RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Season 2 : (PNS) Kekecewaan Ardian


Lamunan Ardian terpecah saat dirinya ditelpon oleh pak Kyai, dia langsung bergegas menuju rumah sakit dengan barang keperluan Maura, di sana dia sudah ditunggu oleh beberapa kepolisian yang datang mengurus 'kecelakaan' yang menimpa Maura.


"Loh? Kamu toh suaminya! Ya ampun aku hampir melupakan kalian, maafkan aku!" ujar salah satu petugas itu.


Dia adalah petugas kepolisian yang mengurus kasus Vera dan adiknya waktu itu, dan dia juga petugas yang dibicarakan oleh pak Kyai.


"Kalau masalah ini menimpa kalian, mau gak mau aku harus percaya. Sebab aku tau siapa kalian, karena kasus terdahulu juga melibatkan kalian berdua. Bagi masyarakat umum, dan juga petugas kepolisian seperti kami ini tidak akan pernah percaya tanpa bukti dan saksi, karena setiap masalah harus ada barang bukti, ada tersangka 'real' nya. Karena kita tak mungkin kan menangkap sosok 'hantu' itu..


Jadi, kami akan mengikuti saja saran dari Pak Kyai selaku penanggung jawab atas kasus ini. Dan kita menunggu pasien sadar dulu juga, baru bisa mengembangkan kasus ini.." ucap petugas itu.


"Iya, terima kasih sudah datang dan mempercayai kami.. Dan maaf TKP sudah aku bersihkan, karena aku tak tahan melihat darahnya berceceran didalam kamar itu, tapi sebelumnya aku sudah merekamnya dan mengambil beberapa foto-foto untuk kalian periksa.


Maaf, bukan maksud untuk mendahului kalian. Aku harus melakukannya, jika tidak darahnya akan mengundang para makhluk lain untuk mendekat ke rumah kami. Aku tak ingin rumah kami jadi sarang setan, maaf.." ucap Ardian, meskipun alasannya tidak masuk akal, tapi masih bisa diterima oleh mereka karena mengingat siapa Ardian dan Maura.


"Apa istri anda melakukan ritual ilmu sesat? Maaf jika pertanyaan saya ini kurang mengenakan anda, saya harus mengikuti prosedur juga.." tanya petugas itu.


"Tidak apa, saya bisa mengerti.. Istri saya memang melakukan sebuah ritual tanpa diketahui oleh saya, saya juga baru memperhatikannya lebih detail tadi pagi keadaan kamarnya.


Semalam saya tak bisa fokus karena terlalu panik saat melihat kondisinya yang sudah kritis, jadi saya tak terlalu memperhatikan tempat itu apalagi keadaan kamarnya juga gelap hanya diterangi beberapa cahaya lilin saja.." jawab juga Ardian setahunya saja, apa adanya.


Saat dalam pemeriksaan tanya jawab itu, perawat mengatakan jika Maura sudah siuman. Sontak semuanya menjadi lega, Ardian langsung berlari menuju kamar yang merawat Maura.


"May, May ini aku Ardian.. Kamu bisa ngenalin aku kan?" tanya Ardian cemas dan senang juga saat melihat Maura sudah siuman.


"Ardian.. Aku, aku dimana? Kenapa ramai sekali?" tanya Maura bingung.


Memang pada saat dikabarkan jika Maura sudah siuman, Ardian dan pak Kyai dan petugas kepolisian langsung datang menemuinya. Belum lagi para prajuritnya juga ingin melihat kondisi sang Dewi.


"Kamu di rumah sakit, May.. Aku menemukanmu pingsan dalam keadaan berdarah, ya sudah.. Jangan memaksakan diri untuk mengingat semua yang terjadi, istirahatlah dulu.. Kamu baru saja bangun dari pingsanmu yang cukup lama itu," jawab Ardian mencoba untuk tetap sabar dan menahan diri, padahal begitu banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan soal ritual juga termasuk perubahan sikapnya selama ini, dia yakin ini semua ada hubungannya.


"Untunglah kamu bisa pulang dengan selamat, Maura.." ujar pak Kyai, ada nada kecewanya di sana, sementara pihak kepolisian hanya memperhatikan dirinya saja.


"Ardian, mau kemana?" tanya Maura saat melihatnya hendak pergi dari sisinya.


"Aku mau keluar sebentar, kami akan membiarkan dirimu beristirahat sekali lagi.." jawab Ardian sambil tersenyum lembut.


"Bisakah kamu tinggal sebentar disini, aku ingin kamu menemaniku sebentar saja.." pinta Maura.


"Baiklah.." ucap Ardian sambil tersenyum dan duduk kembali disampingnya.


Sedangkan yang lainnya keluar meninggalkan mereka berdua, memberikan waktu untuk keduanya. Maura masih merasakan sedikit pusing di kepalanya, dia meraih tangannya Ardian dan memeluknya, kembali tertidur. Dia memeluk lengannya Ardian seolah takut kehilangannya.


Ardian menatap sendu wajah istrinya itu yang nampak begitu kelelahan, meskipun dia baru saja bangun dari masa kritisnya, dia masih saja merasa kelelahan, dan memilih tidur kembali.


Satu hal yang disyukuri oleh Ardian, Maura mulai menunjukkan tanda-tanda bahwa dia mulai membutuhkannya lagi, dengan begitu Ardian merasa dicintai lagi olehnya.


.


Sementara diluar kamar, pak Kyai melihat ada sesuatu cahaya berkabut hitam mengelilingi Maura. Dan dia yakin itu tidak datang saat Maura keluar dari 'tempat itu', melainkan sudah ada sebelum itu, entah dia muncul pas Maura melakukan ritual itu atau sebelum itu. Dia kurang yakin juga.


Setelah beberapa saat, akhirnya kondisi Maura sudah lebih baik dari sebelumnya. Meskipun dia masih merasakan rasa nyeri dibawah dadanya, luka tusuknya cukup dalam sehingga dia disarankan untuk beristirahat total.


"Sudah, Pak.. Maaf, saya telah melakukan perbuatan bodoh sehingga menyusahkan banyak orang, ini murni kecelakaan yang disebabkan oleh saya sendiri," ujar Maura menjelaskan semuanya.


Meskipun begitu, dia tetap menjalani sejumlah pemeriksaan termasuk pula dengan Ardian, karena dia yang pertama kali yang menemukannya. Maura tak menyangka sekali akibat perbuatan nekatnya akan menyebabkan sebuah masalah bagi semua orang.


Setelah beberapa jam pemeriksaan, Ardian menemui Maura. Dia ingin berbicara berdua saja dengannya, dari hati ke hati. Entah mengapa dia merasa ada sesuatu yang ditutupi oleh Maura selama ini.


"May, bagaimana perasaanmu saat ini?" tanya Ardian.


"Alhamdulillah, sudah lebih baik. Dan masih terasa sedikit sakit disini, tapi masih bisa aku tahan.." jawab Maura sambil tersenyum.


"Aku ingin berbicara serius denganmu, boleh?" tanya Ardian lagi.


"Berbicaralah, kenapa kamu begitu serius sekali? Jujur, aku jadi takut.." jawab Maura dengan perasaan gugup.


"Tidak usah takut jika tak ada yang perlu kamu rahasiakan dariku.." ucap Ardian sambil menatap lekat Maura.


"May, boleh aku tahu apa saja yang kamu lakukan selama ini? Setelah menikah, kamu begitu berubah padaku. Apa ini pengaruh sihir yang kuat sehingga bisa mempengaruhi sikapmu padaku? Apa kamu melakukan semua ritual ini agar bisa lepas dari semua sihir itu?" tanya Ardian, dia berharap Maura mengiyakan pertanyaannya itu, dia takut Maura berubah karena hal lain.


Tapi keinginannya itu harus membuatnya kecewa, Maura justru menggeleng saat ditanya Ardian seperti itu. Dia menunduk lesu, terlihat buliran-buliran air mata yang mulai menetes di pipinya.


"Apa aku melakukan sebuah kesalahan, sehingga kamu begitu marah padaku?" tanya Ardian lagi.


Cukup lama Maura terdiam kemudian dia menggeleng lagi, melihat itu Ardian jadi yakin ada sesuatu yang menyangkut dirinya membuat Maura jadi terlihat kecewa dan terus marah padanya.


"Beritahu padaku, apa saja kesalahanku sehingga kamu begitu marah padaku. Ceritakan semua apa yang kamu tahan selama ini, aku akan diam mendengarkan semuanya dengan tenang, bicaralah.." ujar Ardian tetap tenang.


Maura justru menangis lebih kencang saat mendengar Ardian berbicara seperti itu, Ardian hanya diam saja membiarkan Maura menangis sampai dia puas, sampai dia lega sendiri. Mungkin dengan cara ini Maura bisa melepaskan tekanan batin dan emosinya sendiri.


"Maafkan aku, maafkan aku.." ujar Maura sambil terisak.


"Aku telah berburuk sangka padamu, aku telah melakukan sesuatu yang seharusnya tidak aku lakukan! Maafkan aku.." ujarnya lagi, Ardian masih tetap dengan janjinya akan diam saja mendengarkan semua cerita maupun keluhannya Maura.


Akhirnya dengan bersusah payah dan rasanya sangat berat ketika harus jujur mengatakan apa yang ada didalam hatinya, Maura mengatakan semuanya. Dia jujur dari awal tidak menyukai pernyataan Ardian menikahinya karena hanya ingin melindungi dan menjaganya, bukan karena dasar nama cinta atau ingin hidup sampai mati bersamanya.


Meskipun terdengar klise dan terlalu mendramatisir, tapi dia mampu untuk menjaga dan melindungi dirinya sendiri. Tapi dia tak sanggup hidup dengan orang yang tak mencintainya, apalagi setelah Maura menemukan catatan jurnal milik Ardian waktu itu.


Ditambah lagi dia merasa sangat dibebani dengan semua misi ini, dia juga merasa menghabiskan waktunya dengan percuma melakukan semua ini, dan memilih jalan pintas untuk mengakhiri semua misinya dengan cepat. Dan berharap cepat selesai, sehingga dia tak mau menjadi beban dan bayang-bayangnya Ardian.


Mendengar itu semua membuat Ardian benar-benar kecewa sekali, dia bahkan tak menyangka saat melihat Maura bersama Arga dan Phoem tempo hari ternyata membahas soal itu.


Dia tak bisa menyembunyikan rasa kekecewaannya, dia terlihat begitu marah tapi tak berkata apapun. Dia langsung bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan Maura sendirian.


"Ardian, aku minta maaf!" ucap Maura sebelum Ardian keluar dari kamar rawat inap nya Maura.


Dia berjalan tak tentu arah, pikirannya berkecamuk. Dia merasa tak diperlukan, merasa tak berguna. Langkahnya terus berjalan menjauhi tempat itu, mengabaikan semua panggilan orang dan tidak memperdulikan itu semua.


......................


Bersambung