RAHASIA MAURA

RAHASIA MAURA
Season 2 : (PNS) Khayalan Garaga


Karena sekarang keadaan sudah stabil, Maura membuka perisai pelindungnya. Terlihat Garaga nampak tersenyum sumringah dan mulai bersikap biasa saja.


"Apa kau tak malu bersikap seperti itu kepadaku? Kau tadi baru saja mau mencelakai aku!" ujar Maura terlihat masih kesal dan belum percaya sepenuhnya.


"Maaf jika caraku berkenalan seperti itu, tapi aku juga perlu tau seberapa kuat sang Dewi yang selalu diagung-agungkan namanya oleh para jin di wilayah ini, hanya sedikit tes saja kok, haha!" jawab Garaga sambil tertawa renyah.


"Dasar aneh, aku tak seperti yang mereka katakan. Aku hanya manusia biasa yang kebetulan memiliki semua itu," ucap Maura masih ketus.


"Memang kamu manusia biasa, yang luar biasa itu kekuatan yang kamu miliki itu. Ya udah, aku pikir sudah cukup kenalannya, aku pamit dulu!" ucap Garaga sambil melenggang santai meninggalkan Maura pergi.


"Eh, tunggu! Tadi makhluk itu sempat memberikan aku minuman aneh berbau busuk, bagaimana cara aku mengeluarkan racun ini?!" teriak Maura kearah Garaga.


"Kau kan seorang Dewi, kau pasti tau bagaimana caranya menetralisir sendiri racun dalam tubuhmu itu," jawab Garaga tanpa menoleh kearah Maura sambil tersenyum penuh arti.


Tiba-tiba saja dia menghilang bersama makhluk berbulu tadi ditengah-tengah kabut yang entah datang darimana, dan suasana kembali tenang berbeda dengan tadi yang nampak sepi dan senyap sekali.


Puk!


"Maura! Bengong bae, kesambet ntar!" teriak Ichan ditelinga Maura.


"Ikshan?!" Maura terlonjak kaget saat melihat kebelakang ternyata ada Ichan tepat disampingnya melihatnya aneh.


"Wah, serius ini! Kalau udah manggil nama asli ini pasti serius," ucap Ichan sambil menatap Maura penasaran.


Gadis itu tak menjawab, saat dia menatap lagi kedepannya semuanya nampak berubah, kantin kembali ramai dengan segala keributan dan kesibukan yang disana.


Maura langsung bergegas pergi menuju perpustakaannya, dia duduk dengan tenang dan berusaha mengendalikan perasaannya. Dia berusaha berpikir jernih dan kembali mengingat semuanya.


"Kamu kenapa sih? Ditanya bukannya jawab malah bengong, dan akunya ditinggal pergi begitu saja!" protes Ichan.


"Sekarang jam berapa?" tanya Maura tanpa memperdulikan pertanyaan Ichan.


"Tuh kan, bukannya jawab malah balik nanya! Gak nyambung banget, jam 3.. Kenapa emangnya?" meskipun kesal dijawab juga akhirnya.


"Ternyata sudah satu jam an aku di sana, selama satu jam aku ngapain aja?" tanyanya bingung kepada Ichan.


"Mana kutau! Kan situ yang ngerasain semua, gimana sih?! Bukannya kamu seharian ini belajar di perpus? Aku baru liat kamu tadi di kantin.." jawab Ichan malah tambah bingung.


Maura hampir frustasi, dia melihat penjaga perpus yang sedang memeriksa buku-buku di rak dekatnya.


"Pak, tadi saya di perpus gak aneh-aneh kan? Emm, maksudnya saya dari tadi belajar aja kan?" tanya Maura buat memastikan bahwa dia berada didalam dunianya, bukan dunia ciptaan makhluk tadi.


"Kamu ini aneh, kok nanya kayak gitu! Dari tadi kamu tuh belajar, serius banget! Ampe disapa sama teman-temannya gak nyahut, serius amat bacanya. Emang kenapa?" tanya staf itu malah penasaran balik.


"Em, gak ada apa-apa, Pak! Ini sih Ichan nanyain aku ngapain aja di perpus, aku bilang aja lagi belajar tapi dia gak percaya. Makanya aku nanya ke bapak buat meyakinkan dia aja, hehe.. Maaf ya, pak!" jawab Maura, dan hanya disambut gelengan kepala oleh staf itu kemudian dia kembali sibuk dengan pekerjaannya.


"Eh, kok aku sih! Kan aku gak kayak gitu," ujar Ichan protes dia malah dijadikan alasan bagi Maura buat bertanya.


"Maaf, anggap saja kamu lagi bantuin aku!" ucap Maura sambil merapihkan tasnya.


"Aku bakal maafin kalau kamu cerita apa yang terjadi tadi, kenapa kamu sampe bengong kayak tadi di kantin sampe nanya jam, ngapain aja dan lainnya?!" ujar Ichan dengan wajah ditekuk.


Mau gak mau akhirnya Maura menceritakan semua yang dia alami selama satu jam tadi, termasuk pertemuannya dengan Garaga.


"Gila, selama satu jam kamu berada di dimensi lain! Tapi tubuhmu ada disini loh, itu berarti jiwamu yang melalang sampe sana. Jadi tubuh kamu kosong dong, untung gak diambil alih jin nakal tadi! Pantesan pas dipanggil malah planga-plongo, gitu toh ceritanya," ucap Ichan sambil manggut-manggut.


"Btw, kamu Ichan asli kan?" tanya Maura masih ragu sambil memeriksa tubuh Ichan sambil diputar-putar.


"Astaghfirullah, ini beneran aku! Ya elah," Ichan protes badannya diputer-puter kayak gasing.


"Oke, kamu memang asli tapi mereka tidak!" setelah beberapa saat akhirnya Maura baru percaya tapi dengan pandangan aneh.


"Mereka? Mereka siapa?" tiba-tiba saja bulu kuduk Ichan meremang.


"Ituuu..." tunjuk Maura kearah pepohonan diluar perpustakaan.


"Tanaman hijau dan bunga-bunga, mereka bukan manusia tapi tumbuh-tumbuhan, haha!" ledek Maura ke Ichan.


"Maura, ih! Ngeselin beut dah ah, mana udah percaya banget tadi, dasar berdosa sekali kamuuu!" ucap Ichan sangat kesal sekali sambil mengejar Maura yang sudah berlari duluan keluar perpustakaan.


"Dasar tuh bocah, cepet banget larinya! Mending aku pulang aja, udah sore juga! Kenapa aku jadi merinding begini yah, ah.. Gara-gara Maura nih, jadi parnoan kan akunya" gumamnya sambil bergidik ngeri.


Sementara itu, dibalik dinding perpustakaan Maura bersembunyi di sana sambil memperhatikan Ichan, setelah temannya itu pergi dia berjalan kearah pohon didepan perpustakaan itu.


"Aku tau kau adalah suruhan siluman itu untuk mengawasiku, pergi sana dan jangan kembali lagi jika tak ingin aku hancurkan kalian semuanya! Dan aku juga baru tau, ini semua adalah ulahmu untuk menutup pandanganku di dunia nyata ini sedari tadi, dasar laknat kau!" ucap Maura menatap makhluk itu dengan pandangan marah.


Diujung seberang perpustakaan, terlihat Ichan sedang berjalan menuju pintu keluar untuk pulang, dia melihat Maura nampak berbicara sendiri didepan pohon tepat dia berdiri di sana tadi.


"Jadi apa yang dia bilang tadi beneran dong, hiiih! serem, mending aku pulang aja daripada tuh setan ngikutin juga!" gumamnya sambil bergidik ngeri.


Sementara itu, Maura masih terus memperingati makhluk itu untuk tidak kembali lagi ke dunia manusia dan tidak menggangu manusia yang berada di perpustakaan kampusnya itu.


.


.


Setelah puas memperingati itu makhluk, Maura memilih pulang juga. Karena percuma juga belajar di sana karena dia tidak akan fokus dan takutnya kembali lagi diganggu.


"Maura!" terdengar seseorang memanggil namanya dari belakangnya.


"Iya bu, ada apa?" ternyata itu adalah salah satu dosen di kampusnya.


"Kamu belum pulang kan, bantuin ibu beberes sebentar ya di ruangan G!" tarik bu Desy tanpa mendengar penjelasan darinya dulu.


"Ta-tapi bu saya kan pula--" Maura berusaha menolaknya dengan halus, tapi omongan malah langsung dipotong saja.


"Sebentar saja, ruangan itu agak jauh dari ruangan staf dan dosen dan juga agak jauh juga dengan ruangan lainnya, jadi ribet jika harus bolak-balik, jadi kamu bisa kan bantuin ibu sebentar beberesnya, biar cepat selesai gituloh!" ucap bu Desy.


Mau tak mau Maura membantunya, rasanya sungkan untuk menolak padahal badannya rasanya kurang fit akibat peralihan dimensi yang dia lewati tadi, benar-benar menguras tenaga.


Sebenarnya bukan tanpa alasan bu Desy meminta bantuan Maura, dia sebenarnya takut dan malas membersihkan tempat itu sendirian apalagi saat mendengar ada rumor jika ruangan itu angker, dan karena insiden penyelamatan Meera dan bu Vera sama pak Damar, nama Maura dan Ardian jadi terkenal dikalangan para staf dan dosen juga.


Bukan karena ganteng dan cantik saja, tapi karena keberanian dan kepintaran mereka juga dalam menangani masalah seperti itu. Maka tak hera jika bu Desy sampai meminta tolong kepadanya.


"Nah, Maura.. Kamu bisa pindah-pindahin buku-buku dalam lemari itu keatas meja ini, nanti kita bersihin dulu lemarinya terus susun rapi kembali buku-buku itu kedalamnya.


Setelah itu baru kita bersihin meja, bangku, rak kosong itu kemudian baru deh ruangan ini.. Jika dikerjakan bersama lebih cepat selesainya, kalau sendirian lama beresnya!" ucap bu Desy terlihat senang ada teman yang membantunya.


"Kenapa ibu yang membersihkannya? Kenapa gak minta tolong petugas kebersihan saja, dan kenapa ibu sendiri yang lain gak bisa bantuin ibu?" tanya Maura penasaran, entah penasaran atau kesal acara pulangnya terganggu.


"Mereka semuanya sibuk, ada pekerjaan lain yang tak bisa ditinggalkan, itu katanya. Gak tau beneran atau cuma takut doang.." ujar bu Desy keceplosan.


"Takut? Takut kenapa, bu?" tanya Maura jadi penasaran, sebenarnya dia tau,, karena dari luar saja hawa negatif ruangan ini sudah terasa olehnya.


"Engg, maksudnya takut banyak debunya sama bau!" ucap bu Desy langsung meralat ucapannya, sambil celingukan menatap kesana kemari.


"Em, ibu keluar sebentar yah.. Mau ambil alat-alat kebersihan lainnya," ucap bu Desy sambil buru-buru keluar.


Kini tinggallah Maura sendirian di sana, dia berkeliling didalam ruangan itu, mengamati setiap sudut tempat dan berusaha mendeteksi makhluk seperti apa yang tinggal di sana.


"Aneh, aku gak bisa mendeteksinya.. Biasanya aku bisa merasakan kehadiran mereka entah itu skala kecil apalagi skala besar, dan sekarang ini.. Makhluk seperti apa yang tinggal disini, apa dia berbahaya atau tidak?" gumamnya sendirian.


Sementara itu, di dimensi lain dalam satu waktu di ruangan yang sama tapi alam yang berbeda, sosok makhluk bertubuh setengah manusia dan setengah ular sedang berendam didalam kolam disebuah gua besar.


Gua yang terbuat dari batu-batu kristal dan permata, kain-kain sutra sebagai tirai gua itu dengan lantai berselimut karpet beludru lembut berwarna hijau segar. Semuanya nampak berkilauan dengan beberapa penjaga dan pelayan siluman ular juga.


"Dia cantik sekali, ck.. Sayang dia manusia, kalau bukan sudah aku jadikan dia ratuku!" gumam siluman itu tak lain itu adalah Garaga.


Dia sedang meminum anggur bercampur darah didalam cawan miliknya sambil mengamati sebuah tirai tipis berwarna putih yang sedang menampakkan kegiatan Maura didalam ruangan itu tadi.


Seperti sedang menonton sebuah video lewat proyektor, Garaga menikmati setiap langkah Maura dengan senyum penuh arti. Jarak mereka begitu dekat, hanya setipis tisu tapi Maura tak bisa melihat ataupun merasakan keberadaannya di sana.


"Kita harus bagaimana, apa aku sekarang jadi targetmu untuk dimusnahkan atau.. Sebaiknya kita jadi sekutu saja? Entah kenapa, isi kepala atas dan bawahku menginginkan kamu jadi milikku.." senyumnya, sambil mengamati seluruh tubuh Maura dengan pandangan menelan.jangi..


"Ih, kok tiba-tiba badanku rasanya geli banget! Apa ada serangga yang masuk kedalam baju?!" gumam Maura sambil mengibaskan tangannya ketubuhnya berharap serangga atau apapun itu bisa keluar dari sana.


"Sssttt... Aaah!" Geraga memejamkan matanya sambil menji.lat bibirnya.


Dia tersenyum penuh kemenangan sambil membayangkan tubuh Maura, tapi kemudian dia membuka matanya kembali dengan pandangan tajam.


"Percuma, ini hanya hayalan belaka dan kenik.matan semu!" ucapnya sambil menatap Maura lagi dibalik tirai putih setipis tisu..


......................


Bersambung