
Siapa kamu, apa yang kamu lakukan disini?" terdengar suara dibelakang Maura.
Maura sedikit terkejut mendengar suara ini, dia begitu hafal pemilik suara ini, dengan bahasa Indonesia yang masih kaku dan aksen Amerika nya masih begitu kental. Dia menoleh kearah pemilik suara itu.
"Maurice?!"
"Maura?!"
Kedua sahabat itu langsung mendekat dan berpelukan meluapkan rasa rindunya, Maura yang dari tadi habis menggendong Gerry tanpa sengaja melempar kucing itu entah kemana.
"Dasar manusia, sudah bertemu dengan yang lain begitu mudah melupakan yang lama, huh?!" ujar Gerry kesal.
Tentu saja Maura dan Maurice bisa mendengar suara hatinya itu, keduanya tertawa melihat tingkah konyol si kucing reinkarnasi itu, Gerry.
"Maafkan aku, Gerald. Eh, Gerry.. Tadi saking terkejut dan senangnya bertemu dengan sahabatku aku hampir melupakanmu.." ucap Maura sambil meraih Gerald alias Gerry itu.
"Rupanya kalian sudah bertemu, padahal aku ingin sekali membuat kejutan untukmu dengan mempertemukan kalian berdua.." ucap Maurice berpura-pura sedih, setelah itu dia kembali ceria lagi.
"Maafkan aku, aku tak sempat mengabari kalian lagi karena beberapa bulan ini aku begitu sibuk dengan kuliah dan urusan lainnya.." ucap Maura.
"Tidak apa, kami mengerti kok.." jawab Maurice sambil tersenyum simpul.
"Hemm, seperti tau aja kamu, hehe.." ledek Maura.
"Emang tau kok, kami selama tinggal di kota sebelah selalu mencari tahu keberadaanmu, Maura.. Kami tak ingin kehilangan kamu terlalu lama, kami mencari alasan agar pindah dari sini dan tak dicurigai oleh keluarga nenekmu itu.." jawab Maurice serius.
"Ngomong-ngomong soal keluarga itu.. Bagaimana dengan nenek? Apa mereka masih membuat ulah??" tanya Maura penasaran.
"Kami tak tahu kabar nenekmu, dan semenjak kejadian itu seluruh keluarga itu tak pernah lagi menampakkan diri mereka di tengah umum, mereka hanya bertemu atau berkumpul dengan orang-orang yang mereka mau saja.
Sedangkan Nala dan Nayla sudah pergi ke Amerika di antar oleh Julian dan Joanna, btw.. Mereka berdua si pasangan kekasih itu memilih kembali ke Amerika, mereka tidak terbiasa dengan budaya Indonesia, apalagi dengan cuacanya, katanya panas sekali, haha.." ujar Maurice sambil tertawa mengingat kejadian itu.
Maurice menceritakan beberapa kejadian-kejadian aneh yang menimpa Julian dan Joanna, banyak terjadi kesalahpahaman dalam bahasa, dan ditambah mereka kurang cocok dengan makanannya karena cenderung makanan di daerah sana begitu banyak bumbu dan pedas, sedangkan keduanya tidak suka pedas, ditambah lagi Julian yang alcoholic itu, sehingga mereka harus kembali lagi ke Amerika.
"Mereka memilih tinggal di sana, sekalian mengawasi perusahaannya Ardian. Dan mereka juga perlu mengawasi Nala dan Nayla juga, karena keduanya belum aman betul.
Menurut pengetahuanku keduanya pergi diam-diam tanpa diketahui oleh keluarganya, kami takut jika keluarganya tahu dan bisa membahayakan mereka.
Makanya adanya Julian dan Joanna bisa membantu mereka selama ada di Amerika, mengawasi perusahaannya Ardian dan memantau keadaan keluarga kita juga di sana.." ucap Maurice menjelaskan semuanya.
"Wah, aku pikir dengan pulang ke rumah mereka bisa lebih santai, malah tugasnya lebih banyak!" ucap Maura merasa kasihan juga dengan keduanya.
"Mau gimana lagi, keduanya harus taat perintah atasan kan. Haha!" ucap Maurice tergelak.
"Atasan? Siapa?" tanya Maura bingung.
"Ya ampun Maura! Kamu gak lupa kan sama Ardian?!" ucap Maurice sedikit heran.
"Haha.. Aku tau kok, cuma becanda aja!" sahut Maura geli melihat tingkah Maurice yang berhasil dia goda.
"Apa yang kalian berdua lakukan disini, ayo kita sholat berjamaah dan bantu para santriwati yang lain menyiapkan makan malam!" terdengar suara orang lain dari arah samping mereka.
Terlihat ada tiga santriwati di sana, ketiganya memiliki wajahnya cantik tapi sedikit berkurang karena wajah galak dan juteknya itu, Maurice nampak tersenyum dan mengangguk kepada mereka.
"Ayo, Maura!" ajak Maurice sambil menarik tangan Maura.
"Tapi kamu kann.." Maura tak enak mengatakannya.
"Aku dan Kevin sudah mualaf dua bulan yang lalu, kami sengaja belajar di pesantren ini untuk mendalami ilmu agama, sekalian belajar ilmu bela diri juga.
Bukan hanya setan yang kita lawan, tapi kita juga harus membela diri dari manusia-manusia jahat lainnya" ucap Maurice dengan sok wibawa.
"Ehem, sepertinya baru belajar disini kamu sudah banyak ilmunya yah!" goda Maura.
"Tidak juga, aku tadi hanya menirukan kata ustadzah kemarin, haha" ucap Maurice lagi.
"Ehem!" salah satu gadis itu berdehem kencang.
keduanya langsung mengikuti mereka, setelah selesai sholat berjamaah lagi di masjid, keduanya pun ikut membantu di dapur untuk menyiapkan makan malam semuanya.
"Eh, nak Maura ikut disini juga?! Udah tunggu didepan aja.." ucap bu Mariam, ibu pengurus tadi.
"Tahu diri itu namanya!" sahut gadis itu tadi.
"Hus, Nur!" bu Mariam menegurnya sambil menutup mulutnya dengan telunjuk.
"O ya, kamu sudah bertemu dengan teman kamarmu, Maura? Ini namanya Nur, sebelah Lita dan disampingnya Hesti. Mereka nantinya akan belajar bersama kalian berdua.
Dan satu kamar dengan kalian berdua, kecuali Hesti yah dia berada dikamar sebelah. Nah, sudah selesai! Ayo bawa makanan kedalam.." perintah bu Mariam.
"Aduh! Jika mereka bertiga selalu ngintilin kita bisa berabe nih! Aku gak bisa ada waktu berdua aja sama Maurice, padahal aku ingin sekali bercerita banyak hal kepadanya.
Jika ada mereka rasanya tak enak, apalagi jika ada gangguan gaib, takutnya bisa membahayakan mereka jika terlalu dekat dengan kami.
Aku tak ingin kejadian di rumah kost bu Nela terjadi lagi disini, mudah-mudahan mereka mau bersama kami disaat belajar saja" gumam Maura gelisah.
Saat menyiapkan makan malam itu, Maura bertemu lagi dengan kakak pembina santri yang bertemu di pelataran masjid tadi. Kali ini lelaki itu menatapnya dengan ramah tidak galak seperti tadi.
Maura salah tingkah dibuatnya, dia berusaha bersikap biasa dan mengontrol emosinya karena dia tahu siapa sebenarnya pemilik hatinya saat ini, dia tak ingin ada yang kecewa dengannya.
"Matanya kemana?! Hati-hati nanti kuah sayur di tanganmu itu bisa tumpah!" ucap di Nur judes.
Maura sangat dongkol sekali dengan ucapan anak itu, tapi ia memilih untuk diam dan tak meladeninya. Percuma saja ya kan, dia takkan menang juga jika berdebat dengan orang itu.
"Ayo duduk yang tenang, mari pak Kyai bisa pimpin doa makan bersamanya" ucap salah satu ustadz yang ada di sana.
Semuanya diam khusuk berdoa sebelum makan, dan menikmati makan malamnya dengan tenang tanpa gangguan siapapun. Setelah selesai makan dan beberes, Maurice mengajak Maura pergi ke padepokan disebelah pesantren.
"Seminggu tiga kali kami mengadakan latihan pencak silat disini, disini muridnya tidak semuanya dari santri yang ada di pesantren, tapi ada juga dari warga lain ataupun orang dari tempat jauh sengaja datang kesini untuk berguru dengan pak Kyai" ucap Maurice menjelaskan semuanya.
"Ckck, aku kagum padamu. Katanya baru dua bulan mualaf dan baru tinggal disini, tapi kamu tau semuanya tentang pesantren dan padepokan ini yah.." ucap Maura kagum.
"Tidak semuanya, Maura. Hanya sedikit saja yang aku tahu, yang aku ceritakan tadi adalah pemberitahuan dari pak Kyai saat kami baru sampai sini, lagian aku kan memang pintar mengingat, hehe.." jawab Maurice tersipu malu.
"Btw, coba kamu ceritakan kepadaku perjalanan spiritual kalian berdua bagaimana bisa menjadi mualaf?" tanya Maura penasaran.
"Ceritanya lumayan panjang, Maura.. Singkatnya, aku dan Kevin sempat terjebak disebuah bangunan tua saat sedang berlibur waktu itu, kami tersesat dan terjebak oleh jin usil didalam bangunan tua.
Kami diselamatkan oleh seorang lelaki tua yang kebetulan lewat dan mendengar suara teriakan kami, lelaki itu membuka pintu itu dengan bacaan-bacaan doa yang awalnya kami tak tahu itu bagian dari ayat-ayat suci Al Qur'an.
Jin itu tak membiarkan kami pergi begitu saja, malah jin itu memberikan berbagai pertanyaan kepada lelaki tua itu, jika bapak itu berhasil menjawab semua pertanyaannya maka kami akan dilepaskan.
Tapi jika tidak, maka kami akan dikurung di sana selamanya. Pertanyaannya menurut kami tidak sulit, tapi bapak itu menjawabnya dengan hati-hati, setiap jawabannya selalu diselipkan ayat-ayat al Qur'an dan penjelasannya diterima secara akal dan logikanya benar.
Setelah kami diselamatkan, tidak sampai di sana saja, beliau membawa kami beristirahat di rumahnya yang sederhana, tapi terlihat dari kami hidupnya dengan keluarganya itu begitu damai dan bahagia, meskipun hidup mereka penuh kekurangan.
Kami pulang dan memberikan sejumlah uang kepada mereka, tapi bapak itu menolaknya, katanya dia menolong kami secara ikhlas dan itu semua atas bantuan Allah SWT, kami awalnya tak percaya Maura..
Tapi kebaikan hati dan kesederhanaan hidupnya membuat hati kami tersentuh, bahkan beberapa warga di desanya yang mayoritas muslim itu begitu baik memperlakukan kami yang notabene adalah orang asing.
Dan dari sanalah kami mulai belajar tentang Islam, sebenarnya bukan hal aneh bagi kami mengenai Islam karena selama ini kami bergaul dengan kamu dan keluargamu, apalagi bi Marni selalu mendoakan kita setiap kali mau pergi.
Aku pikir itu hanya doa-doa biasa, tapi jika kupikir lagi, mungkin selama ini kita selamat dari bahaya karena kekuatan doa juga, doa meminta pertolongan dan perlindungan kepada Allah SWT atas segala musibah dan gangguan para jin dan setan" ucap Maurice begitu serius dan tersentuh dengan ucapannya sendiri.
"Kamu hebat, Maurice! Aku saja muslim dari lahir tak pernah berpikir seperti itu, yah mungkin benar dari keluarga dan lingkungan juga tak mendukungku selama ini, tapi justru dari pengalaman orang membuatku tersadar dan mulai dari awal lagi dalam mendalami ilmu agama yang sudah lama aku anut ini" ucap Maura berkaca-kaca.
Dia malu dengan dirinya sendiri yang selama ini begitu jauh dari ilmu agama, justru temannya yang terlahir dari keluarga non muslim dan tak pernah mengenal islam sama sekali, begitu mudahnya menerima agamanya dengan baik.
"Ya Allah, bimbing hambamu ini kejalan yang benar, dan jauhkanlah hamba dari gangguan para jin dan makhluk halus lainnya" gumam Maura.
Baru saja dia berdoa, tiba-tiba Gerry yang sedari tadi mengikuti mereka menggeram sambil menatap lurus kearah pepohonan disebelah bangunan pesantren mereka.
Grrrr!
Terdengar suara geraman mendekati mereka dari balik hutan dan pepohonan itu.
......................
Bersambung