya, sudah selesai semua yah? Ya udah, kamu turun aja dulu aku mau bawa beberapa barang-barangnya sekalian kebawah," ucap Kevin menjawab Maurice.


Maurice mengangguk, kemudian dia turun dan meminta mang Supri untuk membantu suaminya juga, dan Alhamdulillah nya Kevin juga datang sambil membawa mobilnya juga.


"Semua barang-barangnya Maura sudah kami bawa ya, Mang... Titip kunci kamarnya Maura ya, tolong titip salam aja sama bu kost kalau sudah pulang, maaf dia gak sempet pamitan, nanti akan diusahakan untuk datang dan pamitan secara langsung kepada bu kost.." ucap Maurice kepada mang Supri.


"Iya, Dik.." jawab mang Supri menyahuti Maurice.


Dia kagum dengan sepasang suami istri muda itu, mereka terlihat sangat muda sekali tapi sudah memiliki pemikiran yang matang dan sangat dewasa sekali, kalau dilihat dari penampilannya sepertinya mereka juga sudah mapan sekali.


"Gak heran sih kalau mereka sudah siap menikah, lah kalau anaknya mang Supri pengen nikah cepet, apa yang mau dikasih sama anak orang, dia aja masih minta jajan sama bapaknya!" ucap mang Supri pada dirinya sendiri, sambil menatap kepergian dua orang tadi.


Sesampainya di rumah, Kevin dibantu oleh beberapa orang untuk menurunkan barang-barangnya Maura dan memasukannya kedalam rumah. Mereka adalah para tetangga dan pak RT juga pengurusnya yang diundang untuk menghadiri acara pernikahan Maura dan Ardian.


Mereka sengaja menunggu di rumah Ardian, agar nanti bisa berangkat bareng aja di pesantren. Ketika Maurice masuk dia melihat Ardian sudah rapi dengan pakaian kemeja dan jas pengantinnya, sangat gagah dan tampan sekali.


"Wah, calon pengantin sangat gagah sekali!" goda Maurice sukses membuat Ardian tersipu malu, hal yang langka terjadi padanya.


Sedangkan Maura lagi didandani oleh Dhania dibantu oleh beberapa ibu-ibu tetangga mereka, mereka juga terlihat senang dan bersemangat sekali menyambut pernikahan Maura dan Ardian.


"Jujur, kami sangat senang akhirnya kalian menikah juga. Tapi sedih juga karena nak Maurice dan nak Kevin harus kembali ke Amerika.." ucap salah satu ibu-ibu itu.


"Kami usahakan setidaknya setahun sekali atau setahun dua kali akan balik kesini, ibu-ibu.. Lagian, kita masih bisa berkomunikasi kok meskipun jauh jaraknya. Saya tidak akan pernah melupakan semua kebaikan kalian selama disini.." ucap Maurice terharu.


"Sama, kami juga tidak akan pernah melupakan semua kebaikan kalian berdua. Meskipun hanya sebentar, kalian sudah memberikan kesan yang sangat baik selama bertetangga dengan kita, kalian merupakan contoh yang baik buat para pasangan muda lainnya.." ucap bu RT juga.


"Ah, biasa itu! Namanya aja suami istri, bertengkar dan akur itu sudah menjadi hal biasa. Yang penting tetap jaga komunikasi, dan saling percaya saja. Insyaallah semuanya aman dan menjadi berkah.." ujar bu RT menyahuti Maurice.


"Amin.." sahut semua orang yang ada di sana.


Maura hanya tersenyum saja, mungkin itu semua akan menjadi referensi buatnya nanti, jika suatu saat dia dan Ardian mengalami miss komunikasi, maka saran para ibu-ibu patut dipertimbangkan.


Sebelumnya, saat Maurice masih berada didalam kostannya. Maura dibangunkan oleh Angga dan Dhania, dia bangun dengan badan masih lemas semua, karena pada sakit-sakitan disebabkan oleh pertarungannya semalaman didalam hutan itu.


"May, bangun dulu. Cuci mukamu, ada yang ingin aku katakan padamu. Biar kau tak salah faham dan tak salah dengar, sebaiknya segarkan dulu dirimu.." ujar Angga hati-hati.


"Sekalian mandi saja, ini juga sudah sore.." ucap Dhania juga.


"Tapi aku sudah mandi, kak.. Lagian seharian ini aku juga cuma tidur, hoam.." sahut Maura masih mengantuk.


"Lihat, kau saja masih mengantuk begitu. Cepat mandilah, tak perlu keramas biar cepat.." ujar Dhania lagi.


Maura hanya mengangguk, sementara Maura lagi mandi, Dhania juga sibuk menyiapkan perlengkapan pakaian nikahan mereka. Sedangkan Ardian sudah terlebih dahulu diberitahukan tentang pernikahannya oleh Angga dan Dhania.


Awalnya dia ragu dan bingung, tak yakin dengan semua itu. Bahkan berpikir dia sedang bermimpi atau mungkin dalam pengaruh sihir, tapi setelah diyakinkan oleh Angga dan lainnya, akhirnya dia mengerti juga.


"Apa aku bisa menjalankan amanah ini? Aku takut nantinya Maura tak bahagia saat bersamaku, aku takut tak bisa memenuhi kebutuhan dan keinginannya.. Dan yang lebih aku takutkan adalah, aku tak bisa menjadi imam yang baik untuknya dan anak-anak kami nanti.. Aku takut akan hal itu," ujar Ardian mengungkapkan perasaannya.


"Apa kau sungguh mencintainya?" tanya Angga sambil menatapnya lekat.


"Aku sangat mencintainya lebih dari apapun, saking cintanya aku takut menyakitinya, entah itu perbuatan ataupun perkataanku, aku sungguh mencintainya.." ucap Ardian dengan sungguh-sungguh.


"Kalau begitu, lakukanlah! Kau tak perlu memikirkan banyak hal, jika kau sudah siap dan mampu, maka lakukanlah! Aku tak butuh sama orang yang plin-plan ragu dalam mengambil keputusan, aku tak butuh orang seperti itu untuk menjaga adikku," ujar Angga tegas.


"Ta-tapi, kak.." Ardian pun takut kehilangan Maura, dia sanggup lahir dan batin tapi mengingat mereka sangat berbeda dengan orang lain, apa mereka akan baik-baik saja, bagaimana dengan anak-anak mereka nanti?


"Baiklah, aku akan menikah dengan Maura. Akhirnya siap lahir dan batin.." akhirnya Ardian memberikan jawabannya yang tepat.


"Apa kau yakin? Bukan karena terpaksa? Atau takut aku nikahkan dia dengan orang lain?!" tanya Angga lagi untuk menyakinkan dirinya.


"Iya, aku yakin! Aku juga takkan melepaskannya untuk orang lain, tak apa aku dibilang egois, aku tak mau dipisahkan dengannya!" ucap Aridan lebih tegas lagi.


"Bagus, itu jawaban yang aku ingin dengar darimu. Dan tepati janjimu padaku jika kau akan selalu menjaga dan melindunginya.." ucap Angga lagi.


"Iya, Kak... Itu pasti," sahut Ardian dengan mata berkaca-kaca terharu, kemudian mereka saling merangkul dan menguatkan.


Hal yang sama dilakukan kepada Maura, dia juga diberikan penjelasan dan pertanyaan yang sama, dan jawabannya juga lebih kurang sama dengan Ardian, dan akhirnya mau dinikahkan juga.


Kini keduanya sudah siap melakukan ritual pernikahan mereka itu, semua orang sudah bersiap, termasuk juga dengan Maurice dia sudah mandi dan berdandan cantik, untuk menghadiri pernikahan sahabat juga saudara angkatnya itu.


Mereka semua menuju pesantren sambil beriringan dengan yang lainnya, mobil mereka berbaris saling beriringan satu sama lainnya. Bahkan Ardian juga mengambil dua atau tiga mobil di showroom nya untuk mengangkut rombongan tamunya.


Mereka sampai di pesantren dengan selamat dan tepat waktu, setelah menunaikan sholat Maghrib berjamaah, ada beberapa kata sambutan dari pihak pesantren selaku tuan rumah penyelenggara acara itu. Setelah itu ada juga beberapa nasehat pernikahan untuk calon pengantin, dan juga beberapa kata-kata kesiapan keduanya untuk menikah dan membangun rumah tangga bersama.


Dan tak terasa waktu sholat isya pun datang, setelah sholat berjamaah lagi, acara akad nikah pun dilaksanakan di masjid tepat setelah sholat isya berjamaah itu. Semuanya berjalan hikmat dan khusuk, terdengar beberapa suara isak tangis haru dari Maurice, Dhania dan lainnya.


Bahkan Angga pun bergetar suaranya saat mengucapkan dan menyerahkan adiknya kepada Angga, dan pernikahan mereka juga disiarkan secara live lewat media sosialnya, agar papa, bi Marni dan keluarga juga orang-orang terdekat mereka bisa menyaksikannya, meskipun mereka tak ikut hadir secara langsung di sana.


"Bagaimana para saksi, sah?" tanya pak penghulu.


"Sah!" jawab semua orang yang ada di sana.


Suasana haru kembali lagi terjadi, Angga memeluk sang adik perempuan, adik yang sangat dia sayangi. Begitu pun juga dengan yang lainnya.


Pernikahan penuh hikmat itu berjalan dengan lancar tanpa ada halangan, dan mereka juga tak menyadari kalau nenek Dawiyah juga memantau mereka dari jauh, dan bahkan sudah memulai penyerangannya.


......................


Bersambung