RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Keingintahuan Ardian


"Siapa kau, siapa yang memberimu hak memanggilku Kakak?!" bentak Angga sedikit emosi.


"Ma-maafkan aku, aku tak bermaksud lancang kepadamu. Aku hanya ingin memberitahumu, bahwa tidak terjadi apapun diantara kami berdua." Kata Ardian.


Niat hati ingin menyakitkannya, malah mengudang arti lain bagi Angga, semakin curiga lah dia pada Ardian.


"Apa sebelumnya kalian ada apa-apa?!" hardik Angga.


"Kakak, apa-apaan sih?! Sudah, ah... tidak terjadi apapun diantara kami. Lukaku ini dapat dari orang gila pas aku berobat di klinik tadi.


Dan dia ini yang menolongku, sampai mau mengantarkan ku pulang" ujar Maura.


Tiba-tiba bi Marni keluar saat mendengar keributan diluar.


"Ada apa ini, kok ribut-ribut diluar? Ayo masuk dulu, tidak enak mengganggu ketenangan tetangga" kata bi Marni masih tak sadar didepan ada Ardian.


"Ini Bi, si Maura pulang-pulang badan penuh luka.Mana pulangnya dianterin orang lagi," sungut Angga.


"Maura?! Ya ampun, Bibi gak sadar kamu pulang dalam keadaan begi-" perkataannya terhenti saat melihat Ardian di sana.


Matanya mendelik kearah Ardian, dia terlihat marah saat keponakannya berada di sana. Dia tidak ingin misinya ketahuan.


"Aku gak kenapa-kenapa kok Bi, lagian ini juga luka-lukanya tidak parah kok" ujar Maura sambil tersenyum menyakinkan mereka.


"Ya udah kalau begitu, kamu masuk dulu. Bibi sudah menyiapkan makan siangnya.


Kamu pagi tadi makannya sedikit sekali, cepatlah nanti keburu dingin" ujar bi Marni seraya menarik tangan Maura dan mendorong Angga dan Dhania masuk kedalam.


"Tapi Bi, dia-" Maura tak sempat berbicara sudah didorong masuk sama bi Marni.


"Kamu kenapa ada disini? Kalau ketahuan bagaimana?" Kata bi Marni setengah berbisik pada Ardian.


"Aku hanya ingin mengantarnya pulang Bi, bukankah itu bagian dari tugasku juga" jawab Ardian sambil berbisik pula.


"Sudah, nanti Bibi telpon lagi. Kamu nanti saja menjelaskannya, sekarang lebih baik kamu pulang sebelum yang lain curiga" katanya seraya menutup pintu apartemen itu.


"Ah, sia*lan!" geramnya, dia pun berlalu pergi.


Saat dia kembali masuk kedalam lift tadi, dia bertemu lagi dengan pria bersama makhluk bayangannya tadi.


Kali ini pria itu sendirian, kekasih wanitanya sudah tak terlihat. Ardian iseng nanya ke pria itu,


"Bro, turun sendiri... pacarnya tadi kemana?" tanya Ardian dengan gayanya yang sok cool itu.


"Apa urusanmu menanyakan hal itu?!" jawab pria itu ketus.


"Santai bro, aku hanya ingin bersikap ramah" ujarnya seraya mengedipkan matanya kearah makhluk bayangan yang masih menempel pada pria itu.


Makhluk itu semakin merapatkan badannya pada pria itu, dia terlihat ketakutan melihat Ardian.


Pintu lift terbuka, mereka sudah sampai di lobby utama apartemen tersebut, pria itu tadi berjalan agak tergesa-gesa keluar.


Ardian merasa ada yang ditutupi oleh pria itu, sedangkan makhluk tadi masih menempel padanya.


"Apa hanya perasaanku saja, bahwa makhluk tadi bawaannya? Atau sengaja dikirimkan kepadanya?


Ah, sudahlah... biarkan saja, itu bukan urusanku" ucap Ardian melangkahkan kakinya menuju parkiran mobilnya.


Tapi jujur saja, dia masih kepikiran dengan pria tadi bersama makhluk tadi.


"Tidak mungkin makhluk tadi iseng saja, aku jelas-jelas melihatnya di samping pria itu.


Apakah dia akan baik-baik saja? Bagaimana dengan pacar wanitanya tadi?" gumamnya terus.


Tanpa sadar mobilnya melaju kearah lain.


......................


Bersambung