
Makhluk itu memiliki tubuh besar dan sangat gempal, tubuhnya diselimuti oleh bulu-bulu kasar.
Memiliki kuku-kuku panjang di seluruh jari tangan dan kakinya, gigi taring besar mencuat keluar.
Dengan mata merah menyala dan bibir tebal merah seperti habis minum darah saja, dia terlihat ketakutan saat melihat Ardian dan Joanna menghampirinya.
" Si-siapa kalian? kenapa kalian bisa melihatku dan tak takut sama sekali?! " katanya heran.
Makhluk itu badannya saja besar, tapi aslinya penakut. Saat mereka menghampirinya dengan tatapan tajam, nyalinya ciut langsung melangkah mundur.
" Siapa yang mengirim mu kesini, apa nona tadi yang bersamamu? " tanya Ardian.
" I-iya tuan.. " katanya gemetar.
Julian tertawa melihat tingkah pengecut mahkluk itu, dia tak menyangka ' semut kecil ' ini berusaha menyakiti mereka.
" Kau tahu siapa kami? " Ardian bertanya lagi.
" Ti-tidak tuan, maafkan saya.. tolong lepaskan saya " katanya memohon pada Ardian sambil berlutut.
" Katakan padaku, siapa yang mengirim mu kesini? siapa pemilik mu sebenarnya? " tanya lagi Ardian.
" Aku dari gurun Afrika, pemilik ku adalah dukun terkenal dari sana.
Wanita itu tadi menemui pemilik ku dan meminta pelet untuknya.
Dukun itu menyuruhku menemaninya, dan memintaku memasukan air liurku ke minumanmu sebagai peletnya " kata makhluk itu menjelaskan.
" Ieww.. jorok! " kata Julian menyeringai jijik.
Joanna hampir saja muntah membayangkan Ardian meminum air liur mahkluk itu.
" Aku akan membiarkanmu pergi, tapi tidak akan memaafkan mu begitu saja.
Kau harus mengikuti perintahku, jika ingin selamat. " Kata Ardian tersenyum licik.
" Tapi aku tak bisa mengikuti dua perintah, aku hanya memiliki satu pemilik saja. " Kata mahkluk itu.
" Seberapa kuat pemilik mu itu? " tanya Ardian.
" Kenapa, apa kau ingin menantangnya untuk merebutkan ku? " kata makhluk itu merasa pongah.
" Jangan sombong kau, aku memiliki jutaan prajurit jin hebat. Untuk apa aku memilikimu yang pengecut yang kerjaannya cuma menjilat kotoran saja " kata Ardian mencoba menekan makhluk itu.
" Aku akan membantumu keluar dari jeratan dukun jahat itu, tetapi kau harus ikut denganku karena satu alasan.
Wanita yang bersamamu tadi, aku akan membalasnya lewat dirimu.
Jangan coba-coba menipuku, aku tahu semua kelemahan mu " ujarnya lagi dengan tatapan tajamnya
Makhluk itu merasa terintimidasi, dia diam terpaku tak bergeming. Ardian memahami situasi saat itu.
" Kau makhluk rendahan dari peranakan jin wanita biasa dengan manusia laknat.
Dan dukun itu, sang pemilik mu adalah Ayahmu kan? " kata Ardian menatap makhluk itu.
Makhluk itu terperangah tak percaya, tak ada yang tahu kisah hidupnya. Bahkan dukun itu tak tahu kalau dia keturunannya.
Kenapa dia mau jadi peliharaan dukun itu, karena dia ingin dekat dengan Ayahnya itu. Ketika dia lahir, dukun itu sudah mencampakkan Ibu jin dan dirinya.
Merasa di khianati, dia ingin membalas dukun itu, tetapi melihat perlakuan baik dukun itu membuatnya urung balas dendam.
Dia merasa punya Ayah kembali, dan berjanji ingin membantunya sepenuhnya.
" Kau pikir kau sudah hebat yah, bisa mengelabuhi dukun itu? kau tak tahu apa-apa makhluk kecil.
Jika dia bisa menipu Ibumu, apalagi kau hanya makhluk kecil baginya. Dia sudah tahu kau keturunannya, dia ingin memanfaatkan mu " " kata Ardian memprovokasi makhluk itu.
" Sudahlah, ikuti saja dia. Dia sudah tahu semua rahasia mu termasuk kami juga tahu " kata Julian.
Makhluk itu hanya tertunduk lesu, dia tak menyangka kalau dia tertipu oleh dukun itu.
Tiba-tiba bentuk tubuh makhluk itu berubah, dia berwujud manusia.
Lelaki tinggi tubuhnya lumayan besar berotot, dengan kulit sedikit gelap kepala plontos.
" Ini wujud manusiaku, kau panggil saja aku Rosario. " katanya dengan suara baritonnya.
" Hem, dia lebih cocok jadi bodyguard mu Ardian " celetuk Julian, diiringi anggukan Joanna.
" Apa kau yakin dengan keputusanmu ini? tidak ada kata penyesalan nanti, dan kau tak bisa merubah keputusanmu juga.
Jika kau ingin bersamaku, kau akan mengabdi selamanya. Tak ada imbalan apapun dariku.
Dengan kata lain, kau akan mengabdikan dirimu kepadaku seumur hidupmu tanpa imbalan, mengerti?! " tanya Ardian lagi dengan tegas.
Mereka yakin makhluk itu akan menolaknya, mana mungkin dia akan menghabiskan waktunya bersama Ardian cuma-cuma.
" Baiklah, aku mengerti. Aku akan mengabdi kepadamu sampai akhir kiamat akan tiba.
Aku takkan mengganggu manusia lagi, apalagi kembali ke dukun rendah itu!
Aku hanya minta satu syarat saja padamu " kata Rosario, makhluk itu.
Mereka kaget tidak percaya, dia menyanggupi persyaratan dan perjanjiannya dengan Ardian begitu saja.
Apalagi tanpa imbalan apapun, karena makhluk seperti itu tidak mau bekerja secara gratisan.
" Tidak tuan, aku hanya ingin sesekali menjenguk Ibuku saja " kata Rosario menunduk.
Ardian sedikit terenyuh mendengarnya, dia faham situasinya. Dia juga merasakan sakitnya jauh dari orang yang disayangi.
" Kenapa, apa kau ingin merencanakan hal lain tanpa sepengetahuanku? jangan coba-coba melarikan diri! " bentak Ardian.
" Tidak tuan, aku akan menyerahkan darahku sebagai jaminannya " katanya sambil menggigit lengannya sampai berdarah.
" Ah! tidak-tidak, jangan.. " Ardian tidak sempat mencegahnya, darah itu sudah mengucur di lengannya.
Bagi kalangan Jin, kalau mereka percaya dan tunduk pada tuan atau pemiliknya. Mereka akan menyerahkan darah mereka sebagai jaminan.
Dengan begitu, kepatuhan mereka sepenuhnya milik mereka yang memilikinya.
Mereka jadi yakin, Rosario akan menepati janji mereka.
" Aku akan memberitahu Ibuku, kalau dia akan bebas dari jeratan si dukun itu.
Aku akan membebaskannya, karena aku sudah tak terikat lagi dengannya. Jadi aku bisa membalaskan dendam ku yang tertunda " ucap Rosario bersemangat.
" Maksudmu, Ibumu selama ini dikurung oleh dukun itu? " tanya Joanna yang sedari tadi diam.
" Tidak, dia melepaskannya. melepaskan bukan berarti dia membiarkannya bebas.
Tali kekang itu masih ditangannya, dengan itu juga dia menahan ku.
Kalau aku memberontak dia akan menyakiti Ibuku " kata Rosario.
" Benar-benar licik sekali dukun itu, jadi selama ini dia berpura-pura tak tahu kau anaknya.
Dan memanfaatkan kekuatanmu untuk hal buruk, dan masih mengurung Ibumu " kata Joanna tak terima.
" Bagaimana kau tahu, kalau dia selama ini mengurung Ibumu, sedangkan kau masih menyakini diri bahwa dia tak tahu tentangmu? " tanya Julian penasaran.
" Setelah aku memutuskan untuk meninggalkannya dan memilihnya sebagai tuan baru.
Penglihatan ku kembali seiring kekuatan besar ku tumbuh lagi " katanya kembali.
" Apa?! semudah itu, jika kau bisa melepaskan diri kenapa tidak dari dulu Rosario kau lakukan itu.
Kalau mendengar ceritamu, kekuatanmu lebih besar darinya. Dengan sekali ketuk tuh kepala sudah langsung pecah " ujar Julian gemas dengan Rosario.
" Semenjak aku ikut dengannya, dia menyimpan sebagian kekuatanku. Sehingga aku tak bisa menggunakannya.
Jadi tidak tahu harus berbuat apa " kata Rosario sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal itu.
Mereka tak percaya, ada makhluk sepolos itu di dunia ini. Apalagi dia sejenis jin yang kuat seperti yang lainnya.
" Coba kami mau lihat kekuatanmu, seberapa hebatnya kamu? " kata Ardian, yang sedari tadi diam mengamatinya.
Rosario berdiri didepan dinding kaca tebal itu, dia menatap lurus ke depan arah apartemen Maura.
" Aku lihat di sana ada gadis cantik memiliki kekuatan besar, dia juga seorang Dewi yang bereinkarnasi sama denganmu " katanya sambil tersenyum bangga memperlihatkan kekuatannya.
" Siapa suruh kamu mengamati kamarnya, dan aku tak meminta diramal! " kata Ardian kesal sambil memukul kepala plontos Rosario dengan buku ditangannya.
Julian dan Joanna tertawa melihat mereka, baru saja kenal sudah akrab saja mereka.
" Baiklah, aku akan serius kali ini " kata Rosario dengan tatapan tajam memandang kearah lain.
Tiba-tiba saja jari telunjuknya mengarah ke pohon di samping apartemen itu, ada sosok jin yang diam-diam mengamati apartemen itu.
" Aku yakin dia jin suruhan tuannya untuk mengamati apartemen yang dihuni oleh nona Maura " ucap Rosario.
Mereka kaget, bahkan Rosario tahu tentang Maura hanya sekali lihat.
Jari telunjuk Rosario mengarah kearah jin itu seperti posisi mau menembak saja. Dan..
Psiiuuts..!
Suara nyaring bak tembakan dari pistol asli keluar dari jarinya yang menembus dinding kaca tebal itu, dan anehnya tidak retakan atau tanda pecah di sana.
Cahaya keluar dari jarinya bak peluru melesat terbang jauh kearah jin itu. Dan tepat mengenai jin itu.
Blubb.. !
Suara letusan kecil dari tubuh jin tadi, seketika dia meledak tubuhnya hancur hangus terbakar. Sudah tak berbentuk lagi.
" Aku sudah memberinya pelajaran tuan " kata Rosario pada Ardian dengan santai.
" Memberi pelajaran palak mu, itu mah membunuh Rosariooo! " kali ini Julian benar-benar gemas dengannya.
Leher Rosario dia coba piting, meskipun tingginya lumayan jauh dibawah Rosario tapi dia masih bisa menjangkaunya.
" Aku harus berhati-hati dengannya, meskipun dia dibawah kendaliku. Dia tetap berbahaya.
Bagaimana pun juga, dia juga seorang jin. Yang selama ini tak diajari cara mengontrol kekuatannya " kata Ardian sambil bergumam.
Dia masih mengamati jin yang mati hancur terbakar oleh Rosario.
......................
Bersambung