
Dengan perasaan campur aduk Ardian menggendong Maura kedalam UGD di klinik tersebut.
"Cobalah bertahan Maura, aku tahu kamu kuat" kata Ardian.
Sedangkan Melanie sudah bisa ditenangkan sedikit oleh dr. Jeffrey. Dia dibawa kedalam ruangannya.
Dengan sabar dan telaten dr. Jeffrey merawatnya, sesekali dia menyeka air mata Melanie yang masih mengalir itu.
"Apa kekuranganku Jeff, kenapa dia tak menyukaiku?" Tanyanya menatap dr. Jeffrey.
"Apa aku kurang cantik, kurang pintar, atau kurang sexy?" katanya nampak sedih sekali.
"Kamu cantik sekali Mel, ga ada kurang satupun didalam dirimu itu. Tapi kamu juga gak bisa maksa orang agar bisa menyukai mu." Kata dr. Jeffrey masih fokus dengan luka-luka Melanie itu.
Melanie menatap lekat sahabatnya itu, sahabat semenjak dia masih kecil sampai sekarang.
Tak sekalipun Melanie melihat atau merasa sahabatnya itu memperlakukannya dengan kasar, dia selalu bicara lembut dan memberinya perhatian.
"Bagaimana kamu bisa bicara begitu Jeff? sedangkan kamu tak pernah merasa jatuh cinta," katanya dengan nada datar.
"Kata siapa aku tak pernah jatuh cinta? Aku juga manusia loh, punya perasaan dan hati.
Kamu tahu Mel, saat kita masih kecil waktu itu kamu masih TK dan aku sudah SD, umur kita beda lima tahun tapi badanmu lebih besar daripada aku. Haha.." kata dr. Jeffrey.
Dia berusaha mengalihkan pembicaraan, dia tak ingin membahas soal perasaan dan hati. Dia takut, ia tak bisa menahan dirinya. Dengan menjaga persahabatan mereka selama ini, sudah lebih dari cukup untuknya.
Dia merasa tahu diri, Melanie berasal dari keluarga kaya yang mempunyai banyak bisnis besar.
Sedangkan dia hanya dari kalangan menengah, dari keluarga biasa. Apa mungkin keluarga Melanie menerimanya?
Sedangkan Melanie sudah terang-terangan menunjukan ketertarikannya dengan pria lain, dan orang itu juga sahabatnya.
*
Kedatangan Ardian menemui dr. Jeffrey agar bisa membujuk Melanie untuk menjauh darinya.
Dia tidak ingin melakukan kekerasan, meskipun dia tahu sikap Melanie sudah melewati batas.
Jika tak memikirkan Jeffrey, dokter itu. Mungkin dia sudah menghukum Melanie karena sudah melanggar hukum alam dengan mengirimkan jin pelet waktu itu.
Apalagi Ardian tahu, Jeffrey juga sangat mencintai Melanie sejak masih sekolah.
Ardian bertemu Jeffrey saat dia terluka, dr. Jeffrey lah yang menolong juga merawatnya.
Saat itu, dia mulai dekat dengannya dan menjadi sahabat sampai saat ini.
Diluar, Ardian masih setia menunggu Maura ditangani oleh beberapa dokter di sana. Sesekali dia melirik jam ditangannya.
Dia nampak gelisah sekali, mondar-mandir didepan pintu.
"Lama sekali, apa yang mereka lakukan? Aku pikir Maura tidak terluka banyak, hanya pingsan saja" katanya khawatir.
Beberapa saat kemudian, perawat dan dokter keluar dari ruang itu dan membawa Maura ke ruangan lain.
Ardian mengikuti mereka dengan perasaan cemas, dia melihat kepala Maura diperban dan dia masih belum sadar.
"Untuk sementara, dia dirawat dulu disini. Setelah dia siuman, dan diperiksa lagi tidak ada indikasi luka berat, maka dia boleh pulang" kata dokter yang merawatnya.
"Baik dok, terima kasih" kata Ardian tersenyum lega.
"Pacarnya tampan dan baik hati, beruntung sekali wanita itu"
"Aku tidak heran teman dr. Jeffrey lebih memilih wanita itu dibandingkan nona Melanie, dia sangat kasar.
Lihatlah dia hampir membunuh orang"
Terdengar suara orang-orang terdiri dari beberapa perawat dan pegawai di klinik tersebut membicarakan mereka.
Ardian hanya menghela napasnya dengan berat, dia tak ambil pusing dengan pembicaraan mereka.
Dia menatap lekat Maura yang masih terbaring di sana, Ardian menarik kursi di samping bangsal itu lalu duduk didepan Maura.
Saat mereka terjatuh dan tak sengaja berciuman, meskipun waktu itu dia memakai masker, dia masih bisa merasakannya.
Bibir lembut dengan napas yang hangat, ditambah aroma tubuh Maura yang wangi, kejadian itu susah dilupakan.
"Ah, ****! Kenapa aku malah membayangkannya" gumamnya bersemu merah.
"Membayangkan apa?" tanya seseorang didepannya.
"Membayangkan bibirmu" jawabnya spontan.
"Apa?!" jawab Maura terkejut.
Ardian tak kalah terkejutnya dia, saat menyadari yang bertanya tadi adalah Maura.
Mana dia spontan banget jawabnya, jujur pula. Dia tak dapat menyembunyikan wajahnya yang semakin memerah karena saking malunya dia.
"Ja-jangan berpikir aneh-aneh yah kamu, aku tak memikirkan bibirmu!" jawab Ardian mencoba mempertahankan harga dirinya itu.
" Yee.. Siapa yang berpikir aneh, justru kamu yang aneh tahu." Maura bersikap cuek.
Padahal hatinya sempat berdebar-debar saat melihat Ardian duduk diam memperhatikan dirinya begitu dekat.
Apalagi saat Ardian bergumam memikirkan bibirnya, apa dia masih ingat kejadian waktu itu? pikir Maura.
Tanpa sadar dia senyum-senyum sendiri, Ardian juga tersenyum melihat tingkah Maura yang aneh itu menurutnya.
"Mau minum?" dia menawari Maura dengan minuman air mineral dimeja nakas itu.
"Boleh, aku haus banget" kata Maura sambil menelan salivanya.
"Udah gak usah sok manja denganku," kata Ardian dengan ketus.
"Siapa yang sok manja,?! orang kamu juga yang duluan sok perhatian" sungut Maura.
Diluar ruangan itu, Melanie menatap mereka dengan pandangan sedih.
Tiba-tiba tatapan itu berubah tajam, dia menahan emosinya lalu berlalu pergi.
"Aku harus menemui jin pelet itu, apa yang dia lakukan? Kenapa peletnya tak berhasil?
Dia malah sedang bermesraan dengan wanita lain, dan pandangan padaku tak berubah.
Ah! Jin Sia*lan, dimana kamu?!" teriak Melanie diluar klinik tersebut.
"Hachiiww..!" Rosario bersin-bersin.
"Kenapa kamu,masuk angin?" tanya Joanna.
"Mana ada Jin masuk angin" timbal Julian.
"Oh.. kalau begitu ada yang ngomongin tuh" sahut Joanna.
"Emang berlaku buat Jin juga yah?" tanya Julian berlagak polos.
Joanna kesal dengannya, dia berkali-kali memukul Julian dengan buku ditangannya.
Saat ini mereka ditugaskan oleh Ardian untuk menjaga dan melatih Rosario agar bisa mengendalikan kekuatannya.
Sekaligus bersikap dan membiasakan diri dengan wujud manusia itu.
Rosario sangat polos sekali, seperti anak kec yang baru belajar, setiap tingkah atau sesuatu didepannya pasti dia pelajari.
Saat dia melihat tingkah mereka berdua, dia juga catat. Dengan muka seriusnya dia memperhatikan mereka, dia pikir itu bagian dari pelajarannya.
"Hei, jangan catat itu! ini bukan contoh yang baik, dengar Rosario?!" teriak Julian sambil menghindari Joanna.
......................
Bersambung