
Semua orang memandang aneh sang Ratu, Ratu yang selalu terlihat cantik dan anggun itu berubah seperti orang lain.
Gerakkan tubuhnya yang terlihat gelisah, matanya nanar menatap semua orang, keringat dingin mengucur di seluruh tubuhnya.
"Kau kenapa Ratu? Apa yang kau khawatirkan, si pengkhianat ini akan segera kita hukum setimpal dengan perbuatannya kepada Raja. Bukankah itu juga keinginan Ratu?" Tanya Putri Kenanga Ayu.
"Ti-tidak, tidak apa-apa. Aku hanya gugup saja. Bagaimana bisa kalung ini bersamamu, kau tahu kan ini kalung apa?" Tanya Ratu palsu itu.
"Tentu saja aku tahu Ratu, ini kalung giok delima sakti. Katanya, kalung ini milik penyihir yang pertama muncul di negeri inj. Apa kau tak lihat di kalung itu Ratu, giok delima sakti berwarna merah itu. Ada kekuatan besar di dalamnya.
Kalung ini merupakan kekuatan dan senjata besar milik penyihir kuat itu, tetapi kalung ini juga bisa menjadi kelemahannya karena bisa membunuhnya atau penyihir lainnya.
Ratu, bukankah kalung ini indah dan kuat bukan?" Ucapan dan kata-kata Putri Kenanga Ayu membuatnya semakin kalap.
"Akhirnya, haha.. Akhirnya aku menemukannya, tuanku.. Tuanku pasti menyukainya, haha..!" Katanya tanpa sadar semua orang memperhatikan dan mendengarkannya.
"Apa maksud Ratu, apa Ratu menginginkan kalung itu? Tuan, siapa tuan itu?" Tanya Brahmana penuh selidik, sedari tadi dia hanya diam memperhatikannya saja. Sekarang dia sudah tak tahan lagi ingin menyudutkan Ratu palsu itu.
Sadar posisinya yang serba salah, Ratu palsu itu berusaha memperbaiki sikapnya. Kembali anggun dan sok wibawa, tapi sayang semua orang sudah tak hormat lagi karena melihat sikapnya tadi.
" Bukan apa-apa, ayo cepat laksanakan eksekusinya. Tapi kalung ini tetap bersamaku?" Kata Ratu palsu itu.
Tiba-tiba kalung yang ditangan Ratu itu mengeluarkan cahaya berpendar berwarna hitam, dan seketika kalung itu hancur. membuat Ratu palsu itu kaget dan heran.
"Mengapa, mengapa kalungnya hancur?!" Katanya meluapkan emosinya.
"Seperti aku katakan tadi, Ratu. Kalung itu akan hancur jika ditangan penyihir atau mungkin pengikutnya." Kata Putri Kenanga Ayu.
Semua orang disana begitu kaget bercampur heran. Semuanya yang ada disana menjadi gaduh tak percaya yang dilihat mereka.
"Apa maksudmu?! Apa kau ingin mengatakan kalau aku ini penyihir?!"Katanya murka.
"Saya tak bermaksud begitu, tapi nyatanya kalung itu hancur di tanganmu" Kata Putri Kenanga Ayu nampak begitu santai, sepertinya dia sudah tahu semuanya.
"Tidak ku sangka, Ratu yang kami hormati adalah penyihir! Dan membunuh Raja kami! Pengawal, seret dia dan masukkan ke kawah besar itu. Nyalakan apinya!" Ucap salah satu Panglima besar yang hadir di sana.
Sebelumnya, Putri dan Brahmana meminta persetujuan para pejabat dan Panglima Adipati untuk melaksanakan jebakan ini. Awalnya mereka tak setuju, karena tak percaya Ratu adalah pengkhianat dan seorang pembunuh.
"Kami akan membuat Ratu palsu itu masuk kedalam jebakan kami, dengan memakai kalung ini" Ucap Brahmana sambil menunjukkan kalung palsu buatannya.
"Kalung ini akan memunculkan cahaya berpendar berwarna biru jika dia seorang penyihir asli, jika keluar warna hijau dia bukan penyihir, dan jika keluar warna hitam maka dia adalah pengikut penyihir sekaligus pembunuh aslinya" Jelasnya.
Akhirnya semua orang setuju dengan rencana itu, dan itu berhasil. Semua orang di sana terlihat marah dan murka.
"Ti-tidak, aku bukan penyihir! Aku juga tak membunuh Raja, lihatlah.. aku juga sedang hamil, aku mengandung keturunan Raja!" Katanya sambil berteriak.
Semua orang sempat ragu dan bingung, tapi di patahkan oleh Putri Kenanga Ayu.
" Raja tak mungkin menyentuhmu, dan pasti itu bukan anaknya. Karena ku tahu, saudaraku itu mengalami penyakit kelamin. Makanya dia tak bisa menyentuh para istrinya, takut kalian tertular." Kata Putri Kenanga Ayu, terpaksa berbohong agar semua orang tak percaya dengan tipu muslihat penyihir itu.
"Apakah itu benar tuan Putri?" Bisik Brahmana.
"Tentu saja tidak, aku hanya tak ingin para pejabat dan Panglima disini terkecoh oleh tipuannya." Balas tuan Putri sambil berbisik pula.
Brahmana hanya mengangguk sambil tersenyum kecil dengan ide licik sang Putri ini, kadangkala kelicikan harus dibalas dengan kelicikan juga.
"Tidak, tidak.. Tolong, ampun.. Ampun, tuan.. tuanku!" Teriaknya histeris.
Dia diseret paksa masuk kedalam kawah dan dibakar hidup-hidup, sebelum itu dia menyampaikan sumpahnya.
"Aku bersumpah, Kerajaanmu ini beserta seluruh rakyat negeri ini akan mengalami kemiskinan, kelaparan dan wabah penyakit. Takkan ada yang bisa menolong kalian, hahaha..!" Katanya sebelum mati terbakar habis.
"Dasar iblis, diakhir hayatnya pun dia tak bertobat. Terus bagaimana ini tuan Putri, apakah kutukannya akan terjadi? Bagaimana nasib Kerajaan ini?" Kata Brahmana dan diiringi anggukan para Pejabat, Menteri, dan Panglima yang ada di sana.
Satu-satunya harapan mereka telah tiada, Raja sudah wafat ditangan Ratu palsu. Sekarang Kerajaan itu bagai cangkang kosong, tak bertuan. Mereka takut akan terjadi pemberontakan dari Kerajaan-kerajaan kecil lain ingin mengambil alih kekuasaan yang di sana.
" Tenanglah, aku sudah membicarakan hal ini kepada Raja dan Ratu Majapahit, yaitu mertuaku. Dan tentunya ini sudah disetujui oleh Putra Mahkota Juga.
Aku akan menetap disini sementara, sampai putra keduaku lahir. Selama aku disini, aku akan memimpin Kerajaan ini dan memutuskan putra keduaku yang akan menjadi penerus Kerajaan ini.
Aku juga meminta jajaran para pemimpin di Kerajaan lain untuk patuh dan mengikuti arahan ku. Aku juga meminta dengan kalian secara hormat, untuk mendukung dan membimbingku dalam menjalankan tugas berat ini." Ucap Putri Kenanga Ayu.
Tak kuasa dia menahan air mata, disaat dia akan menantikan putra keduanya, malah adik tercintanya mati mengenaskan.
Semua orang di sana menjadi terharu, dan bangga memiliki tuan Putri yang bijaksana.
Keputusannya itu akan menguntungkan kedua Kerajaan besar Nusantara itu, Sriwijaya dan Majapahit akan menjadi saudara dekat.
Hingga waktu pun berlalu, bertahun-tahun sudah terlewati. Kerajaan Sriwijaya menjadi negeri yang makmur, aman dan damai selalu. Hasil panen selalu melimpah, ternak mereka tumbuh sehat dan menghasilkan susu segar nan sehat. Semua orang bersyukur memiliki Ratu yang adil dan bijaksana.
Meskipun dia hanya pemimpin sementara, Ratu Kenanga Ayu tetap setia memegang janjinya untuk memakmurkan rakyatnya.
Putra Mahkota calon pemimpin itu sudah lahir dan berusia 7 tahun, dia sudah mengikuti pelatihan untuk memimpin negeri ini. Salah satu guru besarnya adalah Arialoka.
Kutukan penyihir jahat itu akhirnya terjadi, musim kemarau berkepanjangan tiada hentinya, sumur-sumur menjadi kering, para ternak mati kelaparan dan hasil panen selalu gagal.
Semua orang mulai mengingat dan mengungkit sumpah kutukan penyihir itu.
"Ternyata kutukannya terjadi, kita harus bagaimana ini. Anakku juga sakit-sakitan. Huuu.." Kata salah satu rakyat negeri ini sambil menangis pilu melihat keadaan ekonomi dan anaknya itu.
Desas-desus itu sampai ditelinga Ratu Kenanga Ayu, sampai ada yang mengaitkan hal ini dengan kelahiran Putra Mahkota dengan bayi dikandungan penyihir itu.
"Mungkin penyihir itu juga mengutuk bayi didalam kandungan Ratu di kala itu. Kalau begitu, Putra Mahkota harus pergi maka bencana dan musibah besar ini akan musnah!" Ujar salah satu rakyat di sana.
Semua orang terpancing dan terbawa emosi, dan mulai merencanakan pemberontakan jika Putra Mahkota tak diusir.
"Aku maupun Putra Mahkota takkan pergi, ini negeri kami. Percayalah, ini semua tak ada hubungannya. Jangan tertipu oleh penyihir!" Ucap sang Ratu.
Tetapi kemiskinan dan kelaparan yang melanda mereka tak bisa membuat mereka berpikir keras. Hingga mereka memaksa masuk ke Istana dan menyeret Putra Mahkota untuk dibakar hidup-hidup seperti mereka membakar penyihir waktu itu.
"Tenanglah kalian semua, ini tidak benar. Percayalah Hyang Widhi akan membantu kita.
Mari kita berdoa bersama dan lepaskan Putra Mahkota!" Teriak Brahmana, tetapi semua orang menghiraukannya.
Melihat kekacauan itu dan kerusuhan tak terelakkan, semua orang tidak fokus dengan keadaan sekitar. Ada beberapa Pejabat dan Panglima sedang hendak kabur dari negeri ini.
Mereka adalah para pengkhianat yang rela menjual negaranya demi keuntungan pribadinya, mereka hendak pergi dari tanah Sriwijaya yang menurut mereka sudah tak makmur lagi ke seorang penyihir.
Penyihir itulah juga yang menyebarkan fitnah bahwa Putra Mahkota salah satu penyebab musibah itu terjadi, jika orang tak beriman ditambah kemiskinan terjadi, maka akan mudah bagi para penyihir itu menggodanya dengan sedikit harta.
" Haha.. Rasakan pembalasanku, kau telah membunuh salah satu istri dan anakku. Sekarang kau juga akan kehilangan anakku yang kau sayangi, beserta ditinggalkan oleh rakyatmu sendiri." Ujar seorang penyihir dari kejauhan melihat Ratu sedang kesusahan berusaha menyelamatkan Putra Mahkota.
"HENTIKAN! Dengar, kalian telah berbuat zalim kepada seorang anak kecil yang tak tahu apa-apa. Jika itu bisa memuaskan hati kalian, maka ambillah nyawaku sebagai gantinya! Lepaskan Putra Mahkota, dia calon Raja kalian!!" Teriak Arialoka.
Bagai sebuah magis, semua orang terdiam menunduk. Lalu melepaskan Putra Mahkota yang menangis ketakutan dalam pelukan Ibunya.
Salah satu orang di sana, berteriak dan menyeret Arioka masuk kedalam kawah besar itu.
"Dengarkan aku wahai rakyat semuanya, aku harap pengorbananku ini tidak sia-sia. Aku bersumpah akan kembali lagi untuk menumpas para penyihir yang sudah berusaha mengadu domba kalian dan menciptakan perpecahan diantara kita ini." Katanya lantang sambil memandang setiap orang yang ada di sana.
Ratu, Putra Mahkota, Brahmana beserta beberapa pejabat dan Panglima yang setia berusaha menghentikannya. Tapi tak berhasil karena mereka kalah jumlah, melawan para rakyat yang kelaparan dan dilanda putus asa.
"Biarkan mereka Ratuku, bukankah kau sendiri yang bilang untuk tak melawan rakyatmu sendiri? Aku ikhlas Ratu, bahkan aku bahagia bisa berkumpul dengan orang-orang yang aku sayangi di Sana." Ucap Arialoka sambil tersenyum.
Akhirnya dia gugur, tewas dibunuh oleh penyihir melalui para rakyat yang dia suap dan sedikit provokasinya.
Maharaja Balaputradewa disematkan menjadi Raja yang kejam dan kisah sang Ratu terpaksa membunuh Raja karena sakit hati dikecewakan olehnya itu, adalah kisah ciptaan para penyihir itu untuk menjatuhkan Raja dan tetap menjaga nama sang Ratu palsu dengan baik. sedangkan kisah Ratu asli tenggelam, mereka tak tahu kalau Ratu asli juga dibunuh oleh Ratu palsu penyihir itu.
Kerajaan Sriwijaya kembali aman dan damai, tanah yang kering kembali subur, ternak kembali sehat, mata air yang melimpah dan hasil nelayan di pesisir pantai pun melimpah.
Rakyat di negeri itu percaya, itu adalah hasil dari pengorbanan Panglima Adipati Arialoka.
Tetapi mereka lupa, suatu saat nanti musibah itu bisa datang kapan saja dan disebabkan oleh apa saja, hingga kemunculan para penyihir datang kembali.
Dan peperangan terus berlanjut hingga kini, sampai ke anak cucu mereka. Dan Dewi Srikandi bereinkarnasi menjadi Maura dan Panglima Adipati Arialoka lahir kembali menjadi pria itu.
......................
Bersambung
Dear pembaca, Seperti aku katakan di bab sebelumnya kalau cerita ini hanya fiktif belaka yah, tidak sesuai dengan sejarah. Cerita ini murni dari kehaluan author saja.
oke, ini season cerita terakhir tentang Panglima Adipati Arialoka, Dewi Srikandi dan Balaputradewa beserta Putri Kenanga Ayu.
Besok kita mulai lagi ke episode Maura dkk yah.. makasih udah setia menunggu 😘🙏