
Kevin memperhatikan Maura, sepertinya temannya ini menyimpan banyak rahasia dari mereka. Semenjak tadi malam, kelakuannya sangat berbeda.
Dia menghampiri Maura yang sedang bercengkrama dengan salah satu pengawal di sana.
"Maura, bisa ngomong berdua saja denganku?" Tanyanya kepada Maura.
Maura menghampirinya, dia meminta Ceylin bermain ditempat lain. Ada pengawal lain yang menjaganya, sedangkan pengawal lainnya masih bersama mereka.
"Maura, aku rasa ini bukanlah dunia nyata. Tapi jika ini mimpi, tapi semuanya begitu aneh sekali.
Dari kedatangan orang tua Maurice, gadis kecil itu, ular dan lorong itu. Apa maksud dari semua ini?" Tanyanya penasaran.
Maura menghela nafasnya dengan berat, dia tahu cepat atau lambat kejadian ini akan datang juga.
Sekarang dia harus menceritakan semuanya, dari awalnya dia mengalami kejadian aneh dimimpinya, hingga pertemuannya dengan dewi srikandi sampai perjalanan dia di hutan ini.
Tak satupun dia lewatkan dari cerita ini, sampai reinkarnasi dan balas dendam itu. Dia juga berusaha menyakinkan Kevin agar bisa membantunya kelak.
"Kevin, aku mohon percayalah. Aku juga serius ini!" Ujar Maura kepada Kevin.
"Kau berharap aku percaya dengan kata-katamu yang aneh itu?! Gila yah kamu!
Apa tadi, reinkarnasi? Penyihir? Kerajaan bayangan? Raja dan Ratu?
Ah, aku pikir ini memang mimpi. Sudahlah, ini pasti mimpi mending aku tiduran saja berharap nanti bisa bangun di kamarku" ujar kevin langsung rebahan di atas rumput-rumput dihutan itu.
"Lihat, rumput diatas tanah ini begitu empuk dan lembut. Aku yakin ini kasur dan selimutku" ujarnya sambil berusaha memenjamkan matanya.
Maura dan Ceylin tersenyum geli memperhatikan tingkah Kevin yang kekanak-kanakan itu.
"Tidur saja terus di sana sampai besok, aku yakin kamu juga masih ada disini" ujar Maura masih terkekeh melihat Kevin.
Terlihat ada Maurice dan orang tuanya menghampiri mereka. Maurice juga ikut tertawa geli melihat tingkah Kevin.
"Kamu ngapain sih Vin? Sudah bangun, nanti bajumu kotor semua" kata Maurice seraya membantu Kevin bangun dari tidurannya tadi.
"Tapi-" dia belum sempat berbicara sudah dipotong pembicaraannya oleh Maurice.
"Orang tuaku sudah menjelaskan semuanya Kevin, dan ini bukan mimpi. Aku rasa kamu juga merasakan apa yang aku rasakan.
Kalau semua ini nyata, aku tahu ini aneh sekali tapi cobalah berpikir lagi tentang kejadian yang kita alami akhir-akhir ini. Aneh 'kan?" tanyanya lagi.
Kevin hanya diam saja, kali ini orang tua Maurice yang maju menghadap kearahnya. Kevin terkejut lalu memundurkan langkahnya sedikit, bukan takut tapi lebih sedikit memberi ruang diantara mereka.
"Jadi ini yang namanya Kevin? Ganteng ternyata Pah?" Kata mamanya Maurice.
Kevin mendengar itu tersenyum malu, dia berusaha bersikap lebih sopan lagi didepan mereka.
"Iya Om, Tante... Saya Kevin temannya Maurice" katanya memperkenalkan diri.
"Maurice doang nih?" goda Maura.
Membuat Kevin dan Maurice tersenyum malu, mereka tahu Maura sedang menggoda mereka.
"Om dan Tante sudah tahu tentangmu dari Maurice, selama ini dia selalu cerita tentang kalian berdua. Tentu kalau dengan Maura kami sudah tahu, tapi kami benar-benar belum tau dan belum mengenalmu dengan baik.
Maafkan kami belum sempat berkenalan denganmu, dan terima kasih sudah menjaganya dengan baik" kata om Jhon.
"Justru saya yang minta maaf Om, saya seharusnya mengenalkan diri lebih dulu. Cuma dulu anak Om sedikit galak orangnya, susah didekati" Kevin cengengesan sendiri.
"O ya, wah Papa gak tau loh ternyata anak Papa benar-benar mirip kayak Mama dulu" ujar om Jhon.
"Maksud Papa sih, emang Mama dulu kayak apa?" Tanya Maurice sambil tersenyum malu.
"Mamamu dulu jual mahal, dikejar dia lari, giliran ditinggal dia yang ngejar-ngejar Papa. Haha!" om Jhon tergelak menceritakan kisahnya dulu dengan tante Anne.
"Ih Papa, gak gitu juga ah!" tante Anne nampak malu saat digoda om Jhon.
Sampai cerita tentang adiknya mama Maurice pun mereka ceritakan, hingga mereka harus terjebak di hutan ini selamanya. Mereka hanya bersyukur saja karena dapat bantuan dari Maharaja Balaputradewa dengan putri Kenanga Ungu.
"Jadi, ini semuanya nyata? Dan Om, Tante..." Kevin menghentikan kata-katanya.
Dia menundukkan kepalanya dan terlihat wajah sedih itu, Maurice dan Maura menghampirinya. Mereka semuanya menangis dalam diam.
"Maafkan kami tak sempat menolong Om dan Tante, kami harap bisa membalaskan dendam ini dan membantu Om dan Tante kembali ke surga" ujar Maura dalam isak tangisnya.
"Tidak, Nak... Justru Om dan Tante yang berterima kasih kepadamu dan keluargamu, karena selama ini telah menjaga dan merawat Maurce. Terima kasih yah..." om Jhon dan tante Anne memeluk Maura dan Maurice.
"Maurice itu bukan sekedar teman bagiku, dia saudaraku...huhu!" Maura semakin kencang menangisnya.
Dia sudah lama merindukan pelukan seperti ini, dia benar-benar merindukan mamanya. Tante Anne mengerti dengan kondisi Maura, dia memeluknya lebih erat dengan hangatnya.
"Panggil aku Mama..." bisiknya.
"Mamaaa... Huhu.." kata sambil menangis.
Kevin dan Maurice menatapnya dengan haru, sedangkan ditempat lain ada sosok yang sedang memperhatikan mereka dari kejauhan.
Ceylin datang bersama beberapa pengawal bersamanya diiringi Dewi Srikandi, tentu saja itu mengejutkan Kevin dan Maurice karena dia begitu mirip dengan Maura.
Bisa dibilang mereka seperti kembar saking miripnya, hanya penampilan saja yang membedakan mereka. Mereka hanya agak asing saja dengan penampilan Dewi Srikandi, karena mereka tidak mengenal pakaian kerajaan jaman dulu dari negara asal Maura.
"Halo semuanya, senang bisa bertemu dengan kalian langsung. Aku Putri Dadar Bulan biasanya Maura memanggilku Dewi Srikandi" ujarnya ramah menyapa mereka berdua.
Kevin dan Maurice sempat terdiam sebentar karena kagum dengan kecantikan dan keanggunannya, Dewi nampak begitu bersahaja didepan Maura sangat berbeda sekali dengan Maura yang cuek dan sedikit galak itu.
Mereka menatap Maura, sedikit membandingkannya dengan Dewi Srikandi. Benar-benar sangat berbeda sekali penampilan dan kelakuannya.
"Apa?! Hem..?!" ujar Maura, sadar jika teman-temannya membandingkannya.
Mereka hanya tersenyum geli, Maura sedikit memanyunkan mulutnya. Dia pura-pura marah kepada mereka.
"Baiklah, sepertinya kalian harus cepat kembali. Ini bukan tempat yang harus kalian tinggali lama" ujar Dewi sedikit gelisah.
"Tapi aku belum puas bercerita dengan orang tuaku, aku sudah lama memendam rindu kepada mereka" kata Maurice enggan pergi meninggalkan orang tuanya.
"Lebih baik kau berdoa banyak-banyak untuk kedua orang tuamu, agar Tuhan membukakan jalan yang cepat agar mereka segera pergi ke surga" jawab Dewi Srikandi.
"Tapi-" Maurice masih ingin memberi pernyataan, lalu dicegah papanya.
"Betul apa yang dikatakan Dewi, Nak... Cepat pulanglah, ini bukan tempat kalian. Cepatlah!" Ujar papanya.
Dengan berat hati Maurice meninggalkan mereka, dia berpamitan kepada orang tuanya sambil memeluk mereka.
Kevin dan Maura juga berpamitan dengan mereka, mereka meninggalkan orang tua Maurice dan Ceylin bersama para pengawal itu.
"Naiklah ke kuda ini, tenang saja. Dia baik dan ramah, yang penting kalian bersikap baik saja. Karena dia tahu isi hati orang yang menungganginya." Ujar Dewi Srikandi.
Didepan mereka sudah ada dua kuda unicorn, kuda putih bersayap lebar berbulu halus dan lembut. Kedua kuda itu berdiri dengan tegak penuh wibawa, khas kuda bangsawan.
Dewi membantu Kevin dan Maurice duduk di salah satu kuda itu, mereka berhati-hati naik ke kuda itu.
"Tenang saja, duduk saja dengan tenang. Mereka akan membawa kita pulang dari sini" ujar Dewi lagi.
Sedangkan Maura duduk di kuda satunya lagi bersama Dewi, kuda mereka melaju kencang melesat membelah hutan pohon pinus. Didepan mereka sudah ada kabut putih tebal sedang menghadang mereka, Maura tahu itu pintu mereka untuk pulang.
Mereka tidak menyadari, sesuatu melesat cepat menyusul mereka.
......................
Bersambung