
Bhum!
Maura dan Ardian terlempar jauh dari tempat itu, seketika mereka keluar dari dunia gaib ciptaan pohon keramat itu, pohon gaharu cikal bakal terlahirnya Arion Gaharu.
"Maura, Maura! Hei, bangunlah..." Angga dan Dhania membangunkan Maura dari tidurnya, dan begitu sulit untuk dibangunkan sejak tadi.
"Ardian, hei bangunlah! Ada apa dengan kalian? Apa masih mengantuk juga setelah tidur lama siang tadi? Hei, Ardian! Bangunlah.." ujar Kevin juga Maurice membangunkan Ardian.
Dan dalam bersamaan juga keduanya terbangun dalam keadaan terkejut, seperti baru saja tersadar dari mimpi buruknya. Membuat mereka semua bingung melihat tingkah keduanya, sedangkan Maura dan Ardian sempat saling tatap beberapa detik dan langsung memalingkan wajahnya, malu mengingat apa yang mereka lakukan tadi.
"Hei, apa kalian baik-baik saja?" tanya Angga.
"Iya, kami baik-baik saja. Apa kami terlalu lama tidurnya?" tanya Ardian penasaran juga.
"Tidak juga, hanya saja kalian sangat sudah dibangunkan! Ayo Kita pulang, ini sudah larut. Mari lanjutkan tidurnya di rumah saja..." jawab Kevin.
Keduanya bangun dari duduknya dan merasa badannya terasa sakit-sakit dan pegal-pegal seperti dihantam kayu besar, Maura dan Ardian melihat ada bekas lilitan akar kecil yang melingkar dilengan tangan mereka.
"Jadi, apapun yang terjadi dengan kita di sana, tubuh kita ikut merasakannya juga... Kalau, seandainya kita... Em.." Ardian ragu meneruskan ucapannya, sudah malu duluan.
"Aku tau, tentu saja darah itu akan keluar juga ditubuh ini.." sambung Maura memahami maksud dari perkataannya si Ardian.
Ardian menatapnya lekat, sesaat Maura terdiam dan baru sadar apa yang dia maksud berbeda dengan Ardian maksudkan. Dia pikir Ardian mengatakan jika mereka terluka dan berdarah saat melawan para iblis itu, maka mereka sudah pasti terluka juga di dunia nyata, dan ternyata maksudnya Ardian adalah darah yang lain.
"Jangan bahas itu sekarang," bisik Maura malu, Ardian hanya tersenyum saja melihat ekspresi Maura yang terlihat malu-malu itu.
Mereka semuanya berpamitan untuk pulang dari pesantren itu, sekaligus Dhania, Angga dan Kevin juga Maurice berpamitan mau pulang besok siang, mereka akan ke Jakarta dulu setelah itu baru berangkat ke New York.
"Hati-hati dijalan, sampai jumpa lagi.." ucap pak Kyai dan lainnya menatap mereka haru.
.
Sesampainya di rumah, mereka langsung beristirahat. Terutama Dhania, Angga dan Kevin juga Maurice. Karena mereka lah yang paling sibuk mengurus pernikahan dadakan itu. Sedangkan Maura dan Ardian masih duduk didepan meja makan sambil berusaha mencerna apa saja yang terjadi saat ini.
"Aku gak tau ini mimpi apa nyata, tiba-tiba saja bangun aku akan menikah begitu saja. Aku pikir ini adalah jebakan sihir lainnya, rasanya begitu aneh saja.." ucap Maura kepada Ardian.
"Ya, akupun sama berpikir begitu. Tiba-tiba saja diminta menikahimu, kalau ditanya tentu saja aku mau dan siap bersedia, tapi masalahnya apa kamu siap menikah sekarang? Aku takut ini akan jadi beban kita berdua nantinya.." sahut Ardian pula.
"Dan sekarang, apa kamu masih merasa ini adalah beban? Apa kamu masih belum mempercayai ini semua?" tanya Maura pelan, dia takut Ardian berubah sikapnya dan malah menjauh.
"Yang aku rasakan saat ini hanyalah untuk melindungimu, Maura.. Aku sudah berjanji kepada kak Angga dan papamu dan juga bi Marni, kalau aku akan menjaga dan melindungimu dari semua makhluk ataupun manusia yang ingin mencelakaimu.." jawab Ardian hati-hati, dan berusaha agar Maura mengerti.
"Oh, begitu.. Terima kasih, em.. Sudah malam, mari kita tidur. Besok kita akan sibuk lagi membantu mereka berkemas.." ucap Maura pelan sambil meninggalkan Ardian sendirian masih duduk sendirian didepan meja makan.
"Apa jawabanku kurang memuaskannya? Dia terlihat kecewa sekali..." gumam Ardian sambil mengusap wajahnya kasar sambil menghembuskan nafasnya berat.
"Jika tujuanmu menikahiku hanya untuk melindungi dan menjagaku, aku pikir tidak perlu, Ardian... Karena akupun bisa melindungi diriku sendiri, aku bisa menjaga diri ini tanpa bantuan orang lain, aku bisa!" gumam Maura sambil masuk kedalam kamar dan merebahkan diri disamping Dhania.
Malam itu, baik itu Maura ataupun Ardian tak bisa tidur nyenyak, mereka masih mengingat pembicaraan mereka tadi. Ardian berusaha merubah posisinya, tapi dia tetap saja tidak bisa tidur, sedangkan Angga sudah terlelap sejak tadi, mereka tidur di ruang tengah keluarga itu.
.
.
Besok paginya, semuanya bangun dengan segar setelah tidur semalaman. Kecuali Maura dan Ardian yang terlihat sayu, lemas karena kurang tidur.
"Kenapa kalian berdua? Kurang tidur?" tanya Kevin sambil tersenyum menggoda.
"Makanya jangan tidur lagi setelah acara seharusnya, jadi pas pulang langsung bisa tidur karena badan juga sudah lelah seharian karena beraktivitas.." sahut Maurice tak peka dengan maksud godaan Kevin ke mereka berdua.
"Itu juga karena keduanya kebanyakan tidur pas siangnya, makanya jadi begitu deh! Gak bisa tidur," sahut juga Dhania, Angga pun ikut tersenyum geli melihat kepolosan mereka berdua, tak faham maksud dari Kevin.
"Gak perlu, kami sudah berkemas." Jawab Dhania.
"Kapan kalian melakukannya? Kenapa begitu cepat?!" tanya Maura sedikit terkejut.
"Kemarin, sesaat Kalian tidur, kami berkemas sekalian mengurus pernikahan kalian berdua. Semuanya sudah rapi, semua pakaian kalian sudah kami bawa, tinggal kalian rapikan saja didalam kamar dan lemari.
Dan gak usah memikirkan kuliah dulu saat ini, karena sudah kakak minta izin cuti kuliah untuk kalian berdua. Sampai kalian berdua siap masuk kembali, maka cutinya berakhir. Kakak hanya ingin kalian tidak terlalu lelah dan bisa fokus mengurus urusan kalian selama disini, itu saja..." ujar Angga menjelaskan semuanya.
Setelah itu mereka kembali berbincang dan mendengar segala nasehat dan arahan dari Angga, sebelum mereka berangkat ke Jakarta, Maura menyempatkan diri untuk melepas rindu kepada sahabatnya yang sudah seperti saudara itu, bersama dengan yang lainnya juga.
"Setelah ini kita akan lama lagi untuk bertemu kembali, aku pasti sangat merindukan kalian, dan aku juga pasti sangat penasaran seperti wajah baby kalian nanti, apa dia mirip Maurice atau Kevin?" tanya Maura sambil menebak-nebak.
"Yang jelas, jika dia perempuan maka dia akan cantik seperti mommy nya, jika dia lelaki maka dia akan tampan seperti daddy nya.." sahut Kevin juga.
"Dasar, iya aku percaya!" ujar Maura sambil tersenyum geli.
Kemudian mereka melanjutkan obrolan mereka dan juga menyiapkan semuanya, dan tak sadar jika waktunya sudah tiba untuk berangkat ke Jakarta, mereka berpamitan dengan suasana yang sangat mengharukan, bahkan ada beberapa tetangga yang datang untuk melepaskan perpisahan dengan mereka.
"Hati-hati dijalan, jangan lupa kabarin kami jika sudah sampai.." ucap Ardian kepada Angga dan lainnya.
"Tentu saja, aku titipkan adikku kepadamu.. Jaga dan lindungi dia, jangan membuatnya bersedih apalagi menangis, ingat itu?!" wanti-wanti Angga kepada Ardian.
"Tentu saja, Kak. Itu adalah prioritas utamaku.." sahut Ardian sambil tersenyum dan memeluk mereka satu persatu.
Maura pun melakukan hal yang sama, satu hal yang dia tak sukai atas sikap protektif sang kakak membuat Ardian merasa terbebani oleh dirinya, itu yang dipikirkan oleh Maura saat ini.
Semuanya sudah berangkat, para tetangga pun sudah kembli ke rumah masing-masing. Tinggallah Maura dan Ardian di rumah itu, mereka begitu sibuk membereskan rumah dan merapikan semuanya.
"May, aku mau keluar sebentar.. Ada yang ingin kamu mau, mau nitip apa?" tanya Ardian hati-hati.
"Sebentar, aku liat dulu stok makanan didalam kulkas dan lemari, nanti aku catat dan kamu bisa langsung membelinya.." jawab Maura tanpa melihat kearah Ardian, dia begitu sibuk membereskan meja dan kursi meja makan itu.
"Tidak perlu, aku sudah memeriksanya dan juga mencatat barang-barang yang kosong dan tidak ada, mungkin kamu butuh yang lain.." sahut Ardian langsung, memperhatikan Maura yang tampak sibuk sendiri.
"Oh, begitu... Aku nitip pembalut, aku baru saja 'dapet' pagi tadi. Bisa?" tanya Maura sambil menatapnya serius, tentu saja dia berbohong soal lagi 'dapet' itu.
"Em, bi-sa... Bisa, bisa..." jawab Ardian sedikit terbata-bata, ini merupakan hal yang tabu dia lakukan, meskipun dia terlahir di jaman modern dikalangan anak milenial, bukan berarti dia seterbuka itu.
"Sepertinya kamu ragu?" tanya Maura dengan tatapan tak suka.
"Bisa, aku bisa. Kamu biasanya pakai yang mana, nanti aku belikan.." jawab Ardian sambil menelan ludahnya, terasa sekali tenggorokannya kering mendadak ditatap oleh Maura seperti itu, seolah mereka orang asing saja.
"Sebentar aku ambilkan uangnya dulu," ujar Maura sesaat mendengar ucapannya Ardian.
"Tidak usah, pakai uangku saja" sahut Ardian lagi.
"Untuk membeli pembalut aku masih mampu, Ardian. Aku masih punya uang," jawab Maura ketus membuat Ardian bingung sendiri, apa ada yang salah?
"Bukan begitu, kamu itu jadi tanggunganku sekarang. Semua hal keperluanmu adalah tanggung jawabku, apapun itu. Kamu mengerti kan maksudku?" tanya Ardian bingung sendiri.
"Aku pakai yang sayap," jawab Maura dan langsung pergi ke kamarnya begitu saja, ditanya apa dan dijawabnya juga apa.
"Huft, ada apa denganmu Maura?" gumam Ardian tak mengerti.
Kemudian dia langsung pergi menuju minimarket yang tak jauh dari rumah mereka, dan sekalian berbelanja untuk keperluan lainnya juga sambil memikirkan tingkah Maura yang aneh itu menurutnya.
......................
Bersambung