
Bi Marni tergesa-gesa untuk pulang, dia tak ingin Maura menunggunya lama.
" Bi, tunggu dulu! ini tas belanjaan mu ketinggalan, nanti Maura curiga lagi masa habis belanja tapi hasilnya ga ada " kata pria itu.
" Ya ampun, aku sampai lupa. terima kasih ya Ardian, keponakan bibi yang ganteng " ucapnya sambil memeluk pria itu.
Ternyata bi Marni sedang menemui keponakannya, Ardian namanya. Dan selama ini dia mengawasi Maura.
Dan yang mengejutkan lagi Ardian adalah pria misterius itu, pria yang selalu mengikuti Maura beberapa hari ini.
Ardian melihat punggung tua bibinya itu berlalu pergi.
" Dia wanita yang hebat, seusianya masih begitu aktif dan energik.
Tapi tetap saja aku mengkhawatirkannya, yang jelas dia lakukan selama ini berbahaya.
Semoga saja aku selalu bersamanya, agar aku bisa melindunginya dari ancaman apapun " kata Ardian.
" Amiin.. " tiba-tiba saja ada yang mengamini kata-katanya.
" Kalian, kenapa ada disini? " Ardian nampak panik dengan kehadiran mereka.
" Kau kenapa? ga usah panik bro, Maura ga akan tahu sama kita kok " jawab Julian terlihat santai.
Ternyata Julian dan Joanna yang datang, mereka berdua ini kemana-mana selalu berdua.
Tidak hanya urusan pekerjaan, bahkan urusan pribadi pun mereka lakukan bersama. Dua sejoli ini tak sanggup untuk berpisah sedetikpun.
" Sudah, menikah saja sana. Kemana-mana selalu berdua. Gak bosen apa " ujar Ardian melengos berlalu pergi.
" Pantesan jomblo, galak sih. " Kata Julian lagi, Joanna hanya tertawa kecil melihat tingkah dua sahabat ini.
Meskipun Ardian terlihat kaku dan dingin, tapi sebenarnya hatinya sangat baik.
Dia sering datang ke acara amal, memberi sumbangan pada orang-orang yang tak mampu.
Bahkan akhir-akhir ini, dia sering menghadiri acara badan amal dunia untuk melindungi anak-anak korban peperangan.
Siapa sangka, Ardian Hartanto merupakan konglomerat termuda di dunia.
Saat usia dini, dia sudah mewarisi harta triliunan Dolar dari seseorang yang masih misterius.
Menurut desas-desus yang beredar, dimasa lalu mendiang orang tua Ardian pernah menyelamatkan orang itu dari bahaya.
Tidak dijelaskan ceritanya seperti apa, hanya Ardian dan bi Marni yang tahu kebenarannya.
Banyak para gadis kalangan atas yang mengenalnya mengajak dia berkencan, tetapi dia tak pernah tertarik.
Bahkan, gadis cantik seksi seperti Melanie saja tak bisa menaklukan hatinya.
Melanie McGill merupakan putri seorang pengusaha kaya, keluarga termasuk berpengaruh di dunia bisnis ini.
Mereka berkenalan saat Papa Melanie mengundang Ardian di acara pembukaan grosir miliknya dikawasan Time Square.
Pusat perbelanjaan yang terkenal itu, menjadi tempat yang strategis untuk memperkenalkan produk-produk baru mereka.
*
Saat Ardian dan teman-temannya berdiskusi soalnya rencana mereka, tiba-tiba saja pintu terbuka.
Melanie menerobos masuk, ada seorang pegawai tanpa tergesa-gesa masuk menyusulnya.
" Maaf pak, saya sudah mencegahnya masuk. Tapi Nona ini tetap memaksa hingga menerobos masuk secara paksa " kata pegawai berhati-hati.
" Tidak apa, kau kembali bekerja sana " ucap Ardian datar.
" Kau pegawai rendahan, awas kalau menghalang-halangi lagi " kata Melanie dengan nada mengancam.
Pegawai itu menunduk lalu berlalu pergi.
" Apa mau mu? kenapa memaksa masuk keruangan ku? kau tahu, aku tak suka dengan orang tak sopan seperti itu. " Kata Ardian sambil melanjutkan pekerjaannya tanpa menoleh sedikitpun.
Melanie merasa tak dianggap, lalu dia melihat dua orang asing yang tak pernah dia temui itu.
" Siapa mereka Ardian? " katanya dengan tatapan curiga.
" Bukan urusanmu, kalau tak penting silakan pergi aku banyak kerjaan " ucapnya masih menatap layar laptop.
Kesal dengan perlakuan Ardian kepadanya, Melanie lalu menghampirinya dan menutup laptop milik Ardian secara paksa.
" Apa yang kau lakukan?! " Ardian mendelik ke arahnya.
" Kau dari tadi sibuk dengan pekerjaanmu dan tak memperhatikanku.
Aku satu-satunya orang terdekatmu dilarang masuk, sedangkan mereka orang asing malah asik duduk di sofa sampingmu " katanya seraya menghampiri Joanna yang duduknya tak terlalu jauh dari Ardian.
Dia menarik tangan Joanna dengan kasar, Joanna sedikit meringis akibat cengkraman tangannya.
Kuku panjang milik Melanie sedikit menusuk kulit pergelangan tangannya.
Julian tak terima kekasihnya diperlakukan kasar oleh wanita aneh itu.
" Hentikan, apa yang kau lakukan? kau bisa melukainya " ujar Julian sambil berdiri menghampiri Joanna yang masih meringis kesakitan.
" Aku tak terima ada wanita lain duduk dekat dengan Ardian! " katanya berteriak.
Ardian kesal dengan sikap kasar Melanie, dia menarik tangan gadis aneh itu keluar.
" Pergi kamu jika terus mengacau disini, aku lama-lama muak denganmu.
Kalau bukan hubungan baikku dengan orang tuamu, aku sudah melempar mu keluar dari tadi. " Kata-kata Ardian sangat dingin dengan tatapan tajamnya.
Melanie keluar gedung itu dengan perasaan dongkol, dia tak terima perlakuan kasar dari Ardian.
" Kau pikir aku ke sana tanpa persiapan, hem.. dasar pria bodoh, jika kau mempermainkan hati seorang gadis inilah akibatnya " ucapnya sambil menyunggingkan senyum sinis.
Sementara itu di ruangan Ardian, ada sepasang mata mengamatinya.
Mata merah menyala berdiri dipojokan disisi ruangan itu.
" Gadis bodoh, siapa yang dia coba taklukkan. Kamu Ardian, haha.. " goda Julian sambil menatap makhluk itu.
Ardian dan Joanna hanya tersenyum sinis mendekati makhluk itu, makhluk itu tak percaya para manusia itu bisa melihatnya.
Siapa sebenarnya mereka ini?
......................
Bersambung