RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Season 2 : (PNS) Sebuah Rahasia Kelam


Maura masih mengintip dari cela kecil dibalik pintu itu, dia mengamati keadaan diluar. Dia masih melihat para tetua di rumah itu masih di sana, mereka melihat pintu kamar Nala masih terbuka sedikit.


"Nala, kalau kamu di kamar seharusnya pintu itu tertutup rapat. Jangan biarkan terbuka meskipun sedikit" ujar pak Herman kesal.


"Memangnya kenapa, Yah?" tanyanya seolah tak tahu apa-apa.


"Jaga-jaga saja, siapa tahu ada saudara-saudaramu yang iseng masuk kesini" jawab pak Herman.


"Kamu seperti Nayra saja, tutup pintu kamar suka tidak rapat!" sambung pak Herman lagi.


Nala sedikit terkejut mendengar ucapan ayahnya itu, dia termasuk pintar berekspresi jadi ayahnya tidak tahu jika dia sedang menyembunyikan sesuatu.


"Sudahlah, Kak. Namanya juga kembar, suka apa-apa samaan. Hehe!" ujar bu Sinta menengahinya.


"Ya sudah, malam ini jangan kemana-mana! Didalam kamarmu saja, Ayah tidak mau kejadian seperti malam itu terjadi lagi!" ujar pak Herman seraya berlalu meninggalkannya.


"Sabar yah, ini demi kebaikanmu dan lainnya.." ujar bu Sinta sambil menepuk bahu Nala.


Mereka semua pergi meninggalkan tempat itu, Maura buru-buru menutup pintu kamar Nayra lagi. Jantungnya berdegup kencang tak kalah langkah mereka mendekati kamar itu.


Tok! Tok! Tok!


"Nayra! Ingat, pintunya dikunci dan tidak boleh keluar kamar sampai besok pagi" titah pak Herman kepada anaknya, tapi tidak tahu yang didalamnya ternyata keponakannya.


"Hem!" Maura hanya menyahuti seperti itu.


"Kenapa dia hanya menyahutiku seperti itu? Ah, mungkin dia sedang kesal denganku. Biarkan saja, nanti juga tenang kembali.." gumam pak Herman.


Terdengar langkah kaki menjauh dari kamar itu, Maura kembali lega karena sekarang dia tinggal sendirian. Hanya saja dia merasa aneh dengan Nala, kenapa dia tak bercerita jika adik kembarnya sudah menghilang dibawa makhluk itu?


Tapi setelah itu dia juga berpikir, kenapa mereka sangat tega sekali melakukan hal itu kepadanya? Padahal selama dia berada di sana tidak sekalipun melakukan kesalahan, ataupun menyakiti mereka.


"Mungkinkah ketika aku pulang terlambat waktu itu? Tapi mana mungkin hanya karena itu mereka bisa mengorbankan diriku" gumamnya sendiri.


Dengan hati-hati dia membuka pintu kamar itu dan menguncinya dari luar, agar mereka semua tidak sadar jika Nayra tidak ada didalam kamarnya.


Dia mengendap-endap menuju kamar Nala, dan mengetuk pintu kamar itu pelan agar tak kedengaran dengan yang lain.


"Siapa?" tanya Nala.


"Ini, aku!" sahut Maura.


Ceklek!


"Masuklah cepat, sebelum yang lain melihatmu!" ujarnya.


Maura buru-buru masuk kedalam kamar itu, dia melihat Nala begitu sibuk mencari sesuatu didalam sebuah buku yang terlihat sudah usang sekali, di mejanya itu dia juga melihat ada lembaran kertas yang terbuat dari kulit kayu.


"Sedang apa kau?!" tanya Maura heran.


"Aku sedang mencari petunjuk untuk mematahkan sihir itu! Agar aku bisa menyelamatkan Nayra" ujarnya sambil membolak-balik buku itu halaman per halamannya.


"Dan kulit kayu ini.." Maura melihat kulit kayu tipis ini begitu usang dan lapuk.


"Itu adalah peta dimana mereka biasanya melakukan ritual itu, di sana juga mereka biasanya juga menahan para tahannya sebelum persembahan itu dilakukan" jelasnya dengan sibuk bersama buku itu.


"Aku hanya melihat kayu tipis yang sudah lapuk dan usang, tak ada tanda-tanda di atas sana. Jangankan peta, tulisan apapun tak ada di sana" ujar Maura.


"Tentu saja, karena yang bisa melihat isi peta itu hanya para tetua saja. Dan.." terlihat Nala terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Dan apa?" tanya Maura penasaran.


"Dan darah keturunan asli pendiri sekte dan juga keturunan Raja Sriwijaya jaman dulu, tapi tidak mungkin. Karena yang kutahu tidak ada yang seperti itu.


Secara logika saja, mana ada anak seorang pengabdi iblis menikah dengan anak keturunan raja yang memiliki tugas dan kewajiban menumpas para penyihir di bumi Sriwijaya pada jaman itu" kata Nala.


Maura diam saja mendengarkan penjelasan darinya, dia sempat berpikir.. Jika benar apa yang diucapkan oleh Nala tadi, berarti dia bisa melakukan hal itu.


"Emm, apakah mereka melakukan ritual atau semacamnya untuk membuka peta ini?" tanya Maura lagi.


"Aku tak pernah melihat mereka melakukan itu dihadapan kami semuanya, mereka akan memberikan itu semuanya setelah dianggap kami pantas" jawab Nala lagi.


"Kami para pemula ini, belum diajarkan apa-apa oleh mereka. Katanya hanya anak-anak yang beruntung bisa mengikuti jejak mereka, kalau kami mau, kami harus belajar dengan giat, salah satunya dengan membaca buku-buku ini.


Dan aku kebagian untuk menjaga buku dan peta ini, kami akan bergilir mendapatkan tugas ini secara bergantian" Nala masih sibuk dengan bukunya itu, dia tak sadar telah digiring berbagai pertanyaan oleh Maura.


"Nala, apakah kau dan Nayra menyukai kegiatan ini? Bagaimana rasanya menjadi bagian dari keluarga sekte ini?" tanya Maura.


Mendengar itu, Nala langsung terdiam dan hanya menatapi buku itu. Terlihat raut wajahnya berubah, dia sedang menahan sesuatu dihatinya.


"Kami... Melihat semuanya, malam itu... Ayah, ibu... Sejak itu kami membenci mereka semuanya, tapi kami tak bisa lari ataupun kabur dari sini.


Kami hanya menunggu waktu saja, kehadiranmu disini bagaikan angin segar bagi kami, hanya kau satu-satunya jalan bagi kami agar bisa keluar dari sini.


Dan, maaf... Jika kami bersikap kasar kepadamu, itu cara kami agar tak dianggap di keluarga ini. Mungkin kedengarannya aneh, tapi begitulah... Jika kau nakal dan dianggap pembangkang, maka kau akan dianggap gugur dalam ujian mereka" ujar Nala menjelaskannya.


"Apakah kau dan Nayra... Melihat ibumu, dikorbankan?" tanya Maura hati-hati.


Nala hanya mengangguk, wajah dan matanya memerah menahan emosi ketika kembali mengingat kejadian waktu itu.


"Waktu itu kami masih kecil, setahun setelah kepergianmu Maura... Ayah mengajak kami piknik di tengah kebun teh milik keluarga ini, karena kesibukannya dia tak memiliki banyak waktu untuk kami semua.


Hari itu dia meluangkan waktunya bermain dengan kami di sana, ayah mengajak ibu ke suatu tempat di area itu, kami tidak menyadarinya.


Karena masih kecil dan takut ditinggal, kami mencari mereka. Kami melihat ayah mengajak ibu bermain petak umpet sambil menutup mata.


Ayah mengarahkan ibu kesebuah kandang besar yang berisi sesajen, waktu itu kami tidak tahu apa-apa, dan ingin bermain juga dengan mereka.


Tiba-tiba pintu kandang itu menutup cepat mengurung ibu, kami sangat kaget sekali. Nayra ingin berlari menuju ibu, tapi naluriku berkata itu berbahaya.


Aku menahannya sambil bersembunyi dibalik tanaman pohon teh itu, aku yang masih kecil waktu itu seolah tahu semuanya, aku menurup mulut Nayra agar tak berteriak dan suara tangisnya tak terdengar.


Dengan mata kepala kami sendiri, kami melihat ibu digulung oleh kabut hitam yang menyelimuti kandang besar itu.


Masih terngiang ditelinga kami, suara jeritan minta tolong ibu.. Kami benar-benar merasa menyesal tak bisa berbuat apa-apa" ujar Nala bercerita tentang kejadian waktu itu.


Maura bisa mengerti perasaannya waktu itu, karena dia juga merasakan hal itu. Dia juga merasa kagum dengannya, karena bisa menahan rasa itu sampai belasan tahun lamanya.


"Kamu hebat bisa menahannya, ditengah-tengah orang-orang yang telah mencelakai ibumu" ujar Muara lagi.


"Sekarang, kau mau apa setelah kejadian ini?" tanya Maura lagi.


"Aku akan mencari Nayra sampai ketemu, aku tak ingin kehilangan lagi! Ini semua karena obsesi nenek dan keserakahan mereka semua!" geramnya.


Nala nampak berkemas memasuki beberapa barang didalam tas ranselnya, dia juga membawa buku petunjuk itu. Ketika dia ingin mengambil gulungan kertas kayu itu, tidak sengaja Maura menyentuh kertas itu.


Tiba-tiba kertas itu menimbulkan cahaya terang didalamnya, Nala terkejut sehingga melemparkan gulungan kertas itu hingga terjatuh di lantai kamar itu.


Gulungan itu terlepas dari gulungannya, dan memancarkan sinar terang didalam selembar kertas itu.


Ketika sinar itu mulai redup, terlihat didalam lembaran kertas itu ada guratan-guratan seperti akar atau urat-urat membentuk sebuah peta didalam sana.


"Ma-Maura... Ba-bagaimana kau bisa?!" ujar Nala terkejut.


Maura hanya tersenyum melihatnya, dia tak bereaksi apapun hanya Nala yang terlihat takut dan khawatir melihatnya.


"Tenang saja, aku disini datang untuk membantumu dan Nayra keluar dari sini" ujar Maura sambil mengambil kertas itu dan menggulungnya kembali.


"Ayo kita pergi, sudah tak ada waktu. Jangan sampai kita terlambat" ujar Maura.


"Ta-tapi, bagaimana bisa... Bagaimana jika--" Nala terlihat ragu dengannya.


"Percayalah.. Aku datang dengan niat baik" ujar Maura menyakitkannya.


Nala mau tak mau harus percaya dengannya, karena hanya Maura yang bisa membuka peta itu, dan dia berharap mereka bisa menyelamatkan Nayra.


......................


Bersambung