
Sementara itu, Maura sedang bersiap melakukan perjalanan menuju istana sang tuan putri yang kini menjelma menjadi ratu iblis berikutnya, sedangkan sepasang suami istri siluman itu yaitu Fe Wei Xian dan Liu Wei Yan memilih untuk tinggal di hutan.
"Kami tidak akan meninggalkan hutan ini apapun yang terjadi, karena kami yakin perubahan bentuk dan kembalinya kekuatan kami ini sudah diketahui oleh raja iblis di neraka.
Dia pasti telah mengirimkan beberapa pasukannya untuk menyerang dan menguasai hutan ini kembali, kami tidak akan membiarkannya! Biarlah anak kami yang menjadi korbannya, kami tidak akan mengorbankan penghuni hutan ini juga bangsa manusia lainnya juga" ucap Liu Wei Yan.
"Bagus, memang seperti itu seharusnya! Lagian tujuanku kesini sejak awal memang putri kalian, agar tidak berlangsung sampai ke masa depan dan menyesatkan anak manusia lainnya" sahut Maura.
Setelah sekian lama, akhirnya dia juga menyadari bahwa ada sangkut pautnya antara putri iblis itu dengan roh jahat yang menjadi sesembahan pemilik apotek itu.
"Aku yakin, kembalinya aku disini bisa menyelesaikan permasalahan yang di sana. Masalahnya aku sudah mau dua hari disini, apa Ardian dan lainnya tidak akan panik jika aku menghilang begitu saja?!" gumamnya sendirian.
"Eh, ta-tapi aku kemarin ketemu ama Ardian kan disini, di hutan ini! Siapa sih namanya? Ah, aku lupa! Ah, tidak! Mungkin itu kebetulan aja, mirip doang!" ucapnya lagi.
Liu Wei Yan dan Fe Wei Xian kebingungan melihat tingkah Maura yang berbicara sendiri.
"Ada apa, Nona? Apakah ada sesuatu?" tanya Fe Wei Xian.
"Ah, tidak! Aku hanya teringat dengan seseorang, seseorang yang begitu mirip dengan temanku!" ucap Maura sambil menggaruk kepalanya tak gatal, malu karena ketahuan bertingkah aneh.
"Memangnya seperti apa dia?" tanya Fe Wei Xian lagi.
"Emm, rambutnya panjang dikuncir ekor kuda dan memakai pakaian seperti pakaian,, ah! Seperti pakaiannya suamimu itu, tapi dia juga memakai jubah seperti seorang prajurit!" ucap Maura begitu bersemangat saat menceritakan pemuda itu.
"Ah, pangeran itu. Aku tau dia.." ucap Fe Wei Xian sambil tersenyum.
"Pangeran?" tanya Maura bingung.
"Iya, dia salah satu pangeran di negeri ini. Terlahir sebagai putra seorang selir raja, dia memilih menjadi prajurit dan tak ingin ikut campur urusan kerajaan, dia lebih memilih melindungi rakyat langsung dan jarang berada di istana.." ucap Fe Wei Xian menjelaskan.
"Dia itu sudah seperti pelindung bagi manusia maupun makhluk di hutan ini, dia sering melewati hutan ini, membantu manusia yang sering tersesat disini, atau menolong hewan yang terluka, bahkan dia menyingkirkan semak berduri agar siapapun yang lewat tidak terluka.
Dia sangat baik, hatinya bersih. Jiwanya begitu suci, kami merasa suatu saat nanti dialah yang akan menjadi jembatan penghubung antara manusia dan para makhluk agar bisa hidup damai berdampingan.." sambungnya lagi.
"Hem, aku pikir juga begitu.." gumam Maura.
"Ya sudah, aku pamit sekarang. Sudah tak ada waktu lagi, doakan agar aku bisa membawa putri kalian kembali!" ucap Maura.
"Baiklah, selamat tinggal nona dan terima kasih.." ucap Fe Wei Xian.
"Aku akan membantumu agar lebih cepat sampai dan aman di perjalanan.." ucap Liu Wei Yan.
Dalam sekejap dia berubah menjadi seekor naga besar berwarna putih, dia mempersilakan Maura duduk di atas punggungnya, dengan hati-hati Maura naik keatas nya.
"Hati-hati, semoga semuanya berjalan dengan baik, Nona! Selamat tinggal, aku akan selalu mendoakanmu!" teriak Fe Wei Xian sambil melambaikan tangannya, seiring naga itu terbang menjauh darinya.
"Dia sangat gigih dan kuat, kau harus bersyukur memilikinya" ucap Maura sambil melambaikan tangannya kearah Fe Wei Xian yang semakin mengecil dari pandangannya.
"Tentu saja, berkatnya aku menjadi kuat seperti ini.." jawab Liu Wei Yan dalam wujud naganya.
"Apa kau tidak mendendam kepadanya? Karena secara tak langsung dia juga menyebabkan kau seperti ini" tanya Maura, sengaja karena ingin mendengar langsung jawabannya itu.
"Tidak, rasa dendam dan benci sudah lama aku buang semenjak kejadian itu. Aku juga bersalah kepadanya, akibat kebencian dan rasa dendam tak berkesudahan, tanpa sadar aku juga menciptakan seorang iblis.
Dan aku benar-benar menyesali itu semua, dan kini aku akan menebus semua kesalahanku itu, dan... Aku tau, aku ini tak memiliki rasa malu dan memohon kepadamu untuk membawa anakku kembali, Nona.." ucap Liu Wei Yan dengan nada lirih.
"Tenanglah, karena ini adalah bagian dari tujuanku kesini. Setidaknya aku senang bisa bertemu denganmu, paling tidak aku mengetahui sisi anakmu yang lain, yang aku pikir itu bisa aku gunakan untuk mendekatinya.." ucap Maura menenangkannya.
Setelah cukup jauh perjalanannya, Maura tiba di sebuah bukit yang terletak tak jauh dari sebuah pedesaan. Hanya sebatas itu Lei Wei Yan mengantar, dia tak bisa pergi jauh meninggalkan hutan juga istrinya itu.
"Sampai disini, Nona. Aku harap selama diperjalanan kau aman dan usahamu berhasil, sampai jumpa lagi!" ucapnya.
"Apa Liu Wei Yan berubah menjadi seorang pangeran dengan kuda hitam, ah rasanya tak mungkin! Dia kan udah pamitan tadi," gumamnya sambil mengamati pangeran itu.
"Hei, Nona! Kita bertemu lagi!" ujar pangeran itu, sambil tersenyum smirk kearahnya.
"Kau.." Maura ternganga tak percaya akan bertemu kembali dengan pangeran itu.
"Iya, aku adalah panglima yang bertemu denganmu di hutan itu. Bagaimana caranya kau bisa keluar dari hutan itu dan bisa berada disini? Hem, aku pikir kau ini adalah wanita lemah, aku salah menilaimu.." ucap pangeran itu sambil menatap Maura dengan sedikit pandangan kagum.
Sadar dirinya sedang berhadapan dengan seorang pangeran di negeri ini, meskipun dia hanya seorang pangeran biasa dia harus tetap menghormatinya, meskipun tidak berarti apapun baginya.
"Salam hormat, pangeranku! Perkenalkan nama hamba Maura, dan terima kasih telah menyelamatkan hamba tempo hari.." ucap Maura sigap.
Tanpa sadar dia mengagetkan pangeran itu, pangeran yang tiba-tiba mendapatkan perlakuan tak biasa dari Maura hampir saja terjungkal dari atas kuda saking kagetnya, bukannya memperkenalkan diri dengan anggunnya sebagai seorang wanita dengan duduk berlutut, tapi dia malah duduk dengan gagahnya bak prajurit menghadap panglimanya.
"Prrhhmm!" sang pangeran menahan tawanya melihat tingkah Maura.
"Kenapa kau memberikan aku hormat seperti itu? Dan bagaimana kau tau kalau aku seorang pangeran? Ah! Pasti kau tau dari beberapa penduduk yang tinggal di pedesaan itu kan, dan..
Apa kau seorang prajurit? Pantas saja kau tak mengenal takut saat di hutan itu, dan tingkahmu ini sungguh aneh.." ucap pangeran sambil menelisik Maura.
Tiba-tiba seorang prajurit lain datang menghampiri mereka dengan tergesa-gesa, dia kesulitan mengatur nafasnya dan menatap Maura dengan tatapan aneh, tapi setelah itu dia kembali fokus ke tuannya.
"Pangeran, eh panglima! Semua pasukan sudah terkumpul, kita siap menyerang kerajaan itu, sesuai dengan arahan panglima!" ucap prajurit itu.
"Baiklah, aku akan segera menyusul! Dan kau, prajurit! Ikut aku, mari tunjukkan rasa kesetiaanmu ini!" ucap pangeran sambil menunjuk Maura.
Sedangkan yang ditunjuk celingukan tak mengerti, sedangkan prajurit tadi juga kebingungan kenapa pangerannya yang sekarang menjadi panglima ini menunjuk seorang wanita ke medan perang.
"A-aku?" tunjuk Maura tak mengerti.
"Iya, kau! Cepatlah, tak ada waktu lagi!" ujar panglima seraya melajukan kudanya meninggalkan tempat itu.
Sedangkan Maura dan prajurit tadi masih bengong tak mengerti, seolah mengerti dengan situasi sekarang prajurit itu langsung mengajak Maura pergi dari tempat itu.
"Kenapa aku juga?!" protes Maura tak terima, karena baginya dia tak ada hubungannya dengan peperangan ini, misinya sekarang adalah menemukan putri iblis itu dan membawanya ke orang tuanya untuk dikurung dan diajarkan dengan benar, menjauh dari kehidupan bangsa manusia makhluk lainnya.
"Aku juga tidak tahu, tapi sesuai peraturan setiap prajurit harus ikut dalam perang ini!" jawab prajurit tadi.
"Tapi kan aku wanita, mana ada aku ikut perang segala! Lagian aku punya urusan sendiri!" ucap Maura sewot.
"Tak ada hubungannya dengan lelaki ataupun wanita soal menjadi prajurit, semuanya sama! Apa urusanmu itu lebih penting dari urusan negara dan kerajaan ini?! Kau tau, saat ini kita dalam bahaya!
Musuh kita berasal dari kerajaan yang sangat kejam, karena memiliki seorang raja yang bersekutu dengan seorang anak iblis!" ucap prajurit itu.
Sontak membuat Maura tertegun, apa semua ini ada kaitannya dengan pencariannya selama ini? Jadi pangeran itu, perang ini, raja bersekutu dengan anak iblis, ah! Semuanya terlihat lebih jelas lagi.
"Baiklah, aku akan ikut!" ujar Maura dengan bersemangat, dia berjalan dengan cepat meninggalkan prajurit itu yang makin kebingungan dengan tingkahnya.
"Pangeran Wang Xin Nian berada di wilayah Liu Yang, apakah ini adalah negeri perbatasan itu? Jika benar dugaanku, berarti putri iblis itu sudah ditemukan oleh penguasa dunia yang zalim, yang akan menghancurkan dunianya sendiri.
Ini kesempatan bagiku, agar tak perlu bingung-bingung lagi mencari keberadaan putri itu, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, hehe! Sekalian nolongin tuh pangeran buat balas budinya waktu itu, juga dapat yang aku cari, hihi!" ujar Maura cekikikan sendiri.
Membuat prajurit yang disampingnya merinding, sempat mengira Maura adalah jelmaan dewi aneh yang ikut membantu mereka.
......................
Bersambung