
Mereka semuanya dikumpulkan disebuah aula besar, didepan mereka ada singgasana besar berdiri tegak memiliki aura penuh kekuatan besar.
Siapapun yang akan duduk diatas tahta itu pasti akan memiliki aura kuat, dan akan disegani banyak makhluk lainnya. Karena singgasana dan tahta itu terbentuk dari pancaran aura sang raja itu sendiri.
"Untuk apa kita dikumpulkan disini? Apakah kita akan dikembalikan ke dunia manusia lagi? Tapi kan kita belum menyelesaikan tugas kita disini, setidaknya kita harus membawa Gerald pulang" ujar Julian penuh tanda tanya.
"Kau benar, aku yakin dia tidak akan pernah kembali sebelum kucing itu ditemukan" jawab Joanna.
"Lebih tepatnya diselamatkan, entah mengapa aku merasa Maura akan terus akan berada disini sebelum Gerald diselamatkan. Semoga kucing itu baik-baik saja" sahut Ardian.
Saat ini mereka duduk bersila didepan singgasana kosong itu sambil menunggu tuannya datang duduk di pangkuannya, Maura menatap singgasana itu dengan pandangan kosong.
Pikiran terus ke Gerald, entah mengapa dia merasa bahwa kata-kata Gerald sebelumnya adalah kata-katanya yang terakhir, kucing kesayangannya itu berpamitan kepadanya.
"Tidak, itu tidak mungkin" gumamnya.
Sedangkan Kevin dan Maurice masih menikmati pemandangan indah didepan matanya, bagaimana tidak istana itu memiliki sejuta pesona indah bagi mata manusia biasa bagi mereka.
Seluruh bangunan istana didominasi warna emas kemerahan, kristal-kristal menghiasi langit-langit bangunan itu. Ornamen yang khas dibuat khusus yang takkan pernah mereka lihat di dunia nyata.
"Wah, aku tak menyangka kepergian kita ke sini akan melihat semua ini. Aku yakin ini tidak akan pernah kita temukan dimanapun saat kita kembali lagi" ujar Kevin sambil memandangi semua yang ada didalam aula itu.
"Huss! Kamu pikir kita ini sedang tur apa? Aku sekarang bingung bagaimana caranya kita bisa pulang kembali" ujar Maurice, setidaknya dia masih bisa berpikir realistis.
"Apa yang kamu bingung kan, kan kita sekarang bersama mereka, kita pasti akan selamat" jawab Kevin optimis sambil melihat Maura dan kawan-kawannya.
"Tapi aku kasihan padanya, dia pasti sedih sekali" gumam Maurice melihat kearah Maura dengan pandangan iba.
Bagaimanapun juga dia tahu betul kalau Maura begitu menyayangi kucing itu, mereka memiliki keterikatan batin yang kuat. Bagi mereka yang lain, Gerald hanya kucing kecil yang galak, dan juga berbahaya.
Tapi tidak bagi Maura, dia kucing lucu menggemaskan, kucing kesayangannya. Setelah itu datang rombongan Raja memasuki aula istana itu.
Banyak yang mengiringi Raja memasuki aula itu, dari para dayang, punggawa dan abdi dalemnya. Tentu juga para prajuritnya, mereka menjaga diluar aula dan beberapa didalam aula.
Maharaja Balaputradewa duduk diatas singgasananya itu penuh wibawa, disampingnya ada saudarinya yaitu Ratu Kenanga Ungu.
"Maaf membuat kalian menunggu lama, aku harap kalian sudah cukup istirahatnya dan bisa menikmati hidangan kami tadi dengan nyaman.
Aku tidak akan lama, karena kita tidak memiliki waktu banyak lagi. Kalian harus menemukan teman kalian, dan kembali ke dunia kalian.
Karena akan sangat berbahaya jika kalian lama disini, aku tahu kalian adalah manusia terpilih dan memiliki kemampuan hebat tetapi tetap saja kalian bukan apa-apa jika berada disini.
Sama seperti mereka, jika berada di dunia manusia tidak terlalu memiliki kekuatan besar, maka dari itu mereka sering membuat persekutuan dengan manusia-manusia laknat untuk membuat perjanjian agar mereka bisa lebih kuat dan berkuasa di dunia manusia itu.
Tentu saja dengan imbalan yang diinginkan manusia itu sebagai balasannya, tapi tetap saja manusia tetap akan dirugikan dalam hal apapun. Sehebat apapun makhluk tetap tidak akan bisa mengalahkan kekuasaan sang maha pencipta" ujar sang Raja.
Mereka semua mendengarkan dengan seksama pernyataannya, membuat mereka sadar apa yang mereka miliki tidak akan pernah akan kekal abadi selamanya milik mereka.
Duarr!!
"Gawat, sepertinya mereka mulai menyerang kembali. Apakah mereka tahu keberadaan kami semua ada disini?" gumam Ardian.
"Tenanglah, biarkan prajuritku yang melihat kesana apa yang terjadi di danau itu" ucap sang Raja.
"Gerald, itu pasti Gerald!" teriak Maura langsung berlari keluar menyusul para prajurit itu.
"Maura!" teriak mereka ikut menyusulnya.
"Sepertinya ini adalah waktunya, Adinda" ucap Ratu Kenanga Ungu.
"Betul, Ratu. Mereka harus bersiap dari segalanya" ujar Raja Balaputradewa.
Ardian dan kawan-kawan mengejar Maura yang berlari begitu cepat bersama para prajurit bayangan, mereka melihat sebagian pohon Pinus menghitam seperti ada wabah menyerang.
Dari kejauhan mereka sudah melihat kobaran api besar dari arah danau, terdengar juga suara teriakan dan suara pertarungan yang sengit antara prajurit bayangan dengan para prajurit iblis anak buah Arion Gaharu.
"Gerald!" teriak Maura histeris.
Bagaimana tidak, tubuh Gerald menggantung ditangan Camelia diatas danau itu. Bagaimana bisa, bukankah mereka tadi sedang terbakar oleh tubuh Gerald?
Camelia sudah berubah bentuk menjadi jin wanita yang mengerikan, wajahnya memerah dengan mata melotot menjulurkan lidahnya dengan panjang, rambutnya kusut masai dengan kuku-kuku panjang di jari-jari tangannya.
Terlihat beberapa prajurit bayangan kewalahan menghadapi prajurit iblis itu, bagaimana tidak prajurit iblis itu tak pernah habis-habisnya mereka terus berdatangan.
Sedangkan diujung danau itu ditengah taman bunga kematian itu terlihat Arion Gaharu berdiri dengan tongkat saktinya mengawasi anak buahnya berusaha menguasai hutan Pinus itu.
Tapi usaha mereka dihalangi oleh para prajurit bayangan, sedangkan ular penjaga, Zea sudah berubah bentuk seperti naga mengeluarkan bola api dari mulutnya menghujami hutan itu dengan bola-bola api itu.
"Disini sangat kacau sekali, kita harus melaporkan segera kepada Baginda Raja" ujar salah seorang prajurit itu.
"Baiklah, laporkan kepada Baginda bahwa perang sudah dimulai, Zea sudah berkhianat" kata prajurit satunya lagi.
"Kalian tetap disini, jangan coba-coba ikut menyerang. Karena itu sangat berbahaya" ujarnya kepada para kawanan.
Sedangkan Ardian mencoba menenangkan Maura yang terus histeris melihat Gerald, dia tidak terima melihatnya seperti itu.
Entah apa yang terjadi, tiba-tiba tubuh Gerald yang kaku itu bergerak menggeliat berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Camelia.
Graaumm!!
Dia mengaum kencang seketika dia berubah menjadi hewan mengerikan, tubuhnya tak sama sekali seperti biasanya. Tubuhnya berubah seperti singa memiliki sayap lebar, dia terbang mengelilingi hutan dan meniupkan angin kencang lewat kepakan sayapnya.
Dia memadamkan api dari ulah Zea, kini dia dan ular licik itu bergulat dalam tempuran hebat. Maura dan lainnya terkejut melihat apa yang terjadi, siapa sangka mukjizat itu ada.
......................
Bersambung