
"Maurice sayang... Mama kangen, Nak" terdengar merdu suara itu.
Maurice tersentak mendengar perkataan itu , sangat jelas dan nyata sekali. Saat matanya terbuka, dia melihat mama dan papanya menatap haru penuh cinta kepadanya.
Dia bangun dari posisinya, dia duduk menatap tidak percaya apa yang dia lihat didepannya itu.
"Mama, Papa..." ucapnya pelan.
"Kok bengong, gak kangen yah sama kita?" gurau papanya itu, ciri khasnya yang suka bercanda itu.
Mendengar itu, dia yakin bahwa ini bukanlah mimpi. Dia langsung memeluk keduanya sambil menangis haru.
"Mama, Papa... Maurice kangen, pengen peluk kayak gini lagi sama kalian. Kenapa kalian pergi begitu cepat? Kalian tega sama aku?!" teriaknya dalam tangis itu.
Ketiganya masih saling peluk, mencurahkan kasih sayang yang sudah lama dirindukan. Sedangkan ditempat tak jauh dari sana, beberapa pasang mata sedang memperhatikan mereka.
"Maura, terus terang aku masih tak mengerti. Ini kita di dunia nyata atau dunia mimpi? Tapi kok rasanya nyata sekali yah?!" Tanya Kevin penasaran sambil melihat Maurice bersama keluarganya.
"Anggap saja ini dunia mimpi, Vin. Kalau aku bilang ini nyata, bisa gila kamu stress mikirnya. Ahaha!" ujar Maura tergelak.
Kevin menatapnya dengan kesal, tapi ada satu hal yang mengganjalnya. Ini ada anak kecil sedari tadi ngikutin mereka terus, siapa yah?
Terus terang saja, dia merasa risih ditambah lagi beberapa pengawal dari kerajaan bayangan yang ikut menjaga mereka. Tidak pernah pergi jauh meninggalkan mereka.
Melihat itu, Maura mengerti perasaan Kevin. Dia meminta para pengawal itu pergi saja atau paling tidak memberi jarak kepada mereka.
"Maaf Nona, kami tak bisa. Maharaja dan sang Dewi meminta kami langsung untuk menjaga kalian.
Kalian tidak bisa ditinggal begitu saja, kita tidak tahu bahaya datang darimana saja." Jelasnya.
Maura tahu, perintah Maharaja adalah perintah mutlak untuk mereka. Jadi tidak akan pernah dilanggar, Maura menghela napas dengan beratnya.
"Sudah, gak apa Vin. Malah ini lebih nyaman, karena bersama mereka kita akan lebih aman. Percayalah" ujar Maura menyakinkan nya.
Lalu dia memperhatikan tingkah Kevin yang merasa tak nyaman ditatap gadis kecil itu, dia tersenyum geli.
"Ceylin, kenalin ini temannya kakak. Namanya Kevin" kata Maura mengenalkannya kepada Kevin.
Kevin pun gelagapan saat Maura mendadak mengenalkannya kepada adik kecil itu.
Gadis kecil itu langsung meraih tangan Kevin dan langsung menjabat tangannya. Seketika terjadi perubahan diwajah gadis kecil itu.
Wajahnya imut berseri, terlihat senyuman manis dan ceria itu.
Sangat berbeda sekali dengan awal dia melihatnya, tadi penampakannya seperti hantu kecil, dan sekarang seperti gadis manis dan imut.
"Kamu kenapa disini, orang tuamu mana?" Tanya Kevin, dia heran saja ada anak kecil dihutan gelap ini.
Lalu gadis itu menunjuk orang tua Maurice, Kevin tidak mengerti maksud anak itu. Dia heran kenapa bocah ini menunjuk orang tua Maurice?
"Kamu mengenal mereka, orang tuamu yah?" Tebak Kevin ngasal.
Siapa tahu tebakan asalnya dapat respon tal terduga dari gadis kecil ini, dia mengangguk cepat.
"Iya..." jawabnya singkat.
Bahkan gadis kecil ini bersuara, suara imut khas anak-anak pada umumnya.
"Kenapa, itu 'kan orang tuanya temanku. Kau lihat gadis cantik itu, dia teman yang kumaksud" sahut Kevin.
"Iya, aku tahu kok." Jawab gadis kecil itu.
"Kamu mengenal Maurice? Apa kalian kakak adik, aku baru tahu kalau dia punya adik perempuan? Tapi kemana saja dia, apa ikut meninggal juga seperti kedua orangtuanya" gumam Kevin.
"Gak Kak, tidak seperti itu. Aku kenal dengan Kak Maurice karena dia pernah tersesat disini" ucap Ceylin.
"O ya, aku baru tahu..." ujar Kevin pelan.
Kalau benar Maurice pernah kesini, berarti ini dunia nyata dong! Terus mereka-mereka ini siapa? Apa orang tua Maurice hidup lagi atau memang belum meninggal? pikirnya.
Begitu banyak pertanyaan di otaknya, dia tidak mengerti sama sekali. Sebenarnya mereka ini siapa? Dimana dia sekarang ini?
......................
Bersambung