
Setelah sholat subuh, keduanya pamit mau pulang kembali. Apalagi mereka harus pergi kuliah juga, dan sepertinya Maura meninggalkan kamarnya dalam keadaan terbuka juga.
"Kami pamit dulu, Kyai. Assalamualaikum.." pamit Maura dan Ardian.
"Wa'alaikumsallam.. Hati-hati dijalan" ucap pak Kyai dan ustadzah Mariam.
Mereka kembali lagi kedaerah tempat tinggal mereka, sebelum pulang ke rumahnya Ardian mengantarkan Maura ke rumah kostnya dulu, ada beberapa pasang mata yang mengawasi mereka.
Didepan pintu gerbang, sudah ada mang Supri dan bu Kost, dan ada juga beberapa anak kost yang sudah bangun.
"Darimana kamu Maura pagi-pagi gini baru pulang?! Bukannya ibu mau ikut campur urusan pribadi kamu, tapi di kostan ini ada aturannya, bahkan dimana kamu ngekost juga pasti ada aturannya" ucap bu kost ketus.
"Iya, bu.. Maaf" ucap Maura sambil menunduk menahan malu.
"Lagian kamu darimana sih?! Kok pergi pakai piyama gitu sama sandal jepit doang? Dan satu lagi, kalau mau pergi pintu kamar juga pintu pagar jangan lupa ditutup lagi!
Banyak maling, untung gak apes! Coba kalau ada yang kehilangan, siapa yang mau tanggung jawab!" sambung bu kost lagi nyelekit.
"Maaf, bu.. Bukannya mau ikut campur, tapi Maura seperti itu karena ada alasannya.." ucap Ardian, dia tak terima Maura dimarahi seperti itu, apalagi didepan anak-anak kost.
"Sudah ibu katakan tadi, saya gak mau ikut campur urusan kalian, tapi yah ditutup kek pintunya, jangan dibiarkan kebuka gitu! Gimana sih!" ucap bu kost dongkol.
Beliau pergi begitu saja meninggalkan mereka, terdengar beberapa teman kostnya sibuk bergunjing soal mereka berdua.
"Maafkan ibu yah, itu karena dia masih pusing kepikiran soal semalam.." ujar mang Supri.
"Emang kenapa ibu, mang?" tanya Ardian.
"Semalam katanya cucu ibu yang paling kecil panas tinggi di desa sebelah, makanya malam-malam ibu meminta saya mengantarkan kesana, soalnya bapak lagi gak ada di rumah juga" ujar mang Supri menjelaskannya.
"Oh begitu, jadi wajar saja jika mang Supri gak ada dari sore yah.." ucap Maura juga.
"Sore mamang ada, nak.. Tapi lagi sibuk dibelakang benerin kandang ayam!" ujar mang Supri lagi.
"Oh, begitu ya mang, tapi kemarin sore benar-benar sepi sekali, teman-teman juga gak ada" ucap Maura penasaran.
"Soal itu mamang gak tau, coba tanya saja ke mereka. O ya, mamang permisi dulu yah" ucap mang Supri sambil berlalu pergi.
"Aku masuk dulu kedalam, mau siap-siap ke kampus," ujar Maura kepada Ardian.
"Nanti aku jemput yah.." ucap Ardian.
"Gak usah, aku gak mau jadi bahan omongan teman-teman.." sahut Maura.
"Emangnya kenapa? Toh kita gak ngapa-ngapain juga" jawab Ardian cuek.
"Memang seperti itu, tapi siapa tahu isi hati dan kepala orang" ucap Maura juga.
Setelah itu dia masuk kedalam dan naik kelantai atas, ada beberapa anak kost di atas menatapnya sinis.
"Gara-gara satu orang semua orang jadi heboh, untung gak ada maling yang masuk! Padahal disini juga ada beberapa motor anak-anak terparkir begitu saja dibawah"
"Iya, mana ngerasa gak berdosa lagi. Lewat begitu aja bukannya minta maaf!"
"Ini bukan Amerika, yang bisa bebas keluar masuk gitu aja, semuanya punya aturan dan adat istiadatnya!"
Begitulah beberapa kata anak-anak kost yang menyindirnya, tapi Maura cuek tetap masuk begitu saja kedalam kamarnya yang sudah tertutup itu.
Dia menghirup nafas dalam-dalam, lalu membuangnya pelan-pelan. Sepertinya dia harus belajar lebih dalam lagi soal bersabar, apalagi kupingnya terasa panas mendengar semua perkataan anak-anak tadi.
"Mereka ada benarnya juga, aku harus lebih hati-hati. Aku takkan membiarkan makhluk apapun lagi mendekatiku, gara-gara mereka aku jadi begini" gumamnya kesal.
Setelah selesai membersihkan kamarnya dia segera mandi, dan tancap dandan sedikit dan keluar kamar untuk pergi ke kampus. Ada jejak kaki anak kecil membasahi lantai kamarnya.
"Apa ini jejak hantu anak kecil itu?" tanyanya bingung.
Dia keluar kamar dan tidak lupa menguncinya, dia masih melihat ada beberapa anak-anak kost yang masih nongkrong di luar kamarnya, dan menatapnya sinis.
"Ah! Aku merindukan Sizka dan mbak Shelly.." gumamnya teringat kembali dengan teman-teman kostnya dulu.
Gara-garanya kejadian waktu itu, dia dan lainnya harus pergi meninggalkan rumah kostnya itu, padahal rumahnya begitu nyaman, ibu kostnya begitu ramah dan baik, ada sepasang suami istri yang menjaga rumah kost, yang membuat tinggal di sana aman, rumah akan selalu bersih dan aman.
Ditambah lagi anak-anak kost yang ramah dan baik sebenarnya, sebelum kejadian horor tersebut terjadi. Dan sekarang semua terpecah belah berpindah tempat gara-gara ulah jin tak tahu diri.
"Maura!" terdengar suara Ardian memanggilnya dibelakangnya saat dia meninggalkan rumah kostnya itu.
"Mau apa lagi dia? Hufft, bisa jadi bahan gosip lagi jika mereka pada ngeliatin" gumamnya sambil mempercepat langkahnya.
"Ish, apaan sih?! Ntar talinya putus gimana?!" ujar Maura gusar.
"Habisnya dipanggil kupingnya budeg! Kalau rusak nanti aku beli yang baru lebih bagus dari ini" ucap Ardian sambil tersenyum.
"Naik!" ucapnya lagi.
"Gak mau!" sahut Maura juga.
"Naik gak?!" tanya Ardian memaksa.
"Huft, baweel!" ucap Maura makin kesal saja.
Saat ini mereka sudah didepan jalan raya, Maura diam menunggu angkot yang lewat, dia memilih naik angkot daripada bareng Ardian malah membuat semua orang berpikir yang macam-macam lagi, meskipun semuanya tau tentang hubungan mereka.
Tiiinn!
Tiba-tiba angkot mang Madjid lewat didepan Maura, dibelakangnya juga ada beberapa penumpangnya, satu penumpang yang membuat Maura maupun Ardian heran dan bergidik, hantu gadis remaja juga menumpang di angkot mang Madjid.
"Nak Maura mau ke kampus? Ayo sini naik!" tawar mang Madjid ramah.
"Gak usah mang, ini mau bareng teman aja, terima kasih.." tolak Maura dengan halus sambil tersenyum ramah.
"Oh, temannya toh! Ya udah, mari.." ucap mang Madjid ramah juga.
Angkot pun berlalu, mereka masih mengamati angkot itu sampai hilang dari pandangan mereka di persimpangan didepan.
"Ayo naik, gak usah banyak alasan lagi!" tiba-tiba Ardian mengagetkan lamunan Maura.
"Iya!" jawabnya kesal sembari menaiki motornya Ardian.
Akhirnya keduanya juga berangkat bareng ke kampus, sepanjang jalan Maura masih memikirkan kejadian barusan.
Mereka tiba di kampus, setelah menaruh motornya ditempat parkiran, mereka menuju jurusan masing-masing yang memang letaknya berlawanan arah.
Tapi sebelum mereka terpisah, Maura malah disuguhi lagi pemandangan mengejutkan kembali. Dia malah melihat hantu gadis remaja tadi berada dikerumunan anak lelaki ditengah taman kampus.
"Gadis itu kenapa ada disini?! Apa orang yang membunuh dirinya dan adiknya ada disini, atau... Orang yang ingin dia lindungi juga ada di sini?" gumamnya penasaran.
Tanpa sadar kakinya malah melangkah menuju kelompok anak lelaki yang lagi nongkrong dibawah pohon itu.
"Eits, mau kemana?! Kelas kamu ada di sana, bukan disitu ataupun tempat lain!" ujar Ardian sambil menarik kerah bajunya dari belakang.
Udah kayak anak kucing aja dia, tengkuknya ditarik dari belakang. Dia terlihat memberontak melepaskan diri.
"Lepasin, aku ada urusan sebentar!" ucapnya kesal.
"Urusan apa?! Sudah ini waktunya kuliah, nanti aja mainnya.." tarik Ardian lagi.
"Aku bukannya mainnn.." ucap Maura kesal sekali.
Tapi Ardian tak menghiraukannya, dia menarik Maura menuju kelasnya dulu memastikan anak itu menjauh dari tempat itu tadi, bukannya tak tahu apa yang dilihat Maura.
Justru itu dia dan harus berhati-hati, karena mereka tak tahu apa yang akan terjadi nanti, apalagi sekelompok anak lelaki yang ada di sana merupakan kelompok preman kampus juga.
Dia gak mau Maura terlibat dengan mereka, lebih baik mengurusi dunia pergaiban daripada mengurusi sampah masyarakat seperti mereka.
"Siapa mereka? Sepertinya aku baru lihat?!" tanya seseorang dari mereka.
"Oh, mereka.. Sepasang kekasih dan salah satu primadona kampus ini, kenapa?" tanya temannya.
"Oh, begitu. Cantik.." seringai anak lelaki itu sambil menatap Maura.
"Jangan macam-macam, bro! Ingat kasus kemarin, jangan berulah kembali!" sahut Joni, salah satu dari mereka.
"Kenapa memangnya? Ayahku akan membereskannya seperti biasa, kalian gak perlu khawatir. Dan kau, tutup mulutmu sebelum aku merobeknya! Jika kau berkata seperti itu terus, maka semua orang akan tahu, mengerti?!" ucap anak lelaki itu sambil menjambak rambut Joni.
"So-sorry Gilang, gak akan lagi.." ucap Joni sambil meringis kesakitan.
"Bagus!" ucap Gilang sambil menyeringai.
Dia tetap mengawasi Maura sampai jauh, sepertinya dia tertarik dengan Maura.
......................
Bersambung