RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Jiwa Yang Kosong


Kamaru membawa Dewi Srikandi dan Maura naik ke sebuah perahu kecil, dia mendayung perahu itu ketengah danau.


Dewi Srikandi dan Maura nampak menikmati suasana ditengah danau itu.


"Tempat ini begitu damai dan tentram, kau akan aman tinggal disini" ujar Dewi Srikandi.


"Betul itu, lihatlah di sekelilingmu semuanya begitu indah. Aku pun pasti betah tinggal disini" sahut Maura juga.


Kamaru begitu tenang dengan senyuman manisnya, ditengah danau itu ada pintu berbentuk gapura. Ditengahnya ada kabut bercahaya putih menyilaukan.


"Kalian akan pulang lewat jalan itu, dan sebelum itu ambillah ini sebagai cinderamata dariku" ujar Kamaru sambil memetik bunga teratai untuk Maura.


"Untukku tak ada?" ujar Dewi Srikandi sambil tersenyum sedikit merajuk.


"Bukankah kau juga bagian dari Maura? Itu berarti apa yang Maura miliki, juga milikmu begitupun sebaliknya" ujar Kamaru tersenyum penuh arti.


Sesampainya di depan pintu itu, Kamaru menurunkan mereka. Dia mempersilakan mereka masuk dan pergi pulang.


"Pulanglah, pasti semua orang mengkhawatirkan kalian. Dan tunggu aku nanti yah, Maura" ujar Kamaru.


Mereka memasuki pintu gerbang itu, semuanya serba putih menyilaukan dan membuat mata Maura perih dan dia beberapa kali mengucek matanya.


Saat ketiga kalinya dia mengucek mata dan membuka matanya kembali dia sudah berada ditaman di rumah sakit, dia merasa heran tapi itu nyata.


"Kenapa aku muncul disini? Dewi?" tanya Maura.


"Iya, aku kembali ketubuhmu. Maura... Aku lelah" ujarnya Dewi Srikandi.


"Baiklah, istirahatlah. Kamu pasti sangat lelah, kamu sudah banyak mengeluarkan tenaga tadi.


Aku akan menyelusuri rumah sakit ini, aku merasa ada sesuatu yang aneh disini. Entah mengapa aku merasa orang-orang disini tidak menyadari kehadiranku" ujarnya.


Dia melewati setiap jalan setapak yang ada disana, dia berusaha menyapa orang-orang itu tapi tak ada yang meresponnya.


Tibalah dia didalam gedung, dia melihat kedua temannya yaitu Kevin dan Maurice ditemani keluarga Kevin dan ada bi Marni.


Maura lega mereka sehat dan kembali dengan keadaan baik-baik saja, dia menghampiri mereka dengan perasaan senang. Tiba-tiba dia melihat seperti ada bayangan hitam yang mengawasi kedua sahabatnya itu.


Saat Maura mendekat bayangan itu menghilang, entah kebetulan atau tidak mereka serentak menoleh kearahnya dan tersenyum sumringah melihatnya.


"Maura!" sapa mereka semua, tersenyum menyambutnya.


"Kevin, Maurice... Kalian berdua sampai dalam keadaan selamat, syukurlah" ujar Maura.


"Iya, kami terdampar di rumah sakit ini. Ada beberapa keluarga pasien yang menemukan kami pingsan di taman itu" kata Kevin menjelaskan kronologi mereka sampai di sana.


"Apa orang tuamu tahu tentang semuanya?" tanya Maura.


"Tentu saja tidak, jika ada yang mengatakan semua kamu pikir mereka akan percaya? Tidak ada yang akan percaya sama kita kecuali bi Marni" katanya.


Saat itu, orang tua Kevin sedang mengurus administrasi buatnya dan Maurice yang telah dirawat di rumah sakit itu selama tiga hari.


"Tiga hari katamu? Bukannya hanya beberapa jam saja, paling lama 5 jam" kata Maura heran.


"Memang begitu adanya, lihat saja tanggal berapa sekarang. Saat kami siuman kami sudah dirawat didalam rumah sakit ini.


Kata mereka, kami pingsan sudah seharian. Kami ditemukan pagi hari dan sadarnya pada sore harinya" katanya lagi.


Maura menganggukkan kepalanya, dia faham yang Kevin maksudkan. Ternyata perbedaan waktu antara dunia sihir dengan dunianya cukup jauh jaraknya.


"Aku hanya heran, kenapa semua orang yang ada di taman itu tidak menanggapi kita yah? Aku berulang kali menyapa mereka tapi tak ada tanggapan darinya.


Aku pikir aku sudah mati tadi, soalnya mereka seperti tak menyadari kehadiranku" ujar Maura bercerita tentang kejadian dia sampai di taman itu.


"Bukan hanya kau saja yang mengalami hal itu, Maura. Aku dan Maurice juga mengalaminya, kami tadi sempat berjalan sebentar kearah taman itu dan menegur mereka hanya sekedar berbasa-basi, dan apa coba reaksinya? Mereka cuek, berasa ngajak ngomong batu tau nggak!" ujar Kevin geram.


"Kata bi Marni, mereka itu jiwa-jiwa pasien di rumah sakit ini. Pasien yang koma, rohnya masih ada ditubuh mereka menandakan mereka masih hidup.


Sedangkan jiwa mereka pergi meninggalkan tubuhnya, makanya tubuhnya tertidur cukup lama karena jiwa ditubuh itu sudah tak ada. Makanya disebut koma" ujar Kevin lagi menjelaskan semuanya bak dokter sungguhan.


Maura tersenyum geli melihat tingkahnya, Maurice dan bi Marni menghampiri mereka sedangkan kedua orang tua Kevin sudah selesai menyelesaikan semua urusan administrasi mereka.


"Ayo, kita pulang. Semuanya sudah selesai, mari semuanya. Kamu juga Maura, nanti dijelaskan di apartemenmu kenapa kamu menghilang selama tiga hari ini?


Dan sekarang tiba-tiba nongol d rumah sakit ini?!" tanya om Wisnu, papa Kevin.


"Anu, Om. Aku ada kerjaan mendadak, lupa ngabarin kalian semua. Hehe!" ujarnya nyengir tidak tahu harus beralasan apa lagi.


"Benar, Pak... Apa yang dikatakan Maura, dia pergi pamitnya sama saya waktu itu. Saya pikir sebentar saja, sampai Hpnya ditinggal segala.


Eh, malah tiga hari perginya" ujar bi Marni berusaha membantu Maura mencari alasan.


"Lain kali Hp jangan sampai lupa bawa apalagi sampai hilang, susah menghubungi kalian.


Ingat, kamu sama Maurice dititipkan sama papa kamu kepada Om. Gak enak Om jika papa kamu tahu, kamu sempat hilang tiga hari gak ada kabar" ujar pak Wisnu mengomelinya.


Maura hanya tersenyum saja menanggapi mereka, keluarga Kevin adalah keluarga kedua bagi Maura.


Di saat mereka menuju mobil diparkiran, Maura melihat seseorang yang mengawasinya dari jauh.


"Dasar, bodoh! Kalau rindu bilang saja, samperin orangnya bukan malah kayak stalker kayak gitu" gumamnya menggerutu.


Ardian mengawasinya dari jauh, dia lega Maura sampai dengan selamat. Tiga hari tanpa kabar membuatnya gelisah.


Apakah itu tandanya dia mulai menyukai Maura? Atau hanya sekedar perasaan manusiawi saja?


......................


Bersambung