
Sesampainya didepan kelas Maura, Ardian menatapnya tajam sambil memperhatikan gadis itu, Maura yang terus dipandangi seperti itu merasa risih juga.
"Ada apa? Bilang saja gak usah liatin aku kayak gitu terus!" ucapnya.
"Kamu tadi kenapa? Ada urusan apa kamu sama para preman itu?!" tanya Ardian.
"Preman? Preman siapa?!" tanya Maura balik tak mengerti.
"Huft, sekelompok anak lelaki dibawah pohon tadi, kenapa kamu mau nyamperin mereka?" tanya Ardian lagi dengan nada kesal.
"Aku gak ada urusannya dengan mereka, aku gak berniat menghampiri mereka kok!" sahut Maura.
"Tentu saja, kamu mau nyamperin hantu itu didekat mereka kan? Terus di cap gila gitu?! Gak semuanya orang bisa lihat apa yang kita lihat" ucap Ardian menjelaskan hal itu kepada Maura.
"Maaf, aku lupa.." jawab Maura pelan sambil menundukkan wajahnya.
Melihat Maura seperti itu, Ardian pun menghela nafasnya dengan dalam. Dia menatap lembut wanita yang ditakdirkan bersamanya itu, dia menakupkan kedua tangannya kewajah Maura.
"Jangan sedih, aku gak marah sama kamu. Aku hanya khawatir saja, kamu harus pandai menjaga diri, kita gak tau akan menghadapi siapa nantinya.
Bisa makhluk, bisa juga manusia. Dan tak semuanya manusia baik dan makhluk jahat, kita pandai memilih dan menilai apapun yang kita lihat dan temui" ucap Ardian sambil memainkan kedua pipi gadis itu gemas.
"Iya, itu maksudku! Makhluk itu hanya meminta keadilan dari perbuatan manusia jahat, dan berhentilah memainkan pipiku!" ucapnya kesal.
Ardian tertawa gemas melihat reaksi Maura, mereka asik berbincang dan tak menyadari jadi pusat perhatian beberapa orang.
"Enaknya punya pacar ganteng, cewek cantik. Dunia serasa milik berdua.." canda Ichan.
"Eh, sejak kapan kamu ada di sana?!" tanya Maura kaget melihat kedatangan temannya itu.
"Dari tadi, noh sampai diliatin sama yang lain!" ucap Ichan sambil memonyongkan bibirnya kearah lain.
Maura dan Ardian jadi salah tingkah dan berusaha bersikap biasa saja, Maura memperhatikan Ichan yang sibuk dengan cemilan ditangannya.
"Chan, kamu denger yah apa yang aku bicarakan bersama Ardian?!" tanya Maura menatapnya curiga.
"Gak juga sih, kecuali kata yang terakhir 'berhentilah memainkan pipiku!' hehe, gemes banget sih!" ledek Ichan sambil terkekeh.
Maura dan Ardian menghela nafasnya lega, setidaknya Ichan tak tahu tentang rahasia mereka, tapi mereka berhenti tersenyum ketika Ichan mengatakan hal ini.
"Tapi aku tau kalau kalian berdua indigo!" ucapnya cuek sambil memakan cemilannya.
"Tau?!" tanya Ardian heran dan penasaran.
"Saat kejadian Meera kesurupan kan ada aku dan Joni juga, masa lupa sih?! Tenang gaes, aku dan Joni sepakat untuk merahasiakan soal ini," ucap Ichan sambil mengedipkan matanya kearah mereka.
"Jadi, kalian berdua tau semua? Yakin kan bisa pegang rahasia?!" tanya Ardian lagi.
"Seratus persen percaya dah ma aku!" sahut Ichan sambil membusungkan dadanya.
"Btw, aku gak liat si Meera. Kamu tau gak sama anak itu, kemana perginya? Atau gak kuliah? Di kostan dia gak keliatan sih.." tanya Maura penasaran.
"Kan semenjak kejadian itu dia bersama kalian kan? Masa gak tau sih?! Kan kita taunya dia bersama kalian selama satu minggu ini di pesantren!" sahut Ichan, malah dia jadi penasaran juga soal Meera.
"Dia udah pamit semenjak kemarin pulang dari pesantren duluan, aku pikir dia istirahat di kost terus kuliah seperti biasa" ucap Maura heran.
"Kamu pikir dia akan berani kuliah setelah kejadian waktu itu? Iya kali, malah dia akan jadi bahan pergosipan disini, dan sudah pasti dijauhi sama orang-orang atau temannya.
Malah kasihan melihatnya kalau begitu, aku pikir dia pulang ke rumahnya untuk beristirahat, dan kemungkinan pindah kuliah juga" jawab Ichan lagi.
"Kok bisa?!" tanya Maura dan Aridan penasaran.
"Ya bisalah, kalian dari luar negeri sih jadi gak bakalan tau pedesnya mulut para lambe! Lagian dia kan orang kaya, bakal mudah baginya pindah kuliah dan berpindah tempat. Meera juga anaknya supel, mudah baginya beradaptasi dan memiliki teman, jangan terlalu mengkhawatirkan dia.." ucap Ichan santai.
"Kok kamu tau sih?!" tanya Ardian curiga.
"Iya iyalah, kan aku sepupunya!" cengir Ichan.
"Sepupunya? Kok kamu gak cerita-cerita sih!" rajuk Maura kesal.
"Buat apa cerita, gak penting juga! Lagian dia juga berpura-pura gak kenal juga kan sama aku, hanya karena kita berada di level berbeda!
Haha! Lucu yah, semuanya diukur oleh materi. Bahkan saudara sendiri dianggap orang lain hanya karena ekonominya berbeda, begitulah hidup. Duh, jadi curhat kan akunya.." sungut Ichan berpura-pura marah padahal dia sedang menahan buliran bening yang ingin jatuh dari matanya.
"Sudah, masih banyak orang lain yang bisa menganggap kita saudara meskipun kita tak sedarah!" ucap Ardian sambil menyemangatinya dengan menepuk pundak Ichan.
"Seperti kita kan, iya kan?! Abang kan punya motor bagus, boleh dong pinjam sekali-kali, hehe!" goda Ichan cengengesan.
"Dasar! Itu sih gak tau diri namanya!" ucap Ardian sambil tergelak.
Setelah itu mereka kembali ke kelas masing-masing, disudut koridor dibalik lemari filing kabinet ada seseorang yang sedang memperhatikan mereka sejak tadi, sebelum mereka membubarkan diri.
"Jadi dia juga dekat dengan bocah itu, bagus! Hehe, akan lebih mudah bagiku untuk berkenalan dengannya" ucap sosok anak lelaki yang ada di sana.
.
.
Pelajaran sudah selesai, Maura sudah tak ada kelas lagi, mau pulang juga lagi malas karena tak ada siapapun juga yang bisa diajak main ataupun sekedar ngobrol di sana, semuanya memusuhinya.
"Aku merindukan Maurice, nanti jika Ardian selesai kuliah akan kuajak mampir dulu ke pesantren" gumamnya sambil tersenyum.
Dia sedang bersantai duduk dibawah pohon besar dihalaman luas di area kampus itu, angin semilir menghembus lembut kearahnya membuatnya ingin merebahkan diri di sana, tanpa sadar rasa kantuknya datang.
Dia bermimpi indah sedang berkumpul dengan keluarganya bersama Maurice, keluarga kevin dan juga Ardian. Mereka sedang berpiknik disebuah taman yang ada danaunya, mereka nampak bersantai dan menikmati momen indah itu.
Tiba-tiba ditengah danau itu muncul kepermukaan sosok hantu anak kecil yang berteriak kearahnya dengan nyaringnya.
"Maura, bangun!" dia terkejut mendengar suara hantu gadis remaja membangunkannya dengan kencangnya di telinganya.
Dia terkejut dan langsung bangun dari sana, betapa terkejutnya dia melihat sosok orang asing duduk menatapnya dengan pandangan menjijikan, tunggu dulu, sepertinya dia pernah melihatnya?
"Ka-kamu siapa? Dan sejak kapan disini?!" tanya Maura terkejut dengan kehadiran lelaki itu.
"Sejak tadi, cantik. Kamu tidurnya pulas sekali, aku serasa lagi melihat putri tidur tau gak! Cantik dan seksi, hehe..." ucapnya dengan pandangan yang sulit dimengerti.
"Jangan begitu cantik, aku seharian nemenin kamu tidur loh! Semua penghalang udah aku usir loh termasuk nyamuk itu!" ucap lelaki itu sambil menunjuk Ichan yang berdiri dikejauhan memperhatikan mereka takut.
"Apa-apaan sih kamu?! Dia itu temanku!" bentak Maura marah dengan orang itu.
Dia hendak bangkit dari duduknya, tapi tangannya dicekal oleh orang itu. Dia menarik tangan Maura dengan kasar hingga gadis itu kembali terduduk.
"Kasar banget sih!" bentak Maura lagi.
"Jangan berteriak denganku, jal*ng! Kamu seharusnya bersyukur bisa didekati olehku, sementara gadis lain sibuk mengejarku! Bersikaplah yang manis, jal*ng!" ucap lelaki itu sambil menjambak rambut Maura.
Sedangkan Ichan yang sedari tadi memperhatikan dari tadi, sangat khawatir jika terjadi sesuatu dengan Maura. Dia sibuk menghubungi beberapa temannya tapi tak ada yang menyambung sama sekali.
"Mudah-mudahan Maura bisa meloloskan diri dari orang itu, aku yang mau mendekatinya tadi gak bisa diusir oleh Gilang! Aduh, kenapa anak itu malah tertidur di sana sih?!" gumamnya khawatir.
Tapi Ichan salah mengira, dia tak pernah berpikir akan melihat pemandangan yang sangat menakjubkan di sana, bagaimana tidak dengan mudahnya Maura memelintir tangan lelaki itu dan menghempaskannya ke tanah dengan kencangnya.
"Ugh!" Gilang alias lelaki jahat itu mengeluh kesakitan setelah dibanting oleh Maura.
Dia tidak tahu jika gadis itu sudah banyak belajar ilmu bela diri sejak kecil dibekali oleh sang ayah, untuk menghadapi orang-orang jahat seperti dirinya itu.
"Kau!" deliknya menatapnya tajam dengan kasar kearah Maura.
"Jangan dikira aku lemah hanya karena aku wanita! Jangan berpikir kau itu sudah sangat kuat, berpikirlah pakai otakmu itu sekali-kali, apa kau tak malu dengan dirimu itu beraninya hanya dengan wanita, dasar pengecut!" bentak Maura sambil berlalu pergi meninggalkan lelaki itu.
Gilang masih meringis kesakitan, saat menatap kepergian Maura, dibalik kesakitan nya itu samar-samar dia melihat sosok yang begitu mirip dengan seorang gadis berjalan beriringan dengan Maura.
"Ve-Vera?!" gumamnya ketakutan.
Berulang kali dia mengucek matanya memperhatikan kearah Maura, tetapi tidak ada siapapun kecuali Maura yang sedang berbincang dengan Ichan.
"Sialan! Gadis itu mengingatkan aku dengan orang itu!" umpatnya dalam hati.
Tiba-tiba ada angin berhembus kencang kearahnya, bulu kuduknya merinding seketika, dia menoleh kekanan dan kekiri ketakutan.
"Apa karena aku teringat dengannya tiba-tiba suasana jadi berbeda seperti ini, bangs*t memang! Gara-gara gadis itu aku dipermalukan didepan bocah cecunguk itu, aku harus memberinya pelajaran!" geram Gilang.
Ketika dia ingin bangkit dari duduknya dan ingin menghampiri Maura, tiba-tiba tas ranselnya ditarik oleh sesuatu dari belakang hingga dirinya kembali terhempas lebih keras daripada saat di banting Maura tadi.
"Aakhh! Punggungku!" teriaknya kesakitan.
Ada beberapa orang yang ada di sana memperhatikan dirinya, ada yang menganggapnya mencari perhatian saja, atau mungkin kena karma apa yang dia lakukan selama ini.
"Kayaknya dia kena ganggu oleh makhluk pengganggu pohon itu deh!"
"Emang pohon itu ada hantunya?"
"Gak tau, mungkin saja. Mengingat dirinya begitu jahat kepada orang-orang kan!"
Begitu banyak komentar yang terdengar mengenai dirinya, Gilang benar-benar merasa malu apa yang menimpa dirinya, dia ingin marah tapi pada siapa? Karena di sana tidak ada siapa-siapa kecuali dirinya dan pohon itu.
Sekali lagi dia merinding, tapi dia menepis beberapa pikiran yang menderanya, dia menolak dan tidak percaya dengan kejadian mistis lainnya.
"Dasar manusia jahat, manusia terkutuk! Kuhancurkan hidupmu, seperti kau menghancurkan hidupku, bangs*t!" terdengar suara wanita yang berteriak di telinganya.
Gilang celingukan, dia mencari sumber suara tapi semua orang berada lumayan jauh darinya, dia sangat kesal dan berusaha mengabaikan teriakan itu.
"Kenapa, apa kau merasa hebat karena merasa memiliki kuasa?! Apa karena ayahmu berkuasa, kau seenaknya memperlakukan semua orang, dasar pembunuh!" kali ini suara itu kembali memprovokasinya.
Gilang yang sudah tak tahan menyerang siapa saja yang berada didekatnya, ada dua orang yang tak sengaja lewat didepannya, jadi amukan dirinya.
Dua orang itu seorang wanita dan lelaki berbadan kurus, dengan mudahnya dia membanting dan menghajar keduanya, semua orang berteriak ketakutan, dan kebetulan ada beberapa dosen yang lewat dan melihat itu, mereka langsung menghentikan perbuatannya.
"Hentikan, Gilang! Apa-apaan kamu! Apa kamu ingin membunuhnya?!" teriak salah satu dosen itu.
"Kenapa, hah?! Aku sudah pernah membunuh, bukan hal sulit bagiku melakukannya, haha!" ucap Gilang yang semakin menggila itu.
"Astaghfirullah, Gilang! Sadar kamu!" ujar dosen itu.
Karena tidak puas dengan dua orang itu dia malah hendak menyerang pak dosen juga, untung Ardian datang dengan cepat dan langsung membekuknya dengan mudah.
"Pak, tolong saya mengikat orang ini sebelum menyakiti orang lain, dan lainnya tolong hubungi ambulance!" teriaknya.
Semuanya seakan terhipnotis oleh kelakuan bengis Gilang hingga lupa dengan keadaan sekitarnya, mendengar teriakan Ardian menyadarkan semuanya dan mulai menghubungi ambulans.
Ada juga melaporkan kejadian ini kepada dosen lain, ada juga yang merekam kejadian itu, pokoknya sangat chaos sekali keadaan di sana. Gilang diamankan di ruang rektor.
"Pak, ini diluar batas. Kita harus melaporkannya ke polisi atas tindakannya ini, seseorang sekarat olehnya" ucap Ardian.
"Tidak bisa, kita harus menunggu keputusan para profesor dan dewan kampus ini soal itu" jawab rektor itu.
"Loh, ini tindakan kriminal loh pak?! Gak bisa dibiarkan, jika begini terus akan ada orang-orang yang akan jadi korbannya lagi" ucap Ardian tak mengerti.
"Justru itu berusaha sebisa mungkin hindari dirinya dan jangan berbuat masalah dengan orang itu, kau tau kita tak bisa berbuat banyak tentang dirinya.." sahut rektor itu.
"Maksud Bapak apa?! Apa dia memiliki sebuah kekuatan hebat hingga tak bisa dicegah?!" tanya Ardian sangat geram.
"Ibunya salah satu dewan yayasan kampus ini, sedangkan ayahnya seorang pejabat penting di kota ini, bahkan dia memiliki banyak relasi dengan orang-orang penting di kota ini" ucap rektor itu sambil menunduk seolah dirinya malu dengan pernyataannya sendiri.
"Oh, jadi begitu. Ketika dia berasal dari keluarga berpengaruh kalian tunduk begitu saja!" geram Ardian.
"Bukan begitu, kami juga bawahan, nak.. Patuh dengan aturan juga" jawab rektor itu.
"Tapi aturan mana dulu untuk di patuhi, Pak! Jika suatu aturan bisa mencelakakan orang dan membiarkan sebuah kezaliman berkuasa, sama saja kalian dengan dirinya!" ucap Ardian kesal sambil pergi meninggalkan rektor itu sendirian.
"Halo, aku akan mengunjungi kalian! Kumpulkan semua orang, kita harus bergerak segera!" ucap Ardian sambil menghubungi seseorang.
Dia berjalan meninggalkan kampus itu dengan hati dan perasaan hancur melihat sebuah kenyataan tentang negerinya ini.
......................
Bersambung
Udah 2ribu lebih kata, semoga bisa menghibur kalian. Jangan lupa dukungannya 🥰🙏