RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Perlawanan pertama Maura


Mereka berempat naik kuda unicorn itu dan melesat cepat kearah gumpalan kabut itu, terlihat oleh Maura dan Dewi Srikandi Kevin dan Maurice nampak tegang sekali.


Mungkin mereka takut dan mengira mereka dalam bahaya, saat ini posisi Maura dan Dewi Srikandi memimpin didepan sedangkan mereka dibelakang mereka.


"Tenang saja, itu pintu kita untuk keluar dari sini!" teriak Maura.


Suara deru angin kencang, ditambah derap sepatu kuda hampir mengganggu pendengaran mereka. Begitu kencang dan berisik sekali.


Tiba-tiba suasana berubah, deru angin semakin kencang dari berbagai arah. Ranting fan dedaunan bergoyang kencang akibat tiupan angin itu.


Dedaunan runtuh dari ranting pohon dan terbang ke segala arah, pandangan mereka terhalang oleh dedaunan kering yang terjatuh itu.


Dewi Srikandi nampak gelisah sekali, sesekali dia menoleh kebelakang. Maura dapat merasakan kegelisahan hatinya.


"Ada apa, Dewi? Apa terjadi sesuatu?" Tanya Maura.


"Maura, aku merasakan sesuatu yang buruk akan datang," jawabnya.


"Apa maksudmu? Apakah kita dalam bahaya?" Tanya lagi Maura.


"Belum saat ini, mungkin nanti. Kau lihat dedaunan yang rontok dari ranting pohon itu, begitu hijau dan segar. Ketika terjatuh berubah menjadi kuning dan layu.


Kau tahu apa artinya, Maura? Sesuatu yang buruk akan datang, hutan ini bukan hutan pinus lagi. Melainkan hutan Angkara, dan ini hutan perbatasan antara hutan pinus juga kebun bunga di seberang tadi.


Kau tahu apa artinya perbatasan? Itu artinya netral, jadi siapapun dan makhluk apapun bisa masuk ke hutan ini.


Aku takut, ada sesuatu yang mengincar kita sedari tadi. Dan arah angin yang saling berlawanan arah ini, juga gugurnya dedaunan ini merupakan pertanda buruk yang sedang menuju kemari." Ujar Dewi Srikandi menjelaskan semua kegelisahannya.


"Baiklah, aku tahu ini pasti sangat berbahaya. Pantesan dari tadi aku merasa gelisah terus. Dewi kita harus membiarkan mereka berdua melaju lebih dulu.


Dewi Srikandi berbisik kearah kuda itu, seolah mengerti apa yang diucapkan Dewi kuda ini meringkik dan memelankan langkahnya, sedangkan kuda di belakang melesat maju melewati mereka.


Sesekali Maura melihat ke belakang, tidak ada apa-apa di sana. Dan dari arah depan pun tidak terjadi apapun, tapi Maura maupun Dewi Srikandi lupa bahwa bahaya juga bisa datang dari samping.


Dan benar saja, dari kedua sisi kanan dan kiri mereka nampak bayangan hitam sedang mengejar mereka. Dewi berteriak kencang, entah ada aura magis apa dari teriakannya itu kedua kuda itu semakin kencang melaju dengan pesatnya berlari kearah gumpalan kabut itu.


Semakin lama, semakin menipis kabut itu, mereka hampir saja kehilangan waktu mereka harus buru-buru memasuki kabut itu sebelum benar-benar menghilang.


"Dewi, mereka semakin dekat dengan kita!" Teriak Maura, dia harus menyeimbangi suaranya karena suara deru angin semakin kencang dan memekakkan telinga.


Saat ini mereka benar-benar dalam situasi genting, saat mereka harus menghindari para makhluk jahat itu, mereka juga harus memacu waktu karena kabut memulai menipis.


Kedua bayangan itu ternyata mengincar Maurice yang duduk dibelakang Kevin, Maura dan Dewi Srikandi benar-benar tidak menyangka sama sekali.


Mereka pikir kedua makhluk bayangan hitam itu mengincarnya, atau sekedar menghalangi mereka pergi. Ternyata tujuan mereka tetap sama, yaitu Maurice.


Maura ketakutan ternyata sahabatnya tidak akan aman dimana pun dia berada bahaya akan selalu mengintainya.


Dewi Srikandi bergerak cepat, dia menarik selendangnya lalu menghempaskan kearah kuda didepannya. Tentu saja kuda itu kaget dan semakin kencang larinya, dalam hitungan detik mereka berdua bersama kuda itu masuk kedalam kabut.


Dan pas saat itu juga kabut itu menghilang bersama kedua temannya itu, tinggallah Dewi bersama Maura masih melaju kencang membelah hutan itu.


Dan tentu saja kedua makhluk itu murka karena kehilangan targetnya, dan kini mereka berdua jadi target selanjutnya.


*