
Dewi Srikandi menghampiri Maura yang terlihat gelisah itu, dia menanyakan apa yang terjadi. Kenapa Maura terlihat gelisah seperti itu?
"Aku masih menunggu kedatangan teman-temanku, aneh sekali ini sudah lama kenapa mereka tak datang juga.
Jika Kevin langsung pulang, kemana Maurice? Saat ini, inilah rumahnya!
Beberapa kali aku telpon mereka, tak satupun nomor mereka aktif. Aku juga tak bisa melacak keberadaan mereka!" Ujarnya, kelihatan sekali dia khawatir sekali dengan teman-temannya itu.
"Dimana bi Marni?" Tanya Dewi, dia tak merasakan keberadaan wanita tua itu.
"Dia sedang pergi, ada keperluan yang harus dia urus katanya." Jawab Maura.
Tidak berselang kemudian, bi Marni datang dengan barang belanjaannya.
Dia heran melihat Maura yang nampak murung, dan di sana juga tak ada Maurice.
"Maura, kenapa kamu bengong saja? Maurice mana?" Tanya bi Marni, sambil sibuk membereskan barang belanjaannya.
"Tidak tahu Bi ..." lirihnya.
"Kenapa, kalian bertengkar?" tanya bi Marni penasaran, lalu duduk menghampiri Maura.
Dia siap mendengarkan keluh kesah yang dirasakan Maura, lalu Maura menceritakan semuanya tentang kejadian di restoran tadi sampai yang dialami Dewi Srikandi.
Bi Marni terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya pelan, tanda dia mengerti sesuatu.
"Apakah ini berkaitan dengan hilangnya mereka?" ujar bi Marni bergumam, dan sayangnya itu terdengar oleh Maura.
Maura terlihat tegang, dia tidak ingin sahabat-sahabatnya itu mengalami masalah lagi. Dia harus bergegas mencari mereka sebelum sesuatu hal yang menimpa mereka.
"May, Maura! Mau kemana kamu?!" Tanya bi Marni heran.
"Aku akan pergi mencari mereka, aku merasakan firasat buruk tentang mereka Bi." Jawab Maura terburu-buru memakai jaket dan sepatunya.
Dia tidak ingin kehilangan satu detik pun, karena setiap waktu sangat berarti baginya dan bagi para sahabatnya itu. Tidak tahu berapa lama mereka sudah pergi, yang jelas waktu di dimensi 'mereka' begitu lamban.
Melihat Maura tergesa-gesa, bi Marni langsung menelpon Ardian untuk menyusul dan mengawasinya. Memang Maura sudah aman karena ada Dewi Srikandi bersamanya.
Tetapi keselamatannya harus tetap di jaga, bagaimanapun juga dia masih baru di dunia itu. Berbeda dengan Ardian yang sudah berpengalaman.
"Baik Bi, tenang saja. Aku akan segera ke sana!" jawab Ardian, menyahuti telpon dari bi Marni.
Ardian juga nampak gelisah, tapi dia tidak bisa pergi begitu saja dia masih menunggu panglima Arialoka yang belum kembali.
Ardian melakukan panggilan gaib kepada panglima Arialoka, dia berkomunikasi lewat telepati nya.
"Panglima, kau ada dimana? Pulanglah, aku menunggumu" ujar Ardian.
"Aku sedang menikmati malam di duniamu ini, ini semua nampak baru bagiku. Kau tahu sendiri, aku tak pernah bisa menikmati hidup dengan damai" kata panglima.
Ardian bisa mengerti, panglima pasti sangat kesepian dan dia butuh hiburan disela kesibukannya menjaga kedamaian dunia bersamanya melawan para penyihir dan makhluk jahat lainnya.
"Maafkan aku telah mengganggu acara malammu ini, tapi Panglima... Maura membutuhkan kita, dia sedang berusaha mencari keberadaan teman-temannya.
Yang diyakininya bahwa mereka telah dibawa atau mungkin di jebak oleh penyihir, dan menurutku ini berkaitan dengan kejadian diatas apartemen kemarin." Ujar Ardian menjelaskan.
Lama tak ada jawaban dari panglima, harap-harap cemas Ardian menunggu jawabannya. Dia tahu, bahwa panglima tidak suka di paksa dan diinterupsi.
Makanya dia hanya diam menunggu, saat dia mulai lelah dan memutuskan pergi sendiri, dia kaget dibelakangnya panglima sudah menunggunya.
"Apa yang kau lakukan disini? Aku sudah pergi tapi tak kutemukan dirimu, malah bengong sendirian" katanya nampak gusar.
Ardian malah tambah bengong lagi dengan ucapannya, apa maksud dari panglima? Apa dia dari tadi sudah pergi sendirian tanpanya? Bagaimana bisa, sedangkan dia selalu bersamanya?
"Apakah panglima pergi sendiri tanpaku?" Tanyanya penasaran.
"Nanti saja jawabnya, bersiaplah kita akan pergi sekarang" katanya lagi.
Ardian berusaha menghalau rasa penasarannya, dia bergegas bersiap untuk pergi membantu Maura.
*
Sementara itu, masih di dunia lain.
Kevin dan Maurice yang lagi istirahat, dan ketiduran didalam lorong itu, dikagetkan oleh suara bergemuruh didalam lorong itu.
Tiba-tiba lantai tanah itu bergetar, serpihan-serpihan tanah yang runtuh dari atap lorong dan dinding lorong yang mulai mengelupas, menambah ketakutan mereka.
Dan suara tetesan air mulai terdengar, makin lama makin deras.
Seketika hujan turun dengan derasnya didalam lorong itu, mereka merasa heran, aneh dan takut. Kevin dan Maurice langsung berlari kearah lorong lebih dalam, berharap mereka akan menemukan jalan keluarnya.
Saat mereka menoleh kebelakang betapa terkejutnya mereka, dibelakang mereka ada air bah sangat besar memenuhi lorong itu mengejar mereka, saat itu Kevin merasa terpana dan tak bisa bergerak.
Sekuat tenaga Maurice menarik tangannya, dan mencoba menyadarkannya. Didalam bayangan air bah itu, seperti ada sesuatu didalamnya. Bayangan hitam itu semakin besar dan semakin membentuk sebuah kepala ular naga yang begitu besar.
Kepala ular naga itu membuka mulutnya dengan lebar siap melahap mereka berdua.
"Ahh! Kevin, sadarlah!" Teriak Maurice histeris.
Plak!
Dia menampar wajahnya dengan kerasnya, seketika Kevin sadar karena pipinya itu terasa panas oleh tamparan Maurice. Entah kekuatan darimana dia menarik tangan Maurice sekuat tenaga.
Tiba-tiba mereka seperti mendapat dorongan sangat keras dari belakang, dan terhempas kedalam danau. Yang begitu besar dan dalam, entah berapa lama lagi mereka bertahan di dalamnya yang jelas napas mereka sudah begitu lemah.
Samar-samar mereka melihat sesuatu bergerak dibawah menuju mereka, melihat bentukannya seperti ular raksasa. Makin dekat dengan mereka, makin jelas bentuk ular itu.
Mereka berdua pasrah dengan keadaan, kekuatan mereka sudah tak ada, napaspun sudah menipis. Apalagi mereka saat ini berada di kedalaman danau entah berapa dalam dan luasnya.
Ditambah predator yang siap melahap mereka, Kevin dan Maurice masih berpegangan tangan. Kevin menatap lekat wajah Maurice, tersenyum manis.
"Aku cinta kamu" ucapnya lembut, tapi Maurice masih bisa membaca gerakan bibir Kevin.
"Aku juga cinta kamu" jawabnya pelan.
Mereka berpelukan erat, tinggal sejengkal lagi mereka habis di lahap ular itu...
Tiba-tiba sebuah selendang merah panjang melilit tubuh mereka dengan erat dan kencang, menarik mereka dengan kuat naik keatas.
Ada kekuatan penuh menarik mereka sampai keatas, momen yang sangat pas ketika setengah tubuh mereka masuk kemulut ular itu, seketika tubuh mereka ditarik kuat.
Ular raksasa itu kehilangan mangsanya, dan terlihat gusar. Dia mengikuti mereka sampai ke permukaan. Ular itu melihat sepasang manusia tergeletak pingsan di tepi danau, dia mendekati korbannya.
"Cukup Zea! Berhenti sampai disitu!" Teriak suara lantang yang berdiri di tengah jembatan penghubung antara hutan dan kebun bunga, yang ditengahnya danau luas dan cantik, dimana Zea si ular raksasa bersemayam.
"Dewi..." ujar ular itu terkesima apa yang di lihatnya.
"Sudah berapa kali, maharaja Balaputradewa dan putri Kenanga Ungu memperingati mu untuk tidak mengambil korban manusia lagi.
Kenapa kau abaikan perintahnya, kau sudah melanggar aturan dari perjanjian itu Zea" kata Dewi menatapnya tajam.
Ular itu menunduk ketakutan, pelan tapi pasti dia menenggelamkan diri kedalam danau itu lagi.
*
Maurice merasa wajahnya dielus lembut, dan dia merasakan betapa hangatnya belaian tangannya itu.
Dia teringat dengan mendiang ibunya, setiap pagi selalu membangunkannya dengan belaian dan tepukan lembut di pipinya itu.
"Sebentar Ma, lagi nanggung nih. Masih ngantuk!" ujarnya dengan suara manja sambil memeluk tangan itu.
Dia terbuai dengan kenangan indah bersama ibunya itu.
Entahlah, dia merasakan sesuatu hal yang aneh, dia tersadar apa yang dia lakukan itu salah. Dia sedang tidak di rumah, tidak juga bersama ibunya.
Apa yang terjadi?
"Maurice, sayang..." terdengar lagi suara lembut yang amat dia rindukan.
Maurice enggan membuka matanya dan melepaskan pelukan tangan itu, jika ini mimpi maka biarkan ini menjadi mimpi terindah untuknya.
Maka jangan bangunkan aku sementara, gumamnya dalam hati.
......................
Bersambung